Ketika seseorang berprasangka: Adanya “kesempatan” bermaksiat kepadaNya

Permasalahannya bukan hanya sekedar adanya “kesempatan” untuk bermaksiat…. Bukan itu…

1. Yang harus kita PIKIRKAN adalah: Bagaimana mungkin kita berkata atau menganggap adanya “kesempatan”?

Mengapa kita mengatakan ada-nya “kesempatan”[1. Sungguh justru inilah AWAL BENCANA dari seseorang. Ia mengira hal tersebut bukan bencana, padahal justru sebenarnya inilah hakikat bencana! Disnilah berawal segala kerusakan!]!? Apakah kita mengaatakannya, hanya karena tidak ada makhluq yang mengawasi kita? melihat perbuatan kita? mendengar ucapan kita? Apakah hanya karena ketiadaan makhluq, menjadikan kita berkata atau menganggap “ada kesempatan”?

Lantas dimanakah (kedudukan) Allaah (dalam diri kita) ? Bukankah Allaah Maha Melihat, Maha Mendengar, lagi Maha Mengawasi?

Bahkan bukankah Allaah Maha Mengetahui isi hati? Ketika kita sudah/sedang berniat pun (sedangkan kita sadar sedang berniat jelek), harusnya kita malu kepada Allaah, harusnya kita segera istighfar kepadaNya, dan tidak menjadikan niat tersebut menjadi tekad yang kuat; sehingga jika telah menjadi tekad yang kuat, maka akan terlaksanalah kemaksiatan tersebut!

– Bahkan hendaknya kita mengurungkan niat tersebut sebelum ia menjadi tekad…

– atau berusaha memperlemah tekad misalkan telah terbentuk menjadi tekad…

– atau berusaha menahan perbuatan tsb, karenaNya, sesaat sebelum perbuatan tsb terlaksana…

2. Yang harus kita PIKIRKAN selanjutnya adalah:

“Bagaimanakah kiranya jika nyawaku dicabut, sedangkan aku SEDANG MELAKUKAN maksiat kepadaNya?

Bagaimanakah kiranya nyawaku dicabut, sedangkan dihatiku terdapat keinginan (atau bahkan tekad yang kuat) untuk bermaksiat kepadaNya?!”

Maka adakah kita masih akan tetap melanjutkan niat dan tekad kita?

3. Kemudian hal lain yang harus kita PIKIRKAN adalah:

Sekalipun kita tidak diwafatkan KETIKA SEDANG bermaksiat kepadaNya.

– Apakah kita menjamin, kita akan diberi hidayah untuk dapat bertaubat DENGAN BENAR kepadaNya, setelah memaksiatiNya?!

– Bagaimana jika kita malah semakin jauh tersesat?! Karena sudah tahu dan sadar, akan point2 diatas; tapi masih tetap melanggarnya?

4. Kemudian yang harus DIPIKIRKAN lagi adalah:

Sekiranya kita setelahnya beristighfar… Maka apakah kita menjamin istighfar kita tersebut adalah istighfar YANG JUJUR? Sehingga dengan kejujuran istighfar kita tersebut, maka Dia mengampuni kesalahan kita?

Sungguh yang dinamakan istighfar adalah yang datang dari jiwa yang benar-benar merasa bersalah, menyesal, dan sangat ingin agar diampuni… Seraya berjanji untuk berusaha agar tidak jatuh lagi kedalam lubang yang sama… Maka adakah kita jamin bahwa kita dapat menghadirkan hal tersebut dalam hati kita?

