Jangan jemu untuk memohonkan ampun serta mendoakan kebaikan kepada kedua orang tua

Allaah memfirmankan perkataan kekasihNya, ibraahiim ‘alayhis salaam kepada bapaknya:

سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي . إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku…

(hingga perkataannya)

وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

dan aku akan berdoa kepada Tuhanku… mudah-mudahan aku tidak akan kecewa (untuk selalu) berdoa kepada Tuhanku…

(Maryam: 47-48)

Tentang firmanNya:

عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

Ada dua tafsiran dalam ayat diatas:

– (tafsir al baghawiy secara makna) : dan aku akan menyembah Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa untuk senantiasa menyembahNya, sebagaimana engkau kecewa dengan penyembahanmu terhadap berhala-berhala…

– (tafsiir ibnu katsiir secara makna) : عَسَىٰ (yaitu mudah-mudahan) maknanya adalah KEPASTIAN. [sehingga maknanya, aku pasti tidak akan kecewa dengan doaku kepada Rabbku]

Tafsir keduanya variatif, bukan kontradiktif…

1. Adapun tafsir pertama, dilihat pada sisi “doa/peribadatannya”,
perkataan ini adalah permintaan dan pengharapan-nya kepada Allaah, agar dijadikanNya untuk senantiasa dan selalu beribadah dan berdoa hanya kepadaNya…

Allaah berfirman:

وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”

(Yuusuf : 87)

Allaah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah (yaitu orang-orang kaafir). Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri aakhirat, sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.

(al Mumtahanah : 13)

2. Adapun tafsir kedua, fokus pada “pengijabahan doa” tersebut… maka hendaknya kita tidak kecewa untuk berdoa kepadaNya, hanya karena “belum melihat” realisasi dari doa kita tersebut…

Rasuulullaah bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“(Do’a) kalian akan diijabahi selagi tidak terburu-buru, yaitu mengatakan; ‘Aku telah berdo’a, namun tidak kunjung diijabahi.’

(HR. Bukhariy)


Maka hendaknya kita tidak jemu-jemu untuk memohonkan ampunan (serta mendoakan kebaikan) terhadap kedua orang tua kita, baik dikala mereka hidup, apalagi tatkala mereka wafat… Sesungguhnya Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى لِيْ هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Ada seorang lelaki yang kedudukannya terangkat di syurga kelak. Ia pun bertanya, ”Bagaimana ini dapat terjadi padaku?” Maka dijawab: “Lantaran istighfar anakmu untukmu.”

(HR Ibnu Maajah, dihasankan al Albaaniy)

Istighfar kita kepada mereka, selain permohonan ampun atas dosa serta kesalahan mereka, maka juga menjadi tambahan amalan shalih untuk mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Rabbighfirliy waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaaniy shaghiiraa

Wahai Rabbku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya telah mendidik aku diwaktu kecil

(Doa gabungan dari QS. Ibrahim 41/Nuh 28, dan QS. al Israa’: 24)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s