Kita MASIH TERJAJAH

Pada tanggal 10 Syawwaal 1434 H ini (yang jika merujuk kalendernya orang-orang kaafir, yaitu kalender masehi[1. Simak: http://abuzuhriy.com/menjadikan-kalender-masehi-sebagai-rujukan-utama/]; maka hari ini bertepatan pada tanggal 17 Agustus 2013) … Akan banyak kaum muslimin Indonesia, yang MERAYAKAN dan MEMPERINGATI hari yang mereka sebut dengan “hari kemerdekaan”… Itulah yang disangka sebagian besar muslimiin di negri ini, tapi jika kita melihat kepada kenyataannya; pada hakekatnya tidak ada yang patut dirayakan (yang memang juga tidak ada perayaan tahunan dalam islaam, kecuali dua hari raya; yaitu ‘idul fithri dan ‘idul adha), dan juga karena yang kita dapati dari sebagian besar kita, NYATANYA masih berada dibawah penjajahan! Penjajahan apa saja itu?

1. Penjajahan hawa nafsu kita terhadap diri kita

Betapa banyak seseorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ‘agama’-nya?! Ia jadikan standar ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ berdasarkan hawa nafsunya (perasaan dan logika, tanpa ilmu). Bahkan ia jadikan hawa nafsunya sebagai tolak ukur cinta dan bencinya. Maka ketika dihadapkan dengan syari’at Allaah, maka harus ia timbang dulu dengan hawa nafsunya; jika apa-apa yang dibenci hawa nafsunya, maka perkara itu dibencinya, meskipun perkara tersebut diridhai dan dicintai Allaah. Dan apa-apa yang disukai/dicintai hawa nafsunya, maka perkara itu dicintainya, meskipun perkara tersebut dibenci Allaah. Ia hidup dengan ‘aturan’ hawa nafsunya, sama sekali lupa dengan aturan Tuhannya Yang Telah Menciptakannya, Yang Memberi rezeki kepadanya, Yang akan mematikannya, dan Yang kelak akan memintakan pertanggung jawabannya atas segala perbuatannya.

Allaah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

(al Qashash: 50)

Allaah juga berfirman:

أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ كَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُم

Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (syaithan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?

(Muhammad : 14)

Golongan paling parah adalah mereka yang terang-terangan menebarkan permusuhan, kebencian dan penentangan terhadap syari’at Allaah, setelah ia tahu dan paham secara jelas; bahwa apa yang dimusuhinya, apa yang dibencinya, dan apa yang ditentangnya tersebut datangnya dari Allaah. Mereka inilah yang Allaah sebut dalam firmanNya:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

(al Furqaan: 43)

Dan juga firmanNya

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?! Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

(al Jaatsiyah : 23)

Maka Allaah menasehati kita terhadap mereka:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

(al Kahfi : 28)

Maka hendaknya kita menjihadi diri kita, dari hawa nafsu kita dan hijrah kepada apa-apa yang diridhai Allaah… Dengan senantiasa lebih memilih keridhaanNya diatas keridhaan hawa nafsu kita, misalkan kita dapati ada pertentangan antara keduanya.

Karena Nabi Shallallaahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:

المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ

“Mujahid adalah orang yang menjihadi dirinya dalam rangka menta’ati Allah, dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang “.

(HR Ahmad, dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam as-Silsilah ash-Shahihah no.539)

Bahkan beliau bersabda:

أفضل الجهاد أن يجاهد الرجل نفسه وهواه

Sebaik-baik Jihaad, adalah seorang yang menjihadi dirinya dan hawa nafsunya

(di Shahiihkan Syaikh al Albaaniy dalam Shahiihul Jaami’ 1099, dan Silsilah ash Shahiihah 1496)

Dan sungguh terdapat BANYAK KEUTAMAAN, bagi orang-orang yang menahan gejolak hawa nafsunya untuk menaati Allaah.

Allaah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Dan adapun orang-orang yang takut kepada maqam (kedudukan) Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

[QS. al Naazi’aat: 79-80]

Tidak cukup satu surga… bagi mereka dua surga:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan maqam (kedudukan) Tuhannya, ada dua surga.

