Renungan sebelum shalat

Sebelum kita shalat hendaknya kita berkata kepada diri kita :

1. Saya akan bermunajat kepada Tuhan SEMESTA ALAM : Yang Maha Besar, Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mulia

Karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي إِنَّمَا يَقُومُ يُنَاجِي رَبَّهُ

Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri ketika shalat, maka dia sedang berdiri bermunajat kepada Rabbnya!

(Shahiih; Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, an-Nasaa-iy, Ibnu Khuzaimah dalam shahiihnya, al-Hakim dalam shahiihnya; dan selainnya)

2. Dan bisa jadi shalat saya ini adalah shalat yang terakhir saya persembahkan untukNya.

Karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Kalau engkau hendak mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia)…”

(HR Ahmad dan selainnya, dengan sanad hasan, tercantum dalam ash shahiihah)

3. Maka saya akan membaguskan shalat saya; dimulai ketika saya wudhu’, dan saya pun akan berusaha thuma’niinah didalam shalat, dan berusaha menghadirkan hati saya terhadap apa-apa yang saya baca dalam shalat.

Karea Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ما من مسلم يتو ضأ فيسبغ الوضوء ، ثم يقوم في صلاته ، فيعلم ما يقول ، إلاانفتل وهو كيوم ولدته أمه

“Tidaklah seorang muslim berwudhu’, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berdiri dalam shalatnya, dan dia memahami apa yang dia katakan, melainkan ketika selesai shalatnya keadaannya seperti di hari dia dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa)”

[Diriwayatkan oleh al-Hakim, dan dia berkata, “Sanadnya shahih.” Syaikh al-Albaniy berkata, “Disetujui oleh adz-Dzahabi dalam at-Talkhis (1/399).”]


Nah bagaimana dengan shalat yang sudah kita lalui?

Adakah kita menghadirkan hal diatas dalam shalat kita?

Apakah shalat yang kita lakukan, dapat kita katakan dalam kategori “LAYAK” untuk kita persembahkan kepada Tuhan SEMESTA ALAM yang Maha Besar, Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mulia?

Adakah kita shalat seperti orang yang hendak berpisah/wafat ?

Sudahkah kita mempelajari tata cara wudhu Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam? jika belum kita pelajari, maka pelajarilah, kemudian amalkan… jika sudah kita pelajari, adakah kita istiqamah mengamalkannya dengan baik dan benar?

Sudahkah kita mempelajari tata cara shalat Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam? jika belum kita pelajari, maka pelajarilah, kemudian amalkan… jika sudah kita pelajari, adakah kita istiqamah mengamalkannya dengan baik dan benar?

Sudahkah kita berusaha memahami MAKNA Allaahu akbar? Makna dari doa istiftah? Makna dari al fatihah (ayat per ayatnya)? Makna dari surat-surat pilihan yang sudah kita hafal (ayat per ayatnya)? dan makna-makna dzikir-dzikir dalam shalat lainnya? Kalau belum paham, bukankah sudah waktunya bagi kita untuk belajar agar kita mengetahui dan memahami makna dibaliknya? jika sudah paham… Adakah kita menghadirkan hati kita ketika kita membacanya?

Jika yang telah lalu… kita belum sempat memikirkan hal-hal diatas… maka hendaknya mulai kita persiapkan yang belum kita terjawab dari pertanyaan diatas… yang nantinya kita hadirkan hal tersebut dalam shalat kita yang akan datang… kita berusaha beristiqamah diatasnya, seraya memohon kepadaNya untuk terus ditetapkan diatasnya, seraya bertawakkal kepadaNya, karena Dialah sebaik-baik Dzat yang ditawakkali…

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s