Shalat Sunnah Sehari Semalam

Keutamaan shalat sunnah (secara umum)

1. Mendapatkan kecintaan dari Allaah dengan mengamalkan amalan nawaafil (sunnah)

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku yang lebih Aku cintai, dengan amalan yang aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan nawaafil (ibadah-ibadah tambahan/sunnah) hingga Aku mencintainya.”

(Dan apabila kita telah dicintai Allaah, maka Allaah akan memberikan petunjuk kepada kita dengan menjadikan penglihatan, pendengaran serta seluruh perbuatan kita berada di jalan yang diridhaiNya; dan doa kita pun akan mustajab)

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”

(HR al Bukhaariy)

2. Menyempurnakan kekurangan yang ada di dalam shalat wajib yang kita laksanakan

Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sungguh amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila ada kekurangan dari sholat wajib yang ia kerjakan, , maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah apakah hambaKu itu memiliki sholat tathawwu’ (sholat Sunnah). Lalu disempurnakan dengannya yang kurang dari sholat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian…

(HR at-Tirmidziy dan lain-lain; kemudian ia berkata bahwa hadits ini; “Hadits Hasan Gharib”)

3. Meninggikan derajat serta menghapuskan dosa-dosa

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

‘Hendaklah engkau memperbanyak sujud (yakni memperbanyak shalat sunnah) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.

(HR. Muslim)

4. Menjadi teman dekat Rasuulullaah di surga

Dari Rabiah bin Ka’ab Al-Aslami -radhiyallahu ‘anhu- dia berkata,

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Saya pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya. Maka beliau berkata kepadaku, “Mintalah kepadaku.” Maka aku berkata, “Aku hanya meminta agar aku bisa menjadi teman dekatmu di surga.” Beliau bertanya lagi, “Adakah permintaan yang lain?” Aku menjawab, “Tidak, itu saja.” Maka beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud (memperbanyak shalat).”

(HR. Muslim)

Shalat sunnah lebih utamanya dikerjkan di rumah

Berdasarkan hadits, dari Haram bin Mu’awiyah, dari pamannya ‘Abdullah bin Sa’d, ia berkata,

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; lebih utama mana shalat di rumahku atau shalat di masjid?” beliau bersabda:

أَلَا تَرَى إِلَى بَيْتِي مَا أَقْرَبَهُ مِنْ الْمَسْجِدِ فَلَأَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّيَ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَلَاةً مَكْتُوبَةً

“Tidakkah engkau lihat betapa dekatnya rumahku dengan masjid? Sungguh, sekiranya aku shalat di rumahku, maka itu lebih aku sukai daripada shalat di masjid, kecuali shalat wajib (karena shalat wajib, lebih disukai/lebih afdhalnya di masjid)”

(HR. Ibnu Majah; dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiih ibnu maajah)

Juga hadits:

صلاة المرء في بيته أفضل من صلاته في مسجدي هذا إلا المكتوبة

Shalatnya seseorang di rumahnya, LEBIH UTAMA, daripada shalatnya di MASJIDKU INI, kecuali shalat wajib1.

(Shahiih; Diriwayatkan Ahmad, Abu Daawud, dll; dishahiihkan al-albaaniy, al-waadi’iy, dan selainnya)

Imam ibnu ‘abdil barr berkata:

فإذا كانت النافلة في البيت أفضل منها في مسجد النبي صلى الله عليه وسلم والصلاة فيه بألف صلاة ، فأي فضل أبين من هذا

Jika shalat sunnah seseorang di rumahnya LEBIH AFDHAL dibandingkan shalatnya di masjid nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam (yang mana keutamaan pada shalat wajibnya) setara dengan 1000 shalat; maka keutamaan mana lagi yang lebih besar dari hal ini?!

Beliau pun berdalilkan dengan hadits diatas bahwa shalat sunnah itu MUTLAK lebih afdhal dikerjakan di rumah, daripada di masjid; meskipun ia shalat sunnah tarawih2

Waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat sunnah

Setelah shalat shubuh

Abu Hurayrah berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاتَيْنِ بَعْدَ اْلفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ…

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang dua macam shalat (diantaranya) Shalat ba’da Shubuh hingga terbit matahari…”

(al Bukhaariy, dan selainnya)

Ketika matahari terbit, matahari tepat diatas kepala, dan ketika petang* hari hingga terbenam

Dari ‘Uqbah bin Amir radhiyallhu ‘anhu, dia berkata,

ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهان أن نصلي فيهن أو أن نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع، و حين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس و حين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب

“Tiga waktu yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat pada waktu-waktu tersebut atau menguburkan mayat pada saat tersebut adalah ketika matahari terbit hingga matahari tersebut meninggi, ketika tengah hari (matahari tepat diatas kepala) hingga matahari condong (ke barat), dan ketika petang* hari hingga saat matahari terbenam.”

[shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi]

*Petang hari yang dimaksud adalah ketika matahari sudah mulai turun, dan langit telah memerah. Berdasarkan sabda Rasuulullaah:

لا يُصَلِّى بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا أَنْ تَكُوْنَ الشَمْسُ بَيْضَاءَ مُرْتَفِعَة

“Janganlah seseorang shalat setelah ‘Ashar, kecuali bila matahari masih putih dan tinggi’

[HR. Ibnu Khuzaimah nomor 1284 – lihat pula yang semakna di nomor 1285; Abu Dawud nomor 1274; An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa nomor 573, dan lain-lain; shahih].

Tempat yang terlarang untuk melaksanakan shalat sunnah

Kuburan dan WC

Rasuulullaah bersabda:

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) KECUALI KUBURAN dan WC…”

(Shahiih; HR at Tirmidziy)

Kandang Onta

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الإِبِلِ؟ قَالَ

“Apakah aku boleh shalat di tempat menderum (kandang) onta ?”. Beliau menjawab :

لَا

“Tidak”

(HR Muslim)

Beliau juga bersabda:

صَلُّوا في مَرَابِضِ الْغَنَمِ ولا تُصَلُّوا في أَعْطَانِ الْإِبِلِ فَإِنَّهَا خُلِقَتْ من الشَّيَاطِينِ

“Sholatlah kalian di kandang kambing, dan janganlah kalian sholat di kandang onta karena onta diciptakan dari syaitan”

(Shahiih; HR At-Tirmidzi no 348 dan Ibnu Maajah no 769)

Tempat-tempat yang menjijikkan (dan ini diserupakan dengan WC)

Adapun riwayat ibnu ‘Umar:

أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يصلي في سبع مواطن: المزبلة، والمجزرة، والمقبرة، وقارعة الطريق، والحمام، ومعاطن الإبل، وفوق ظهر بيت الله تعالى

Sesungguhnya Rasulullah melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) ka’bah

(HR Tirmizi, no. 346. Ibnu Majah, no. 746; dilemahkan oleh ibnu Hatim, ibnul Jawziy, ibnu Hajar, al Albaaniy dan lain-lain)

Maka sanadnya lemah, karena dalam sanadnya terdapat Zaid bin Jabirah yang mana ia adalah perawi yang matruk (DITINGGALKAN haditsnya). [dari penjelasan Imam ash shan’aaniy dalam subulus salaam]

Maka kita tidak berdalil dengan hadits diatas.

