Menutup pintu pamer, meskipun dalam perkara duniawi

Dari Ikrimah, Ibnu Abbas mengatakan,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ طَعَامِ الْمُتَبَارِيَيْنِ أَنْ يُؤْكَلَ

“Sesungguhnya Nabi melarang untuk memakan makanan yang dimasak oleh dua orang yang berlomba”

[HR Abu Daud no 3754, dinilai shahih oleh al Albaaniy]

المتباريان : المتعارضان بفعلهما ليعجز أحدهما الآخر بصنيعه وكرهه لما فيه من رياء

Ada yang memberi penjelasan, “Yang dimaksud dengan dua orang yang berlomba adalah dua orang yang saling mengalahkan. Nabi melarang memakan makanan yang mereka masak karena adanya unsur pamer dalam masakan mereka berdua”

Sumber: http://ustadzaris.com/hukum-lomba-memasak


Kalau sudah pamer, maka pasti ada standar dari hal yang dipamerkan tersebut!

Apakah kita susah-susah bekerja ini dan itu hanya untuk “mendapatkan ucapan” dan “perlakuan baik dari manusia”? Ketahuilah… ujung-ujungnya hanyalah KEKECAWAAN yang akan kita dapatkan… Kenapa? kalau sudah PAMER, PASTI ada STANDAR (yang ia tetapkan) dari rasa pamer tersebut…Dan jikalau yang diharapkannya itu pujian: maka PASTI ada standar dari pengharapann tersebut!

– Pengharapan BALAS BUDI

Orang yang pamer pun terkadang mengharapkan balas budi… ia ingin kelak nantinya orang yang ia berbuat baik tersebut, akan membalasnya di hari kemudian… nah, ketika balasannya tidak seperti yang diharapkannya… maka kecewalah dia… apalagi jika tak kunjung dibalas… maka kekecewaan diatas kekecewaan…

– Pengharapan dari jenis pujian

Jika jenis pujiannya cuma “makasi” [gak pake jazaakallaahu khayran], maka ia akan kecewa… karena yang ia harapkan adlaah adanya jazaakallahu khayran! Bahkan mungkin (bagi sebagian orang) jika dikatakan: “makasi ya, jazaakallaahu khayran” inipun MASIH KURANG… ia mau ada tambahan lagi: “makasi ya, jazaakallaahu khayran; enak banget!”, bahkan jika cuma “enak”, masih kurang… karena belom ada “bangetnya”… apalagi jika cuma bilang “lumayan”… maka ia kecewa… maka bagaimana lagi jika ia dapati orang yang tidak mengucapkan terima kasih, tidak pula doa, tidak pula memuji makanannya? tentulah ia kecewa diatas kecewa…

– Pengharapan dari banyaknya pujian

Selain dari jenis pujian, orang yang pamer pun terkadang juga menetapkan “banyaknya” pujian terhadap sesuatu yang dipamerinya tersebut… jika tidak mencapai jumlah tersebut maka ia kecewa…

Belum lagi jika digabungkan point pertama, dengan point kedua… Ia mau yang bilang “enak banget” [harus 10 orang], dan yang bilang “enak” [harus 20 orang]… bagaimana jika yang ia peroleh tidak mencapai target? maka kekecewaanlah yang ia peroleh… bagaimana lagi jika tidak ada yang bilang enak banget? dan tidak ada yang bilang enak? maka kekecewaan diatas kekecewaan…

Pamer dapat menjerumuskan seseorang pada KEDENGKIAN

Ketika seseorang pamer, maka ia akan mendengki seseorang yang menjadi saingannya dalam hal yang dipameri tersebut! Sudah menjadi tabiat orang yang saling mengalahkan, akan mendengki orang yang menjadi saingannya. Tanda-tanda dengki akan dirasakan pendengki, yaitu ia ingin kelebihan yang ada pada orang lain hilang, dan ia mendapatkan kelebihan tersbeut; atau hanya ia sendirilah yang hanya pantas untuk kelebihan selainnya tidak, terlebih lagi seseorang yang memang satu bidang dengannya (sesama koki, sesama chef, sesama juru masak, dll); tentu ia tidak akan mendengki seseorang yang berbeda bidang dengannya, yang tidak menjadi saingannya.

