Derajat hadits : “barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin…”

Anda pernah mendengar riwayat berikut?

“Barangsiapa yang keadaan amalannya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat.

Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi, dan

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.”

Apakah benar riwayat diatas adalah sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam?

Apa benar riwayat diatas diriwayatkan imam al Bukhaariy dalam shahiihnya atau Imam Muslim dalam shahiihnya atau diriwayatkan ashabus sunan dalam sunan mereka?

Bagaimana derajat riwayat diatas?

Mari simak nukilan berikut:

[mulai mengutip]

1. Abu Nu’aim Al Ashbahani meriwayatkan riwayat diatas, di dalam kitab Hilyatul Auliya dari jalan Ibrahim bin Adham, dia berkata: telah sampai kabar kepadaku bahwa Al Hasan Al Bashri bermimpi bertemu Nabi shallallaahu ‘alayhi wa salalm . Dia berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat.” Lalu Rasulullah menyebutkan hadits yang mirip dengan [redaksi] hadits di atas.

Sanad hadits ini LEMAH karena sanad antara Ibrahim bin Adham dan Al Hasan Al Bashri terputus karena Ibrahim menggunakan lafazh “telah sampai kabar kepadaku” (balaghani). Bentuk kalimat seperti ini tidak memberi faidah ittishal (bersambung sanad) sampai diketahui siapa yang mengabarkan kisah ini kepada Ibrahim.

2. Diriwayatkan juga di dalam kitab Musnad Al Firdaus, dari jalan Muhammad bin Sauqah dari Al Harist bin Abdillah Al A’war dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah ).

Sanad riwayat ini SANGAT LEMAH karena Al Harits bin Abdillah Al A’war adalah seorang pendusta.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad Dailami sebagaimana disebutkan oleh As Sakhawi di dalam kitabnya Al Maqashidul Hasanah. Di sana beliau juga menerangkan tentang kelemahan hadits riwayat Ali bin Abi Thalib ini.

3. Abu Bakar Al Qurasyi juga meriwayatkan [riwayat diatas] di dalam kitab Al Manamat Al Hasan bin Musa Al Khurasani dari seorang syekh dari Bani Sulaim, dia berkata: “Saya bermimpi bertemu Rasulullah. Lalu saya berkata: ‘Wahai Rasulullah bagaimana kabar anda?’ Nabi menjawab: ‘Saya akan memberimu sebuah hadits.’ Saya katakan: ‘Sampaikanlah hadits itu kepada saya.’ Lalu Nabi menyampaikan hadits di atas.

Sanad hadits ini LEMAHkarena identitas syekh Bani Sulaim itu tidak diketahui (majhul) sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

4. Hadits ini juga disebutkan oleh Al Ghazali di Ihya ‘Ulumuddin dari Abdul Aziz bin Rawwad. Dia berkata: “Saya bermimpi bertemu Rasulullah. Saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.’

Al Hafizh Al ‘Iraqi di dalam takhrijnya terhadap Ihya ‘Ulumuddin berkata: “Saya tidak mengetahui hadits ini kecuali dari kisah MIMPI-nya Abdul Aziz bin Rawwad, … dst … Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam kitab Az Zuhd.

Dari beberapa jalan riwayat hadits ini tampak bagi kita akan KELEMAHAN sanad-sanad hadits ini. Selain itu, kisah-kisah ini merupakan mimpi tidur, bukan berupa hadits yang diucapkan langsung oleh Nabi saat beliau masih hidup. Oleh karena itu tidak boleh dikatakan ucapan di atas sebagai sebuah hadits Nabi

[selesai kutipan]

Sumber: http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2012/02/derajat-hadits-barangsiapa-yang-hari.html

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Hadits

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s