Dapatkah mayyit/penghuni kubur mendengar dan mengijabah permohonan?!

Pertama-tama, apakah dia mampu mendengar?

Taruhlah, dia mampu mendengar… Maka kita tanyakan : “pendengarannya seperti apa? dan bagaimana cara dia mendengar?”

Misalkan ada lima orang yang ‘meminta tolong’ kepadanya, dengan lima permohonan yang berbeda DALAM SATU WAKTU… Maka kita tanyakan: “Apakah ia MAMPU MENDENGAR seluruh lima permohonan tersebut dalam SATU WAKTU?”

Jika dijawab “iya, dia mendengar, dan mampu mendengar lima permohonan tersebut”

Maka kita katakan, “maka engkau telah mensifatkan sifat-sifat ketuhanan pada penghuni kubur ini, dan telah menjadikan penghuni kubur ini sebagai tandingan Allaah!!!”

Dari sisi mana? Dari sisi Allaah Maha Mendengar!!! Allaah itu Maha Mendengar, pendengaranNya sempurna, tiada yang menyerupai pendengaranNya, dan tiada yang menandingi kesempurnaan pendengaranNya.

Allah mampu mendengar milyaran orang yang memohonkan ampun kepadanya diwaktu yang bersamaan. Bahkan jika milyaran orang tersebut, memiliki permohonan yang berbeda-beda, Allaah Maha Mendengar seluruh permohonan tersebut!

Dan engkau telah sifat Allaah “Maha Mendengar” ini terhadap penghuni kubur tersebut!!!

Mungkin engkau BERDALIH dengan hadits-hadits berikut:

Rasuulullaah bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم قبوراً ، ولا تجعلوا قبري عيداً ، وصلُّوا عليَّ فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم

Janganlah kalian menjadikan rumah kalian kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai ‘id (tempat perayaan atau didatangi berulang-ulang); Dan bersholawatlah kepadaku di mana saja kamu berada, karena sholawat kamu akan sampai kepadaku”

(HR Abu Daawud, trdpt dlm shahiihul jaami’)

Dalam riwayat lain:

وَصَلُّوا عَلَيَّ وَسَلِّمُوْا حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَسَيَبْلُغُنِي سَلاَمُكُمْ وَصَلَاتَكُمْ

Dan bersholawatlah kepadaku serta ucapkanlah salam (kepadaku) di mana saja kamu berada, karena salam dan sholawat kamu akan sampai kepadaku”.

(HR. Isma’il Al-Qodhiy, shahiih)

Kemudian engkau berkata:

“Jika shalawat kita sampai kepada beliau, maka tentu doa kita yang sampai kepada beliau; sehingga beliau akan menyampaikan doa kita kepada Allaah”

Maka kita jawab:

1. Yang disebutkan hadits diatas HANYA SEBATAS SHALAWAT dan SALAM saja.

Dan shalawat dan salam kita kepada beliau, adalah DOA KITA KEPADA BELIAU… Kita TIDAK SEDANG MEMINTA DOA kepada beliau dengan doa dan salam tersebut?! Kita pun TIDAK SEDANG meminta permohonan kepada beliau dengan doa dan salam tersebut!

2. Telah DITETAPKAN DALIL, bahwa keduanya SAMPAI kepada nabi.

3. Sampainya shalawat dan salam kepada beliau pun, DENGAN BANTUAN MALAIKAT yang Allaah utus untuk menyampaikan orang yang bershalawat dan salam kepada beliau.

Sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ لِلَّهِ مَلائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الأَرْضِ يُبَلِّغُونِي عَنْ أُمَّتِيَ السَّلامَ

Sesungguhnya Allaah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi, Mereka menyampaikan salam dari umatku kepadaku.

(Shahiih; HR. an Nasaaiy dan selainnya)

Maka beliau tidak mampu untuk mendengar salam tersebut dengan kemampuan beliau, tapi dengan bantuan malaikat yang telah Allaah utus, agar malaikat tersebut menyampaikan salam umat beliau kepada beliau!

4. MENGQIYASKAN doa dengan shalawat dan salam, merupakan KEBATHILAN yang nyata.

Karena ini perkara ghaib, tidak ada ruangan qiyas didalamnya. Dan ini juga perkara ibadah, MENURUT MADZHAB SYAAFI’IY, TIDAK ADA QIYAS DALAM IBADAH!

Berkata Imam ibnu Katsiir dan beliau BERMADZHAB SYAAFI’IY:

Dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil (Nash – nash) dan tidak boleh dipalingkan dengan berbagai macam Qiyas dan Ro’yu (pikiran).

(Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz IV hlm. 272)

Maka kita HANYA MENCUKUPKAN dalam hal ini pada perkara SHALAWAT dan SALAM. TIDAK ADA QIYAS untuk selainnya. Sampai ada dalil YANG MENETAPKANNYA!

Adakah Abu Bakar mendatangi kuburan nabi, untuk meminta pertolongan kepadanya agar doanya disampaikan nabi kepada Allaah? Adakah abu bakar menyeru nama nabi “wahai Rasuulullaah, sampaikan doaku (begini-begitu) kepada Allaah” ditempat manapun?

Adakah para shahabat demikian?

[Bahkan yang ada hanyalah riwayat dha’iif lagi maudhu’, bahkan mungkin TIDAK ADA ASAL-nya (tidak ada sanadnya!)]

5. MENGQIYASKAN Rasuulullaah dengan selain beliau pun, adalah QIYAS yang baathil.

Bagaimana bisa Rasuulullaah (utusan Allaah) serta khaliilullaah (kekasih Allaah) disamakan dengan selain beliau?! Dari sisi ini saja sudah sangat bathil qiyasnya!

Kemudian pula, darimana engkau memastikan bahwa penghuni kubur tersebut adalah wali Allaah? apakah engkau MEMASTIKAN dia orang bertaqwa disisi Allaah? engkau memastikan dia penghuni surga?

Taruhlah kalau memang dia adalah wali Allaah dan dia adalah penghuni surga (yang memang sudah ditetapkan dalil; seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Aliy, dan shahabat lain yang telah dijamin masuk surga)… Tapi adakah para shahabat yang mengirimkan salam kepada mereka secara langsung dimanapun mereka berada? (apalagi meminta ‘bantuan’ kepada mereka, agar menyampaikan doa mereka kepada Allaah)?!

Bagaimana mereka hendak mendengar salam dan doa tersebut? Apakah Allaah menugaskan malaikat untuk mereka yang menyampaikan salam yang ditujukan kepada mereka?!

Adakah dalil yang menyebutkan bahwa orang-orang shalih (wali), juga dianugerahi SESUATU YANG LUAR BIASA seperti Rasuulullaah?! (yaitu adanya malaikat yang menyampaikan salam kepada mereka, jika ada yang salam kepada mereka?!) Kalau demikian, maka SUDAH TIDAK ADA LAGI KEUTAMAAN RASUULULLAAH dibandingkan selain beliau!

Jika tidak ada utusan malaikat pada mereka, lantas bagaimana mereka mendengar seruan tersebut?!

Semasa mereka hidup, dan ada dua orang yang mengajak mereka berbicara dengan dua pembicaraan yang berbeda, apakah kita katakan ia mampu mendengar dua orang tersebut secara bersamaan? (tentu kita katakan TIDAK MAMPU! karena dia manusia biasa, dan pendengarannya pun pendengaran seperti manusia biasa!)

Semasa mereka hidup, apakah mereka mampu mendengar orang yang berbicara dari pulau lain? jangankan pulau lain, apakah ia mampu mendengar seruan orang yang berada 1 km darinya? atau terpisah tembok yang tebal? [tentu kita katakan dia TIDAK BISA MENDENGAR, kecuali melalui bantuan handphone/audio-chat/video-chat… itupun dia cuma bisa mendnegar satu orang, jika dua atau tiga orang atau lebih yang berbicara dengannya dia TIDAK MAMPU mendengar seluruh pembicaraan tersebut dalam SATU WAKTU..]

Maka bagaimana mungkin ketika mereka wafat mereka mampu mendengar dua orang yang mengajak bicara mereka dengan dua pembicaraan yang berbeda?! bagaimana mungkin mereka mampu mendengar LEBIH DARI ITU? bagaimana mungkin juga mereka mampu mendengar seruan yang berbeda-beda bahkan dari arah yang sangat jauh?! bahkandari berbagai belahan dunia?! dengan apa mereka bisa mendengar seruan tersebut ?!

Atau apakah engkau hendak menyamakan pendengaran mereka dengan pendengaran Allaah?! Maha tinggi lagi Maha Suci Allaah dari keserupaan dengan makhluqNya!

(ini baru permasalahan “mendengar seruan”)

Kedua, (taruhlah dia mampu mendengar; dan ini adalah kebathilan yang nyata!) apakah dia mampu mengijabah ‘bantuan’ yang dimohonkan padanya ?

