Menampilkan yang baik-baik di social media [sosmed] (fb/twitter/blog/bbm/wa/dll)

Sungguh sangat baik seseorang menampilkan/menyebarkan kebaikan-kebaikan di sosial media…

Sama sekali tidak ada celaan terhadap hal ini, bahkan ini merupakan hal yang amat ditekankan bagi setiap muslim; dengan cacatan tidak hanya tampil baik secara zhahir saja, tapi batinnya (niatnya) hendaknya diusahakan untuk baik [yaitu mengusahakan niat yang benar, yaitu hanya mengharap keridhaan Allaah; bukannya melakukan kebaikan dengan niat pamer, cari popularitas, dll]. Dengan tambahan pula, bahwa hendaknya ia tidak hanya tampil baik dan menyebarkan kebaikan di dunia maya saja, tapi juga di dunia nyata (kehidupan yang sebenarnya)…

Jika ada yang berkata:

“Kok ente sok baik dan sok suci banget sih di sosial media? yg ditampilin itu baiiik teruus, tanpa ada cela… kaya ente malaikat aje… Emang ente di dunia nyatanya sesuci, sebaik, dan sesempurna itu?! Jangan muna’ deh!!!”

Kita jawab:

“Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah…

Kenapa orang yang menampakkan kebaikan disikapi demikian ya? Adakah yang salah dari menampakkan yang baik-baik? Emang si pengucap ini sudah mengenal “luar dalam” orang yang diucap demikian?Kalau belum kenal, maka ya hushnuzhan aja lah kalau dia menulis kebaikan di sosmed, untuk menasehati dirinya sendiri SEBELUM ORANG LAIN…

Bukannya malah bagus… kalau keburukannya yang didunia nyata tidak ditampakkan dan disebarkan di dunia maya?!

[Bukannya hendak membenarkan MUKA DUA… Bukan… Tapi kita anggap saja apa yg ia tampakkan di sosmed ini adalah motivasi pribadi untuk dirinya, dan semoga bermanfaat untuk orang lain…

Beda lagi kalau NIATnya cuma cari popularitas, bergaya dengan sesuatu yang ia tidak miliki… Dan dia SAMA SEKALI hanya memikirkan orang lain, dan melupakan dirinya… Jelas ini TERCELA… Tapi ini MASALAH NIAT, hendaknya lebih kita jadikan kepada nasehat umum terhadap orang lain (tanpa mengkhususkan individu tertentu) dan lebih kita fokuskan terhadap DIRI SENDIRI, semoga kita tidak demikian]

Bukannya malah buruk… jika sudah buruk di dunia nyata, buruk juga didunia maya!!

Apalagi dunia maya itu menyangkut paut puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan orang lain!! Tidak sembarangan!!!

Bayangkan… Satu tulisan anda yang TIDAK BERFAIDAH… MERUGIKAN WAKTU berapa banyak manusia?! Ini dalam perkara “makruh”, lantas bagaimana lagi yang anda sebarkan adalah perkara haram?!

Kemudian… Hendaknya kita berprasangka baik terhadap orang-orang yang zhahirnya di dunia mayanya ini berkelakuan baik (dengan tidak meniadakan juga kewaspadaan, karena terbukti juga banyak penipuan)…

Lagi pula kebaikan-kebaikan yang ia tampakkan (apalagi nasehat umum) tidak melazimkan seakan-akan dia berkata: “ini nasehatku, dan nasehatku adalah aku” !! Bahkan anggap saja hal itu sebagai “motivasi pribadi untuk dirinya dan untuk orang lain, semoga sama-sama diambil manfaatnya”…

Tentu “tidak ada manusia lepas dari salah”

Tapi tetap, kalimat diatas harus kita sikapi dengan dua:

1. Meskipun sosmednya sangat baik, tentu kita tidak mensucikan orang itu; karena pasti ada salahnya (bukan berarti pula membenarkan kita untuk cari-cari kesalahannya, bukan)… maka hendaknya kita maklumi kekurangan dan kesalahannya sekiranya yang didunia nyatanya itu tidak sesuci, tidak sebaik apa yang ada di dunia nyata… Sekali lagi bukan hendak membenarkan muka dua… Tapi daripada su’uzhan kepadanya [apalagi memvonis munafiq, sedangkan kita tidak tahu hatinya], ya mending carikan saja udzur untuknya; sembari menasehatinya untuk meluruskan kekurangan dan kesalahannya (yang bertentangan dengan apa yang ia tampakkan di dunia maya). Ini untuk sikap kita terhadap orang lain

2. Adapun sikap kita terhadap DIRI KITA, maka jangan berdalih dengan ucapan diatas untuk TETAP diatas KEBURUKAN!! Makanya didalam hadits tidak cukup sampai disitu, ada kelanjutannya; “sebaik-baik orang yang salah, adalah yang bertaubat”!!! Maka bukan berarti “tetap didalam salah/kurangnya”!!!

Kesalahan atau kekurangan itu adalah AIB… Yang namanya AIB, ya DISEMBUNYIKAN… Bukannya malah bangga-banggaan ditampakkan seraya berkata: “saya ini begini” (dengan tetap mempertahankan kekurangan dan kesalahannya berdalih dengan ucapan diatas) bahkan berkata: “saya nggak muna kaya ente yang nampakkin yang baik doang” bahkan justru bisa jadi dia lebih baik dari anda! Dia menyembunyikan aibnya, sedangkan anda menampakkan aib anda bahkan berbangga dengan aib anda!

Takutlah anda, jangan sampai anda termasuk mujaahir! Siapa mujaahir? mujaahir adalah orang yang aibnya ditutupi Allaah, tapi malah menceritakan dan menampakkan aibnya kepada manusia (bukannya menutupinya), bahkan malah berbangga dengannya!!! Orang seperti ini diancam oleh Allaah dan RasulNya tidak akan diampuni dosanya[1. Berdasarkan sabda Rasuulullaah:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku AKAN DIAMPUNI, KECUALI mujaahiriin (orang-orang yang menampakkan aibnya). Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.

(HR. Bukhori No. 6069 dan Muslim 2990 dari Abu Hurairoh Radhiyallahu’ anhu )]! Na’uudzubillaah!

Lagian apa bagusnya sih, aib diumbar?! Agar biar selamat vonis “sok baik, sok suci”? (Dan ini bukan hendak mengorek niat orang, sekali lagi ini renungan diri) justru kalau niatnya demikian, maka ini tidak ada bedanya dengan orang yang berpenampilan baik dalam rangka mendapat pujian “baik” atau “suci”!!!

Maka hendaknya kita berusaha menampilkan kebaikan untuk kebaikan diri kita, dan semoga diambil manfaat orang lain… Dan hendkanya kita berusaha memperbaiki aib/kekurangan/kesalahan kita, bertaubat kepada Allaah, dan berusaha menyembunyikannya; bukannya malah menampakkan dan bahkan berbangga dengannya!

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Syubhat & Bantahan, Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s