Diantara sebab dicabutnya ilmu dan pemahaman yang benar dari diri seseorang

Diantara sebab dicabutnya ilmu dan pemahaman yang benar dari diri seseorang :

1. Menginginkan kehidupan dunia
2. Mengikuti hawa nafsu
3. Meninggalkan ketaqwaan

[faidah kajian menuntut ilmu jalan menuju surga]


Dalil point 1 & 2

Allaah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah KAMI BERIKAN kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan dan pemahaman tentang isi Al Kitab), tapi kemudian DIA MELEPASKAN DIRI dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka JADILAH DIA dia termasuk orang-orang yang SESAT.

(Kemudian Allaah menjelaskan kenapa ia bisa sampai berbuat demikian)

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia CENDERUNG kepada DUNIA dan MENURUTKAN HAWA NAFSU yang rendah…

[al A’raaf : 175 – 176]

Dalil point 3

dari Abu Ad Darda’ dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata;

هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ

“Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali”,

maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya;

‘Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al Qur’an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.’

—dalam riwayat lain, riwayat ibn maajah–

“Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu bisa hilang? Sedangkan kami masih membaca Al Qur’an dan kami juga membacakannya (mengajarkannya) kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami juga akan membacakannya kepada keturunannya sampai hari kiamat datang.”

–selesai petikan–

Maka beliau berkata:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nashrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?!”

—dalam riwayat ibn maajah disebutkan–

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, padahal aku melihatmu adalah orang yang paling memahami agama di Madinah ini!”

أَوَلَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ لَا يَعْمَلُونَ بِشَيْءٍ مِمَّا فِيهِمَا

“Bukankah orang-orang Yahudi dan Nashrani juga membaca Taurat dan Injil, namun mereka TIDAK MENGAMALKAN sedikitpun apa yang terkandung di dalamnya.”

(Shahiih; HR at Tirmidziy, ibnu Maajah, dll)

Ini sebagai peringatan, bagi orang-orang yang TELAH SAMPAI kepadanya ILMU… Dan bahkan ia TELAH MEMAHAMI ilmu tersebut DENGAN PEMAHAMAN YANG BENAR…

Agar jangan sampai ilmu dan pemahaman benar yang ada pada mereka Allaah cabut, disebabkan mereka lebih menginginkan dunia, disebabkan mereka menuruti hawa nafsu, disebabkan mereka tidak bertaqwa kepadaNya! Na’uudzubillaah!

Diantara contoh “kecondongan terhadap dunia” adalah:

– RIYAA’ / SUM’AH

Yang mana ilmunya tersebut, yang harusnya ia niatkan untuk aakhirat, tapi ia malah meniatkan untuk dunia. Ia mempelajari ilmu, hanyalah untuk dipuji, hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan, hanyalah untuk mendapatkan popularitas, hanyalah untuk mendapatkan wanita, hanyalah untuk mendapatkan harta duniawi, atau tujuan duniawi lainnya. Na’uudzubillah!

Diantara contoh “mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan ketaqwaan” adalah

– Meninggalkan menuntut ilmu

Dan diantara sebab ia meninggalkan majelis ilmu, disebabkan karena UJUB! Ia takjub pada dirinya karena ilmu dan pemahaman yang ada pada dirinya. Ia sandarkan ilmu tersebut pada dirinya. Ia menyangka “dengan sebab usaha akulah, aku berilmu dan memiliki pemahaman yang baik dan benar”; dengan ujubnya ini pun, akhirnya ia jatuh kedalam TAKABBUR, ia merasa sudah berilmu sehingga menjauh dari ilmu dan menolak kebenaran yang datang padanya. Ia merasa sudah berilmu, maka ia anggap orang selainnya jaahil, sehingga merendahkan selainnya . dua sifat inilah sifat takabbur.

– Tidak mengamalkan ilmu

(Sebagaimana disebutkan hadits diatas)

Yang seharusnya ia mengamalkan semua hal-hal yang wajib-wajib yang sudah diketahuinya, tapi malah ia meninggalkannya.

Yang seharusnya ia meninggalkan semua hal-hal yang dilarang agama, yang sudah diketahuinya. Tapi malah ia mengamalkannya.

Yang seharusnya ia menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfa’at, tapi ia malah sibuk dengan perkara sia-sia (dan inilah yang menjadi pintu jatuhnya ia kepada peninggalan kewajiban dan pengerjaan keharaman!!!)

– Menyembunyikan ilmu

Ini termasuk dari “tidak mengamalkan ilmu”, karena tuntutan ilmu adlaah untuk diamalkan dan diajarkan!

Seorang yang sengaja menyembunyikan ilmunya, telah menapaki jalan yahudi !

Diantara orang yang menyembunyikan ilmu adalah para pemuka kesesatan, yang telah mengetahui kesesatan kelompoknya, tapi ia tidak mau ruju kepada kebenaran, bahkan ia tetap pada kesesatannya, padahal ia TELAH MENGETAHUI dirinya salah. Hanya karena MALU, atau karena TAKUT KEHILANGAN PAMOR, atau TAKUT KEHILANGAN JAMAA’AH atau TAKUT KEHILANGAN HARTA (yg biasa ia dapati dari amalan sesatnya)!!!

Diantara orang yang menyembunyikan ilmu, adalah orang-orang yang ingin mencari popularitas, harta dan kekuasaan! Mereka sudah tahu akan kesesatan, tapi mereka tidak mengingkarinya karena jika mereka mengingkarinya, maka ia TAKUT dibenci oleh kebanyakan manusia! Mereka sudah tahu kebenaran, tapi jika mereka menjelaskan kebenaran, maka mereka TAKUT akan dijauhi kebanyakan manusia, sehingga mereka pun tidak menjelaskannya !


Hal ini juga sebagai peringatan pula bagi orang yang memang tidak berilmu, dan tidak berada diatas kebenaran...

Agar jangan sampai mereka merasa cukup dengan kebodohan yang ada dalam diri mereka… Agar jangan sampai mereka tidak mau menuntut ilmu, serta berpaling dari ilmu!! (dan jika peninggalan atau keberpalingan tersebut disertai kebencian terhadap ilmu dan amal, maka ini adalah KEKUFURAN!)

Terlebih lagi jika mereka memiliki tiga atribut diatas, maka mereka akan senantiasa dalam kondisinya seperti itu!

Ingatlah! seseorang akan tetap dalam kondisi jelek, jika ia tidak mengubah apa-apa yang ada pada dirinya!

Allaah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.

(Ar Ra’d: 11)

Maka hendaknya ia menjadikan aakhirat sebagai tujuan hidupnya, mengikuti jalan Allaah dan RasulNya, dengan bertaqwa kepadaNya. Sehingga dengannya Allaah akan memberikan ilmu serta pemahaman yang benar kepadanya.

Kita memohon kepada Allaah agar diberikan ilmu yang bermanfaa’at dan agar ditetapkanNya kita diatasnya, dan berlindung kepadaNya dari kebodohan serta kesesatan.

Tinggalkan komentar

Filed under Amal, dakwah, Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s