Tanda-tanda kedengkiannya adalah, ketika teman seperjuangannya mendapatkan pujian sedangkan ia tidak mendapat pujian; atau teman seperjuangannya mendapatkan pujian berlebih, tapi tidak seperti pujian yang ada padanya; atau teman seperjuangannya popularitasnya meningkat, tidak sepertinya; atau teman seperjuangannya berhasil memperoleh harta/kedudukan yang lebih dibandingkan dia…

Oleh karenanya sebaik-baik amalan adalah ikhlaash, karena hanya beramal ikhlaash (meskipun itu perkara duniawi) kita dapat jauh dari kedengkian.

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ثَلاَثُ خِصَالٍ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ … إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ

Tiga perkara yang karenanya hati seorang muslim tidak ditimpa dengki… (yang pertama kali disebutkan Rasuulullaah adalah) mengikhlaskan amal karena Allaah…

(HR Muslim)

Pamer dapat menjerumuskan seseorang pada UJUB (dan ujub, dapat menjerumuskannya pada TAKABBUR)

Ia merasa “saya ini begini (dapat pujian banyak) karena kepintaran memasak saya”, “saya ini begini karena keuletan saya”… lupa dia kepada Allaah yang telah menciptakanNya, memberinya rizki, yang menjadikannya mampu berbuat, yang menjadikan organ-organnya normal, yang memberinya kecerdasan, yang menganugerahkan kepadanya keuletan…

Kalau sudah ujub, akhirnya apa? maka MERENDAHKAN ORANG LAIN… “anda tidak kenal saya? saya ini chef ternama” (baik terucap dilisan maupun tersimpan didada); “si fulaan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan saya!” (baik terucap dilisan maupun tersimpan didada); “ah, si fulaan ini mah untung-untungan doang tuh… coba suruh masak lagi, pasti gak enak tuh” (baik terucap dilisan maupun tersimpan didada); “gini-gini gua juga gurunya si fulaan, gua tuh yang ngajarin dia sampe bisa begitu… kalau nggak ada gua, dia tuh tukang cuci piring aja,…” (baik terucap dilisan maupun tersimpan didada)

Sungguh menaruh pengharapan/ekspektasi pada manusia itu ujung-ujungnya hanyalah KEKECEWAAN…

Allaah sendiri Sang Pencipta Manusia sudah menyatakan sifat manusia:

إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Sesungguhnya manusia itu, BENAR-BENAR SANGAT ZHAALIM dan BENAR-BENAR SANGAT MENGINGKARI NIKMAT!!

(Ibraahiim: 34)

Jika sudah begini, maka pantaskah kita menaruh harapan pada mereka?! Sungguh manusia itu BUKANLAH TEMPAT digantungnya harapan… sudah Allaah sebutkan, bahwa sifat mereka yang tidak tahu berterima kasih (apalagi balas budi), dan sangat mengingkari nikmat… maka, hendaknya yang kita tanamkan pada diri kita dari awal, “kita PASTI KECEWA, jika berharap atau menggantungkan harapan pada manusia”…

Maka untuk perkara duniawi/muamalah, apalagi ukhrawi/ibadah (yang dalam hal ini tidak boleh sedikitpun mengharapkan balasan apapun dari selain Allaah)… hendaknya niatkan untuk Allaah saja…

– jika Allaah tujuan kita, maka kita akan mengusahakan SEBAIK-BAIKNYA… maka hasil dari perbuatan kita pun akan baik, dan berkualitas…

– jika Allaah pengharapan kita… ketahuilah! kita tidak akan pernah kecewa jika berharap kepadaNya…

Allaah berfirman tentang apa yang ada DIDALAM HATI penghuni surga, ketika mereka beramal shalih:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan Wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

(al Insaan: 9)

Berkata Sa’iid ibn Jubayr (secara makna) :

“Sungguh Demi Allaah… tidaklah mereka mengucapkan “ucapan diatas” dengan lisan-lisan mereka [ketika dahulu mereka didunia]… hanya saja Allaah Maha Mengetahui apa-apa yang ada didalam hati mereka (sehingga dia mengabarkannya kepada kita, apa yang ada dalam hati mereka)”

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s