Janganlah MERASA CUKUP dengan ilmu dan amalmu

Disebutkan bahwa:

“Jalan pertama yang ditempuh syaithan untuk menyesatkan manusia adalah MEMALINGKAN dan MENJAUHKAN mereka dari ilmu…

Karena jika seseorang JAUH apalagi BERPALING dari ilmu… Niscaya ia akan berada diatas kebodohan…

Dan jika seseorang berada diatas kebodohan, niscaya akan TERKUMPUL padanya keburukan…”

Sungguh benar Perkataan ini… Ini merupakan nasehat yang agung…

Yang mana nasehat ini tidak hanya berlaku kepada mereka yang jauh dari ilmu, agar mereka tidak terus-menerus menjauh dan berpaling dari ilmu…

Tapi juga berlaku kepada orang yang sudah memiliki ilmu, agar mereka tidak merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, dan untuk menyadarkan mereka, bahwa mereka SANGAT BUTUH untuk SENANTIASA DIINGATKAN…

Agar jangan sampai orang yang sudah memiliki ilmu itu berkata: “Pembahasan itu sudah aku pelajari kok”

Karena jika memang hal tersebut sudah engkau pelajari…

Apa engkau sudah menghafalnya? Apa engkau sudah mengamalkannya? Apa engkau sudah istiqamah dengannya?

Bukankah disampaikan hal tersebut padamu, akan membantumu untuk menghafalnya? akan membantumu untuk mengingatkanmu agar engkau mengamalkannya? akan membantumu untuk istiqamah dengannya?!

Jika engkau sudah tahu, hafal, beramal dan istiqamah dengannya…

Apa ruginya bagimu KEMBALI DIINGATKAN dengan ilmu tersebut agar ia SEMAKIN TERTANCAP didalam hatimu?!

Agar jangan sampai pula ada yang berkata: “aku sudah berilmu kok”

Sungguh ini perkataan yang menunjukkan UJUB terhadap ilmu yang ia miliki…

Sungguh tingkatan orang berilmu itu ada tiga: pertama, ia akan sombong; kedua, ia akan tawadhu’ (karena ia tahu banyak orang yang lebih berilmu darinya); ketiga, ia tahu bahwa dirinya tidak tahu! (saking ia ketahui, bahwa ilmu itu SUNGGUH SANGAT LUAS… secuil yang dimilikinya, TIDAK BERARTI APA-APA dengan ilmu yang ada dihadapannya!)

Bagaimana lagi jika perkataan tersebut diucapkan seorang yang memang BUTA dari AGAMANYA SENDIRI?!![1. Sebagaimana perkataan orang-orang yang jauh dari ilmu:

“Ngapain sih bahas tauhid, wudhu, shalat, zakat, haji!? ‘kan ini pelajaran ANAK SD!”

Padahal kalau mereka ditanya tentang tauhid, dan seluk beluk tauhid… Niscaya mereka terdiam… Bahkan amalan mereka SANGAT JAUH DARI TAUHID…

Padahal kalau mereka ditanya tentang wudhu dan shalat, serta seluk beluk tentangnya… Niscaya mereka terdiam… Bahkan amalan wudhu dan shalat mereka sangat jauh dari sunnah nabi…

dan seterusnya!!]

Maka hendaknya kita tanyakan kepada mereka yang berkata “aku sudah berilmu kok”:

– Berapa banyak ilmu (yg hukumnya wajib -saja-) yg sudah engkau amalkan?

– Dan berapa banyak dari ilmu tersebut, yang engkau istiqamah diatasnya?!

Dua pertanyaan diatas, adalah dari ilmu YANG SUDAH engkau pelajari… Bagaimana lagi dengan yang BELUM ENGKAU PELAJARI ?!

atau… Engkau sudah merasa SUDAH MEMPELAJARI SELURUH PEMBENDAHARAAN ILMU?!

Kalau engkau jawab “aku belum menguasai seluruh pembendarahaan ilmu”, maka tidak patut bagimu berhenti menuntut ilmu…

Bahkan terhadap ILMU YANG SUDAH ENGKAU MILIKI saja… Masih banyak yang engkau lalaikan… BAHKAN MUNGKIN masih banyak yang engkau tinggalkan… BAHKAN MUNGKIN masih banyak yang engkau SELISIHI…

Tidakkah engkau tahu nabi mendakwahkan TAUHID, TIDAK HENTI-HENTINYA selama 13 TAHUN pertama dari dakwah beliau?!

Sudah berapa lama engkau “ngaji”?! 13 tahun?!

Kalau belum 13 tahun (tentu dihitung berdasarkan penghitungan bulan hijriyyah)… Maka tentu engkau lebih wajib lagi untuk semangat menuntut ilmu!!!

Kalau sudah lebih dari 13 tahun… Maka apa yang sudah engkau dapati dan pahami selama ini?! maka bagaimanakah CERMINAN ilmu tersebut nampak dari PENGAMALANmu terhadapnya?!

Jika ilmu-mu, hafalanmu, tidak ada bedanya dengan yang baru belajar 3 bulan… Maka tidakkah engkau lebih mentangisi dirimu daripada menjelek-jelekkan “anak kemaren sore”?!

Jika ilmu-mu dan hafalan-mu bagus… Tapi TIDAK SINKRON dengan amalan hati dan badanmu… Maka tidak patutkah dirimu mengasihani dirimu?!

Jika ilmu-mu, hafalan-mu, dan amal-mu sudah bagus… Kembali lagi introspeksi diri… Apakah engkau MERASA CUKUP dengannya? Bahkan apakah engkau UJUB dengannya?! Bahkan engkau TAKABBUR dengannya?!

Sungguh Allaah mencela kaum yang merasa cukup (dan termasuk disini MERASA CUKUP ILMU maupun amal!)

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia BENAR-BENAR MELAMPAUI BATAS! karena dia melihat dirinya SERBA CUKUP…

(al ‘Alaq: 6-7)

Sungguh Allaah mencela kaum yahudi:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(al Hadiid : 16)

Panjangnya waktu mereka menuntut ilmu… tidaklah menjadikan hati-hati mereka tunduk kepadaNya… tapi malah mengeraskan hati mereka… KARENA KEFASIQAN yang tertanam dalam diri mereka… karena mereka MERASA CUKUP dengan apa yang ada pada mereka…

Ini bagi mereka yang menuntut ilmu… Bagaimana lagi dengan mereka yang SAMA SEKALI TIDAK MENUNTUT ILMU?!!

Janganlah demikian…

Allaah berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

(aali ‘Imraan : 101)

Kamu tidak akan menjadi kaafir, jika kamu senantiasa mendengar ayat-ayatNya serta hadits-hadits RasulNya dibacakan dan dijelaskan kepadamu… dan engkau BERPEGANG TEGUH kepadanya…

Maka hendaknya kita TETAP bersemangat menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya serta berusaha untuk tetap istiqamah diatasnya…

Semoga dengannya kita dijauhkan dari kekafiran, kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan dan dari segala jenis yang menghantarkan kepada kemurkaanNya

Dan semoga pula dengannya kita diberi petunjuk (islam, sunnah, ketaataan) dan ditetapkan diatasnya hingga wafatnya kita… yang dengannya kita meraih keridhaanNya… aamiin

[Tulisan ini terinspirasi dari muqaddimah kajian rutin “mulia dengan manhaj salaf” bersama ustadz yazid ibn ‘abdil qadir jawwas hafizhahullaahu ta’ala]

Tinggalkan komentar

Filed under Amal, Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s