Berkata Syaikh Shaalih al Munajjid:

Sebagian tempat (yang disebutkan dalam hadits) ini memerlukan pembahasan yang lebih rinci:

1. Tempat Sampah

Yaitu tempat sampah atau tempat pembuangan sampah yang kadang di dalamnya terdapat najis. Maka dilarang shalat di dalamnya karena (ada) najisnya. Kalau kita kira tempat itu suci, maka ia termasuk tempat yang menjijikkan. Tidak layak seorang muslim berdiri menghadap Allah di tempat tersebut.

2. Tempat Penyembelihan (hewan)

Yaitu tempat penyembelihan hewan-hewan. Karena tempat itu terkotori dengan najis -seperti darah- dan kotoran-kotoran.

[Lihat: http://islamqa.info/id/ref/140208]

Jenis-jenis Shalat Sunnah Sehari Semalam yang dapat kita kerjakan

Shalat Malam (Qiyamul Lail, Tahajjud, Tarawih dan Witir)

Shalat malam itu dikenal dengan empat istilah:

– Shalat Qiyaamul Lail: yaitu shalat malam SECARA UMUM, yang dikerjakan sebelum tidur; baik diawal malam atau dipertengahan malam. Jika disebut “Qiyamul lail”, maka bisa bermakna tahajjud dan/atau tarawih berserta witir.

– Shalat Tahajjud: yaitu shalat yang dikerjakan yang didahului dengan tidur; lebih utama dikerjakan pada akhir malam.

– Shalat Tarawih: yaitu shalat yang dikerjakan setelah shalat ‘isya dibulan ramadhan, diawal malam; baik dikerjakan di masjid (bersama imam), atau dikerjakan diselain masjid (baik sendirian maupun berjamaa’ah.

– Shalat Witir: yaitu shalat yang dilaksanakan untuk meng-ganjilkan shalat malam.

Diantara keutamaan-keutamaan shalat malam

1. Shalat Malam merupakan satu-satunya shalat sunnah yang disinggung Allaah dalam kitabNya yang mulia

Allaah berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Dan pada sebahagian malam hari, (shalat) tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah nafilah (tambahan) bagimu

(al Israa’ : 79)

2. Shalat malam merupakan seafdhal-afdhalnya shalat sunnah

Rasuulullaah bersabda:

وَأَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةَ صَلاةُ اللَّيْلِ

Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam

(HR. Muslim)

3. Teladan orang-orang shalih terdahulu

Allaah berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam [yang digunakan untuk shalat malam]

(adz Dzaariyaat: 51)

Allaah juga berfirman:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya [karena shalat malam mereka]…

(as Sajdah: 16)

4. Wujud nyata keshalihan seseorang

إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ رَجُلٌ صَالِحٌ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ

“Abdullah adalah seorang hamba yang shalih, asalkan shalat malam.”

az Zuhriy berkata: “setelah itu Ibnu ‘Umar memperbanyak shalat malam”

dalam riwayat lain dikatakan: “setelah saat itu, ia tidak tidur malam kecuali sedikit”

(HR. Bukhariy, dalam baab: ta’bir, diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam shahiihnya)

5. Allaah kagum terhadap orang yang shalat malam

Rasuulullaah bersabda:

عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رَجُلَيْنِ

“Tuhan kita, (Allaah) Azza wa Jalla, kagum terhadap dua orang laki-laki:

(diantaranya)

فَيَقُولُ رَبُّنَا أَيَا مَلَائِكَتِي انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي ثَارَ مِنْ فِرَاشِهِ وَوِطَائِهِ وَمِنْ بَيْنِ حَيِّهِ وَأَهْلِهِ إِلَى صَلَاتِهِ رَغْبَةً فِيمَا عِنْدِي وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِي

lalu Robb kita berfirman: Wahai para malaikatKu, lihatlah kepada hambaKu yang meninggalkan kasur dan selimutnya di antara tidur dan keluarganya untuk melaksanakan shalat karena mengharap balasan di sisiKu dan takut adzab di sisiKu.

(Hasan li ghayrihi; HR Ahmad, terdapat dalam shahiih at targhiib karya al albaaniy)

Jumlah raka’at shalat malam

Dilaksanakan dengan dua raka’at-dua raka’at; dengan batas minimalnya 1 raka’at dan tanpa batas maksimal (menurut pendapat yang raajih)

– Adapun batas minimal satu rakaa’at

Berdasarkan hadits:

ومن أحبَّ أن يوترَ بواحدةٍ فليفعَلْ

…Dan barangsiapa yang suka berwitir 1 raka’at, hendaknya ia melakukannya…

(HR Abu Daawuud, dinilai shahiih oleh al albaaniy)

Dan shalat witir TERMASUK SHALAT MALAM. Jika seandainya seseorang HANYA SHALAT WITIR diwaktu malam, maka ia TERMASUK orang yang mengamalkan shalat malam.

– Adapun batas maksimalnya yang tanpa batasan

Berdasarkan hadits ibnu ‘Umar, dimana ia berkata:

أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم وأنا بينه وبين السائل فقال يا رسول الله كيف صلاة الليل قال

Bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi untuk bertanya, dan aku berada diantara nabi dan si penanya… Kemudian ia berkata: “wahai Rasuulullaah, BAGAIMANA SHALAT MALAM itu?” Nabi bersabda:

مثنى مثنى فإذا خشيت الصبح فصل ركعة واجعل آخر صلاتك وترا

Dua raka’at-dua raka’at, jika engkau khawatir masuk waktu shubuh; shalatlah satu raka’at; dan jadikanlah akhir shalat malam-mu dengan witir.

(HR Muslim)

Hadits diatas shahiih lagi shariih, yang menunjukkan tidak ada pembatasan dalam jumlah raka’at shalat malam.

