Merasa diri suci, telah diampuni dosa, dan termasuk orang bertaqwa

Diantara KEKELIRUAN kaum muslimin, adalah ia merasa bahwa Allaah telah mengampuni dosa-dosanya… Kemudian ia merasa dirinya sudah suci dari segala dosa… Kemudian ia merasa dirinya adalah orang bertaqwa…

Patut kita tanyakan bagi yang merasa demikian :

1. Apakah Allaah telah mewahyukan kepadanya, bahwa ia telah diampuni dosanya? telah disucikan dari dosa-dosa? dan diwahyukan kepadanya bahwa ia adalah orang-orang bertaqwa?

2. Atau mungkin dia ‘berdalil’ dengan sabda Rasuulullaah:

Rasuulullaah bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan karena mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.”

[Muttafaqun ‘alayh]

Beliau juga bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang shalat malam, pada lailatul qadar, dengan keimanan dan karena mengharapkan pahala (dari Allaah), niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.

[HR al Bukhaariy]

Kemudian dia berkata pada dirinya: “Aku telah lalui malam-malam ramadhanku dengan ibadah kepadanya, maka aku termasuk hadits diatas”

kita jawab: “darimana engkau mengetahui bahwa engkau melakukannya KARENA IMAN dan MENGHARAPKAN PAHALA? apakah engkau dapat pastikan niatmu BENAR-BENAR karena iman, dan BENAR-BENAR mengharapkan pahala?”

Jika ia tidak dapat memastikannya… Maka tentu… ia pun TIDAK DAPAT MEMASTIKAN bahwa dirinya adalah orang-orang yang termasuk dari hadits diatas!!!

Berkata Ibnu ‘Umar:

“Kami sekelompok shahabat Rasuulullaah (shallallaahu ‘alayhi wa sallam) mengira bahwa tidak ada sedikitpun kebaikan, kecuali PASTI DITERIMA (ALLAH). Hingga turunlah ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu.”

(Muhammad: 33)

[Diriwayatkan Ibnul Mubaarak; dikutip dari Tafsir IBnu Katsiir]

Adapun yang benar, kita hanya BERHARAP dan MEMOHON KEPADA ALLAAH, agar kita termasuk orang yang mendapat ampunan tersebut! BUKAN MEMASTIKAN kita mendapatkannya, apalagi MERASA SUDAH DIAMPUNI dosa-dosa, MERASA DIRI SUDAH BERTAQWA!!! Akhirnya apa? akhirnya malah berbuat semena-mena sesuka hatinya karena merasa dosanya semuanya sudah dihapus, dan tidak punya dosa… atau bahkan merendahkan orang lain yang dianggapnya dosanya lebih banyak darinya! na’uudzubillah!

3. Atau mungkin ia berdalih dengan ‘idul fithr… ia katakan: “kan maknanya KEMBALI SUCI”, maka berarti kita semua ini sekarang adalah orang-orang yang suci! ia pun berdalih dengan firmanNya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa [al baqarah: 2/183] kemudian ia katakan: ‘kan kita sudah menunaikan perintahnya, maka berarti kita termasuk orang-orang bertaqwa!’

Maka kita jawab…

(a) definisi idul fithri saja engkau sudah SALAH… makna idul fithri adalah KEMBALI BERBUKA, BUKAN KEMBALI SUCI!!! (lebih lengkap: http://abuzuhriy.com/salah-dalam-memahami-makna-idul-fitri/)

Kemudian… perasaanmu yang MERASA SUCI itupun adalah KESALAHAN BESAR!!!

Allaah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidaklah dianiaya sedikitpun.” (QS. An-Nisa’: 49).

Al-Imam Qatadah berkata tentang ayat di atas:

“Mereka adalah musuh-musuh Allah yaitu kaum Yahudi. Mereka menganggap diri mereka bersih dengan sesuatu perkara yang mana mereka tidak sampai kepadanya. Mereka berkata: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya.” Dan mereka berkata: “Kami tidak memiliki dosa.”

(HR. Ath-Thabari dengan sanad hasan. Ash-Shahihul Masbur: 2/64-65l kutipan).

Al-Allamah Alimul Yaman Asy-Syaukani berkata:

“Dan makna ‘tazkiyah’ adalah menganggap diri suci dan bersih. Dan tidaklah jauh kebenaran makna ‘tazkiyah’ atas semua tafsir ini dan yang lainnya.

Dan lafazh ini (tazkiyah, pen) meliputi semua orang yang men-tazkiyah dirinya (merekomendasikan dirinya dengan kebaikan, pen) dengan cara yang benar atau yang batil dari kalangan Yahudi maupun selainnya.

Dan termasuk dalam perkara ini adalah memberikan laqab (nama julukan) yang mengandung ‘tazkiyah’ seperti Muhyiddin (orang yang menhidupkan agama), Izzuddin (kemuliaan agama) dan lain sebagainya.”

(Fathul Qadir: 2/160; kutipan).

(b) adapun tentang ‘merasa diri bertaqwa’, maka kita jawab…

Allah juga berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci. Dialah yang PALING MENGETAHUI mengetahui tentang orang yang BERTAQWA.”

