Tanpa perlindungan dan pertolonganNya, kita PASTI KALAH atau DIKALAHKAN MUSUH!

Allaah menciptakan manusia dalam keadan lemah, demikian pula tipu daya syaithan, disebutkan Allaah adalah tipu dayanya adalah tipu daya yang lemah…

Akan tetapi Ingat!!! syaithan dan bala tentaranya selalu mewaspadai kita siang dan malam, ditempat yang tidak terlihat oleh kita… Untuk menggelincirkan kita…

Jika manusia lalai, maka disitulah syaithan menggelincirkan mereka… Jika sekali tergelincir, akan dibuai dan terus dibuai dalam ketergelinciran, agar tidak kembali kepadaNya; tetap dalam keburukan, dan jauh dari kebaikan…

Akan tetapi kita memiliki Allaah, Yang Maha Mengawasi, yang pengawasannya diatas pengawasan syaithan. Yang MakarNya Maha Mengalahkan segala makar buruk. Yang Dia Maha Kuat tanpa ada tandinganNya. Maka tidak ada cara bagi kita, untuk melawan makar musuh, kecuali dengan meminta pertolongan dan perlindungan kepadaNya[1. Allaah berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fushshilat: 36)]

Ketahuilah! Dialah sebaik-baik Dzat yang ditawakkali[2. Bahkan tawakkal kitalah senjata utama kita melawan tipu daya syaithan, sebagaimana firmanNya:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya Syaithaan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (an Nahl: 99)]…Dialah pula sebaik-baik Dzat yang dimohonkan perlindungan dan pertolongan… Yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa…

Maka jika kita senantiasa ingat kepadaNya, sehingga kita senantiasa MEMOHON pertolongan dan perlindunganNya… Maka Dialah sebaik-baik penjaga kita, Dialah pula sebaik-baik pengatur urusan kita…

Oleh karenanya, seorang yang terjerumus dalam kubangan kemaksiatan itu, tidak lepas dari kelompok berikut:

– Seorang yang LUPA kepada Allaah… Sehingga Allaah pun melupakanNya, dan menyerahkan urusannya kepada dirinya sendiri… Maka jadilah ia tawanan syaithan dan hawa nafsunya…

– (cabang dari point pertama) seorang yang UJUB, dengan dirinya… Ia menyangka dirinya sendiri mampu melawan syaithan… Maka Allaah pun menyerahkan urusannya kepadanya, dan jadilah ia tawanan syaithan dan hawa nafsunya

– (juga cabang dari yang pertama, dan ini lebih parah) seorang yang TAKABBUR, bahkan ANGKUH… Tidak ada rasa butuh sedikitpun kepada Allaah, dalam urusannya… Merasa dirinyalah yang paling mampu mengurusi segala urusan… Maka jadilah ia budak-budak syaithan dan hawa nafsu…

Hanya Allaah-lah pemberi pertolongan dan perlindungan; tanpaNya, maka kita akan kalah atau dikalahkan musuh kita… Baik yang nampak maupun tersembunyi, baik manusia ataupun kalangan jin…

Saking pentingnya untuk menggantungkan diri kita kepadaNya, sampai-sampai syari’at mengajarkan kita untuk -paling tidak- 17 kali memintakan pertolongan kepadaNya. Yaitu didalam shalat kita, kita membaca:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

(al Faatihah: 5)

Kita sebagai hambaNya, diwajibkan untuk menyembahNya (dengan tanpa menyekutukanNya); ketahuilah dalam penyembahan ini… kita butuh PERTOLONGAN-Nya, sehingga kita diberikan pertolongan, kemampuan, serta kemundahan agar kita dapat mewujudkan peribadatan kepadaNya. Tanpa pertolongan, dan kemudahan dariNya maka kita tidak akan mampu menyembahNya (dengan benar).

Maka hendaknya kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allaah dari godaan syaithan dan hawa nafsu…

Bahkan sesungguhnya nabi shalallaahu ‘alayhi wa sallam pun senantiasa memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allaah… Dan sesungguhnya beliau adalah orang yang paling bertawakkal kepada Allaah, sebagaimana dzikir yang selalu beliau baca disetiap pagi dan petang (yang hendaknya jangan sampai kita tinggalkan)

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ.