Kalaulah shalat malam itu TERLARANG mengerjakan lebih dari 11/13 raka’at… Tentulah nabi akan MELARANG penanya tersebut untuk mengerjakan lebih dari 11/13 raka’at dan MEMERINTAHKANNYA untuk mencukupkan saja dengan 11/13 raka’at… Dan PELARANGAN serta PERINTAH dari Nabi, WAJIB beliau utarakan pada saat tersebut, berdasarkan kaidah:

لا يجوز تأخير البيان عن وقت الحاجة

“Tidak boleh mengakhirkan penjelasan pada waktu yang dibutuhkan”

Sebagaimana kita dapati pada shaum, beliau melarang shaum sepanjang tahun:

فَصُمْ صِيَامَ نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَلَا تَزِدْ عَلَيْهِ

“Berpuasalah dengan puasanya Nabi Allah Daud Alaihissalam dan jangan kamu tambah lebih dari itu”.

(HR al Bukhaariy)

Dan juga makruh, jika mengkhatamkan al Qur-aan kurang dari tiga hari, berdasarkan sabdanya:

لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ

“Tidak akan dapat memahaminya orang yang mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari.”

(Shåhiih, HR. Muslim, Abu Dawud dan selainnya; dishåhihkan oleh al-’Allamah al-Muhaddits al-Imam al-Albaniy råhimahullåh dalam Shåhiih Abi Dawud)

Kalaulah shalat malam itu TERLARANG melebihi 11/13 raka’at sebagiamana dipraktekkan nabi, tentulah beliau akan melarang atau memakruhkan kita untuk melebihi jumlah raka’at tersebut; dan akan memerintahkan kita untuk mencukupkan dengan jumlah raka’at tersebut!3

Maka perkataan nabi diatas, menjelaskan perbuatan nabi. Bahwa perbuatan nabi yang tidak pernah lebih dari 11/13 BUKAN sebagai BATASAN jumlah raka’at shalat malam. Dan TIDAK TERLARANG shalat lebih dari 11/13 raka’at.

Ini khilaf mu’tabar diantara salafush shalih. Masing-masing dari dua belah pihak, sama-sama menginginkan kebenaran. Masing-masing telah menempuh cara ilmiyyah dalam mengikuti istidlal dan istimbath as salafush shaalih. Maka jika kesimpulan akhirnya berbeda, maka hendaknya saling berlapang dada.

Sebagaimana perkataan syaikh al albaaniy (yg berpendapat jumlah raka’at hanya 11/13, tidak boleh lebih)

“…Apabila telah mengerti hal itu, maka jangan ada seorang mengira bahwa ketika kami memilih untuk mencukupkan dengan sunnah dalam jumlah rakaat shalat Tarawih dan tidak boleh melebihi/menambah jumlah tersebut bahwa berarti kami menganggap sesat atau membid’ahkan para ‘ulama yang tidak berpendapat demikian, baik dulu maupun sekarang. Sebagaimana telah ada sebagian orang yang berprasangka demikian dan menjadikannya sebagai alasan untuk mencela kami …”

Waktu pelaksanaan shalat malam

Boleh pada awal malam, pertengahan malam, atau akhir malam; baik didahului oleh tidur maupun tidak.

Berdasarkan hadits ‘Aa-isyah, bahwa beliau berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat witir pada setiap bagian malam, baik di awal waktu, pertengahan, ataupun akhir malam. Shalat Witir beliau selesai di waktu sahur.”

[Muttafaqun ‘alayh]

Adapun yang paling utama, adalah mengawali dengan tidur, kemudian mengerjakannya pada sepertiga terakhir malam. (baca: http://abuzuhriy.com/keutamaan-untuk-bangun-dan-beribadah-pada-sepertiga-terakhir-malam/)

Tata cara mengerjakan shalat malam

Simak ulasan lengkapnya disini: http://abuzuhriy.com/sifat-shalat-malam-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

Makruh meninggalkan shalat malam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash,

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ ثُمَّ تَركَهُ

“Wahai ‘Abdullah (ibn ‘Amr), janganlah engkau seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat lail, lalu ia meninggalkannya.”

(HR. al Bukhaariy dan selainnya)

Shalat Dhuha

Diantara keutamaan-keutamaan shalat dhuha

Simak lebih lengkap disini: http://abuzuhriy.com/diantara-keutamaan-shalat-dhuha/

Jumlah raka’at shalat dhuha

Batas minimal

Minimalnya dua rakaa’at

Berdasarkan hadits:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku yang tidak akan kutinggalkan hingga aku mati: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) belaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan (3) berwitir sebelum tidur.”

(HR. Bukhari no. 1178).

Batas Maksimalnya

Menurut pendapat yang benar, bahwa TIDAK ADA BATAS MAKSIMAL jumlah raka’at shalat dhuha.

Berdasarkan habits Mu’aadzah, beliau pernah bertanya kepada ‘Aa-isyah:

كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى ؟

Berapa raka’at yang biasa dilakukan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pada shalat dhuha?

Berkata ‘Aa-isyah:

أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ

Empat raka’at, dan beliau menambah sebanyak apa (yang Allaah) kehendaki

(HR Muslim)

Juga hadits:

صلاة الليل والنهار مثنى مثنى

Shalat malam dan siang hari, dua raka’at-dua raka’at.

(HR al Bukhaariy, dll)

Berkata as Suyuthiy dalam Al-Hawi:

“Tidak terdapat hadis yang membatasi shalat dhuha dengan rakaat tertentu, sedangkan pendapat sebagian ulama bahwasanya jumlah maksimal 12 rakaat adalah pendapat yang tidak memiliki sandaran sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Hafidz Abul Fadl Ibn Hajar dan yang lainnya.”.

Beliau juga membawakan perkataan Al-Hafidz Al-’Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi,

“Saya tidak mengetahui seorangpun sahabat maupun tabi’in yang membatasi shalat dhuha dengan 12 rakaat. Demikian pula, saya tidak mengetahui seorangpun ulama madzhab kami (syafi’iyah) – yang membatasi jumlah rakaat dhuha – yang ada hanyalah pendapat yang disebutkan oleh Ar-Ruyani dan diikuti oleh Ar-Rafi’i dan ulama yang menukil perkataannya.”

Setelah menyebutkan pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, As-Suyuthy menyebutkan pendapat sebagian ulama malikiyah, yaitu Imam Al-Baaji Al-Maliky dalam Syarh Al-Muwattha’ Imam Malik. Beliau mengatakan,

“Shalat dhuha bukanlah termasuk shalat yang rakaatnya dibatasi dengan bilangan tertentu yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, namun shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang boleh dikerjakan semampunya.”

(Al-Hawi lil fataawa, 1:66; kutip dari konsultasi syari’ah)

Hal ini ditegaskan pula oleh Al-’Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi dan Al-’Aini dalam Umdatul Qori Syarh Shahih Bukhari.

Al-Hafidz Al ‘Aini mengatakan,

“Tidak adanya dalil –yang menyebutkan jumlah rakaat shalat dhuha– lebih dari 12 rakaat, tidaklah menunjukkan terlarangnya untuk menambahinya.”

