Perbuatan baik kita kepada makhluq adalah ibadah

Hendaknya kita ketahui… bahwa perbuatan baik[1. Perbuatan baik disini umum. Apakah itu bantuan secara pikiran, tenaga maupun harta. Dan termasuk perbuatan baik kita kepada makhluq, adalah nasehat menasehati.] perbuatan kita kepada makhluq[2. Dikatakan makhluq, maka ini umum; baik itu kepada sesama manusia, bahkan termasuk berbuat baik kepada binatang!

Jadi tidak khusus kepada saudara semuslim saja. Kita bahkan dibolehkan untuk berbuat baik kepada orang-orang kaafir yang tidak memerangi kaum muslimin (QS. 60/8), terlebih lagi mereka adalah orang tua kita, saudara kita, kerabat/keluarga dekat atau jauh kita. (simak lebih lengkap: “Muamalah kaum muslimiin terhadap kuffaar”)] dapat bernilai ibadah[3. Dalilnya adalah:

Rasuulullaah bersabda:

بَيْنَا رَجُلٌ بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ

“Suatu ketika ada seorang lelaki yang sangat kehausan di sebuah jalan, lalu dia menemukan sumur. Dia turun ke sumur tersebut lalu meminum airnya lalu keluar. Tiba-tiba dia mendapati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan.

فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي

Berkatalah lelaki tadi, “Anjing ini telah kehausan sebagaimana yang aku rasakan tadi.”

فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَاء خُفَّهُ مَاءً فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Maka Lelaki tersebut kembali turun ke sumur dan mengisi sepatunya dengan air, lalu diminumkan ke anjing tersebut. Maka, Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya.

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّه وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ لَأَجْرًا ؟

Para sahabat bertanya, “Apakah kita bisa mendapatkan pahala karena binatang?

فَقَالَ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Rasulullah bersabda, “Ya, berlaku baik pada setiap yang bernyawa itu ada pahala.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)]…

Maka ketika kita berbuat baik kepada mereka… Hendaknya kita katakan kepada diri kita: “Ya Allaah aku berbuat baik kepada mereka dalam rangka beribadah kepadaMu”

Jika demikian… Maka akan hilanglah perasaan “mencari pujian, mencari atau mengharapkan atau meminta terimakasih, mencari, mengharapkan atau meminta balas budi, dll” karena yang kita inginkan adalah balasan dari Allaah, atas perbuatan baik kita makhluqNya…

(Terinspirasi dari kajian Ustadz firanda, secara makna)

Dengan ini pula… Jika misalkan orang –yang sering kita perlakukan secara baik tersebut– berbuat buruk kepada kita… Maka kita: “tidak akan mengungkit-ngungkit pemberian kita kepadanya”, karena perbuatan baik kita kepadanya kita tujukan untuk (beribadah kepada) Allaah, sedangkan perbuatan buruknya kepada kita sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibadah kita kepada Allaah…

Maka barangsiapa yang beramal kebaikan, bukan dengan niat “beribadah kepada Allah, dan mengharap pahalaNya”… Niscaya ia akan mendapati keletihan dan keputusasaan dalam amalnya; sehingga kelak ia akan berhenti dalam amalnya tersebut[3. – Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita…

– Demikian pula, Allah memerintahkan istri agar senantiasa taat kepada suaminya dalam kebaikan…

– Demikian pula, Allaah memerintahkan agar rakyat senantiasa taat kepada penguasa dalam kebaikan…

Apakah kita akan tetap berbuat baik kepada mereka jika ada sesuatu yang tidak kita sukai pada diri mereka; atau mereka tidak menghargai atau membalas kebaikan kita; atau bahkan menzhalimi kita?

Kalau misalkan kita mendapatkan kejelekan darinya; Apakah kita akan tetap Berakhlak baik padanya?

Diatas juga disebutkan bahwa nasehat menasehati termasuk perbuatan baik… Maka apakah hanya karena nasehat kita ditolak, maka kita berhenti menasehatinya? Maka apakah hanya karena ketidaksepahaman dalam satu perkara, maka kita menjauhi dan memusuhinya?!

Maka akan kita dapati orang-orang yang berbuat baik hanya untuk mengharapkan balasan dari makhluq, akan letih dengan amalnya… Bahkan mungkin ia akan menghentikan perbuatan baiknya karena tak kunjung mendapatkan balasan dari makhluq…

Maka jika seseorang yang beramal kebaikan diatas TERHENTI dalam kondisi diaas; maka pada hakikatnya ia beramal baik, hanya untuk mendapatkan balasan dari makhluq, apakah itu ucapan terima kasih, penghargaan, penghormatan, “berbalas budi” atau selainnya…

Adapun seseorang berbuat baik kepada makhluq dalam rangka beribadah kepada Allah semata, dan mengharapkan pahalaNya, maka ia tidak peduli dengan balasan makhluq dari perbuatan baiknya tersebut:

– karena yang dilakukannya adlaah BERIBADAH KEPADA ALLAH,

– dan karena yang ia harapkan HANYALAH MENCARI PUJIAN DAN KERIDHAAN ALLAAH, bukanlah mencari keridhaan, pujian, atau rasa terima kasih dari makhluq

– dan karena ia HANYA MENGHARAPKAN PAHALA (balasan) dari Allah, bukan mengharapkan balas budi…

Mungkin banyak amalan kebaikan kita (yg menyangkut dgn interaksi sesama manusia) terhenti, karena kita tidak meniatkannya untuk beribadah, dan/atau kita meniatkannya selain untuk mengharapkan pahalaNya Maka kita berharap kepada Allah, agar menjadikan kita senantiasa beribadah kepadaNya, dengan hanya mengharap pahala dariNya.]…

Bagaimanakah ia hendak menaruh harapan kepada makhluuq, yang Allaah sifatkan kebanyakan mereka tidak bersyukur? bagaimanakah ia hendak menginginkan balasan dari makhluuq, sedangkan kebanyakan mereka disifati Allaah dengan pelit?

Maka hendaknya kita menjadikan perbuatan baik kita kepada sesama makhluq, sebagai ibadah kita kepada Allaah… Yang mana kita hanyalah mengharapkan balasan dari Allaah dari perbuatan baik kita kepadanya… Dengan ini, maka kia:

– Tidak akan kecewa (dengan perbuatan makhluqNya kepada kita)…

– Tidak akan mengharap-harapkan balasan, kecuali kepada Allaah, yang mana Dialah sebaik-baik pemberi balasan…

– Tidak akan pernah menyesal pernah berbuat kebaikan kepada makhluqNya… Apakah kita hendak menyesali peribadatan kita kepada Allaah?!

– Tidak akan mengungkit-ngungkit perbuatan baik kita terhadap siapapun… Karena perbuatan baik kita kepada mereka, kita niatkan untuk beribadah kepada Allaah, dan yang kita cari darinya hanyalah balasan dari Allaah, bukan balas budi, bukan ucapan terimakasih, dan lain-lain… Maka apakah kita hendak mengungkit-ngungkit pemberian kita kepada Allaah?

Semoga bermanfa’at

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Ukhuwwah Islamiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s