(QS. An-Najm: 32).

Apakah kita merasa sudah bertaqwa kepadaNya? Adakah Allaah mengabarkan kepada kita bahwa kita termasuk hambaNya yang bertaqwa?! Darimana kita menetapkan dan memastikan bahwa kita hambaNya yang bertaqwa!?

Al-Allamah Asy-Syaukani berkata tentang ayat di atas:

“Janganlah kalian memuji diri kalian sendiri, merasa diri kalian bebas dari dosa dan janganlah kalian menyanjung diri kalian sendiri, karena meninggalkan ‘sifat memuji diri sendiri dan merasa bersih’ adalah lebih jauh dari sifat riya’ dan lebih mendekati khusyu’.”

(Fathul Qadir: 7/77; kutipan)

Maka KELIRU jika kita MERASA diri kita SUCI serta merasa diri kita BERTAQWA…

Tapi yang BENAR kita BERHARAP serta MEMOHON agar Allaah mensucikan diri kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa. [tentunya dengan menempuh jalan-jalan ketaqwaan]

Diantara doa yang sering dipanjatkan nabi adalah:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Allahumma aati nafsiy taqwahaa, wa zakkihaa Anta khairu man zakkahaa, Anta waliyyuhaa wa maulahaa

Ya Allah, berikanlah ketaqwaan kepada jiwaku; dan sucikan ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya… Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya…

[Sekaligus pelajaran… Nabi saja, yang sudah Allaah khabarkan bahwa dosa-dosa terdahulu dan yang akan datang telah diampuni… MASIH MEMOHON AGAR ALLAAH mensucikan jiwa beliau… agar Allaah menjadikan beliau termasuk yang mendapatkan ketaqwaan dalam jiwa beliau!! Maka alangkah ujubnya diri kita, yang tidak pernah diwahyukan bahwa diri kita suci… yang tidak pernah diwahyukan bahwa kita termasuk orang bertaqwa… malah merasa suci dari dosa, dan merasa termasuk orang-orang bertaqwa!!!]

Akhir kata… Jangan sampai kita termasuk orang yang DIDOAKAN MERUGI oleh Malaikat jibril dan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam!

ثم قال : رغم أنف امرىء دخل عليه شهر رمضان ثم خرج ولم يغفر له ، قل آمين : فقلت آمين ،

(kemudian) malaikat jibril berkata : “Merugilah seseorang yang masuk di bulan Ramadhan, lalu ia keluar darinya, tapi tidak mendapatkan ampunan Allah[1. Mungkin ada yang bertanya:

diatas disebutkan: ‘Merugilah seseorang yang masuk di bulan Ramadhan, lalu ia keluar darinya, tapi tidak mendapatkan ampunan Allah’

Lantas bagaimana kita tahu, kalau kita termasuk golongan diatas atau bukan?

Maka kita jawab:

Kita hanya bisa berharap agar ktia termasuk orang-orang yang diampuni Allaah dan kita berharap agar kita bukan termasuk orang-orang yang tidak mendapatkan ampunanNya…

Bahkan pada saat ramadhan itu sendiri… terlihat jelas siapa yang tidak menginginkan ampunan, kesucian diri, dan taqwa; dan siapa yang menginginkannya…

Maka ana nasehatkan kepada diri ana dan juga yang lain… mumpung masih berada dibulan ramadhan (yang mungkin hari terakhir)… segera isi dengan taubat dan amalan shaalih; agar semoga kita masih bisa mendapatkan ampunan dari Allaah… (terutama lagi jika selama 28 hari kebelakang kita mengisinya dengan keburukan)…

Dan bagi mereka yang TELAH MENEMPUH jalan-jalan yang dapat mensucikannya serta menjadikannya bertaqwa… bukan berarti langsung menstempelkan bahwa dirinyalah adalah orang yang suci lagi bertaqwa…

Karena diantara TANDA diterima atau tidaknya suatu amalan, adalah amalan yang mengiringinya…

Jika melewati ramadhan… kembali lagi kepada perbuatan buruk… maka ini adalah TANDA orang yang tidak mendapatkan tujuan dari ramadhan itu sendiri (…agar kalian bertaqwa)

Jika melewati ramadhan… dan didapati bertambah ketaqwaannya… maka ini TANDA baiknya ramadhannya, yang nampak pengaruhnya pada dirinya dan terealisasikannya taqwa tersebut…

Dan juga tetap harus diingat, amalan penutup itulah amalan yang hakiki; maka semoga orang tersebut istiqamah dalam taqwanya… jika seorang mati diatas taqwa (dan Allaah lebih tahu siapa yang mati diatas ketaqwaan, dan kita tidak memastikan dan menetapkan), maka dialah orang-orang bertaqwa yang hakiki…]. katakanlah: aamiin” Akupun berkata: ‘Aamiin.’

Maka semoga kita termasuk orang-orang yang diampuni dosa-dosanya oleh Allaah, disucikan hati kita, serta dijadikan kita termasuk orang-orang bertaqwa… aamiin…

== Jakarta; Rabu, 29 Ramadhan 1434 H ==

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s