Jangan menganggap baik/buruk kecuali berlandaskan ilmu

Hendaknya kita mengetahui, agar jangan sampai kita menganggap baik/buruk sesuatu, kecuali BERLANDASKAN ILMU.

Kalau belum punya ilmu, tapi “menganggap baik/buruk”; maka darimanakah landasan ‘anggapan baik/buruk’ tersebut?! Pastilah hanya berlandaskan LOGIKA & PERASAAN; tanpa ilmu.

Berkata Imam asy Syaafi’iy:

إِنَّمَا الاستحسانُ تلذُّنٌ

“Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu (bukan berdasarkan ilmu)”

[Ar-Risalah, hal. 507]

Diwaktu yang lain beliau berkata:

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ

Setiap ilmu selain al-Qur`an adalah kesibukan,

إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَعِلْمَ الْفِقْهِ فِي الدِّيْنِ

Kecuali al-Hadits dan ilmu tentang pemahaman agama.

الْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا

Ilmu itu apa yang padanya mengandung ungkapan “haddatsanaa (telah menyampaikan kepada kami)” [yaitu berlandaskan hadits]

وَمَا سِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ الشَّيْطَانِ

Dan apa-apa selain itu, adalah WAS-WAS (bisikan-bisikan) SYAITHAAN.

(Diwan Imam Syafi’i, hal. 30, Darul Manar)

Bahkan inilah SEBAB UTAMA (AKAR) dari segala kesesatan!

– Adanya pemahaman yang menyimpang, sebabnya apa? karena tidak mendasari pemahaman dengan berlandaskan ilmu!

– Adanya keyakinan yang menyimpang, sebabnya apa? karena tidak mendasari keyakinan dengan ilmu! Bahkan sebenarnya sesuatu yang tidak berdasarkan ilmu TIDAK DISEBUT ‘keyakinan’, bahkan ia adalah keragu-raguan.

– Adanya perkataan yang menyimpang, sebabnya apa? karena tidak mendasari perkataan dengan ilmu!

– Adanya perbuatan yang menyimpang, sebabnya apa? karena tidak mendasari perbuatan dengan ilmu!

Semua ini berawal dari anggapan baik/buruk tanpa ilmu… Yang kemudian dengan anggapan baik/buruk tersebut, mereka mengada-adakan pemahaman/keyakinan/perkataan/perbuatan; sehingga mereka pun menyimpang! Maka jangan sampai kita MENGANGGAP BAIK/BURUK, kecuali dengan landasan syari’at (ilmu)[1. Jangan sampai pula ada yang berkata:

“derajatmu itu masih KELAS BAWAH, hanya menghukumi berdasarkan syari’at; adapun guru-guru kami, maka mereka itu berdasarkan thariqat dan hakekat”

Sungguh ini penghinaan terhadap syari’at yang amat nyata!!! Bukankah syari’at-lah yang seharusnya menjadi acuan dalam hidup?!

Dan atas dasar apakah guru kalian berpijak? apakah derajat thariqat dan hakikat membenarkan seseorang KELUAR DARI SYARI’AT?! (maka telah kufurlah seseorang jika berpemahaman demikian! yaitu berpemahaman bolehnya seseorang keluar dari syari’at)

Allaah berfirman:

لِّكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُّسْتَقِيمٍ

Bagi tiap-tiap umat telah KAMI TETAPKAN SYARI’AT TERTENTU yang mereka lakukan, maka JANGANLAH sekali-kali MEREKA MEMBANTAH kamu DALAM URUSAN (SYARI’AT) INI dan serulah (mereka) kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.

(al Hajj : 67)

Dia juga berfirman:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

Dia telah MENSYARI’ATKAN bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: TEGAKKANLAH AGAMA dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

Dan mereka (ahli kitab) tidak BERPECAH BELAH, kecuali SETELAH DATANG pada mereka ILMU (lantas mereka menyalahinya), (dan juga karena) kedengkian di antara mereka (lantas mereka tetap diatas kesesatannya, setelah mereka tahu hal tersebut sesat).

وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِن بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ

Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan JANGANLAH MENGIKUTI HAWA NAFSU MEREKA…

(Asy Syuuraa : 13-15)

Sesungguhnya syari’at Allaah-lah yang harus menjadi acuan hidup kita!

Dan hendaknya kita tunduk, menerima, pasrah terhadap syari’atNya dan patuh kepadaNya (dengan mengikuti dan menjalankan syari’at tersebut, meskipun menyalahi hawa nafsu kita!)]. Kalau kita tidak mengikuti ilmu, maka kita hanyalah mengikuti HAWA NAFSU[1. Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata:

“Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya.

(ketahuilah) Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun

(Al-Qashshash:50)”

(Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

Termasuk disini, barangsiapa yang berpemahaman, berkeyakinan, dan beramal TANPA DASAR ILMU, maka ia hanyalah mengikuti hawa nafsunya.] dan BISIKAN SYAITHAAN.

Adapun mencari-cari ‘dalil’ (padahal dalih), setelah beranggapan baik/buruk. Maka inilah keburukan diatas keburukan. Akhirnya ia pun melakukan pembenaran atas apa yang dipandangnya baik/buruk tersebut.

Oleh karena itu:

– kita diajarkan dalam syari’at untuk MENUNTUT ILMU sebelum berkeyakinan, berkata dan berbuat (ini untuk perkara apa saja, dan lebih utama lagi dalam perkara agama!)

– kita diajarkan untuk TIDAK MEMANDANG BAIK/BURUK, kecuali berlandaskan syari’at.

– Kita menimbang sesuatu dengan merujuk kepada syari’at.

Dan yang dinamakan syari’at adalah al Qur-aan, as Sunnah, menurut pemahaman, keyakinan, dan pengamalan Rasuulullaah dan para shahabatnya.