Allaahumma bika ash-bahna, wa bika amsaynaa, wa bika nahyaa, wa bika namuut, wa ilaykan nusyuur

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu shubuh, dan dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).”

(Hadits Shahiih; Diriwayatkan Imam al Bukhaariy dalam adabul mufrad, Imam Ahmad dalam musnadnya, diriwayatkan pula Imam Abu Dawud, Imam at Tirmidziy, Imam ibnu Maajah dalam sunan mereka; dan selain mereka)

Bahkan dzikir beliau, yang lebih menakjubkan kita lagi… [kedua]

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ

yaa hayyu yaa qayyuum,

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu)

بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ،

bi rahmatika astaghiits

Dengan rahmatMu aku MEMOHON PERTOLONGAN…

أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

ash-lihliy sya’niy kullah, wa laa takilniy ila nafsiy tharfata ‘ayn[2. Ada faidah yang sangat menarik dalam ucapan ini…

“Jangan (jadikan) aku “bertawakkal” pada diriku meskipun itu sekejap mata…”

Allaah tidak ridha jika makhluqNya bertawakkal kepada selainNya…

Maka ketika seseorang ujub, disitulah ia sedang tawakkal kepada dirinya sendiri… Maka Allaah pun membiarkannya untuk mengurusi urusannya sendiri… Akhirnya urusannya tercerai berai, penuh kemungkaran, lagi tidak diberkahi…

Berbeda dengan orang yang bertawakkal kepadaNya…

Maka Allaah-lah yang memberinya pertolongan sehingga ia berusaha…Allaah-lah yang memudahkan urusannya ketika ia berusaha… Dan Allaah-lah yang memberinya rizki dalam perkara tersebut, tanpa disngka-sangkanya… Dan ia pun diberkahi oleh Allaah dalam usaha dan hasil usahanya…

Maka apakah patut kita menjadikan selainNya (termasuk diri kita) untuk ditawakkali?! Barang sekejap matapun?! Sungguh tidak patut!!!

Hanya saja kita sering lalai, sering ujub, bahkan mungkin sering takabbur… Sehingga rusakah urusan kita…

Bahkan mungkin kita justru bertawakkal kepada orang lain (makhluq YANG LEMAH seperti kita), atau bahkan bertawakkal kepada BENDA MATI? Atau ORANG MATI?

Sungguh amat lemahlah dzat yang ditawakkali tersebut, yang amat sangat lemah, lebih lemah dari sarang laba-laba… Sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk bergantung pada hal-hal tersebut…

Hanya Dia saja yang pantas kita serahkan SELURUH tawakkal kita pada SELURUH urusan kita.. Di SETIAP WAKTU… Sebaik-baik Dzat Yang Di Tawakkali, Dzat Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri… Maha Kuat lagi Maha Mengalahkan… Yang tiada sesuatu apapun yang berhak untuk ditawakkali, melainkan hanya Dia semata… Tiada sekutu bagiNya…]

“perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku SEKALIPUN SEKEJAP MATA (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”

(Hadits hasan, diriwayatkan al haakim dan selainnya)

Sudah sepantasnya kita menjadikan beliau suri tauladan kita, yang hendaknya kita mengikuti beliau dalam hal ini; yang dengannya kita diberi perlindungan (dari musuh) dan pertolongan (untuk melawan musuh) sehingga kita mampu mengalahkan segala tipu daya mereka. Sebagaimana Allaah memuliakan Rasuulullaah dan para shahabatnya diatas orang-orang kaafir yang hina dina.

Semoga Allaah menjadikan kita hamba-hamba yang menyembahNya dengan benar, dan hamba-hamba yang kuat tawakkalnya kepadaNya, dengan senantiasa menjadikanNya satu-satunya sebagai tempat bergantung, memohon pertolongan dan memohonkan perlindungan. Aaamiin.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s