Arti kehidupan dan kematian

Seandainya hidup ini hanyalah sebatas makan, minum, tidur, bekerja, menikah, memperoleh keturunan, mencukupi diri dan keluarga, serta berbuat baik kepada orang sekitar… Maka kehidupan kita, tiada bedanya dengan kehidupan hewani…

Akan tetapi kehidupan itu memiliki tujuan yang benar… Yaitu menyembah Allaah dan tidak menyekutukanNya sedikitpun…

Seandainya kematian itu mengakhiri segalanya, tanpa ada pertanggung-jawaban lagi setelahnya… maka sia-sia dan tiada berarti proses kehidupan yang kita jalani…

Akan tetapi setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan balasan… Dimana SELURUH amalan kita akan dihisab, dan kita akan dibalas tanpa ada kezhaliman sedikitpun…

Maka hendaknya kita hidup diatas Islaam, yaitu mentauhidkan Allaah serta bertaqwa kepadaNya dengan sebenar-benarnya taqwa (sampai batas kemampuan kita), agar semoga kita meninggalkan dunia ini, dalam keadaan muslim…

Allaah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

(aali ‘Imraan: 102)

Rasuulullaah mengabarkan kabar gembira yang dikatakan malaa-ikat kepada seorang muslim di alam kubur:

وَيُقَالُ عَلَى الْيَقِينِ كُنْتَ , وَعَلَيْهِ مِتَّ , وَعَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

dan dikatakan (malaikat kepadanya) ‘Dahulu kamu hidup diatas keyakinan (Islam), dan mati di atas keyakinan (Islam), dan di atasnya pula insya Allah kamu akan dibangkitkan.’

(HR. Ahmad, dishahiihkan oleh Syaikh Muqbil dalam ash-shahiihul musnad)

Berkata al Imaam Ibnu Katsiir (dalam menafsirkan QS. 3:102) :

“Peliharalah keislamanmu sepanjang-waktu, supaya kamu mati dalam keadaan Islam. Dan diantara sunnatullah adalah barangsiapa yang hidup diatas sesuatu, maka ia akan mati dengan sesuatu tersebut. Dan barangsiapa yang mati atas sesuatu itu, maka Allah akan membangkitkannya dengan sesuatu itu. Maka kita berlindung kepada Allah dari (hidup) dalam keadaan menyalahi Islaam”

(Lihat Tafsiir Ibnu Katsiir)

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s