Zina itu seburuk-buruk jalan: Diantara dampak buruk zina

1. Para pezina telah melakukan DOSA YANG SANGAT BESAR disisi Allaah.

Allaah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina[1. Dalam ayat diatas Allaah MELARANG kita MENDEKATI ZINA. Jalan-jalan yang mendekatkan kita kepadanya saja DILARANG, maka ZINA itu sendiri merupakan larangan yang amat sangat keras!

Silahkan baca: http://abuzuhriy.com/fenomena-ikhwan-akhwat-bermudah-mudahan-dalam-berkomunikasi-di-blog-fb-twitter-chatting-email-sms/] sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.

[al-Isrâ/17:32]

Allaah juga berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”.

[al-Furqân/25: 68-69]

(Simak:

– “27 Dampak negatif zina” (http://almanhaj.or.id/content/3357/slash/0/27-dampak-negatif-perbuatan-zina/)

– “Hukuman kepada pezina” (http://almanhaj.or.id/content/2641/slash/0/hukuman-untuk-pezina/)

2. (Apabila sang wanita berzina untuk pertama kali) maka keperawanannya terenggut, yang tidak dapat dikembalikannya selama-lamanya…

Inilah yang sangat merugikan kaum wanita… Bagaimana tidak, ia lepaskan keperawanannya pada hubungan yang tidak diridhai Allaah… Dan bisa saja, ia ditinggalkan lelaki itu (baik dalam keadaan hamil ataupun tidak)…

Terlepas ditinggalkan atau tidak ditinggalkan lelaki… Darimana ia mengetahui bahwa dirinyalah adalah orang yang pertama kali dilepas keperjakaannya oleh lelaki tersebut?! Bahkan mungkin ia orang yang seratus-sekian yang digauli oleh lelaki tersebut! Ataukah ia mempercaya gombalan manis sang pria?!

Apakah pantas seorang yang “mengaku mencintainya” mengajaknya berhubungan badan tanpa ada ikatan pernikahan?! Jelas ini hanyalah ajakan hawa nafsu! Dan jika engkau memenuhinya… maka ketahuilah engkau telah MENJUAL SANGAT MURAH kehormatan dan harga dirimu, dan alangkah hinanya dirimu!

Bagaimanakah lagi jika kelak ia ditinggalkan sang lelaki?! Bukankah keperawanannya sudah tidak bisa ia kembalikan lagi? dan telah membekas kepadanya selamanya!? Dan jauh sebelum itu… Bagaimanakah ia hendak menyamakan dirinya dengan para pelacur yang berhubungan badan tanpa diikat dengan pernikahan?!

3. Wanita yang telah melakukan zina TIDAK BOLEH menikah dengan siapapun (baik yang menghamilinya, maupun yang bukan menghamilinya) hingga ia BERTAUBAT dan MEMASTIKAN bahwa ia TIDAK HAMIL!

– Ia harus bertaubat

Berdasarkan firman Allaah:

اَلزَّانِيْ لاَ يَنْكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلى الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

[ An Nur : 3]

Syeikh Al-Utsaimin rahimahulah berkata,

“Kita dapat mengambil satu hukum dari ayat ini. Yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahi laki-laki yang berzina. Artinya, seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh (bagi seseorang) menikahkannya kepada puterinya.”

[Fatawa Islamiyyah 3/246; almanhaj.or.id]

– Ia harus membersihkan rahimnya

Allaah berfirman:

وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

”Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”

[QS. Ath-Thalaq : 4].

Pada dasarnya ’iddah dijalankan untuk mengetahui BERSIHNYA RAHIM, sebab sebelum ’iddah selesai ada kemungkinan wanita bersangkutan hamil. Menikah dengan wanita hamil itu AQADNYA BATAL, NIKAHNYA TIDAK SAH, sebagaimana tidak sahnya menikahi wanita yang dicampuri karena syubhat

[Ibnu Qudamah, Al-Mughni 6/601-602; dari blog abul-jauzaa]

4. Jika tetap saja menikah (baik kepada orang yang menzinainya, apalagi orang lain), padahal ia tahu dirinya sedang hamil… maka ia telah terjatuh kepada DOSA YANG SANGAT BESAR!!!

Karena:

– Nikahnya tidak sah, karena orang yang hamil tidak sah nikahnya, hingga ia melahirkan anaknya.

– Hubungannya selama “pernikahan” tersebut, dihukumi sebagai ZINA.

Na’uudzubillaah!