[QS. al Rahmaan: 55]

Mereka inilah orang-orang yang dada-dada mereka terpenuhi dengan ilmu, ilmu tentangNya dan ilmu tentang syari’atNya; sehingga mereka mengamalkan syari’atNya (mengerjakan kewajiban, dan menjauhi segala larangan) karena dalam dada mereka, Allaah adalah Dzat Yang Paling Agung, Yang paling patut didahulukan dari segala hal, termasuk dari hawa nafsunya. Sehingga mereka lebih memilih mengorbankan keinganan hawa nafsunya daripada bermaksiat kepadaNya, mereka lebih memilih menaatiNya daripada menuruti hawa nafsunya.

Sebaliknya, terdapat ANCAMAN yang SANGAT KERAS, bagi orang-orang yang tidak mengagungkan Allaah. Yang menomorsekiankan Allaah. Yaitu mereka yang lebih mendahulukan hawa nafsu mereka diatas keridhaan Allaah.

Sebagaimana firmanNya:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

(az Zumar: 69)

Maka barangsiapa yang mengagungkan sesuatu lebih dari pengagungannya kepada Allaah, maka ia telah menjadikan apa yang diagungkan tersebut SEKUTU bagi Allaah!!! Termasuk disini, jika mereka menjadikan hawa nafsu mereka sebagai sekutu bagi Allaah! Na’uudzubillaah!

Allaah juga berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ . وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَ . فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).

[an Nazi’aat: 37-39]

Na’uudzubillaah.

2. Penjajahan syaithaan dan bala tentaranya atas diri kita

Mereka yang mengikuti hawa nafsunya, maka merekalah orang-orang yang dijajah syaithaan!

Sebagaimana firmanNya:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang BERPALING dari pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al Qur`an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”

[QS. Az Zukhruf : 36]

Sungguh betapa banyak orang-orang yang berpaling dari agama Allaah? dan tidak mau tahu, tidak mau peduli dengan agama yang diklaimnya ‘dianutnya’?! Jangankan mengamalkannya, mempelajari agama pun TIDAK! Jika keberpalingan mereka itu adalah kerena kebencian terhadap agama Allaah, maka inilah keberpalingan yang menyebabkan kemurtadan pada mereka! Dan alangkah meruginya orang-orang yang berpaling dariNya!

Allaah berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.

[QS. Saba’: 34]

Sangkaan iblis tersebut adalah apa yang Allaah firmankan:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Demi kekuasaanMu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlas di antara mereka”.

[Shad : 82, 83]

Juga sebagaimana firmanNya:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

[al A’raaf: 16-17]

Bahkan Allaah menantang ibliis, dengan firmanNya:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

[QS. al Israa’ : 64]

Kemudian Allaah berfirman:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلً

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”.

[QS. al Israa’ : 64]

Dia juga berfirman:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu (Iblis) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat”

[Al Hijr : 42]

Dia juga berfirman:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya syaithan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang BERIMAN dan BERTAWAKKAL kepada Tuhan-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaithan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”.

[An Nahl : 99-100].

Dia juga berfirman:

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ ۗ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang BERIMAN kepada adanya KEHIDUPAN AAKHIRAT dari siapa yang RAGU-RAGU tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.

[QS. Saba’ : 21]

Allaah mewasiatkan kepada keturunan Adam, setelah ibliis menggelincirkannya kedalam kemaksiatan:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى . قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا . قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ

…Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.

[QS. Thaa-haa : 123-126]

Allah berfirman:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

…dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

[al Baqarah: 168]

Karena syaithan tidaklah menyesatkan kita dengan sekali kesesatan, akan tetapi bertahap; tahapan demi tahapan! Yang berawal dari hal yang ‘kecil’ (dengan disertai peremahan), hingga akhirnya berakhir dengan kekufuran, na’uudzubillah.

Dia juga berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَازَكَى مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithaan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya syaithaan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [An Nur : 21]

Dia juga berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka JADIKANLAH ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala

[Faathir: 6]

Tidak cukup kita HANYA MENGETAHUI syaithaan itu sebagai musuh kita, tapi hendaknya kita BENAR-BENAR menjadikan syaithan sebagai MUSUH KITA! Bagaimana sikap kita terhadap musuh? Mengikuti bisikannya? Menjadikannya sebagai pembimbing, bahkan pemimpin kita?! Sungguh hal demikian bukanlah menjadikan syaithan sebagai musuh! Tapi menjadikannya sebagai teman, pembimbing bahkan pemimpin kita!!