1. Adapun KHUSUS RASUULULLAAH, maka TELAH ADA DALIL, bahwa beliau MENJAWAB SALAM umatnya yang disampaikan kepada beliau!

Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِيْ حَتَّى أَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

“Tidak ada seorang pun yang mengucapkan taslim kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan rohku sehingga saya bisa membalas taslimnya”

(HR. Abu Daud no. 2041, Ahmad: 2/527, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5679; sumber penukilan: al-atsariyyah)

Maka ini HANYA SEBATAS MENJAWAB SALAM! karena hanya itulah yang DITETAPKAN DALIL…

Jika ada yang berkata: “maka tentu SELAIN SALAM JUGA BERLAKU”

Maka kita jawab lagi: “PENETAPAN DEMIKIAN, mana DALIL yang mendasarinya?! masalah ghayb engkau melakukan qiyas?! masalah ibadah engkau melakukan qiyas!? sungguh ini perkara yang amat baathil!!!”

Dan SALAM kita kepada beliau, bukanlah sedang MEMOHONKAN SESUATU kepada beliau. Bahkan justru kita SEDANG MENDOAKAN BELIAU! dengan salam dan shalawat tersebut!

2. Maka SELAIN BELIAU yang pada mereka TIDAK DIUTUS MALAIKAT!!! Jika mendengar saja, mereka TIDAK MAMPU; bagaimana mereka hendak mengijabah permohonan yang ditujukan kepada mereka?!

Kalau BERDALIH dengna riwayat :

ما من رجل يمر بقبر رجل كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا رد الله عليه روحه حتى يرد عليه السلام

Jika seorang melewati kuburan seorang yang pernah dikenal di dunia, kemudian memberi salam kepadanya, maka Allah akan mengembalikan ruhnya kepadanya untuk menjawab salamnya

(Maka hadits ini DHA’IIF, telah didha’iifkan SEJUMLAH ULAMA! SIMAK: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-157426.html)

Seandainya pun SHAHIIH (padahal dha’iif!), maka:

3. Hal ini KHUSUS BERKAITAN dengan SALAM SAJA. TIDAK PADA HAL LAIN!

Bagaimana mungkin hadits diatas hendak membenarkan istighatsah kepada penghuni kubur?! Sedangkan yang ditetapkan dalil (itupun kalau shahiih, padahal dha’iif) hanyalah MENJAWAB SALAM, bukan MENDOAKAN ornag yang menziarahinya! (justru penghuni kubur BUTUH terhadap doa orang yang menziarahi mereka! bukan sebaliknya!)

4. Hal ini pun LEBIH LAGI TIDAK MEMBENARKAN, untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur DARI KEJAUHAN!!!

Bukankah dalam riwayat diatas disebutkan

ما من رجل يمر بقبر رجل

Jika seorang MELEWATI KUBURAN seseorang…

Maka berarti hanya berlaku ketika DI KUBURAN… kalau salam kita panjatkan di wilayah lain yang jauh dari wilayah pekuburan, maka ini TIDAK MENCOCOKI HADITS.

Juga, tidak disebutkan dalam hadits, bahwa ada malaikat yang diutus Allaah (sebagaimana terhadap nabi) untuk menyampaikan salam kita kepadanya!!

Jika mengucapkan salam dari kejauhan, maka ini tidak bermanfa’at bagi si mayyit… maka lebih-lebih lagi beristighatsah kepadanya dari kejauhan!!! sekali-kali ia tidak mampu mendengar istighatsah tersebut, dan tidak mampu mengijabahnya! Dan jika kita berpemahaman dia memiliki kemampuan untuk mendengar dan mengijabah, maka kita telah menjadikannya tandingan selain Allaah!!!

5. Juga tidak membenarkan untuk berbondong-bondong kekuburan, dalam rangka mendapatkan salam penghuni kubur!

Karena Rasuulullaah SUDAH BERSABDA:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Menandakan LARANGAN ‘memakmurkan’ kuburan, sebagaimana masjid dimakmurkan dengan ibadah!!! Apalagi jika menjadikan kuburan sebagai tempat penyembahan penghuni kubur (baik ia sadar maupun tidak tentang penyembahan tersebut)! Maka jelas ini lebih parah lagi!

Jika ada yang berdalih:

“Istighatsah kita kepada penghuni kubur, adalah istighatsah secara ‘bahasa’, sebagaimana dahulu ketika mereka hidup, kita biasa memintakan mereka agar mereka berdoa kepada Allaah; maka demikian pula setelah mati… Jadi istighatsah kita kepada mereka, bukan istighatsah dalam pengertian beribadah kepada penghuni kubur/mayyit… kita hanya berkata: (sampaikanlah doa kami kepada Allaah, wahai penghuni kubur), dalam perkataan diatas tidak ada sama sekali perkataan yang mengandung peribadatan terhadap mereka! Kita tidak berkata: “wahai penghuni kubur, berilah kami rezeki” kita tidak berkata: “wahai penghuni kubur, angkatlah mudharat yang ada pada kami; atau berilah kami manfa’at” tapi kita berkata: “wahai penghuni kubur, wahai wali, sampaikanlah kepada Allaah agar Dia mengangkat kemudharatan kami; dan agar Dia memberi kemanfaatan pada kami…” Maka kami pada hakekatnya beribadah kepada Allaah, bukan kepada penghuni kubur!”

