Agar kalian bertaqwa

# agar kalian bertaqwa

Terdapat beberapa ayat, dalam al Qur-aan yang pada akhir ayatnya disebutkan: “La’allakum tattaquun” (agar kalian bertaqwa)

Maka mari kita simak ayat-ayat tersebut:

1. Menyembah Allaah, dan tidak menyekutukanNya sedikitpun juga

Allaah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.

(al Baqarah : 21)

Pelajaran: Buah dari kemurnian tauhid adalah TAQWA; atau dengan kata lain, dengan tauhid-lah seorang dapat menjadi seorang yang bertaqwa. Maka ayat ini menjadi cambuk bagi kita yang sudah mempelajari beberapa atau bahkan BANYAK kitab-kitab tauhid… Apakah ia mewariskan ketaqwaan dalam hati dan amal kita?

2. Hanya mengikuti petunjuk Allaah, dan tidak mengikuti jalan-jalan syaithaan

Allaah berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

(al an’aam : 153)

Pelajaran: Ketaqwaan hanyalah diraih dengan meniti petunjuk Allaah, jalan yang satu, jalan yang telah digariskanNya melalui perantara Nabi serta RasulNya yang mulia, Muhammad, shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Adapun jalan-jalan lain, yang menyalahi syari’at Allaah dan RasulNya, maka itu hanyalah jalan-jalan syaithaan, yang ujung-ujungnya adalah neraka, meski para penyerunya membungkus seruannya dengan label-label “islami” atau hal-hal yang menarik hati.

3. Berpegang teguh diatas agamaNya

Allaah berfirman:

خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”

(al Baqarah: 63 dan al A’raaf: 171)

Pelajaran: Ketaqwaan diraih dengan istiqamah atau tidaknya seseorang diatas syari’atNya, yaitu ia benar-benar berpegang teguh diatas agamaNya. (meski ayat diatas secara khusus berkenaan dengan orang-orang yahudi, hanya saja kita mengambil pelajaran dari keumuman lafazhnya.)

4. Shaum Ramadhan

Allaah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

(al Baqarah: 183)

Pelajaran: Buah dari shaum, (khususnya shaum ramadhan) adalah ketaqwaan. Hendaknya kita benar-benar menjadikan shaum ramadhan ini sebagai wasilah (perantara) kita untuk menuju pribadi yang lebih baik setelahnya. Maka seorang yang BENAR-BENAR ‘TERDIDIK’ dari “madrasah ramadhan” adlaah mereka yang memepertahankan kuantitas dan kualitas ibadah dibulan ramadhannya di bulan-bulan setelahnya. Maka orang yang semangat beribadah di bulan ramadhan saja, tapi setelah diluar bulan ramadhan kendor lagi ibadahnya, atau bahkan berubah 180 derajat (na’uudzubillah): “Hendaknya mengetahui, bahwa Allaah, Tuhan kita, adalah Tuhan yang mengawasi kita pada setiap saat, dalam seumur hidup kita… Dia tidak hanya mengawasi kita di bulan ramadhan saja, tapi juga dibulan-bulan lain. Maka hendkanya kita bertaqwa kepadaNya dimana saja kita berada, di bulan manapun kita berada…”

5. Ditegakkanya qishash di suatu negri

Allaah berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

(al Baqarah: 271)

Berkata Muqaatil tentang penggalan terakhir ayat diatas:

“Wahai orang-orang memiliki akal, wahai orang-orang yang memiliki pemahaman, wahai orang-orang yang memiliki kecerdasan! (Dengan ditegakkannya qishaash) mudah-mudahan (dengannya) kamu dapat menahan diri dari segala perkara yang diharamkan Allaah.”

(Dari tafsiir ibnu Katsiir, islamweb.net)

Berkata asy Syawkaaniy:

“Kalian memiliki jaminan kelangsungan hidup dalam hukum yang Allah Azza wa Jalla syariatkan ini; karena bila seseorang tahu akan dibunuh secara qishâsh apabila ia membunuh orang lain, tentulah ia tidak akan membunuh dan akan menahan diri dari meremehkan pembunuhan serta terjerumus padanya. Sehingga hal itu sama seperti jaminan kelangsungan hidup bagi jiwa manusia. Ini adalah satu bentuk sastra (balâghah) yang tinggi dan kefasihan yang sempurna.

Allah Azza wa Jalla menjadikan qishâsh yang sebenarnya adalah kematian, sebagai jaminan kelangsungan hidup, ditinjau dari efek yang timbul yaitu bisa mencegah saling bunuh di antara manusia. Hal ini dalam rangka menjaga keberadaan jiwa manusia dan kelangsungan kehidupan mereka.

Allah Azza wa Jalla juga menjelaskan ayat ini untuk ulul albâb (orang yang berakal); karena merekalah orang yang memandang jauh ke depan dan berlindung dari bahaya yang muncul kemudian. Sedangkan orang yang pandir, berfikiran pendek dan gampang emosi; mereka tidak memandang akibat yang akan muncul dan tidak berfikir tentang masa depannya…”

[Fathul-Qadîr 1/179 dinukil dari al-Mulakhash al-Fiqh 2/471; almanhaj.or.id]

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under al-Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s