Introspeksi keburukan dan kebaikan

Berkata ibnu Mas’uud radhiyallaahu ‘anhumaa:

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ

“Hitunglah keburukan-keburukan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian [jika diamalkan sesuai syari’at dengan ikhlaash, az] tidak akan disia-siakan sedikitpun”

[-] Adapun keburukan-keburukan kita, maka SUDAH PASTI BERNILAI DOSA.

Maka apakah kita telah bertaubat dan beristighfar dari keburukan-keburukan tersebut?! maka bagaimana dengan seseorang yang jauh dari istighfar, bahkan tidak peduli dengan keburukan-keburukannya?!

Jika telah bertaubat dan beristighfar, maka apakah kita menjamin/memastikan istighfar tersebut diterimaNya?

Jika tidak bisa kita jamin, maka hendaknya kita terus senantiasa memperbanyak istighfar (karena khawatir istighfar kita belum ada yang diterimaNya, dan berharap dengan banyaknya istighfar tersebut ada satu dari sekian banyak istighfar tersebut diterimaNya, sehingga diampunkanNyalah dosa-dosa kita) yang mana hendaknya istighfar tersebut adalah istighfar yang jujur. maka kita berlindung kepadaNya agar jangan sampai wafat dalam keadaan beramal keburukan, atau dalam keadaan taubat kita tidak diterima (karena kita tidak memenuhi syarat-syarat taubat)…

[+] Adapun kebaikan-kebaikan kita, maka TIDAK BISA KITA JAMIN, TELAH BERNILAI PAHALA.

Apakah kita menjamin amal baik yang sudah kita kerjakan benar-benar murni ikhlaash, bebas dari riyaa’, sehingga tercatatkan padanya pahala? dan apakah kita hendak ujub dengan amalan kita, yang tidak ada satupun darinya, yang kita pastikan tercatatkan padanya pahala?

Maka hendaknya kita memohon ampun padaNya, jika telah berlaku riya’ ataupun ujub (baik sadar, ataupun tidak sadar)… Dan hendaknya kita tetap senantiasa terus beramal baik, karena kita khawatir belum ada satupun amalan kita yang telah tercatat disisiNya dan kita berharap amalan kita diterimaNya, baik yang dahulu maupun sekarang… juga berharap agar kita diwafatkanNya dalam keadaan beramal baik…

Maka kita memohon perlindungan kepadaNya dari diwafatkan diatas kejelekan, dan kita memohon kepadaNya agar istighfar serta amal baik kita diterimaNya, dan agar kita dimatikan dalam keadaan baik (taubat kita diterima, dan/atau sedang mengerjakan amalan baik)… aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Hadits, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s