Maka dari itu, para ulama berkata:

“MENAHAN DIRI dari maksiat itu LEBIH MUDAH dibandingkan MENANGGUNG AKIBAT yang ada setelah terjadinya maksiat tersebut”

Maka apa yang disebutkan diatas adalah hal-hal yang hendaknya kita PIKIRKAN

– ketika terlintas didalam hati keinginan untuk bermaksiat kepadaNya,

– atau ketika terbentuk niat untuk bermaksiat kepadaNya

– atau ketika terbentuk tekad (niat yang teguh), untuk bermaksiat kepadaNya

– atau sesaat sebelum bermaksiat kepadaNya…

Namun demikianlah manusia, terkadang, hawa nafsunya lebih dikedepankan dari akal pikirannya… Lantas bagaimana jika ini menjadi KEBIASAAN? Bukankah hal tersebut adalah HAKEKAT KEBODOHAN ?! (Terlepas dari berapa banyak ilmu yang ia telah miliki)?!

Memohon kepadaNya ilmu yang bermanfa’at, dan hati yang senantiasa mengingatNya

Maka semoga Allaah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat…

Demikian juga kita memohonkan kepadaNya agar ilmu yang akan/sudah kita miliki, teresap kedalam hati… sehingga dengannya, ilmu (yg ada didalam hati) tersebut yang akan mengingatkan kita jika akan/sedang/telah berbuat buruk… ilmu tersebut yang akan memotivasi kita untuk berbuat baik…

Demikian juga kita memohonkan kepadaNya, agar kita dianugerahkan hati yang senantiasa mengingatNya, senantiasa waspada dari tipu daya syaithan.. Hati yang hidup, “yang berpikir sebelum bertindak” sehingga menahan kita dari keburukan, dan memotivasi kita berbuat kebaikan… Yang senantiasa menghadirkan ilmu yang telah teresap disana…

Kita berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfa’at, karena ini hanyalah menjadi bencana bagi pemiliknya…

Demikian juga kita berlindung kepadaNya, hati yang tidak dapat menyerap ilmu… Sehingga tidak ada satupun ilmu yang meresap kedalamnya…

Demikian juga kita berlindung kepadaNya dari hati yang lalai, meskipun didalamnya terdapat ilmu… Yang dengan kelalaian tersebut, lupalah kita akan kebesaranNya, akan keagunganNya, akan keperkasaanNya… Sehingga kita berani beraninya mendurhakainya… Apalagi dengan kesadaran (setelah ingat, akan semua itu)[1. Bahkan hal ini BERTENTANGAN dengan SIFAT ORANG BERTAQWA, sbeagaimana Allaah mensifatkan mereka:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang APABILA MENGERJAKAN perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri; KEMUDIAN mereka INGAT akan Allah… maka merekapun MEMOHON AMPUN terhadap dosa-dosa mereka… dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka TIDAK MENERUSKAN perbuatan kejinya itu, sedang mereka telah MENGETAHUI/SADAR…

(Aali Imraan: 135)

Terdapat isyarat dalam ayat diatas, bahwa orang BERTAQWA pun, PASTI akan TERGELINCIR dalam keburukan (akan tetapi hal ini BUKAN sebagai PEMBENARAN untuk menyengajakan diri untuk menjatuhkan diri kedalam keburukan!!! bukan demikian!!!)…

Namun yang menjadi pelajaran dari ayat diatas adalah:

“hal yang membedakan antara orang bertaqwa dengan selain mereka adalah mereka (orang bertaqwa) SEGERA BERHENTI dan BERISTIGHFAR ketika MEREKA INGAT.. Adapun selain mereka, maka tetap saja terus melanjutkannya bahkan setelah mereka ingat!”

Maka lihatlah diri kita:

– apakah menghentikan niat atau perbuatan tersebut? (yang mana ini merupakan ciri ketaqwaan yang ada dalam diri kita)

– ataukah justru melanjutkan perbuatan tersebut (serta pura-pura lupa atau tidak ingat, padahal sudah ingat) [yang mana ini adalah sifat orang yang JAUH dari KETAQWAAN]

Disitulah kita dapat melihat KADAR KETAQWAAN yang ada dalam HATI kita…] … Na’uudzubillaah

Aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Syubhat & Bantahan, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s