Takut kepada Allaah, meskipun kita tidak melihatNya… Takut kepada Allaah, meski dalam kesendirian…

Allaah berfirman:

مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ

(Qaaf [50] : 33)

Ada dua penafsiran ulama :

Penafsiran pertama: “Takut kepada Allaah, sedangkan ia tidak melihatNya”
Penafsiran kedua: “takut kepadaNya, meski dalam kesendiran”

Dan penafsiran kedua inilah yang dirajihkan ibnu Katsiir dalam tafsiirnya…

Berkata as Suddiy, adh Dhahhaak, juga imam ibnu katsiir rahimahumullaah :

“Yaitu orang-orang yang takut kepada Allaah dalam kesendirian sedangkan tidak ada yang melihatnya sedikitpun”

[tafsiir ibnu katsiir & tafsiir ath thabariy, melalui islamweb]

Dan penafsiran kedua, memiliki dua kondisi:

(kondisi pertama), seseorang TETAP BERSEMANGAT MENGERJAKAN KEBAIKAN -meski tidak ada seorang pun yang melihatnya-

Sebagaimana dalam tafsiirnya ibnu Katsiir membawakan hadits [yaitu hadits tentang tujuh golongan yang dinaungi Allaah kelak di hari kiamat] :

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

dan seseorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri, lalu air matanya berlinang.

(HR al Bukhaariy)

(kondisi kedua) seorang yang ketika menyendiri, ia digoda syaithan untuk bermaksiat…

– Timbul keinginan dalam hatinya untuk bermaksiat, tapi sebelum ia melakukannya.. ia ingat akan kebesaran dan keagungan Allaah, maka ia pun mengurungkannya, karena ia takut kepada Allaah.. padahal ia menyendiri, tidak ada seorang pun yang melihatnya…

Sebagaimana Allaah mengabarkan kisah nabi Yusuf digoda istri raja :

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَن رَّأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yuusuf, dan Yuusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang IKHLASH

(Yuusuf [12] : 24)

2. atau ia tergelincir (jatuh kedalam dosa)… kemudian ia pun ingat akan kebesaran dan keagungan Allaah… maka ia pun berhenti, tidak melanjutkan, seraya memohon ampun kepadaNya

Sebagaimana dalam ayat [ketika Allaah mensifatkan ORANG BERTAQWA] :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila MENGERJAKAN perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka MENGETAHUI/SADAR…

(Aali Imraan: 135)

Perbedaan pendapat dalam hal ini adalah VARIATIF, bukan kontradiktif… Sehingga meski beda penafsiran, akan tetapi dua makna ini tidaklah saling bertolak belakang… Tapi saling menguatkan…

Maka hendaknya kita menjadi hamba-hamba Allaah, yang takut kepadaNya, meski dalam kesendirian… yang takut kepadaNya, meski kita tidak melihatNya..

Diantara keutamaan-keutamaan orang yang takut kepada Allaah dalam kesendirian atau orang-orang yang takut kepada Allaah, meskipun mereka tidak melihatNya.

1. Tanda BERMANFA’ATNYA ILMU yang dimilikinya

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama

(Faathir [35] : 28)

2. Tanda keikhlashan

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَن رَّأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yuusuf, dan Yuusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang IKHLASH*

(Yuusuf [12] : 24)

Ada dua qiro’ah dari lafal (الْمُخْلَصِينَ) :

Pertama : Dengan memfathahkan huruf lam (المخلَصين) yang artinya Nabi Yusuf termasuk hamba-hamba yang dipilih oleh Allah.

Kedua : Dengan mengkasrohkan huruf laam (المخلِصين) yang artinya Nabi Yusuf –alaihis salaam- termasuk hamba-hamba Allah yang ikhlash

(lihat penjelasan As-Syaukani dalam fathul qodiir dan juga As-Syinqiithi dalam adwaaul bayaan; kutip dari penjelasan ustadz firanda)

3. Sifat tersebut, merupakan sifat orang bertaqwa

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِّلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ وَهُم مِّنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang BERTAQWA. (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.

(al Anbiyaa [48] : 48-49)

4. Orang-orang yang lulus ujian dari Allaah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِّنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

(al Maa-idah [5] : 94)

5. Hamba hambaNya yang terpilih

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَن رَّأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yuusuf, dan Yuusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih*

(Yuusuf [12] : 24)

[Lihat penjelasan point no. 2]

6. Akan mudah menerima nasehat

إِنَّمَا تُنذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Rabbnya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).

(Faathir [35] : 18)

7. Dijanjikan ampunan dan pahala yang besar

إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

(Yaasiin [36] : 11)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

(al Mulk [67] : 12)

8. Termasuk orang-orang yang dinaungi Allaah pada hari kiamat…

Rasuulullaah bersabda:

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

dan seseorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri, lalu air matanya berlinang.

(HR al Bukhaariy)

9. Dijanjikan surga

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ . مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ . ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.

(Qaaf [33] : 32-34)

Wallaahu a’lam…

Semoga bermanfaat…

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s