(Umdatul Qori, 11:423; kutip dari konsultasi syari’ah)

Berkata Syaikh ibnul ‘Utsaimiin:

“Pendapat yang benar adalah tidak ada batasan maksimal untuk jumlah rakaat shalat dhuha karena:

(Dasarnya adalah) Hadis Mu’adzah (diatas; kemudian beliau menukilkan haditsnya).

(Kemudian beliau berkomentar)

Misalnya ada orang shalat di waktu dhuha 40 rakaat maka semua ini bisa dikatakan termasuk shalat dhuha.

Adapun pembatasan delapan rakaat sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang fathu Mekah dari Umi Hani’, maka dapat dibantah dengan dua alasan:

– Pertama, sebagian besar ulama menganggap shalatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika fathu Mekah bukan shalat dhuha namun shalat sunah karena telah menaklukkan negeri kafir. Dan disunnahkan bagi pemimpin perang, setelah berhasil menaklukkan negri kafir untuk shalat 8 rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah.

– Kedua, jumlah rakaat yang disebutkan dalam hadis tidaklah menunjukkan tidak disyariatkannya melakukan tambahan, karena kejadian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat delapan rakaat adalah peristiwa kasuistik –kejadian yang sifatnya kebetulan–

(As-Syarhul Mumthi’ ‘alaa Zadil Mustaqni’ 2:54; kutip dari konsultasi syari’ah)

Waktu pelaksanaan shalat dhuha

Waktu dhuha dimulai setelah berlalunya waktu yang diharamkan untuk shalat, setelah terbitnya matahari.

Syaikh Dr. Musthofa Al Bugho berkata, “Waktu shalat Dhuha adalah mulai dari matahari meninggi hingga waktu zawal (matahari bergeser ke barat). Waktu afdholnya ketika telah masuk ¼ siang.” (At Tadzhib, hal. 50).

Ar Rofi’i mengatakan bahwa waktu pelaksanaan shalat Dhuha adalah mulai dari matahari meninggi [setinggi tombak, yaitu kira-kira 25-30 menit setelah terbitnya matahari] hingga istiwa’ (matahari di atas kepala, di pertengahan). Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu Ar Rif’ah.

Imam Nawawi dalam Ar Roudhoh mengatakan bahwa waktu pelaksanaan shalat Dhuha menurut ulama Syafi’iyah dimulai dari terbitnya matahari, namun disunnahkan dimulai ketika matahari meninggi.

Waktu terbaik (mukhtaar) untuk shalat Dhuha adalah ketika telah masuk ¼ siang. Imam Nawawi pun menguatkan hal ini (Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 84).

Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan,

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ».

Zaid bin Arqom pernah melihat suatu kaum sedang melaksanakan shalat Dhuha, ia berkata, “Yang mereka tahu bahwa shalat di selain waktu ini lebih afdhol. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat awwabin yaitu ketika keadaan begitu panas.” (HR. Muslim no. 748).

Shalat Dhuha dalam hadits ini disebut dengan shalat awwabin yaitu shalat orang yang kembali taat sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah. Waktu afdhol shalat Dhuha adalah ketika sudah begitu siang diperkirakan telah masuk ¼ siang, yaitu keadaannya disebut dengan tarmadhul fishool, yaitu saat pasir mulai panas membakar dan anak unta meninggalkan induknya.

[Kutip dari rumaysho.com]

Apakah shalat dhuha dikerjakan secara berjamaa’ah?

Boleh. Tapi TIDAK DIRUTINKAN.

عَنْ عِتْبَان بْن مَالِك ” أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي بَيْتِهِ سُبْحَة اَلضُّحَى فَقَامُوا وَرَاءَهُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ ”

dari ‘Itban bin Malik, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam pernah shalat Dhuha di rumahnya, lalu para sahabat berada di belakang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengikuti shalat yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan.

[Fathul Baari, 4/177, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah]

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini dikeluarkan pula oleh Muslim dari riwayat Ibnu Wahb dari Yunus dalam hadits yang cukup panjang, tanpa menyebut “shalat Dhuha”.

[Idem]

Al Haitsami mengatakan bahwa para perowinya adalah perowi yang shahih.[Majma’ Az Zawa-id, 2/278] Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sebagaimana syarat Bukhari-Muslim.[ Lihat Ta’liq Syaikh Syu’aib Al Arnauth terhadap Musnad Imam Ahmad]

Namun apakah hadits ini bisa sebagai dalil untuk melaksanakan shalat Dhuha rutin secara berjama’ah?

Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menjelaskan hadits Ibnu ‘Abbas yang berada di rumah Maimunah dan melaksanakan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau rahimahullah mengatakan,

وَفِيهِ مَشْرُوعِيَّة الْجَمَاعَة فِي النَّافِلَة

“Dalam hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan shalat sunnah secara berjama’ah.”

[Fathul Baari, 3/421]

An Nawawi tatkala menjelaskan hadits mengenai qiyam Ramadhan (tarawih), beliau rahimahullah mengatakan,

جَوَاز النَّافِلَة جَمَاعَة ، وَلَكِنَّ الِاخْتِيَار فِيهَا الِانْفِرَاد إِلَّا فِي نَوَافِل مَخْصُوصَة وَهِيَ : الْعِيد وَالْكُسُوف وَالِاسْتِسْقَاء وَكَذَا التَّرَاوِيح عِنْد الْجُمْهُور

“Boleh mengerjakan shalat sunnah secara berjama’ah. Namun pilihan yang paling bagus adalah dilakukan sendiri-sendiri (munfarid) kecuali pada beberapa shalat khusus seperti shalat ‘ied, shalat kusuf (ketika terjadi gerhana), shalat istisqo’ (minta hujan), begitu pula dalam shalat tarawih menurut mayoritas ulama.”

[Syarh Muslim, 3/105, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah]

Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengenai hukum mengerjakan shalat nafilah (shalat sunnah) dengan berjama’ah.

Syaikh rahimahullah menjawab,

إذا كان الإنسان يريد أن يجعل النوافل دائماً في جماعة كلما تطوع، فهذا غير مشروع، وأما صلاتها أحياناً في جماعة فإنه لا بأس به لورود ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم كما في صلاة ابن عباس معه في صلاة الليل ، وكما صلى معه أنس بن مالك رضي الله عنه واليتيم في بيت أم سليم وما أشبه ذلك.

“Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjama’ah, maka ini adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan. Adapun jika dia melaksanakan shalat sunnah tersebut kadang-kadang secara berjama’ah, maka tidaklah mengapa karena terdapat petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini seperti shalat malam yang beliau lakukan bersama Ibnu ‘Abbas [Hadits muttafaq ‘alaih, ed]. Sebagaimana pula beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan anak yatim di rumah Ummu Sulaim[Hadits muttafaq ‘alaih, ed], dan masih ada contoh lain semisal itu.”

[Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 14/231, Asy Syamilah]

Namun kalau shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini diperbolehkan karena ada maslahat. Ibnu Hajar ketika menjelaskan shalat Anas bersama anak yatim di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berjama’ah, beliau mengatakan,

وَأَنَّ مَحَلّ الْفَضْل الْوَارِد فِي صَلَاة النَّافِلَة مُنْفَرِدًا حَيْثُ لَا يَكُون هُنَاكَ مَصْلَحَة كَالتَّعْلِيمِ ، بَلْ يُمْكِنُ أَنْ يُقَال هُوَ إِذْ ذَاكَ أَفْضَل وَلَا سِيَّمَا فِي حَقّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

“Shalat sunnah yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika memang di sana tidak ada maslahat seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun dapat dikatakan bahwa jika shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini dinilai lebih utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang bertugas untuk memberi contoh pada umatnya, -pen).”

=== [kutip dari: Rumaysho.com] ===

Shalat Sunnah Qabliyah dan Ba’diyah [shalat sebelum dan sesudah shalat wajib]

Diantara keutamaan-keutamaan shalat qabliyah dan ba’diyah

1. Barangsiapa yang menjaga dua belas raka’at shalat qabliyah-ba’diyah akan dibangunkan rumah di surga

Dari Ummul Mukminin Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhaa, bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.”

(HR. Muslim)

Jumlah rakaat ini ditafsirkan dalam riwayat al-Tirmidzi dan al-Nasa’I dari hadits Ummu Habibah sendiri, yang berbunyi:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang sholat dua belas rakaat maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di Syurga;

أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ

– empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat setelahnya,

وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ

– dua rakaat setalh maghrib,

وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ

– dua rakaat sesudah Isya’

وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

– dan dua rakaat sebelum sholat subuh.

Dalam riwayat lain dengan lafadz:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Siapa yang TERUS MENERUS melakukan sholat dua belas rakaat maka Allah bangunkan baginya sebuah rumah disyurga.

(HR al-Nasaa’iy)

2. Shalat fajar (qabliyah shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya

Rasuulullaah bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua raka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

(HR. Muslim)

3. Pintu-pintu langit dibuka ketika masuknya waktu zhuhur, dan akan senantiasa dibuka hingga dilaksanakannya shalat zhuhur.

إنه إذا زالت الشمس فتحت أبواب السماء فلا يغلق منها باب حتى تصلى الظهر فأنا أحب أن يرفع لي في تلك الساعة خير

“Sesungguhnya saat matahari tergelincir (yaitu masuknya waktu zhuhur), maka pintu-pintu langit dibuka dan lalu tidak satu pintu-pun ditutup sehingga shalat zhuhur dilaksanakan. Maka aku suka ada kebaikanku yang diangkat pada waktu itu”

(HR ath Thabraaniy, hasan li ghayrihi)

Maka amalan shalat sunnah kita, yaitu qabliyah zhuhur, kita sangat kita harapkan diangkat dan diterimaNya. Hendaknya pula kita banyak berdoa diwaktu ini, yang kita harapkan doa tersebut terangkat kepadaNya dan diijabahNya.

4. Allaah mengharamkan neraka, bagi seorang yang (menjaga) shalat sunnah empat raka’at sebelum (qabliyah) dan setelah (ba’diyah) zhuhur

Rasuulullaah bersabda:

من صلى أربع ركعات قبل الظهر وأربعا بعدها حرمه الله على النار

Barangsiapa yang shalat empat raka’at sebelum zhuhur, dan empat raka’at sesudah zhuhur; maka Allaah mengharamkan baginya api neraka.

(Hasan; HR. Ahmad, Abu Dawud, an Nasaa-iy, ibnu Maajah, at Tirmidziy, Ibnu Khuzaymah , dll; dihasankan al Albaaniy dalam shahiih at tirmidziy)

5. Neraka tidak akan menyentuh wajahnya seorang mukmin yang (menjaga) shalat sunnah ba’diyah zhuhur empat raka’at

Rasuulullaah bersabda:

ما من عبدٍ مؤمنٍ يصلِّي أربعَ رَكعاتٍ بعدَ الظُّهرِ فتمسُّ وجهَه النَّارُ أبدًا إن شاءَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ

Tidaklah salah seorang hamba mukmin yang shalat empat raka’at sesudah zhuhur, melainkan neraka tidak akan menyentuh wajahnya selamanya. in syaa-a LLaah ‘azza wa jalla.

(shahiih li ghayrihi; HR an Nasaa-iy)

6. Allaah merahmati orang yang shalat sunnah empat raka’at sebelum shalat ashar

Rasuulullaah bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan empat (raka’at) sebelum (shalat) Ashar”

(Hasan; HR Ahmad, Abu Daawud, at Tirmdziy; dll)

Waktu pelaksanaan shalat

– Sesudah adzan dan sebelum iqamah untuk qabliyah

Rasuulullaah bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ – ثَلاَثًا – لِمَنْ شَاءَ

“Antara adzan dan iqamat itu terdapat shalat -Rasul mengulanginya tiga kali- bagi siapa yang berkehendak.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Seluruh shalat lima waktu, memiliki shalat sunnah qabliyah, KECUALI SHALAT JUM’AT.

Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata,

وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء

“Adapun shalat sunnah qabliyah sebelum Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.”

(Fathul Bari, 2: 426)

Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menyebutkan,

” وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟

“Jika bilal telah mengumandangkan adzan Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti shalat ‘ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qobliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jum’at tersebut)?”

[Zaadul Ma’aad]

==kutip dari rumaysho==

– Setelah shalat wajib untuk ba’diyah

Seluruh shalat wajib lima waktu (termasuk shalat jum’at) memiliki ba’diyahnya, KECUALI SHALAT SHUBUH; maka tidak ada ba’diyahnya.

Berdasarkan hadits:

عن أبي هريرة قال نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاتَيْنِ بَعْدَ اْلفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ اْلعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang dua macam shalat : Shalat ba’da Shubuh hingga terbit matahari dan shalat ba’da ‘Ashar hingga terbenamnya matahari”

[HR. Al-Bukhari nomor 563 dan Muslim nomor 825].

Akan tetapi untuk ba’diyah ashar, maka ini dibolehkan, berdasarkan ucapan dan perbuatan nabi.