Adapun dalil-dalilnya:

Salah seorang shahabat pernah mendatangi seorang wanita yang tengah hamil tua di pintu Fusthath. Maka beliau shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangkali ia ingin memilikinya ?”. Mereka (para shahabat) berkata : “Ya”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لَا يَحِلُّ لَهُ كَيْفَ يَسْتَخْدِمُهُ وَهُوَ لَا يَحِلُّ لَهُ

“Sungguh aku ingin melaknatnya dengan satu laknat yang ia bawa hingga ke kuburnya. Bagaimana ia bisa memberikan warisan kepadanya sedangkan ia tidak halal baginya ? Bagaimana ia akan menjadikannya pelayan sedangkan ia tidak halal baginya ?”

[HR. Muslim no. 1441].

Rasulullah shallalaahu ’alaihi wasallam benar-benar mencela orang yang menikahi wanita yang sedang hamil. Maka tidak diperbolehkan untuk menikahi wanita yang sedang hamil (berdasarkan riwayat ini). [blog abul-jauzaa]

Rasuulullaah juga bersabda:

لاَ تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَسْتَبْرِأَ بِحَيْضَةٍ

Tidak boleh digauli yang sedang hamil sampai ia melahirkan, dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil sampai dia beristibra’ dengan satu kali haidh.

[HR Abu Dawud, dishahiihkan al albaaniy]

Beliau jgua bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسق ماءه ولد غيره

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyiramkan air (maninya) kepada anak orang lain”

[HR. Tirmidziy, dengan sanad yang hasan].

Al-Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh rahimahullah,

“Tidak boleh menikahinya hingga dia bertaubat dan selesai dari ‘iddahnya dengan melahirkan kandungannya. Karena perbedaan dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk, dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.”

[Fatawa Wa Rasail Asy-Syeikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128; almanhaj.or.id]

Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan,

“Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah bertaubat) ingin menikahinya, maka wajib baginya menunggu wanita itu beristibra’ dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah. Bila ternyata si wanita dalam keadaan hamil, maka TIDAK BOLEH MELANGSUNGKAN AKAD NIKAH dengannya KECUALI SETELAH MELAHIRKAN kandungannya. Sebagai pengamalan hadits Nabi yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.”

[Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah 9/72; almanhaj.or.id]

Ibnu Mas’ud radliyallaahu ’anhu berkata :

إِذَا زَنَى الرَّجُلُ بِالْمَرْأَةِ ثُمَّ نَكَحَهَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُمَا زَانِيَانِ أَبَدًا

”Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, kemudian ia menikahinya setelah itu (tanpa didahului ‘istibra), maka keduanya tetap dianggap berzina selamanya (meskipun mereka mengaku pasangan suami istri)”.

Menikah adalah satu kehormatan. Agar tetap terhormat, hendaklah seorang laki-laki tidak menumpahkan air (mani)-nya dengan cara berzina, sebab dengan cara berzina akan bercampur yang haram dengan yang halal. Akan bercampur juga air yang hina dengan air yang mulia

[Al-Qurthubi, Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an 12/170; Ad-Dardiir, Asy-Syarhush-Shaghiir 2/410,717; blog abul jauzaa’]

Sungguh alangkah parahnya dosa para orang tua dan juga anak-anak mereka, yang mana hanya untuk “menjaga muka mereka”, maka mereka jatuh kepada dosa yang amat-amat berat!!!

Maka bagi mereka yang TELAH MENGETAHUI HAL INI… hendaknya takut kepada Allaah… dengan tidak malah berani-beraninya menikahkan anak-anak mereka, sedangkan mereka tahu bahwa anak mereka telah hamil!

Jika “rasa takut dan malu kepada masyarakat” menjadi alasan kalian maka simaklah nasehat dari ustaadz abul Jauzaa’ berikut:

Hendaknya tunduk dan takut akan hukum Allah lebih besar daripada malu di hadapan manusia karena mempunyai cucu yang tidak mempunyai bapak. Kita harus bersabar terhadap ujian dan cobaa, serta memohon ampun atas segala dosa yang telah kita lakukan. Pada hakekatnya, segala musibah yang menimpa kita adalah disebabkan oleh tangan kita sendiri, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَمَآ أَصَابَكُمْ مّن مّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُواْ عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [QS. Asy-Syuuraa : 30].

5. Anak hasil zina DINASABKAN kepada IBU-nya, bukan kepada yang menzinai ibunya, atau selainnya. Anak itupun tidak memiliki wali nikah, hak diwarisi/mewarisi (terhadap lelaki yang menzinai ibunya, apalagi selainnya), juga tidak memiliki mahram dari pihak lelaki yang menzinai ibunya.

