Perbandingan MUKMIN yang memiliki akhlaq baik dan yang memiliki akhlaq buruk

Perbandingan MUKMIN[1] yang memiliki akhlaq baik dan (mukmin) yang memiliki akhlaq buruk

Mukmin yang beramal dengan amalan yang TINGGI lagi BANYAK (seperti shalat malam, shaum sunnah, shadaqah yg banyak) TAPI diiringi dengan AKHLAQ BURUK, maka kejelekan akhlaqnya itu MENUTUPI kebaikan-kebaikannya!!! (Maka bagaimana lagi, sudah amalnya rendah lagi sedikit… Dan akhlaqnya buruk!!! Sungguh merugi)

Sebaliknya, mukmin yang hanya mengamalkan kewajiban-kewajiban (shalat wajib, shaum ramadhan, zakat yg wajib, yg mungkin sedikit shadaqahnya) TAPI ia menghiasi dirinya dengan AKHLAQ MULIA, maka akhlaq mulia tersebut meninggikan dirinya kelak di hari kiamat. (Maka bagaimana lagi jika amalnya tinggi lagi banyak, dan ia memiliki akhlaq yang mulia?! Sungguh beruntungmya dirinya!!)

Tidak percaya?

Simak dua hadits berikut:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

’Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.”

Kemudian dikatakan lagi kepada Rasuulullaah,

“Ada juga seseorang yang hanya shalat wajib, dan shadaqahnya tidak seberapa, tapi ia tidak pernah menyakiti seorang pun; (bagaimana nasibnya?)”

Rasuulullaah bersabda:

هيَ من أهلِ الجنَّةِ

Dia termasuk penghuni surga

(Shahiih; al Bukhaariy dalam al adabul mufrad, dll)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

”Sesungguhnya seseorang yang memiliki akhlak yang baik benar-benar akan mencapai derajat orang yang shalat malam dan berpuasa pada siang harinya.”

(Shahiih; HR Ahmad, al Haakim, dll; terdapat dalam shahiihul jaami’)

Dalam riwayat lain:

مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ

“Tidak ada satu apapun yang diletakkan di atas mizan yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya pemilik akhlak yang baik benar-benar akan mencapai derajat orang yang (banyak) berpuasa (sunnah di siang hari) dan orang yang (banyak) mendirikan shalat (sunnah di malam hari)”

(HR. At-Tirmidzi no. 2003 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 5726)

Maka siapakah dari kita yang hendak mengambil pelajaran darinya?!!

Semoga bermanfaat


Catatan Kaki

[1] Disebut MUKMIN disini berarti HANYA BERLAKU kepada orang-orang mukmin saja, adapun orang kaafir DILUAR pembahasan dalam artikel ini.

Karena sebaik apapun akhlaq baik (terhadap manusia) yang ada dalam diri ORANG KAAFIR, tetap saja tidak dapat mengalahkan KEJELEKAN AKHLAQNYA terhadap Allaah!

Dan dihari kiamat, segala kebaikan-kebaikannya (akhlaq baiknya terhadap manusia), dihapuskan pahalanya, dan dijadikan debu yang bertebrangan.

Allaah berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

(al Furqaan: 23)

dari Salamah bin Yazid Al Ju’fi berkata; Saya dan saudaraku pergi menemui Rasulullah Shallallahu’alahiwasallam lalu kami berkata;

“Wahai Rasulullah, Sesungguhnya ibu kami, Mulaikah, adalah orang yang menyambung silaturahmi dan memuliakan tamu, dan banyak berbuat kebaikan namun dia meninggal dalam keadaan Jahiliyah (belum masuk Islam), lalu apakah hal itu bermanfaat baginya?”

(Rasulullah Shallallahu’alahiwasallam) bersabda:

لَا

” Tidak”.

(HR. Ahmad, dishahiihkan oleh Syaikh Muqbil)

dari ‘Aa-isyah radhiyallahu ‘anhaa dia berkata,

“Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an (kerabatnya) pada masa jahiliyyah selalu bersilaturrahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu memberikan manfaat untuknya? ‘
Beliau menjawab:

لَا يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

‘Tidak. Itu tidak memberinya manfaat, karena dia belum mengucapkan, ‘Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.”

(HR. Muslim)

Maka TELAH SANGAT SALAH PAHAM jika ada orang yang berkata: “orang KAFIR yang akhlaqnya baik, LEBIH BAIK (?!) daripada MUKMIN yang akhlaqnya jelek!” Ini sungguh perkataan yang amat baathil! bagaimana bisa seorang yang kafir kepada Allaah bisa lebih baik daripada seorang yang beriman kepadaNya (meskipun memiliki kekurangan dalam akhlaqnya)!?

Simak: http://abuzuhriy.com/inginkah-anda-menjadi-orang-mulia-inginkah-anda-menjadi-orang-yang-paling-tinggi-kedudukannya-diantara-orang-orang-mulia/

2 Komentar

Filed under Akhlak

2 responses to “Perbandingan MUKMIN yang memiliki akhlaq baik dan yang memiliki akhlaq buruk

  1. saya banyak mengambil pelajaran agama dari blog ini

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      alhamdulillaah, semoga Allaah memberikan keberkahan atas ilmu yg telah kita ketahui

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s