Dari Jabir, dia berkata,

”Kami duduk di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau membuat sebuah garis di depan beliau, lalu beliau mengatakan:

هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

‘Ini jalan Allah Azza wa Jalla.’

(Kemudian) beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat dua buah garis di kanannya, dan dua garis di kirinya. Kemudian Beliau bersabda:

هَذِهِ سَبِيلُ الشَّيْطَانِ

‘Ini jalan-jalan setan’.

Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis yang hitam (tengah, Pen), lalu membaca ayat ini.”

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

(Dan bahwa (yang kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kami bertakwa” [Al An’aam : 153]

Allaah berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).

[al A’raaf : 3]

Dia juga berfirman:

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

Patutkah kamu mengambil dia (ibliis) dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

[al Kahfi: 50]

Maka jika kita tidak menjadikan Allaah sebagai pemimpin kita, dalam menapaki hidup ini… Maka kita telah menjadikan diri kita sebagai JAJAHAN IBLIIS dan bala tentaranya, yang amat buruklah ibliis jika dijadikan sebagai pimpinan, padahal dia adalah musuh kita.

Maka hendaknya kita menuntut ilmu agama (dari rujukan yang benar, dengan pemahaman yang benar), mengamalkannya, serta mendakwahkannya kepada keluarga dan orang-orang sekitar, sebagai upaya pemerdekaan dari jajahan ibliis, syaithan dan bala tentaranya, dari kalangan jin dan manusia.

3. Penjajahan orang-orang kaafir atas diri kita

Sungguh seorang yang menyangka penjajahan orang kaafir terhadap kita, sebatas penjajahan teritorial, maka ia telah salah besar! Karena justru yang lebih menguntungkan orang-orang kaafir, adalah mereka menjajah kaum muslimiin dari aspek aqidah-nya, dan cara hidup mereka. Dengan ini ‘lebih menghemat’ tenaga mereka, bahkan lebih dapat ‘mengalahkan kaum muslimiin, tanpa harus mengeluarkan darah!’

Telah nyata firman Allaah, tentang mereka:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka

[al Baqarah: 120]

Jangankan masuk kepada agama mereka, MENGIKUTI agama mereka saja tanpa masuk kedalamnya pun, maka ini sudah mereka ridhai!

Allaah juga berfirman tentang orang-orang kaafir secara umum:

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدً

Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya.

(ath thaariq: 15)

Ingatlah satu-satunya cara mengalahkan mereka, adalah DENGAN KEMBALI kepada AGAMA ALLAAH! Dan satu-satunya alasan mengapa mereka menghinakan kita, berkuasa atas kita… disebabkan karena KITA SENDIRI, yang meninggalkan agama kita, bahkan menjadikan mereka sebagai teman dekat[1. Simak: Diantara bentuk loyalitas terhadap orang-orang kaafir], meniru-niru kebiasaan mereka (tasyabbuh[2. Simak: http://abuzuhriy.com/waspadailah-perbuatan-tasyabbuh/]), bahkan mengada-adakan ibaadah dalam agama dengan mencontoh dari mereka! Sungguh inilah kehinaan yang amat nyata!

Rasuulullaah bersabda:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

“Hampir-hampir bangsa-bangsa (kaafir) memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.”

Seorang laki-laki berkata,

“Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?”

beliau menjawab:

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَ

“Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti sampah banjir”

عَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ

Sungguh Allah akan mencabut rasa takut* musuh kalian kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.”

Seseorang lalu berkata,

“Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?”

beliau menjawab:

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati.”

(Shahiih; HR. Abu Dawud, Ahmad, dll)

*Padahal sungguh, sebab kemenangan kita atas musuh kita, dikarenakan dijadikannya rasa takut oleh Allaah terhadap musuh-musuh kita, sebagaimana sabda Rasuulullaah :

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ عَلَى عَدُوِّي

aku ditolong dengan ditimpakannya rasa takut dalam hati musuh-musuhku selama perjalanan satu bulan

(HR. Ahmad; hadits serupa juga diriwayatkan oleh Bukhariy dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli ‘inah [salah satu jenis jual beli riba], mengambil ekor sapi, dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan); Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.”

