Bagaimanakah pengaruh shalat dalam kehidupan kita?

Kita telah tahu, bahwa Allaah berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar

[al ‘ankabuut: 45]

Maka sesungguhnya jauhnya kita dari al fahsyaa dan al mungkar sesuai kadar shalat yang ada dalam diri kita…

Sedangkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahya”.

(HR. Abu Dawud, dengan sanad yang hasan)

Semakin sedikit kekhusyu’an dalam shalat kita, semakin sedikit manfa’at yang akan kita raih dari shalat itu. Maka jika kita hanya membawa pulang 1/10, maka hanya 1/10 itulah yang akan kita bawa dalam kehidupan sehari-hari kita… Bagiamana lagi seseorang yang tidak membawa apa-apa dari shalatnya?! Bahkan kemurkaan Allaah!? (karena ia shalat di luar waktunya dan/atau karena ia shalat tanpa ada thuma’ninah) Dan bagaimana lagi jika seorang yang MENINGGALKAN SHALAT!!!

Oleh karenanya Allaah berfirman :

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Dan dzikrullaah [mengingat Allaah dalam shalat], lebih besar (manfa’at dan keutamaannya)

[al ‘ankabuut: 45]

Berkata Syaikhul Islaam :

“Penafsiran yang benar (tentang ayat ini), shalat memiliki DUA TUJUAN UTAMA, yang satu lebih besar dari yang lain. Sesungguhnya Shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. tapi Dzikrullah (mengingat Allah) yang terkandung didalam shalat itu LEBIH BESAR NILAI dan MANFAATnya daripada mencegah perbuatan keji dan mungkar.”

Karena khusyu’ dalam shalat, BUKAN HANYA menjadikan kita jauh dari perkara mungkar dan kekejian, TAPI JUGA mendekatkan kita kepada kebaikan dan menghapuskan dosa-dosa kita…

Allaah berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

(al Anbiyaa’ : 90)

Tiga atribut diatas tidaklah terpisahkan, (1) bersegera mengerjakan perbuatan baik, (2) rajin berdoa, dengan rasa harap dan cemas, (3) khusyu’. Orang yang mengerjakan (1), akan Allaah anugerahi (2), dan (3); orang yang mengerjakan (2), akan Allaah anugerahi (1) dan (3); orang yang mengerjakan (3), akan Allaah anugerahi (1) dan (2). [silahkan kita praktekkan, niscaya kita akan mendapatinya]

Rasuulullaah bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat yang lima, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus kesalahan yang dilakukan di antaranya, selama dijauhi dosa-dosa besar.”

(HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا؛ إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Setiap muslim yang menjumpai shalat wajib lalu ia menyempurnakan wudhunya, khusyu’nya dan ruku’nya, niscaya shalat tersebut akan menghapus dosa-dosanya yang telah lampau, selama ia tidak melakukan dosa besar. Dan keistimewaan ini akan terus ada selamanya”.

(HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ يَقُومُ فِي صَلاتِهِ فَيَعْلَمُ مَا يَقُولُ فِيهَا ، إِلا انْفَتَلَ وَهُوَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مِنَ الْخَطَايَا لَيْسَ عَلَيْهِ ذَنْبٌ

“Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu dia menyempurnakan wudhunya kemudian dia berdiri dalam shalatnya, dan dia MEMAHAMI APA YANG IA BACA* dalam shalat(nya), kecuali dia selesai sementara keadaannya seperti di hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

[Shahiih; Diriwayatkan oleh al-Haakim, dan dia berkata, “Sanadnya shahih.”, dan disetujui oleh adz-Dzahabi dalam at-Talkhis(1/399).]

*Bahkan bukankah Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan

(an Nisaa’:43)

Ayat ini merupakan ayat kedua yang diturunkan Allah berkaitan dengan khamr, yang kemudian Allah menurunkan ayat ketiga sekaligus mengharamkan secara mutlak khamr dalam semua keadaan; Ditafsirkan oleh Ibnu Katsir:

“Ini ungkapan paling baik untuk batasan mabuk, yaitu tidak mengetahui apa yang diucapkannya. karena orang yang sedang mabuk diwaktu shalat, akan mencampuradukkan bacaan, TIDAK MERENUNGKAN BACAANNYA, dan TIDAK KHUSYU’ dalam membacanya”

(Tafsir Ibn Katsir)

Maka seseorang DAPAT KHUSYU’ dalam shalat, JIKA ia MEMAHAMI (dengan benar) apa yang ia baca dalam shalat, dan MENGHADIRKAN pemahaman tersebut ketika ia membacanya.

Maka jangan sampai kita seperti orang yang MABUK, ketika shalat. Yaitu shalat, tapi tidak paham apa yang kita baca dalam shalat. Sehingga kita tidak akan mendapatkan kekhusyu’an didalamnya. Maka hendaknya kita pelajari makna dzikir-dzikir, serta gerakan-gerakan shalat; kemudian kita hadirkan hati kita ketika kita sedang mengucapkan dzikir-dzikir/bacaan-bacaan tersebut, dan ketika kita sedang melakukan gerakan-gerakan shalat; sehingga dengannya kita mendapatkan khusyu’

Bahkan… untuk dapat mencapai derajat MUKMIN, diantaranya adalah khusyu’ dalam shalat kita [dan inilah CIRI PERTAMA seorang mukmin], sebagaimana firmanNya :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya…

[QS. al mu’minuun: 1-2]

Maka lihatlah kehidupan kita, itulah cerminan dari shalat kita… maka hendaknya kita memperbaiki shalat kita… [dan diantara cara memperbaiki shalat kita, adalah hendaknya kita memperbaiki kehidupan kita, sebelum kita didatangi waktu shalat… sehingga ketika waktu shalat mendatangi, kita menyambutnya dengna kebaikan… ingatlah, kekhusyu’an diwaktu shalat, bergantung dengan amalan diluar shalat; dan kekhusyu’an diwaktu shalat, akan mempengaruhi amalan kita diluar shalat (keduanya saling mempengaruhi)]

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir, Ibadah, Shålat, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s