Status ulil amri dicopot hanya karena kezhalimannya?!!

Alangkah anehnya salah satu “tokoh” sembarangan mencopot “ulil amri” dengan alasan “korup”[1. Sebagian pengikut-pengikutnya pun BERMODALKAN TERJEMAHAN hadits yang KELIRU. Ia berdalil, Rasulullah bersabda: “Tidak ada ketaatan kepada orang yang memaksiati Allaah”

Sungguh ini merupakan kekeliruan yang AMAT NYATA… BERIKUT akan dinukilkan hadits-hadits yang dimaksudkannya:

لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ خَالِقٍ

“Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al Khaaliq”.

(Shahih, HR Ahmad, at Thabrani, al Hakim dan yang lain dengan lafadz at Tabrani disahihkan oleh syekh al Albani; Lihat As-Shahihah No. 179).

لا طاَعَة فِي المَعْصِيَةِ َ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي اْلمَعْرُوْفِ

Tidak ada ketaatan pada maksiat, ketaatan itu hanya dalam kebaikan

(Shahih, HR Bukhari dan Muslim)

فَإِنْ أَمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Maka jika diperintahkan dengan perbuatan maksiat maka tidak dipatuhi dan tidak ditaati

(Shahih, HR Muslim)

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكرَهَ إِلا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَلا سَمْعَ وَلا طَاعَةَ

“WAJIB atas seorang muslim untuk MENDENGAR dan TAAT (kepada PENGUASA/UMARA’) pada apa-apa yang ia SUKAI atau ia BENCI, kecuali apabila penguasa itu menyuruh untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia menyuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat”

(HR. Al-Bukhari)

Maka terjemahan yang benar: “tidak ada ketaatan, kalau diperintah berbuat maksiat”

Maka kalau penguasanya memerintahkan untuk berbuat maksiat, maka kita tidak boleh mendengar dan taat.

Tapi kalau penguasanya MASIH MUSLIM, meskipun ia zhalim; mka kita TETAP WAJIB TAAT kepadanya (dalam perkara kebaikan), DILARANG bagi kita melepaskan ketaatan kepadanya.]

Ulama mana yang pernah berpendapat seperti itu, ya? Yaitu mencopot status ulil amri karena kezhaliman yang ia perbuat?

Adakah para shahabat serta para tabi’iin mencopot status “ulil amri”-nya hajjaj ibnu yusuf; yang sangat zhalim?

Adakah imam ahmad mencopot “ulil amri” beberapa khalifah di zamannya yang menjadikan “paham mu’tazilah” sebagai ‘prinsip negara’?[2. Sekaligus ini membantah kalangan takfiri dan pemberontak, yang senantiasa mengkafirkan dan memberontak terhadap penguasa kaum muslimin yang menegakkan sistem hukum yang kufur di negara yang ia kuasai. Tidakkah mereka melihat di zaman Imam Ahmad bahwa aqidah mu’tazilah yang kufur dijadikan prinsip negara pada saat itu?! Adakah Imam Ahmad serta merta mengkafirkan penguasanya dan menyerukan untuk memberontak?! Sungguh padanya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran!!!]

Adakah mereka?

Sekalipun pemerintah TERBUKTI korup dalam satu atau bahkan beberapa perkara… Maka bukan berarti serta merta dicabut label “ulil amri”-nya… Kemudian beralasan, “tidak wajib taat (secara mutlak?!) kepada ulil amri yang korup”

Rasuulullaah bersabda :

شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ

“Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan mereka melaknati kalian.“

Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita melawannya dengan pedang (senjata)?“

Beliau mengatakan:

لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ

“Jangan, selama mereka mendirikan shalat di tengah-tengah kalian.”

وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Jika kalian melihat pada pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah perbuatannya… dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan (dalam perkara kebaikan).“

(Shahih, HR. Muslim)

Bahkan JELAS JELAS Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ

“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).”

Maka Rasulullah bersabda:

اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا

“Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut dalam kebaikan).”

(Shahiih, HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah)

dari Ibnu Mas’ud, beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا

“Kalian akan menyaksikan atsarah (yaitu pemerintah yang tidak menunaikan hak rakyatnya, bahkan menzhalimi rakyatnya), dan beberapa perkara yang kalian ingkari.”

أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!”

(HR. Bukhariy)

Kalau hak kita tidak mereka tunaikan… Bukan berarti hak mereka tidak kita tunaikan pula… Akan tetapi kita tetap wajib menunaikan hak-hak mereka, dan meminta kepada Allaah hak-hak kita, yg tidak mereka tunaikan…

Simak lebih lengkapnya:

Tuntunan Rasuulullaah dalam menyikapi penguasa
Penguasa yang zhaalim

Maka semoga Allaah memberi kita semua hidayah dan taufiqNya.. Aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Al-Bid'ah, Al-Firåq, Berita Aktual, Khåwarij, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s