Jika ibunya hamil diluar nikah, meskipun nantinya lelaki yang menzinainya menikahinya… tetap saja anak tersebut TIDAK DINASABKAN kepada pezina laki-laki tersebut, tapi pada ibunya.

Rasuulullaah bersabda

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

”Anak itu bagi (pemilik) firasy, dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)”

[HR. Bukhari no. 1948 dan Muslim no. 1457].

Firasy adalah tempat tidur, Maksudnya adalah si ISTRI yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. Keduanya dinamakan firasy, karena suami atau tuannya menggaulinya (tidur bersamanya). Sedangkan makna hadits di atas, anak itu dinasabkan kepada si pemilik firasy. Namun karena laki-laki pezina itu bukan suami (dari wanita yang dizinahi), maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya, dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan

[Abdurrahman Ali Bassam, Taudlihul-Ahkaam 5/103; blog abul jauzaa’]

Berdasarkan hadits diatas pula, laki-laki yang berzina tidak memiliki hak apa-apa pun terhadap hak nasab, perwalian dalam nikah[2. Adapun kalau ia hendak menikah, maka yang menjadi walinya adalah sulthaan (dalam hal ini, KUA – kantor urusan agama), berdasarkan sabda Rasuulullaah:

فَالسُّلْطَانُ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَهُ

“Penguasa adalah wali nikah bagi perempuan yang tidak memiliki wali nikah”

(HR Abu Daud no 2083 dan dinilai shahih oleh al Albani).

Disinipun menjadi polemik, jika anak tersebut disandarkan kepada lelaki yang menzinai ibunya, atau bahkan lelaki lain; dan ia menjadi wali pernikahan tersebut, maka NIKAH anak tersebut TIDAK SAH.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتُحِلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنْ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا

“Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.”

(HR. Abu Dawud, at Tirmidizy, Ibnu Maajah, dan selainnya; dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa’)

Maka hendaknya mereka memikirkannya!!!], waris-mewarisi[3. Berkaitan dalam hal ini, Rasuulullaah bersabda:

أيما رجل عاهر بحرة أو أمة فالولد ولد زنا ، لا يرث ولا يورث

Setiap orang yang menzinai perempuan baik merdeka maupun budak, maka anaknya adalah anak hasil zina, tidak mewarisi (dari harta lelaki yang menzinai ibunya) dan tidak mewariskan (hartanya kepada lelaki yang menzinai ibunya)“.

(HR. Al-Turmudzi; dishahiihkan al albaaniy)], kemahraman ataupun kewajiban memberikan nafkah kepada anak, semuanya tidaklah dimiliki oleh laki-laki yang berzina.

Penutup

Setelah melihat beberapa efek buruk zina diatas… bagaimanapun juga… Orang yang paling menderita dalam hal ini adalah PIHAK WANITA-nya…

Maka bagi kaum pria, adakah tega dirimu menzinai wanita malang ini (meskipun ia menggodamu, apalagi engkau mengaku mencintainya?!) Bagaimanakah jika hal tersebut terjadi pada ibumu? anak perempuanmu? saudarimu? adakah engkau rela?! tentu tidak! maka demikian pula ayahnya, demikian pula saudaranya, demikian pula anak hasil zinamu!!!

Dan bagi kaum Wanita, janganlah engkau menjual murah harga diri dan kehormatanmu untuk lelaki yang tidak ada ikatan apapun padamu… Bayangkan saja, para pelacur itu dibayar hingga ratusan juta rupiah untuk dapat digagahi, sedangkan dirimu?! Yang mana lelaki itu hanya bermodalkan SEDIKIT RAYUAN GOMBAL, atau SEDIKIT hadiah-hadiah, lantas kau serahkan begitu saja kehormatanmu!? Dan setelah mengetahui hal diatas, tidakkah engkau berpikir jauh kedepan dan mengekang hawa nafsu jelekmu itu?!

Maka semoga nasehat diatas bermanfaat bagi diri penulis pribadi dan keluarganya, dan juga kepada kaum muslimiin dan muslimat… Kita memohon kepada Allaah untuk menetapkan diri kita diatas jalanNya yang lurus, dan menjauhkan kita dari jalan-jalan kehinaan, di dunia maupun di aakhirat, aamiin.

2 Komentar

Filed under Akhlak

2 responses to “Zina itu seburuk-buruk jalan: Diantara dampak buruk zina

  1. Arrr…. camnie baru la best membaca… artikel yg menarik…
    olahan yg simple .. themes yg sesuai… tahniah awak…
    ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s