Ba’diyah ashar (yang dimaksudkan dalam hadits diatas) adalah ketika matahari meredup dan rendah. Sebagaimana disabdakan beliau Dari ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا يُصَلِّى بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا أَنْ تَكُوْنَ الشَمْسُ بَيْضَاءَ مُرْتَفِعَة

“Janganlah seseorang shalat setelah ‘Ashar, kecuali bila matahari masih putih dan tinggi’

[HR. Ibnu Khuzaimah nomor 1284 – lihat pula yang semakna di nomor 1285; Abu Dawud nomor 1274; An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa nomor 573, dan lain-lain; shahih].

Dan beliau SENANTIASA MENGAMALKAN shalat sunnah setelah ashr (pada waktu yang masih diperbolehkan)

Berkata ‘Aa-isyah:

صَلاتَانِ مَا تَرَكَهمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَيْتِيْ قَطّ سِرًا وَلا عَلانِيَةً رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum Fajar/Shubuh dan dua raka’at setelah ‘Ashar”

Juga dalam lain riwayat:

عن عائشة قالت مَا تَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ عِنْدِيْ قَطّ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam TIDAK PERNAH MENINGGALKAN dua raka’at ba’da ‘Ashar disisiku”.

[HR. Al-Bukhari nomor 566-567 dan Muslim nomor 835]

Dijelaskan bahwa tidak pernah terlihat Rasuulullaah shalat dua raka’at setelah ashr, karena beliau khawatir memberatkan ummatnya.

عن عائشة قالت وَالَّذِيْ ذَهَبَ بِهِ مَا تَرَكَهُمَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ وَمَا لَقِيَ اللهَ تَعَالَى حَتَّى ثَقُلَ عَنِ الصَّلاةِ وَكَانَ يُصَلِّيَ كَثِيْرًا مِنْ صَلاتِهِ قَاعِدًا تَعْنِيْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْهِمَا وَلا يُصَلِّيْهِمَا فِيْ اْلمَسْجِدِ مُخَافَةَ أَنْ يُثَقِّلَ عَلَى أُمَّتِهِ وَكَانَ يُحِّبُ مَا يُخَفِّفُ عَنْهُمْ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Demi Allah, beliau TIDAK PERNAH MENINGGALKAN shalat dua raka’at sehingga beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Allah, dan beliau tidak bertemu dengan Allah ta’ala hingga beliau merasa berat melakukan shalat. Dan beliau sering melakukan shalatnya dengan duduk, yaitu shalat (sunnah) dua raka’at SETELAH ASHR dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar itu tidak di dalam masjid karena TAKUT AKAN MEMBERATKAN UMMATNYA, dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya”

[HR. Al-Bukhari nomor 565]

===Simak: Blog Ustadz Abul Jauzaa===

Tempat pelaksanaan shalat qabliyah dan ba’diyah

Lebih utama dikerjakan DI RUMAH. Berdasarkan keumuman hadits yang sudah disebutkan pada awal pembahasan.

Juga disebutkan dalam hadits lain:

إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا

“Jika seorang diantara kalian shalat di masjid, maka hendaknya ia menjadikan sebagian shalat di rumahnya, sebab Allah menjadikan kebaikan dari shalatnya di rumahnya.”

(HR Muslim)

Shalat Wudhu

Diantara keutamaan-keutamaan shalat wudhu

– Diampuni dosa yang telah lalu

Rasuulullaah bersabda:

مَنْ تَوَضَّئَا نَحْوَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَينِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

‘Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian ia shalat dua rakaat dan tidak terbetik di dalam hatinya selain dari perkara shalatnya, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu’.”

(Shahih, HR. al-Bukhari no. 164 dan Muslim no. 226)

– Memasukkan kedalam surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Bilal :

يَا بِلاََلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ

“Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku tentang amalan yang paling memberikan pengharapan padamu yang telah kau kerjakan, karena aku mendengar gerakan kedua sendalmu di hadapanku di surga”.

قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّي

Bilal berkata, “Tidaklah aku mengerjakan suatu amalan yang paling memberikan pengharapan padaku daripada jika aku bersuci kapan saja di malam hari atau siang hari kecuali aku sholat dengan bersuciku tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah”

(HR Al-Bukhari no 1149 dan Muslim no 2458)

Jumlah raka’at shalat wudhu

Batas minimalnya: Dua raka’at sebagaimana disebutkan hadits pertama.
Batas maksimalnya: Tidak ada batasan, sebagaimana dalam hadits bilaal.

Waktu pelaksanaan shalat wudhu

Kapan saja setelah kita berwudhu. Hanya saja apabila bertepatan dengan masuknya waktu shalat, hendaknya kita tidak menambahkan kecuali dengan apa yang sudah dituntunkan Rasuul. Yaitu tidak perlu kita meniatkan shalat wudhu tersendiri, kemudian shalat qabliyah.

Shalat Tahiyatul Masjid

Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rab’y Al-Anshary Radhiyallahu anhu, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

‘Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua raka’at”.

(al Bukhaariy dan selainnya)

Jumlah raka’at shalat Tahiyatul Masjid: Dua raka’at.

Waktu pelaksanaan shalat tahiyatul masjid: Kapan saja ketika masuk masjid. Hanya saja, sebagaimana shalat wudhu, shalat tahiyatul masjid, tidaklah diniatkan secara khusus dan tersendiri; atau shalat yang berdiri sendiri. Jika kita masuk masjid, untuk shalat qabliyah; maka shalat qabliyah itulah yang menjadi shalat tahiyatul masjid.

Shalat Masuk dan Keluar Rumah

Rasuulullaah bersabda:
إذا خرَجت من مَنْـزلك فَصَلّ ركعتين يمنعانكَ من مخرجِ السوءِ

“Jika engkau masuk rumahmu kerjakanlah shalat dua rakaat, niscaya keduanya akan mencegahmu dari keburukan yang mungkin terjadi di dalam rumah.

وإذا دَخَلْتَ إلى منـزلك فصَلّ ركعتين يمنعانكَ من مدخل السوء

Jika engkau keluar rumahmu kerjakanlah shalat dua rakaat, niscaya keduanya akan mencegahmu dari keburukan yang mungkin terjadi diluar rumah.”

