Faidah Siwak

1. Pembersih mulut, serta salah satu cara menggapai ridha Allaah

Rasuulullaah bersabda:

لسِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb”.

(Shahiih; HR. Ahmad, irwaul golil no 66)

2. Dianjurkan bersiwak ketika hendak wudhu

Rasuulullaah bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu.”

(HR Bukhaariy, Muslim, dll)

3. Dianjurkan bersiwak ketika hendak shalat

Rasuulullaah bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَّلاَةٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat”.

(HR al Bukhaariy, Muslim; dll)

4. Dianjurkan bersiwak ketika hendak baca al Qur-aan

Rasuulullaah bersabda:

إن العبد إذا تسوك ثم قام يصلي قام الملك خلفه فيستمع لقراءته فيدنو منه –أو كلمة نحوها – حتى يضع فاه على فيه فما يخرج شيء من القرآن إلا صار في جوف الملك فطهروا أفواهكم للقرآن

“Sesungguhnya seorang hamba bila bersiwak lalu berdiri mengerjakan shalat, maka berdirilah seorang malaikat dibelakangnya lalu mendengarkan bacaannya dengan seksama kemudian dia mendekatinya (perawi berakta: atau beliau mengucapkan kalimat seperti itu) hingga malaikat itu meletakkan mulutnya diatas mulut orang yang membaca al-Qur’an, maka tidaklah keluar dari mulutnya bacaan al-Qur’an itu melainkan langsung ke perut malaikat, oleh sebab itu bersihkanlah mulut-mulut kalian untuk membaca al Qur-aan.

[HR. ibnul-Mubarak dalam kitabnya az-Zuhd no. 1211, al-Mundziri dalam at-Targhiib dan at-Tarhiib dan al-Albani berkata: Hasan shahih (Shahih at-Tarhiib no. 215)]

5. Dianjurkan bersiwak ketika hendak masuk rumah

Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata :

”Aku bertanya kepada ‘Aisyah : “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika dia memasuki rumahnya ?” Beliau menjawab :”Bersiwak”.

(HR Muslim)

6. Dianjurkan bersiwak ketika baru bangun tidur (siang maupun malam)

dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tidur pada malam hari atau siang hari kemudian beliau bangun melainkan beliau pasti gosok gigi terlebih dahulu sebelum berwudhu”

[Shahiih; HR Abu Daud]

7. Bersemangat dalam bersiwak

Dan hadits dari Amir bin Rubai’ah, dia berkata,

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (berulang kali) –hingga aku tidak bisa menghitungnya- bersiwak padahal beliau sedang berpuasa*”

[Hadits Riwayat Ahmad III/445, Abu Dawud no. 2364 dan At-Tirmidzi no. 725 dan Bukhari menyebutkannya secara mu’allaq dalam Bab As-Siwak Ar-Rathbu Wa Al-Yabisu Li Ash-Shaim; kutip dari: almanhaj.or.id]

*Sebagai bantahan pihak yang memakruhkan siwak ketika puasa. Bahkan telah ada ATSAR (dari mu’aadz, dengan sanad yang baik) yang MENGINGKARI PENDAPAT TERSEBUT.

Dari Abdurrahman bin gonim berkata :

“Aku bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu: Apakah aku bersiwak padahal aku berpuasa?”

Beliau menjawab :”Ya”

Aku berkata : “Di siang hari kapan?”, Beliau berkata :”Di waktu pagi dan sore”.

Aku berkata :”Orang-orang membenci (bersiwak) pada sore hari. Dan mereka berkata (berdalil akan pemakruhan ini dengan mengatakan) bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bau mulutnya orang yang berpuasa sungguh lebih baik di sisi Allah daripada bau misik”.

Beliau berkata:

“Subhaanallaah! Rasuulullaah sungguh telah memerintahkan mereka untuk bersiwak dan tidaklah layak (bagi mereka) atas apa yang mereka telah diperintahkan oleh Rosulullah, mereka sengaja membuat mulut mereka menjadi berbau busuk. Tidak ada pada perbuatan mereka itu kebaikan sedikitpun, bahkan kejelekan yang ada pada perbuatan mereka itu.”

[HR ath Thabraaniy; Berkata Al-Haafizh dalam “Talkhis” hal 113 : “Sanadnya baik” (Lihat irwaul golil hal 1/106); kutip dari web ustadzfiranda]

Berkata Syaikh Ali Bassam :

“Tidak ada dalil[1. Adapun riwayat:

إِذَا صُمْتُمْ فَاسْتِكُوْا بِالْغَدَاةِ وَلاَ تَسْتَكُوْا بِالْعَشِيِّ

“Jika kalian berpuasa maka bersiwaklah ketika pagi hari dan janganlah kalian bersiwak ketika sore hari” (setelah zawal-pent).

Maka hadits diatas DHA’IF. Dan riwayat ini pun bertentangan dengan atsar dari Mu’aadz diatas. Yang sanadnya lebih baik daripada riwayat diatas.

Hadits diatas diriwayatkan ad Daaruquthni dari hadits Ali bin Abi Tolib, penjelasan tentang kedha’ifannya terdapat dalam irwa’ul ghalil.] pada hadits ini (yaitu hadits لَخُلُوْفُ فَمِ …. ) [untuk memakruhkan bersiwak ketika puasa, -abuzuhriy]. Sebab siwak tidaklah bisa menghilangkan bau yang timbul dari sumbernya yaitu dari lambung, berbeda dengan mulut yang bisa dibersihkan dengan siwak”

(Taudihul Ahkam 1/106; kutip dari ustadzfiranda)

8. Bersungguh-sungguh dalam bersiwak

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy, ia berkata :

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada lidahnya dan dia sambil berkata “Uh- uh”. Dan siwak berada pada mulutnya seakan-akan beliau muntah”.

(HR al BUkhaariy, Muslim, dll)

Bahkan Rasuulullaah bersiwak ketika hendak wafat.

Dari ‘Aisyah berkata :

“Abdurrohman bin Abu Bakar As-Sidik menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersandar di dadaku. Abdurrohman membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak.

Dan Rasuulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang siwak tersebut (dengan pandangan yang lama).

Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata :

”…maka akupun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata : ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?” Maka Rosulullah mengisyaratkan dengan kepalanya (mengangguk-pent) yaitu tanda setuju…”

Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan menggigitnya (untuk dibersihkan-pent) lalu aku membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada Rosulullah, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah pernah aku melihat Rasulullah bersiwak yang lebih baik dari itu.

Dan setelah Rosulullah selesai dari bersiwak dia pun mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata : fii rafiiqil a’la (ke tempat yang paling tinggi), Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.

(HR al Bukhaariy, Muslim, dll)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s