Kembangkanlah ilmu, dan jangan merasa cukup dengan kondisi yang sekarang

Bagusnya ketika kita menyikapi “perbedaan pendapat dalam masalah penghukuman derajat hadits” maka kita menyikapinya seperti kita menyikapi “perbedaan pendapat dalam penghukuman dalam masalah fiqh”… Yang mana kita kritis dengannya… Yang kita tidak hanya sebatas melihat ‘kesimpulan akhir’-nya saja, dan mencukupkan dengannya… Tapi juga melihat BAGAIMANA ulasan (hujjah-hujjah) para ulama hingga mencapai kesimpulan tersebut…

Ilmu yang kita miliki, lebih baik berkembang (atau dengan kata lain: kita berusaha kembangkan)… Dalam hal ini, kita berusaha mengembangkan pengetahuan kita dalam ilmu hadits…

Dan diantara salah satu upayanya adalah membaca uraian ilmiyyah para ulama ketika mereka mengulas sanad-sanad dan jalan-jalan hadits… mencari tahu dimana letak perselisihan mereka… bagaimana ulasan mereka… bagaimana bantahan mereka… sampai pada kesimpulan akhir masing-masing…

(tentunya ini semua dilakukan dengan niat yang benar, yaitu mencari kebenaran -bukan pembenaran; dan siap ruju’ kepada kebenaran, jika kita mendapati kebenaran… terlepas apakah kebenaran tersebut berpihak pada pendapat yang sekarang kita taqlidi, atau justru pada pendapat yang bersebrangan dengan yang sekarang kita taqlidi [dengna turut menyadari bahwa masing-masing orang punya sudut pandang masing-masing, yang tidak bisa dipaksakan satu sama lain])…

Dengan melalui upaya tersebut, kita bisa lebih kokoh lagi hujjahnya… kita tidak sekedar tahu “kesimpulan akhir” saja, tapi juga tahu “ulasan dari awal sampai akhir” MENGAPA kesimpulan akhirnya demikian…

Hal ini pernah dinasehatkan oleh ustadz abdullaah taslim, dimana beliau berkata (secara makna) :

“Tentunya berbeda seorang yang mengamalkan sebuah hadits, yang ia mengetahui jalan-jalan periwayatannya, serta uraian dan penjelasan tentang sanad hadits tersebut; dengan orang yang hanya tahu ‘kesimpulan akhir’-nya saja… dia akan lebih kokoh dalam pengamalannya”

(selesai penukilan secara makna)

Demikian pula, seseorang akan lebih kokoh dalam peninggalannya dalam suatu amalan (yang setelah ia lihat penjelasan lebih lengkapnya, ternyata yang benar hadits tersebut dha’if), karena ia meninggalkan hal tersebut BERDASARKAN ilmu, bukti dan penjelasan yang memuaskan… tentang kesimpulan hadits yang ia ikuti pendapatnya tersebut…

Bukankah hal yang serupa kita rasakan, ketika kita mengamalkan suatu permasalahan fiqih ayng telah kita lalui dengan ulasan yang panjang dari para ulama sampai pada kesimpulan akhir pendapat fiqh tersebut? (maka itulah yang akan kita rasakan setelah menelusuri ulasan para ulama, sampai mencapai kesimpulan akhir, dalam penghukuman derajat hadits)

Awal dari semua itu, adalah memahami bahasa arab!

Pertanyaan yang penting… bagaimana kita hendak membaca ulasan para ulama, jika kita TIDAK MEMILIKI BEKAL BAHASA ARAB? (balik lagi kesini) apakah kita akan terus-terusan BERPANGKU TANGAN kepada orang yang memiliki kemampuan? (menunggu terjemahanya?) sampai kapan? alangkah terbatas dan tertahannya lautan ilmu itu, jika kita demikian!!!

Maka kembangkanlah pengetahuan bahasa arab kita, sehingga kita yang tadinya tidak bisa sama sekali, menjadi bisa… yang tadinya sedikit mahir, menjadi mahir… yang tadinya setengah mahir, menjadi sempurna kemahirannya…

MERASA CUKUP (terhadap keilmuan yang kita miliki) hanyalah menjauhkan kita dari hidayah, dan malah hanya akan menyulitkan kita

Allaah berfirman:

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ . فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّىٰ

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya.

(‘Abasa : 5-6)

Allaah mencela orang-orang kaafir, yang mereka merasa cukup dengan keilmuan yang mereka miliki saat ini; sehingga tidak pantas mereka ini dikejar-kejar, sedangkan mereka sendiri tidak memiliki keinginan, kemauan untuk meraih hidayah.

Dia juga berfirman:

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ . وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan MERASA DIRINYA CUKUP, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (JALAN) yang SUKAR.

(al Layl: 8-10)

Maka hidayah itu BUKAN untuk mereka yang MERASA CUKUP, bahkan bagi mereka JALAN YANG SUKAR.

Sebaliknya mereka yang senantiasa menuntut ilmu (mengembangkan ilmu), maka bagi mereka hidayah dan TAMBAHAN HIDAYAH, serta JALAN yang MUDAH…

Rasuulullåh shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda (tentang penyebab orang-orang menolak hadits beliau; yaitu ingkarus sunnah) :

لَا يُوشِكُ رَجُلٌ يَنْثَنِي شَبْعَانًا عَلَى أَرِيكَتِهِ

“Kiranya tak akan lama lagi ada seorang laki-laki yang duduk dalam keadaan kenyang di tempat duduknya…”

(HR. Ahmad (dan ini lafazhnya); Abu Dawud, Ibnu Abdil Barr, al-Khatib al-Baghdadiy, Ibnu Nashr al-Mawarziy, al-Ajurriy, al-Baihaqiy; dari jalur Hariz bin ‘Utsman; juga jalur ‘Abdullah bin Abi Auf; dan dari jalur al-Miqdam; Dishahihkan syaikh salim bin ‘ied al-Hilaliy)

Al-Imam Al-Baghawi menyatakan dalam syarhus sunnah beliau :

“Yang dimaksud dengan sifat ini (laki-laki besar perutnya yang bersandar di kursi sofa) adalah orang-orang yang bergaya hidup mewah dan angkuh yang hanya berdiam di rumah dan TIDAK MAU MENUNTUT ILMU AGAMA…”

Maka demikian pula, diantara sebab TIDAK BERKEMBANGNYA ILMU seseorang, karena ia MERASA CUKUP dengan apa yang dimilikinya saat ini, TIDAK MAU mengembangkan keilmuan dalam diri, dan BERMALAS-MALASAN (tidak mau bersusah payah) untuk meningkatkan kualitas ilmunya… sehingga ia tetap terus berada didalam kebodohan, yang dikhawatirkan kebodohan tersebut dapat membawanya kepada kebinasaan, na’uudzubillaah…

Suplemen tambahan, silahkan baca:

Keutamaan menuntut ilmu dengan mendatangi majelis ilmu
Jangan merasa puas menjadi muqallid

Tinggalkan komentar

Filed under Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s