Syari’at inilah yang menjadi TOLAK UKUR benar/salah-nya suatu pemahaman/keyakinan/perbuatan.

Syari’at inilah yang menjadi TOLAK UKUR baik/buruk-nya suatu pemahaman/keyakinan/perbuatan.

Maka hendaknya kita MENUNTUT ILMU SYAR’I, SEBELUM memandang baik/buruk sesuatu. Kalaupun terbetik dalam hati kita anggapan baik/buruk, maka timbanglah berdasarkan syari’at; yang kemudian syari’atlah yang menjadi penentu, apakah anggapan kita tersebut benar atau salah.

Bukannya kita malah cari-cari pembenaran, ‘anggapanku ini dalil-nya mana ya?’ maka dicari-carilah dalil yang mencocoki pemahaman/keyakinan/amalannya

-. Akhirnya ia memahami agama, selain dari apa yang dipahami Rasuulullaah dan para shahabatnya, atau bahkan menyelisihi pemahaman mereka!

– Akhirnya ia meyakini sesuatu, berlainan dengan apa yang diyakini Rasuulullaah dan para shahabatnya, atau bahkan menyelisihi pemahaman mereka!

– Akhirnya ia mengamalkan sesuatu, yang tidak pernah dituntunkan dan diajarkan oleh Rasuulullaah dan para shahabatnya.

Ini semua akibat ia menjadikan ANGGAPAN BAIK sebagai landasan agamanya. Inilah kesalahan awalnya. Kemudian kesalahan kedua, ia mencari-cari pembenaran untuk membenarkan dan membela anggapan baik tersebut. Dan disinilah ia semakin parah terjerumus dalam kesesatan.

Itulah perbedaan antara pencari kebenaran dan pencari pembenaran.

Itulah perbedaan seseorang yang berpemahaman/berkeyakinan/beramal berdasarkan ilmu, dengan seseorang yang berpemahaman/berkeyakinan/beramal tanpa dasar ilmu (hanya berdasar anggapan baik, bersandar pada logika dan perasaannya).

Maka jadikanlah syari’at islaam sebagai agamamu, dan jangan jadikan anggapan baik (logika/perasaan) sebagai agamamu. Niscaya engkau akan beruntung.

Sebagaimana perkataan imam asy syaafi’iy:

مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (dengan tanpa dasar ilmu), sesungguhnya ia telah membuat syari’at[2. Bahkan jika kita lihat dalam al Qur-aan, Allaah menggolongkan ANGGAPAN BAIK/BURUK adalah termasuk jenis PENSYARI’ATAN.

Allaah berfirman:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِن بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah (menurunkan syari’at) tentang adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir MEMBUAT-BUAT KEDUSTAAN terhadap Allaah, dan kebanyakan mereka tidak berakal.

(al Maa-idah : 103)

Bahiirah, saa-ibah, washiilah dan haam; semua ini adalah ANGGAPAN BAIK/BURUK (baca khurafat) kaum jahiliyyah terdahulu. (simak tafsirannya tentang makna hal-hal tersebut. bisa disimak pula dicatatan kaki terjemahan depag.)

Allaah merespon anggapan/keyakinan ini, dengan mengatakan bahwa Dia TIDAK PERNAH MENSYARI’ATKAN anggapan/keyakinan tersebut.

Menunjukkan menganggap baik/buruk, haruslah berlandaskan syari’atnya.

Jika anggapan baik/buruk itu bukan berlandaskan syari’atNya. Kemudian kita katakan “ini adalah syari’atNya”. maka kita telah menyerupai orang-orang kaafir, yang MEMBUAT-BUAT KEDUSTAAN terhadap Allaah.

Oleh karenanya Allaah mengingatkan:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan siapakah yang lebih zhaalim daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zhaalim itu tidak mendapat keberuntungan.

(al an’aam: 21)

Bahkan orang-orang seperti ini Allaah cela dengan seburuk-buruk celaan, yaitu mereka TIDAK BERAKAL.

karena memang, mereka mendasari anggapan baik/buruk tersebut tanpa ilmu. yang menandakan hati mereka tidak ada ilmu didalamnya, sehingga mereka sampai beranggapan demikian tanpa dasar ilmu. Sehingga Allaah meniadakan ilmu atas mereka, sehingga menyebutnya kaum yang tidak berakal; karena hatinya tidak ada sama sekali ilmu, menyebabkan dirinya mengikuti apa-apa yang ada didalam hatinya.

Allaah berfirman:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai HATI yang dengan itu mereka dapat MEMAHAMI atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah HATI yang di dalam DADA.

(Al Hajj : 46)

Dia juga berfirman:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata DI DALAM DADA orang-orang yang DIBERI ILMU.

(al ‘Ankabuut : 49)

Maka jika dada-nya (hati-nya) kosong dari ilmu. Maka pantaslah ia disebut orang yang TIDAK BERAKAL.

Sebagaimana Dia melarang orang yang mengikuti sesuatu, TANPA DASAR ILMU :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan JANGANLAH kamu MENGIKUTI apa-apa yang kamu TIDAK MEMPUNYAI ILMU tentangnya Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan HATI, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

(al Israa’ : 36)

Maka anggapan baik/buruk kita, yang belum kita ketahui timbangan syari’atNya, maka JANGAN LANGSUNG KITA IKUTI… Akan tetapi CARILAH KEBENARAN (dengan menuntut ilmu syar’i), yang dengannya kita MENGETAHUI apakah anggapan baik/buruk kita tersebut dibenarkan atau disalahkan syari’at… kemudian barulah kita MENGHUKUMI (anggapan baik/buruk kita tersebut) berdasarkan syari’at…]”

[Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya]

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under Al-Bid'ah, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Ushul Ahlus-sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s