Kepada siapakah ia bertaqwa?

Apabila dihadapan atasannya/gurunya/temannya yang shalih, maka ia mengerjakan berbagai kebajikan yang wajib-wajib, bahkan mungkin ditambah dengan yang sunnah-sunnah…

Tapi dalam kesendiriannya… maka ditinggalkan apa yang dikerjakannya dihadapan atasan/guru/teman yang shaalih…

Demikian pula… dihadapan atasan/guru/teman yang shaalih, maka ia tinggalkan seluruh perkara yang dilarang, bahkan ia tinggalkan hal yang makruuh, bahkan ia tinggalkan hal yang mubah yang tidak ada manfaat akhiratnya…

Tapi dalam kesendiriannya… maka dikerjakanlah seluruh apa yang ia tinggalkan dihadapan atasan/guru/teman yang shalih tersebut…

Maka hendaknya ia menanyakan kepada dirinya: 

– Kepada siapakah ia bertaqwa?
– Kepada siapakah ia tujukan amalan taqwa tersebut?!

Apakah ia hanya menjadi hamba yang ‘bertaqwa’ hanya ketika manusia melihat/mendengar/mengetahui ia mengerjakan amalan taqwa? kemudian dalam kesendiriannya ia malah menjadi seorang yang BERBEDA?!

Maka hendaknya ia mengoreksi niat… karena barangsiapa yang bertaqwa kepada Allaah dalam keramaian… niscaya akan bertaqwa kepadaNya didalam kesendiriannya… 

 

Simak: 

– http://abuzuhriy.com/mengawasi-diri-sendiri/

– http://abuzuhriy.com/takut-kepada-allaah-meskipun-kita-tidak-melihatnya-takut-kepada-allaah-meski-dalam-kesendirian/

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s