[HR. al-Bazzar dalam Kasyful Astaar (II/357), lihat Faidhul Qadhir (I/334) karya al-hafizh Ibnu Hajar al-atsqålaniy, dan as-Silsilah al-ahaadiits ash-Shahihah (no. 1323)]

Diantara keutamaan-keutamaan shalat masuk-keluar rumah

– Mencegah keburukan yang ada diluar rumah (ketika kita hendak keluar darinya)
– Mencegah keburukan yang ada didalam rumah (ketika kita memasukinya)

Jumlah raka’at shalat masuk-keluar rumah: Dua raka’at

Waktu pelaksanaan shalat masuk-keluar rumah: Ketika hendak keluar, dan ketika masuk. [Boleh menggabungnya dengan shalat qabliyah, ba’diyah, dan/atau shalat wudhu]

Shalat Taubat

Diantara keutamaan-keutamaan shalat taubat

– Menghapuskan dosa

Dari ‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu ia berkata:

وَإِنَّهُ حَدَّثَنِى أَبُو بَكْرٍ وَصَدَقَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ

…Dan sesungguhnya Abu Bakar telah memberitakan sebuah hadits kepadaku, dan Abu Bakar telah berkata jujur, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ

“Tidak ada seseorang pun yang melakukan dosa, lalu dia berdiri kemudian bersuci lalu menunaikan shalat, setelah itu memohon ampun kepada Allâh, kecuali Allâh pasti akan mengampuninya.”

ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ : وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Kemudian beliau membaca ayat ini (yang maknanya-red), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allâh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allâh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Qs. Ali Imrân/3: 135)

[HR at Tirmidziy dengan sanad yang hasan]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Abu Dâwud rahimahullâh dengan lafazh :

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ.

Tidak ada seorang hamba pun yang melakukan dosa, lalu dia bersuci dengan baik selanjutnya berdiri lalu melakukan shalat dua raka’at, kemudian memohon ampun kepada Allâh, kecuali Allâh pasti akan mengampuninya.

ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ

Kemudian beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam membaca ayat (yang artinya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allâh…”, sampai akhir ayat.

[Shahiih; HR Abu Daawud]

Jumlah raka’at shalat taubat: Dua raka’at

Waktu pelaksanaan shalat taubat: Ketika kita terjatuh dalam maksiat.

Shalat Istikharah

Hal ini merupakan perwujudan firmanNya:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

…Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

(Aali ‘Imraan: 159)

Dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajari kami shalat istikharah dalam SETIAP perkara / urusan yang kami hadapai, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata,

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Jika salah seorang di antara kalian BERNIAT dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah:

للَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”

(HR. Al-Bukhari)

Jumlah raka’at shalat Istikharah Dua raka’at

Waktu pelaksanaan shalat Istikharah Kapan saja ketika kita hendak ber’azzam/bertekad untuk melakukan sebuah perkara yang mubah [bukan berkaitan dengan perkara ibadah], yang mana kita hendak menentukan pilihan terhadap perkara tersebut. Shalat ini tidak berdiri sendiri. Jika seseorang hendak menggabungkan shalat tahiyatul masjid, shalat wudhu, serta shalat istikharah; maka tidak mengapa. Setelah shalat, ia pun dapat berdoa dengan doa yang diajarkan nabi diatas.

Shalat Tasbih

Hadits ini diperselisihkan ulama derajatnya, yang benar, bahwa sanadnya shahiih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Al-Abaas bin Abdulmuthalib:

يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ لَكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَقَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ وَخَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَصَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ

“Wahai pamanku! Maukan aku beri, maukah aku anugerahkan, maukah aku kasih dan maukah aku lakukan untukmu sepuluh perkara apabila kamu kerjakan maka Allah akan mengampuni seluruh dosa yang pertama hingga terakhir, yang lalu dan yang sekarang, baik yang dilakukan karena keliru ataupun sengaja, dosa kecil dan besar, tersembunyi dan yang terang-terangan?

عَشْرُ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ قُلْتَ وَأَنْتَ قَائِمٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً

Sepuluh perkara itu adlah kamu lakukan shalat empat rakaat, kamu baca dalam setiap rakaat surat Al-Fatihah dan surat (Al-Qur`an). Apabila telah selesai dari membaca surat di awal rakaat, maka ucapkalah dalam keadaan kamu berdiri: subhaanallaah walhamdulillaah wa laa ilaaha illallaah wa LLaahu akbar sebanyak lima belas kali

ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُ وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا

kemudian ruku’ lalu ucapkanlah dlam keadaan kamu ruku’ sepuluh kali

ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا

kemudian mengangkat kepalanya (berdiri) dari ruku’ [yaitu i’tidal], lalu ucapkanlah tasbih tersebut sepuluh kali

ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا

kemudian turun sujud dan mengucapkan dalam sujudmu tasbih tsb 10 kali,

ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا

kemudian bangkit dari sujud dan mengucapkan nya 10 kali.

ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا

Kemudian sujud lagi dan mengucapkanya 10 kali

ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا

lalu bangkit (yaitu duduk istirahat sebelum berdiri untuk raka’at kedua) dan mengucapkan 10 kali.

فَذَلِكَ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ

Sehingga jumlahnya 75 kali dalam setiap rakaat.

تَفْعَلُ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً

Kerjakanlah empat rakaat apabila kamu mampu melakukannya dalam setiap hari sekali maka kerjakanlah dan bila tidka mampu maka sekali dalam satu Jum’at [baca; sepekan sekali], apabila tidka mampu maka sebulan sekali dan bila tidak mampu maka sekali dalam seumur hidup.”

(HR Abu Daud 1105 4/59 dan ibnu Maajah 1377 dan dimasukkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib dan At-Tarhib no 677; ustkholid)

Jumlah raka’at shalat tasbih: Empat raka’at

Waktu pelaksanaan shalat tasbih: Dapat dilaksanakan kapan saja, kecuali pada waktu yang terlarang.

Semoga bermanfa’at


Catatan Kaki

  1. Hadits diatas memberikan faidah bahwa yang dimaksudkan keutamaan 1000 shalat adalah shalat wajib, bukan shalat sunnah. Karena shalat sunnah tetap lebih utama di rumah, sebagaimana dijelaskan Rasuulullaah pada hadits diatas
  2. Bagaimanakah mengkompromikannya dengan hadits-hadits berikutSebagaimana dalam shalat dhuha terdapat hadits:مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ غَدَا إِلىَ الْمَسْجِدِ لِسَبْحَةِ الضُّحىَ، فَهُوَ أَقْرَبُ مَغْزىً وَأَكْثَرُ غَنِيْمَةً وَأَوْشَكُ رَجْعَةًBarang siapa yang berwudhu kemudian PERGI pada waktu pagi KE MASJID untuk melakukan SHALAT DHUHA, maka hal itu adalah peperangan yang paling dekat dan ghanimah yang paling banyak dan akan segera kembali.

    (HR. Thabrani dan lainnya; terdapat dalam shahiih at-targhiib)

    Juga hadiits:

    وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ

    Barangsiapa KELUAR (dari rumahnya ke masjid) untuk SHALAT DHUHA, dia tidak mengharapkan apapun kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumroh…

    (HR. Ahmad, Abu Dawud, dll)

    Dan shalat taraawiih:

    إنَّ الرَّجُلَ إذا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنصَرِفَ حُسِبَ له قِيَامُ لَيلَةٍ

    ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”.

