Hakikat Tasbih (makna lain ‘tasbih’)

Mungkin sebagian kita, jika disebutkan TASBIH (mensucikan Allaah), maka langsung membawanya kepada ucapan/dzikir “subhaanallaah”. Ini benar, tapi jika pemahaman/pandangan kita tersebut dalam rangka MENCUKUPKAN makna TASBIIH hanya pada “dzikir subhaanallaah”, maka ini kekeliruan.

Ketahuilah, ketika kita “mengerjakan apa-apa yang Allaah wajibkan (semampu kita), dan meninggalkan apa-apa yang dilarangNya” maka inilah HAKIKAT TASBIIH!

Dan memang benar…

– Bukankah ketika kita bertaubat kepadaNya, dalam rangka kita mensucikan diri kita dihadapanNya? dalam rangka agar Dia mensucikan amalan kita dari keburuka yang sudah kita kerjakan?

– Bukankah ketika kita melakukan perintahNya dan ketika kita meninggalkan laranganNya, maka kita ‘mensucikan’ amalan kita dari berbuat durhaka kepadaNya?

– Bukankah niat kita ketika melakukan perintahNya, dan meninggalkan laranganNya, adalah untuk MENSUCIKAN DIRI kita dihadapanNya dan dalam rangka MENGAGUNGKANNYA ?!

– Bukankah jika kita melakukan laranganNya atau meninggalkan perintahNya; merupakan wujud pembangkangan padaNya, yang ini berkebalikan dari hakikat tasbih?!

– Bukankah ketika Allaah memerintahkan kita untuk MENDIRIKAN SHALAT WAJIB, maka Dia memerintahkannya dengan menggunakan kalimat “tasbih”!?

Simaklah firmanNya:

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ …. وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

Maka BERTASBIHLAH kepada Allaah, di waktu petang [dan ini perintah shalat maghrib dan ‘isya], dan diwaktu shubuh [ini perintah shalat fajar/shubuh], …. (sampai pada firmanNya) … Dan diwaktu ‘ashiyy’ [ini perintah shalat ‘ashar], dan diwaktu zhuhur [ini perintah untuk melaksanakan shalat zhuhur]

(ar Ruum: 17-18, tafsiir ath thabariy)

– Bukankah secara fithrah, ketika kita melihat kemaksiatan, maka kita mengucap “SUBHAANALLAAH” (Maha Suci Allaah)!?[1. Bahkan ketika kita mendengar berita buruk (yang disebarkan kepada kaum mukminiin dan mukminat) maka diperintahkanNya untuk mengucap: SUBHAANAKA HAADZA BUHTAANUN ‘AZHIIM [Maha Suci Engkau (Ya Allaah), ini merupakan kebohongan yang besar]

Apakah kita lupa akan sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Agama itu an Nashiihah

قَالُوْا : لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟

(para shahabat bertanya) untuk siapa wahai Rasuulullaah?

لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ

Untuk Allaah, untuk kitabNya, untuk rasulNya, untuk para pemimpin muslimiin atau mu’miniin, dan rakyat-rakyatnya.

(HR Muslim)

Bukankah “Na sha ha” bersinonimkan “kha la sha” (mensucikan/memurnikan) ?!

Bukankah “an nashiihatu li LLaah” adalah dalam rangka kita mensucikanNya dari berbagai keburukan, dalam rangka mensucikanNya dari kekurangan, dalam rangka memurnikan peribadatan kepadaNya ?!

Bukankah “an nashiihatu li kitaabihi” adalah dalam rangka kita mensucikan kitabNya dari segala kekurangan dan keburukan? dalam rangka kita mensucikan kitabNya dari penyelewengan makna orang-orang sesat dan jahil?!

Bukankah “an nashiihatu li rasuulihi” adalah dalam rangka kita mensucikan RasulNya dari perkataan buruk dan tuduhan dusta orang-orang kaafir ? dalam rangka kita menegakkan agama yang beliau bawa? dalam rangka membela agama yang beliau bawa? dalam rangka membersihkan penyimpangan dalam agama, yang dibuat-buat oleh ahlul bida’ wal ahwa?!

Bukankah “an nashiihatu li a-immatil muslimiin wa ‘aammatihim” dalam rangka untuk ‘mensucikan’ perbuatan mereka, agar mereka berbuat ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran?[2. Sebagaimana firmanNya:

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”

قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (sebagai pelepas tanggung jawab kami) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”

(al A’raaf : 164)

Juga sebagaimana perkataan hambaNya yang shaalih (Nabi Syu’aib ‘alayhis salaam) :

مَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

(Huud : 88)]

Maka setelah tahu… maka semoga kita mengisi hari-hari kita dengan tasbiih kepadaNya… Tasbih yang bukan hanya sekedar ucapan (meskipun memperbanyak ucapan ini disunnahkan), akan tetapi juga dengan BUKTI NYATA dalam perbuatan bahwa kita bertasbih kepadaNya… Sebagai pembenaran kita, akan ucapan tasbiih tersebut… Yaitu menjalankan apa-apa yang diwajibkanNya (sampai batas akhir kemampuan kita), dan menjauhi segala yang dilarangNya…

Ketahuilah, bahwa SELURUH ALAM disekitar kita bertasbih kepadaNya, sebagaimana firmanNya:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (al Israa’ : 44)

Maka sudah sepatutnya kita MALU, ketika kita tidak bertasbih kepadaNya (yaitu ketika lalai dari ibadah, atau bahkan ketika kita meninggalkan kewajiban dan mengerjakan maksiat)…

Jika SUDAH TIDAK MALU (padahal sudah sadar), maka sungguh sikap seperti itu adalah awal dari segala keburukan, karena Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari kalam nubuwwah yang terdahulu adalah “apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah semaumu (diantara penafsirannya : apabila seseorang sudah tidak malu lagi, maka ia akan melakukan semaunya)”

(HR. Al Bukhaariy)

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أتاني جبريل فقال

‘Jibril mendatangiku dan berkata,

يا محمد عش ما شئت فإنك ميت ،

‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, (tapi ketahuilah) engkau akan mati [dan kelak engkau akan dimintai pertanggung jawaban setelah matimu tentang hidupmu, az]’

و اعمل ما شئت فإنك مجزي به

lakukanlah apapun keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya….

(HR. Al-Hakim & Al-Baihaqi; derajatnya: Hasan Lighayrihi, lihat Shahiih Jami’ush Shaghiir, no. 73, juga shahiih at targhiib wat tarhiib no. 824).

Maka tidak ada pilihan bagi kita, kecuali bertasbih kepadaNya; mengerjakan kewajibanNya, meninggalkan laranganNya, dan melakukan hal-hal yang bermanfa’at [yang ada manfa’at akhirat, dan kita meniatkannya untuk aakhirat].

Maka mari kita penuhi hidup kita dengan bertasbih kepadaNya…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Dzikir, Ibadah, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s