Maka kita jawab:

Sekalipun permohonan tersebut BUKAN BERSIFAT permohonan ibadah.

– Sudah dijelaskan diatas, bagaimana cara mereka mendengar setiap permohonan tersebut?! sedangkan tidak ada malaikat yang menyampaikannya kepada mereka?! Apakah kita hendak mensifatkan mereka dengan sifat-sifat ketuhanan (dalam hal ini sifat Maha Mendengar) yang hanya dimiliki Allaah?!

– Sudah dijelaskan pula diatas, bagaimana mereka dapat mengijabahkan istighatsah tersebut? sedangkan mereka telah wafat!? dan orang yang wafat tidak bisa disamakan dengan orang yang hidup! sebagaimana benda mati (batu/patung/pohon), tidak bisa kita samakan dengan makhluq hidup?! Coba jika kita dapati ada seorang yang berkata: “wahai batu, sampaikanlah kepada Allaah, doaku ini…” Maka kita katakan, “Hanya dua kemungkinan, orang ini orang gila; atau orang ini waras, tapi memiliki pemahaman kufur, yang berpemahaman dengan tanpa ilmu; bahwa batu dapat menyampaikan hajatnya kepada Allaah. Tidak ada satupun dalil yang datang dari Allaah dalam hal tersebut! Bagaimana bisa ia menetapkan demikian?!” (maka demikian juga berlaku pada mayyit atau penghuni kubur!)

– Sudah dijelaskan pula diatas, bagaimana cara mereka mengijabahkan setiap permohonan tersebut?! sedangkan mereka tidak mendengar istighatsah tersebut (simak point pertama) apakah kita mengklaim mereka mampu mendengar SETIAP permohoanan yang dutujukan kepada mereka? (maka kita telah menjadikan mereka sebagai tandingan Allaah!) terlebih lagi, apakah mereka kita hendak katakan mampu mengijabah seruan yang ditujukan kepada mereka!!! Apakah kita hendak mensifatkan mereka dengan sifat-sifat ketuhanan (dalam hal ini sifat Maha Mengijabahkan doa) yang hanya dimiliki Allaah?!

Maka meskipun permohonan tersbeut, bukanlah permohonan yang bersifat permohoanan ibadah, tetap saja TIDAK bisa DIBENARKAN…

Bahkan jika kita berpemahaman dia mampu mendengar dan dia mampu mengijabah, SETIAP PERMOHONAN yang ditujukan padanya; maka DISINILAH KESYIRIKAN tersebut! (terlepas dari permohonan apapun yang dipanjatkan kepadanya)… karena kita mensifatkannya dengan sifat-sifat yang hanya pantas disandang Allaah, dan dengan ini pula kita menjadikannya sebagai tandingan Allaah! seakan-akan selain Allaah, ada yang Maha Mendengar. seakan-akan selain Allaah, ada yang Mampu Mengijabahkan seruan!!!

Bahkan jika dia MASIH HIDUP pun… Namun kita berpemahaman demikian, maka kita menjadikannya sebagai tandingan bagi Allaah! Seakan-akan disamping Allaah, ada yang Maha Mendengar. Seakan-akan disamping Allaah, ada yang Mampu Mengijabahkan Seruan!!!

Apakah kita hendak menyamakan mereka dengan Allaah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mampu mengijabah berbagai doa dari hambaNya?!!! Jika tidak, maka tinggalkanlah beristighatsah terhadap orang-orang yang telah wafat, atau orang-orang yang TIDAK MENDENGAR permohonan kita dan juga TIDAK DAPAT MENGIJABAHKAN permohonan kita! (meski dia masih hidup)

Karena jika tetap berpemahaman seperti diatas, maka (baik sadar atau pun tidak), kita telah menganggapnya bahwa dia mendengar setiap seruan yang ditujukan kepadanya, dan dia mampu mengijabah setiap seruan tersebut! Padahaal sifat yang kita menisbahkan kepadanya, hanyalah sifat-sifat yang hanya pantas disandang Allaah!!! maka baik sadar atau pun tidak… kita telah menjadikannya tandingan bagi Allaah, sekutu Allaah dalam masalah sifat! na’uudzubillaah!

Adakah kita memikirkan konsekuensi tersebut?

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Syubhat & Bantahan, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s