Metode pembacaan al Qur’an

Tidak setiap orang sama metode membaca al Qur-aannya.

1. Ada yang membaca al Qur-aan melalui mush-haf (yaitu kitab al Qur-aan yang murni, tidak ada terjemahan, tafsiir, dll)

Rasuulullaah bersabda:

من سره أن يحب الله و رسوله فليقرأ في المصحف

“Barangsiapa yang senang dengan cinta Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia membaca al-mushaf (al-qur’an)”

(HR. Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, al Baihaqiy, dll; Hasan, Shahiihul Jami’ 6289)

Disebutkan salah seorang guru kami: “disini Rasuulullaah menyebutkan dengan ‘al mush-haf’, menunjukkan keutamaan membaca al Qur-aan melalui mush-haf. wallaahu a’lam”

Metode ini direkomendasi bagi orang-orang yang memang sudah paham bahasa arab, atau paling tidak, ia mengenal sebahagian besar kosakata yang ada dalam al Qur-aan, sehingga ia tahu apa yang sedang ia baca. Apakah berarti terlarang bagi orang yang belum paham bahasa arab, atau belum tahu banyak kosakata yang ada dalam al Qur-aan? tidak demikian, boleh baginya membaca langsung dari mush-haf, dalam rangka menggapai keutamaan diatas.

2. Ada yang membaca al Qur-aan dengan hafalan

Jangan kira, orang yang membaca al Qur-aan hanya yang “membaca kitab” saja. Bahkan termasuk orang yang MEMBACA al Qur-aan, jika ia membaca dari hafalannya! Apakah kita hendak menghukumi Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam TIDAK PERNAH MEMBACA AL QUR-AAN?! (bukankah nabi tidak bisa membaca dan menulis?!)

Metode ini direkomendasi kepada orang-orang yang ingin menghafal ayat-ayat al Qur-aan, atau untuk mengetes hafalannya. Alangkah baiknya dibaca bersama gurunya, atau bersama temannya yang berilmu tentang ilmu al Qur-aan, yang akan mengoreksi hafalannya apabila keliru, dan bacaannya apabila keliru.

3. Ada yang membaca al Qur-aan melalui terjemahan [baik itu berbentuk kitab, atau berbentuk software] (tentunya, bukan terjemahan total, tapi ada ayat al Qur-aannya dan ada terjemahannya)

Mereka yang mengamalkan ini, ingin membaca al Qur-aan disertai tadabbur; hanya saja mereka belum memiliki kemampuan bahasa arab, dan pembendaharaan bahasa arab mereka masih kurang. maka mereka membaca al Qur-aan dengan terjemahan. Setelah baca satu ayat, maka mereka membaca terjemahannya. [disebut ‘mereka’, bukan berarti ‘mereka’ membaca secara berjama’ah lho. hehe]

4. Ada yang membaca al Qur-aan melalui bimbingan guru (tahsin)

Yaitu gurunya membaca ayat, kemudian murid-muridnya mengikuti bacaan gurunya. Kemudian gurunya menyuruh murid-muridnya satu demi satu mengulang bacaannya; sampai ia membaca baik dan benar. Hal ini sangat bermanfa’at bagi mereka yang masih kurang baik bacaannya, sehingga dengan menghadiri majelis-majelis seperti ini akan baiklah dan benarlah cara pembacaan al Qur-aan mereka.

5. Ada yang membaca al Qur-aan melalui kitab-kitab tafsiir.

Ini dalam rangka perwujudan mentadabburi al Qur-aan, bagaimana seseorang hendak mentadabburi al Qur-aan kalau ia tidak memiliki ilmu tentang ayat-ayatNya?! (khususnya lagi ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan, agar seseorang bisa memahaminya dengan baik dan benar)

Allaah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

(QS. Muhammad : 24)

Metode pembacaan ini juga dalam rangka mengamalkan hadits untuk menuntut ilmu, dan juga dalam rangka mengamalkan hadits untuk mempelajari al Qur-aan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur`an dan mengajarkanya”.

[Diriwayatkan Imam al Bukhari, no. 5027; Fat-hul Bari, 8/692]

Didalam metode inipun ada dua cara:

– pergi ke majelis tafsiir al Qur-aan, dengan bimbingan ulamaa’ dan asaatidzah yang mana kita dibacakan langsung dari kitab-kitab tafsiir para ulama terdahulu (dan ini yang paling afdhal);

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

“Sungguh, seorang dari kalian berpagi-pagi berangkat ke Masjid lalu ia mempelajari dua ayat dari Kitabullah (Al Qur’an) adalah lebih baik baginya daripada dua ekor Unta. Dan tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta serta empat ayat juga lebih baik dari pada empat ekor unta dan dari sejumlah unta.”

dalam riwayat Abu Dawud lafazhnya:

فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَإِنْ ثَلَاثٌ فَثَلَاثٌ مِثْلُ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

“Sungguh salah seorang diantara kalian setiap hari datang ke Masjid, mempelajari dua ayat dari Kitab Allah ‘azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua ekor unta, dua ayat lebih baik daripada tiga unta, seperti bilangan-bilangan unta tersebut.”

[HR. Ahmad, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiihul jaami’; diriwayatkan pula dengan lafazh yang serupa oleh Muslim dan Abu Dawud (sanadnya pun shahiih, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiih abi dawud)]

– membeli kitab-kitab tafsiir (tentunya tafsiir PARA ULAMA’ yang berlandaskan manhaj yang shahiih), kemudian ia mempelajari ayat demi ayatnya.

Mana yang lebih utama?

Tidak bisa dimutlakkan mana yang paling utama. Terkadang yang ini lebih utama daripada yang lain. Masing-masing orang berbeda-beda. Dan masing-masing memiliki waktu-waktu yang mana yang satu lebih utama daripada yang lain.

Apapun metodenya, maka mereka semua termasuk dalam sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu HURUF dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.”

(HR at Tirmidziy, dan beliau berkata; Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini)

Semoga bermanfa’at

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, al-Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s