Mempertanyakan syari’at Allaah

Mungkin kita pernah dapati salah seorang pernah berkata: “mengapa shalat shubuh itu dua raka’at?” (atau pertanyaan semisal)

maka kita jawab, Rasuulullaah bersabda:

صَلاَةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ

Shalat Subuh 2 raka’at

(Shahiih; HR Abu Dawud, dishahiihkan al albaaniy)

Kalaulah masih bertanya: “mengapa rasuulullaah menetapkan dua raka’at”

Dijawab lagi: “karena beliau hanya menyampaikan apa yang diwahyukan Allaah kepadanya, dan beliau tidaklah berkata-kata dengan perasaannya, atau dengan logikanya atau dengan hawa nafsunya.

Allaah berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

dan tiadalah yang diucapkannya itu berdasarkan kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

(An-Najm: 3-4)

Kalau masih bertanya: “mengapa Allaah menetapkan dua raka’at”

Maka kita jawab: “Allaah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.

(Al-Anbiyaa: 23)

Dan PENSYARI’ATAN adalah termasuk perbuatanNya… maka terhadap syari’atNya, baik berkaitan dengan jenis, jumlah, tempat, waktu atau tata caranya… maka itu kita serahkan kepadaNya, dan kita tidak mempertanyakanNya “mengapa”, dan memang Dia tidak patut untuk ditanya-tanya tentang perbuatanNya, karena Dia Maha Berkehendak untuk menetapkan syari’atNya… sedangkan yang diwajibkan atas kita adalah “mendengar dan taat kepadaNya dan kepada RasulNya (yang membawa syari’atNya)” yang mana itulah yang nantinya kelak akan ditanyaiNya…”


Berdasarkan hal ini pula terhadap orang-orang yang berkata:

“bacalah tahlil 7000 kali”, atau berkata: “shalat malamlah 36 atau 49 raka’at”, atau berkata: “berpuasalah di hari ini dan hari itu” atau ada yang berkata: “hendaknya engkau berdakwah dan i’tikaf di masjid selama 3 hari, atau 7 hari, atau 14 hari, atau 1 bulan, atau 4 bulan”

Maka kita tanyakan: “darimanakah engkau memperoleh angka-angka ini?”

Jika dia jawab: “karena Rasuulullaah bersabda: begini dan begitu”

Maka segera kita tanyakan kepada ustadz,

“Apakah benar ada haditsnya penetapan demikian? diriwayatkan imam hadits yang mana? bagaimana kualitas sanadnya?” [atau kita bisa merujuk langsung kepada kitab-kitab hadits, baik yang berbentuk kitab, atau elektronik; yang lebih memudahkan bagi kita mencarinya (terlebih lagi jika dia membawakan redaksi bahasa arabnya)]

Jika terbukti bahwa hal tersebut DITETAPKAN RASUULULLAAH… maka kita sami’na wa atha’na (mendengar dan taat)…

Tapi jika terbukti hal tersebut TIDAK DATANG dari Rasuulullaah, atau bahkan DIDUSTAKAN atas nama beliau… apalagi hanya berdasarkan KARANGAN gurunya, atau hanya berdasarkan MIMPI…

Maka kita katakan,

1. “Gurumu itu bukanlah Rasul yang mendapatkan wahyu, sehingga menetapkan jenis, jumlah tertentu dalam ibadah! (apalagi menetapkan ibadah baru)!”

Allaah berfirman :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

(asy Syuura: 21)

2. “Agama ini tidaklah ditetapkan dengan PERASAAN, atau AKAL… apalagi MIMPI-MIMPI…”

‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu berkata:

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ

“Seandainya agama itu dengan OPINI* semata, maka tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya….

(termasuk dalam hal ini perkataan : menurut logika saya, menurut perasaan saya, berdasarkan mimpi saya, dll)

وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.

Namun sungguh aku sendiri telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya…”

[Atsar riwayat abu dawud, shahiih]

Karena agama Islaam yang kita anut itu… adalah yang berdasarkan Allaah firmankan, dan Rasuulullaah sabdakan (menurut pemahaman rasuulullaah dan para shahabatnya)… adapun yang menyalahinya atau yang tidak memiliki landasan kemudian disandarkan kepada agamaNya, maka hal tersebut TETAP SAJA BUKAN TERMASUK AGAMA-NYA… meskipun hal tersebut disandarkan kepada islaam, meskipun hal tersebut dinamakan dengan nama-nama yang menyerupai nama-nama yang ada pada syari’at islaam…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s