Dua hati yang berbeda: hati yang dipenuhi ilmu serta iman, dan hati yang dipenuhi dengan kebodohan serta hawa nafsu

Dari hudzaifah ia berkata, bahwa Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تُعرَضُ الفتنُ علَى القلوبِكالحصيرِ عودًا عودًا

“Akan terbentang berbagai fitnah yang menimpa hati-hati (manusia) layaknya tikar, berulang dan (semakin) berulang.

فأيُّ قلبٍ أُشرِبَها نُكِتَ فيهِ نُكتةٌ سَوداءُ

Maka hati manapun yang menyerapnya, niscaya akan tertoreh padanya setitik bercak noda putih.

وأيُّ قلبٍ أنكرَها نُكِتَ فيهِ نُكتةٌ بَيضاءُ

Dan hati manapun yang mengingkari (fitnah)-nya, akan digoreskan titik putih.

حتَّى تصيرَ علَى قلبَينِ

Sehingga jadilah dua macam hati :

علَى أبيضَ مِثلِ الصَّفا فلا تضرُّهُ فتنةٌ ما دامتِ السَّماواتُ والأرضُ والآخرُ

Hati yang putih bersih layaknya batu keras yang halus mulus. Tidak akan membahayakannya suatu fitnahpun selama masih ada langit dan bumi.

أسوَدُ مُربادًّا كالكوزِ مُجَخِّيًا لا يعرِفُ معروفًا ولا ينكرُ مُنكرًا إلَّا ما أُشرِبَ مِن هواهُ

[Adapun hati yang lainnya, maka ia] hitam kelam, layaknya cangkir yang terjungkir. Ia TIDAK MENGENALI perkara MA’RUF; TIDAK PULA (hatinya) MENGINGKARI yang MUNGKAR, kecuali apa-apa yang diserap dari hawa nafsunya”

(HR Muslim)


Hati menjadi hitam lagi kelam disebabkan dua hal:

1. Kebodohan

Karena tidak mengenal yang ma’ruf, tidak pula mengenal kemungkaran; maka pemilik hati pun tidak mengerjakan perkara ma’ruf, tidak pula mengingkari kemungkaran. Para ulama berkata: ‘jika seseorang tidak bertindak diatas ilmu, maka ia PASTI bertindak diatas kebodohan dan hawa nafsu’!

Kebodohan bisa bermakna dua:

(a) bodoh, karena tidak menuntut ilmu, atau yang lebih parah menyengajakan diri untuk tidak mau menuntut ilmu (atau berpaling/membelakangi dari ilmu)…

(b) atau bodoh, karena ilmu yang sudah dimiliki tidak diresapkan kedalam hati (sehingga hati tetap saja tidak mengenal mana yang ma’ruf, dan mana yang mungkar).

Maka ketika datang fitnah, ia serta merta menyerapnya. Dan ia pun diombang-ambingkan dengan fitnah tersebut.

2. Hawa nafsu

Ketika hawa nafsu menguasai hati[2. Hawa nafsu menguasai hati ada sebabnya! Sebabnya adalah karena hawa nafsu tersebut DIBIARKAN-nya menguasai hatinya. Tanpa disertai taubat, tanpa disertai keinginan untuk menghilangkan pengaruh hawa nafsu tersebut! Hingga akhirnya hatinya hitam kelam, karena ditutupi hawa nafsunya; dan akhirnya ia pun bertindak menurut kehendak hawa nafsunya.

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam.

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.

وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.

وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ – كَلاَّ . بَلْ . رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

(HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)], maka akan menyeret pemilik hati kepada dua hal :

(a) menjauhi ilmu (karena hawa nafsu tidak suka diatur-atur); bahkan sekalipun ilmu mendatanginya, maka ia tidak akan mau mendengar, tidak pula mau untuk memahaminya, apalagi meresapkannya kedalam hati… sehingga ia tetap dalam kebodohannya, dan semakin bertambah jeleklah amalnya.

(b) atau (dan ini lebih parah) ‘mengakali’/memelintirkan ilmu… ia mencari ilmu untuk dicocok-cocokkan atau dipelintirkan agar sesuai dengan hawa nafsunya. untuk mencari ‘celah’ agar yang ma’ruf itu samar, dan mencari ‘celah’ agar yang mungkar itu dapat dilegalkan.

Hati yang dipenuhi hawa nafsu inilah sang pencetus fitnah, pembantu-pembantu ibliis; yang menyebarkan fitnah dimana-mana…


نسألك لذّة النظر إلى وجهك ، والشوق إلى لقائك ، في غير ضراء مضرة ، ولا فتنة مضلة

kami memohon (kepadaMu yaa Allaah) kelezatan memandang kepada wajah-Mu, serta kerinduan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah.”

(Shahiih; HR an nasaa-iy, Ibnu Khuzaymah, dll)

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s