(HR. Abu Daud; dishahiihkan syaikh al albaaniy dalam shahiih abi dawud)

Diantara jihaad, adalah MENUNTUT ILMU SYAR’I… Sebagaimana firmanNya:

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka DENGAN AL QUR-AAN dengan JIHAD YANG BESAR.

(al Furqaan: 52)

Ayat diatas pun diturunkan di MEKKAH. Maka alangkah bathilnya, jika hanya mengkhususkan jihad pada peperangan saja! Dan bagaimana memenangkan peperangan, jika kaum muslimiin jauh dari agamaNya?!

Maka selama kaum muslimiin memiliki atribut-atribut diatas, maka selama itu pula mereka akan terhina (bahkan sekalipun mereka merasa mulia)…

4. Penjajahan orang-orang munaafiq, faasiq, zhaalim atas diri kita

Dengan ditimpakannya orang-orang munaafiq, faasiq, serta zhaalim sebagai orang-orang yang memegang kekuasaan di negri-negri kaum muslimiin. Dan kesalahan itupun kembali kepada kaum muslimiin itu sendiri!

Allaah berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zhalim disebabkan apa-apa yang mereka perbuat.”

(Qs. Al An’am: 129)

Jika sebagiaan besar rakyatnya adalah orang yang terjangkiti penyakit kemunaafiqan, maka yang memimpin mereka adalah mereka-mereka juga! Demikian pula kefasiqan dan kezhaliman, jika hal tersebut dominan disuatu masyarakat, maka orang yang memimpinnya pun serupa dengannya!

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

…Tidaklah ORANG-ORANG (yaitu RAKYAT) mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan KEZHALIMAN PENGUASA!…

[HR Ibnu Majah no. 4019, al Bazzar, al Baihaqi; dari Ibnu ‘Umar. Dishohihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shohihah no. 106, Shohih at-Targhib wat-Tarhib no. 764]

Berkata ibn Abil ‘Izz al Hanafiy dalam syarh aqiidah ath thahaawiyah:

إن الله ما سلطهم علينا إلا لفساد أعمالنا، والجزاء من جنس العمل، فعلينا الاجتهاد في الاستغفار والتوبة وإصلاح العمل

Allah tidak akan menjadikan mereka sebagai pimpinan kita, kecuali dengan sebab perbuatan kita sendiri, karena balasan adalah sesuai dengan perbuatan. Maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali beristighfar, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan kita.

Juga, diantara sebab baiknya masyarakat kita, adalah dengan nasehat-menasehati (sesuai dengan kaidah dan penerapan yang baik dan benar)! Dan jangan anggap nasehat-menasehati ini adalah sebab perpecahan! Bahkan tidak nasehat-menasehati inilah sebab perpecahan bahkan kehancuran umat!

Allaah berfirman:

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

Maka MENGAPA TIDAK ADA dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang MELARANG DARI (MENGERJAKAN) KERUSAKAN di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami SELAMATKAN di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang BERDOSA.

(Huud: 116-117)

Allaah bahkan berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

“Telah DILAKNATI orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. MEREKA satu sama lain selalu TIDAK MELARANG TINDAKAN MUNGKAR YANG MEREKA PERBUAT. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

(Al-Ma`idah:78-79)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْمُدْهِنِ فِي حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا مَثَلُ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا سَفِينَةً

“Perumpamaan orang yang menerjang batasan-batasan hukum Allah dan orang berada padanya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal

فَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَسْفَلِهَا وَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَعْلَاهَا

lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di bagian bawah dan sebagian lagi di atas perahu.

فَكَانَ الَّذِي فِي أَسْفَلِهَا يَمُرُّونَ بِالْمَاءِ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا فَتَأَذَّوْا بِهِ فَأَخَذَ فَأْسًا فَجَعَلَ يَنْقُرُ أَسْفَلَ السَّفِينَةِ

Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atas sehingga mengganggu orang yang diatas. Lalu salah seorang yang dibawa mengambil kapak untuk membuat lubang di bawah kapal.

فَأَتَوْهُ فَقَالُوا مَا لَكَ قَالَ تَأَذَّيْتُمْ بِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ الْمَاءِ

Maka orang-orang yang di atas mendatanginya dan berkata: “Apa yang kamu lakukan?” Orang yang di bawah berkata: “Kalian telah terganggu karena aku, sedangkan aku memerlukan air”.

فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَنْجَوْهُ وَنَجَّوْا أَنْفُسَهُمْ وَإِنْ تَرَكُوهُ أَهْلَكُوهُ وَأَهْلَكُوا أَنْفُسَهُمْ

Maka bila orang yang berada di atas mencegah dengan tangan mereka, maka mereka telah menyelamatkan orang tadi dan menyelamatkan diri mereka sendiri, namun apabila mereka membiarkan saja apa berarti dia telah membinasakan orang itu dan diri mereka sendiri”.

(HR. Bukhaariy)

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ

Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya [dan ini bagi mereka yang memiliki kewenangan; seperti ayah-anak, guru terhadap muridnya, pemimpin (atau yang diberi otoritas] terhadap rakyatnya, dll; abuzuhriy].

فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ

jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan [dan ini bagi mereka yang telah membekali diri mereka dengan ilmu, dan dipraktekkan dengan cara yang benar]

فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.”

(HR. Muslim no. 49)

Dalam riwayat lain,

ليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

“Tidak ada sesudah itu (mengingkari dengan hati) keimanan sebesar biji sawi (sedikitpun)”

Maka bagi yang tidak memiliki otoritas, maupun tidak memiliki ilmu. Maka hendaknya ia tidak bertindak, tidak pula berkata-kata. Jangan sampai ia bertindak dan berkata-kata tanpa dasar ilmu. Sehingga ia mengira dirinya memperbaiki, tapi nyatanya MERUSAK! Dan alangkah celakanya seseorang yang dihatinya tidaklah masuk sebiji sawi keimanan, sehingga ia tidak mengingkari kemungkaran yang ada dihadapannya (meskipun dengan hatinya), padahal ia telah tahu dan pahaman secara jelas, hal tersebut kemungkaran !

Rasuulullaah juga bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ

Tidak ada seorang nabipun sebelumku yang diutus oleh Allah kepada satu umat, kecuali pada umatnya itu ada pendukung-pendukung dan Sahabat-Shåhabat yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya

ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ

Kemudian datang setelah mereka orang-orang yang mengatakan apa yang mereka tidak lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.

فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, dialah Mu’min.

وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Siapa yang memerangi mereka dengan lidahnya, dialah Mu’min.

وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dan siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, dialah Mu’min.

وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

Tidak ada iman setelah itu walau sebesar biji sawi pun.”

[HR. Muslim]

Bagaimana mereka hendak memerangi kemungkaran sedangkan mereka JAUH DARI ILMU? Bagaimana mereka hendak mengajak kepada yang ma’ruuf sedankgan mereka JAUH DARI ILMU? Bagamimana mereka memerangi kemungkaran, sedangkan mereka mencintai kemungkaran itu sendiri (baik mereka tidak sadar, apalagi jika mereka sadar?!) Bagaimana mereka hendak mengajak kepada perkara yang ma’ruuf, sedangkan mereka membenci hal tersebut? (baik mereka tidak sadar/tidak tahu, apalagi jika mereka mengetahuinya)!?

Akhir kata, Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda;

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

Setiap manusia berusaha… maka ada orang yang menjual dirinya (kepada Allaah) sehingga memerdekakan dirinya (dari api neraka) atau menghancurkannya (dirinya, karena ia menjual dirinya kepada syaithan dan bala tentaranya).”

(HR. Muslim)

Syaikh ibnul ‘Utsaimiin berkata:

Setiap pagi manusia pergi, mereka berusaha dan bersusah payah. Di antara mereka ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang membinasakan dirinya sesuai dengan amalannya. Jika ia melakukan ketaatan kepada Allah dan istiqamah di atas syari’atNya, berarti ia memerdekakan dirinya dari penghambaan setan dan nafsu. Jika keadaannya kebalikan dari hal itu, berarti ia telah mencelakakan dirinya sendiri.

Na’uudzubillaah! Maka semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang MERDEKA… dengan kemerdekaan yang hakiki… Paling tidak bagi diri dan keluarga kita… Agar jangan sampai kita dan keluarga, dijajah oleh empat golongan diatas! Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under Ukhuwwah Islamiyyah, Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s