    (HR at Tirmidizy, dan dishahiihkannya)

    Maka tetap yang dimenangkan adalah keutamaan shalat seseorang di rumahnya. Mengapa?

    Karena jelas Rasuulullaah bersabda:

    صلاة المرء في بيته أفضل من صلاته في مسجدي هذا إلا المكتوبة

    Shalatnya seseorang di rumahnya, LEBIH UTAMA, daripada shalatnya di MASJIDKU INI, kecuali shalat wajib

    Tentu hadits diatas juga tetap mengungulkan shalat seseorang di rumahnya daripada shalat sunnah seseorang di masjid; bahkan sekalipun di masjid nabawi; tentu termasuk disini shalat tarawih dan shalat dhuha dibalik keutamaannya.

    Bahkan hal tersebut yang dipahami oleh ‘Umar sendiri (penghidup shalat sunnah tarawih di masjid, sepeninggal rasuulullaah dan abu bakar). Beliau berkata:

    والتي تنامون عنها أفضل من التي تقومون

    dan yang tidur (tidak ikut bersama manusia) LEBIH UTAMA dari yang ikut shalat

    Disebutkan:

    يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله

    ia memaksudkan bahwa (yang shalat) di akhir malam (lebih utama), karena pada saat itu orang-orang melakukan shalat tarawih di awal malam.

    Dan inilah yang menjadi pengamalan para ulama dizaman tersebut.

    Berkata ibnu ‘Abdil Barr dalam al-istidzkarnya bahwa imam malik berkata:

    فقال مالك والشافعي : صلاة المنفرد في بيته في رمضان أفضل .وكان ربيعة وغير واحد من علمائنا ينصرفون ولا يقومون مع الناس .قال مالك وأنا أفعل ذلك ( يعني الانصراف) وما قام رسول الله إلا في بيته .

    Berkata imam maalik dan imam asysyaafi’iy: “shalat sendirian di rumah dalam bulan ramadhan lebih utama”. Dahulu rabii’ah dan para ulama kami, yang tidak cuma satu-dua; keluar, dan tidak menegakkanya bersama manusia. Berkata imam maalik: “dan aku mengamalkan demikian” (yaitu keluar dan tidak bersama mereka), kemudian beliau melanjutkan: “Dan tidaklah rasuulullaah menegakkan shalat malam, kecuali di rumahnya”

    وروينا عن ابن عمر، وسالم ، والقاسم ، وإبراهيم ، ونافع ، أنهم كانوا ينصرفون ، ولا يقومون مع الناس . وجاء عن عمر وعلي أنهما كانا يأمران من يقوم للناس في المسجد ولم يجيء عنهما أنهما كانا يقومان معهم .

    Diriwayatkan pula dari ibnu ‘umar, saalim, qaasim, ibraahiim, dan naafi’ bahwasanya dahulu mereka keluar dan tidak shalat tarawih bersama manusia. Dan telah datang riwayat dari ‘umar dan ‘aliy bahwasanya mereka berdua memerintahkan manusia shalat tarawih di masjid, tapi tidak didapati dari mereka berdua bahwasanya mereka berdua shalat bersama manusia.

    Makanya yang menjadi penengah dalam masalah ini adalah:

    “Apabila kurang hafalan, dan dikhawatirkan jika shalat di rumah maka shalatnya tidak bagus (atau bahkan tidak shalat); sebaliknya jika ia shalat di masjid shalatnya malah menjadi bagus dan ia mendapatkan kekhusyu’an; maka tentu lebih utama di masjid.

    Sebaliknya, apabila seseorang memiliki bekal hafalan dan bacaan bagus; dan ia yakin mampu untuk bangun dan shalat (boleh juga ia mengerjakannya di awal malam), seraya dapat menjaga kualitas shalat yang lebih baik dibandingkan mereka yang shalat di masjid; maka tentu ini lebih utama, melebihi shalatnya bersama manusia (sebagaimana hal inilah yang diamalkan para pembesar sebagian shahabah, tabi’iin, dan imam madzhab seperti maalik dan asy-syaafi’i)”

    Inilah yang menjadi fatwa dari imam ibnu ‘abdil barr dalam tamhiidnya, yang demikian pula fatwa dari hasan al-bashri; yang saya pribadi lebih condong akan hal ini

  3. Adapun hadits Abu Dzar, dimana beliau berkata:
  4. يا رَسُولَ الله، لو نَفَلْتَنَا قِيَامَ هذهِ اللَّيلةِ،

    Wahai Rasulullah, seandainya kita shalat kembali pada (sisa) malam ini ?Kemudian dijawab Rasuulullaah:

    إنَّ الرَّجُلَ إذا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنصَرِفَ حُسِبَ له قِيَامُ لَيلَةٍ

    ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”.

    (HR at Tirmidizy, dan dishahiihkannya)

    Maka dijawab: Tidak ada PENJELASAN YANG TEGAS untuk melarang shalat lebih dari apa yang beliau kerjakan! Yang beliau sebutkan diatas hanyalah keutamaan shalat dibelakang imam. Bukan berarti melarang umatnya untuk shalat lagi!

    Rasuulullaah bersabda:

    وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ

    “Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya”.

    (HR al Bukhaariy)

    Apakah berarti TERLARANG bagi kita untuk LEBIH DARI tiga hari setiap bulan? Bukankah jika kita puasa setiap bulan; maka kita SUDAH MENDAPATKAN pahala puasa setahun penuh?! Apakah dengan menambahkan puasa senin-kamis, puasa dawud, dan lain-lain adalah kesia-siaan?!

    Rasuulullaah juga bersabda:

    مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

    Barangsiapa sholat isya’ di dalam jama’ah (di masjid, bersama imaam), hal itu SEPERTI SHALAT SETENGAH MALAM. Dan barangsiapa sholat isya’ dan subuh di dalam jama’ah (di masjid, bersama imaam), hal itu SEPERTI SHALAT SEMALAM SUNTUK.

    (Shahiih; HR. Abu Dawud)

    Hadits diatas berlaku didalam maupun diluar bulan ramadhan…

    – Apakah hadits diatas bermakna bahwa “SIA-SIA shalat tarawih dan witir bersama imam” karena nilai pahala shalat semalam suntuk sudah kita dapatkan dengan kita shalat ‘isya dan shalat shubuh berjama’ah di masjid bersama imam ?

    – Apakah hadits diatas bermakna MENCUKUPKAN shalat berjama’ah bersama imam pada waktu ‘isya dan shubuh, dan ‘tidak perlu’ lagi shalat tarawih dan witir bersama imam?

    – Apakah hadits diatas MELARANG untuk tetap melaksanakan shalat tarawih dan witir bersama imam?

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Shålat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s