Agar merasakan manisnya ibadah

Kenikmatan beribadah hanyalah diraih oleh seorang yang mencintai ibadah yang ia lakukan tersebut; yang kecintaannya terhadap ibadah tersebut tampak dari bagaimana ia menanti-nanti datangnya waktu ibadah tersebut, bersegeranya ia menyambut ibadah tersebut, maka ketika ia menunaikan ibadah tersebut, Allaah balas kebaikan niatnya, kejujuran niatnya, kesungguhan tekadnya tersebut dengan dirasakannya kenikmatan ketika menunaikan ibadah tersebut…

Mereka adalah orang yang MENGETAHUI bahwa Allaah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi, maka mereka menyembahNya dengan penuh pengagungan, dan mereka menjadikan segala macam peribadatan kepadaNya sebagai salah satu wasilah untuk mengingatNya :

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku[1. Dan sungguh jika mereka mengingatNya, maka mereka akan dibalas dengan yang lebih baik dari itu, yaitu Allaah akan mengingat mereka, sebagaimana firmanNya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu

(al Baqarah: 152)

Berkata para ulamaa’: Sesungguhnya pengingatan Allaah terhadapmu JAUH LEBIH BESAR daripada pengingatanmu terhadapNya.

Memang demikian! Inilah Dia, Rabb semesta alam, Yang Maha Mulia lagi Maha Kaya, yang mengingati diri kita.. yang sangat faqiir, yang tidak ada apa-apanya! Bukankah ini suatu yang amat ingin kita raih?! Maka mengapa kita tidak meraih sebanyak-banyaknya pengingatanNya dengan memperbanyak dan memperbaiki kualitas ibadah kita kepadaNya?!

Ketahuilah jika kita adalah orang-orang yang paling banyak mengingatNya selama di dunia, maka sungguh Dia tidak akan melupakan kita, kelak dihari kiamat!

Dia berfirman kepada orang-orang yang melupakanNya di dunia:

وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّاصِرِينَ

Dan dikatakan (kepada orang-orang kaafir): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong”.

(al jaatsiyah: 34)

Maka semoga kita termasuk orang yang banyak mengingatNya.. yaitu yang banyak beribadah kepadaNya dengan hati, (dan/atau) lisan, (dan/atau) anggota badan kita… yang semoga dengan hal tersebut, kelak akan diingatNya serta ditolongNya dihari dimana tiada penolong kecuali Dia, yang mana diselamatkanNya kita dari adzab yang pedih, dan dimasukkannya kita kedalam surga.. aamiin.]

(thaa-haa : 14)

Maka mereka pun menunaikan ibadah tersebut dengan penuh pengagungan, yang nampak dari kekhusyu’an mereka dalam penunaian ibadah tersebut (dan inilah CIRI PERTAMA yang Allaah sebutkan tentang mukminiin) :

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,

(al Mu’minuun : 2)

Allaah berfirman:

تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ

…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…

(az Zumar: 23)

Allaah berfirman:

وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّه

…hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah…

(ar Ra’d: 28)

Bahkan mereka GADAIKAN waktu tidur mereka, hanya untuk bermunajat kepada Rabb semesta alam, sebagaimana firmanNya:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam (karena mereka menggunakan waktu tersbeut untuk beribadah kepadaNya, az)

[adz Dzaariyaat: 17]

Mereka menyempatkan shalat diwaktu malam, karena mereka tahu itulah sebaik-baiknya pendekatan diri kepada Allaah, itulah sebaik-baik waktu untuk meraih kekhusyu’an dalam ibadah, sebagaimana firmanNya:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

(al Muzammil: 6)

Dan inilah dirasakan manusia yang paling mulia, Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana dalam sabdanya:

… وَجُعِلَتْ قُـرَّةُ عَـيْـنِيْ فِي الصَّـلاَةِ

“…dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (yaitu kebahagiaanku) dalam shalat”

(Shahiih; HR an Nasaa-iy)

Juga sabda beliau:

قُمْ يَا بِلاَلُ، فَـأَرِحْـنَا بِالصَّلاَةِ

“Bangunlah wahai Bilal, buatlah kami beristirahat dengan (melakukan) shalat”.

(Shahiih; HR Abu Daawud)

Ternyata IBADAH-lah yang menjadi letak peristirahatan mereka!!!

Coba bandingkan dengan orang yang kurang kecintaannya terhadap suatu ibadah (atau bahkan ia membencinya, na’uudzubillaah); maka akan tampak darinya sikap yang menomorsekiankan ibadah tersebut dari aktifitas pribadinya, tidaklah ia menanti-nantinya… Dan ketika datangnya waktu menunaikan ibadah tersebut, maka ia akan merasa berat hati serta malas-malasan dalam menyambutnya… Sehingga ia menunda-nundanya, hingga akhirnya ia menunaikan pada akhir waktunya, (atau bahkan tidak menunaikannya sama sekali)… Kalaupun ia menunaikannya, maka Allaah membalas keburukan niatnya, kekurangan tekad yang ada padanya; dengan bermalas-malasannya ia ketika menunaikan ibadah tersebut… Tidaklah ia merasakan manisnya ibadah tersebut, bahkan yang dipikirkannya adalah “kapan selesainya ibadah ini”, akhirnya ia pun menunaikannya “ala kadarnya”, atau bahkan tidak menunaikan hak-hak ibadah tersebut, bahkan mungkin tidak menjalanlan syarat sahnya ibadah tersebut!

Allaah berfirman tentang mereka:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka BERMAKSUD RIYAA’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah (dalam shalat mereka) kecuali sedikit sekali.

(an Nisaa’ : 142)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“(Shalat Ashar) itulah shalat (yang biasanya ditelantarkan) orang munafik, ia duduk mengamat-amati matahari, jika matahari telah berada diantara dua tanduk setan, ia melakukannya dan ia mematuk empat kali (- Rasul pergunakan istilah mematuk, untuk menyatakan sedemikian cepatnya, bagaikan jago mematuk makanan -pent) ia tidak mengingat Allah didalam shalat tersebut, kecuali sedikit sekali.”

(HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ أَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ

Sesungguhnya kedua sholat ini (yaitu ‘isya dan shubuh), yang paling berat di antara sholat-sholat pada orang-orang munafiq.

(Hasan, HR. Abu Daawud)

Allaah menjelaskan ALASAN mengapa mereka sampai demikian :

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan KARENA MEREKA KAFIR kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan RASA MALAS dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan RASA ENGGAN.

(at Tawbah : 54)

Allaah berfirman:

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَّأَسْمَعَهُمْ ۖ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوا وَّهُم مُّعْرِضُونَ

Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).

(al an’aam: 23)

Na’uudzubillaah.

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيمَانَ  وَزِيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

Allahumma habbib ilaynal iimaana wa zayyinhu fii quluubinaa, wa karrih ilaynal kufra wal fusuuqa wal ‘ishyaan; waj’-‘alnaa minarraasyidiin

Ya Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami. dan tanamkanlah kebencian kepada kami terhadap kekufuran, kefasiqan dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus

اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ، وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ مَفْتُونِينَ

Allahumma tawaffanaa muslimiin, wa ahyinaa muslimiiin, wa alhiq’naa bishhaalihiin ghayra khazaayaa wa laa maftuuniy

Ya Allah wafatkanlah kami dalam keadaan muslim, serta pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih dalam keadaan tidak terhina dan tidak pula terfitnah (Aamiin)

Semoga bermanfa’at

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s