Penyesalan yang sepatutnya dimiliki seorang MUSLIM

1. Penyesalan dari PENINGGALAN KEWAJIBAN atau PENGERJAAN LARANGAN.

Bagaimana menghadirkan penyesalan tersebut?

Yaitu dengan MENGETAHUI dan MENYADARI, bahwa ketika kita meninggalkan kewajiban dan mengerjakan larangan, maka kita telah BERBUAT DOSA kepada Allaah. Kita berbuat dosa kepada Tuhan yang telah menciptakan kita, yang telah menghidupkan kita, yang memberi rizki serta memelihara kita sejak masih segumpal darah hingga saat ini, yang akan mematikan kita, dan yang akan memintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan kita, dan akan membalasnya dengan seadil-adilnya.

Bukankah ketika kita melakukannya maka kita telah KUFUR terhadap NIKMAT yang telah Allaah berikan kepada kita? Bukankah ketika kita melakukannya, maka akan DICATATKAN DOSA atas hal tersebut? Yang kelak di hari kiamat akan dimintai pertanggung jawaban, dan dibalas?

Ini dari dua sisi umum!

Bagaimana lagi jika peninggalan kewajiban atau pengerjaan larangan tersebut adalah termauk DOSA BESAR?!

Bagaimana lagi jika peninggalan kewajiban atau pengerjaan larangan tersebut adalah termasuk KESYIRIKAN dan KEKUFURAN yang dapat mengeluarkan kita dari agamaNya?

Bagaimanakah kondisi kita, jika nyawa kita dicabut sedangkan dalam diri kita TIDAK ADA RASA PENYESALAN dari dosa itu? Dan bagaimanakah kondisi kita, jika nyawa kita dicabut sedangkan TIDAK ADA TAUBAT yang nampak dalam hati, lisan dan badan kita ? Dimana penyesalan itu? Dimana istighfar itu? Dimanakah taubat itu?

2. Penyesalan dari TERLUPUTnya dari perkara yang diwajibkan

Yang dimaksud disini adalah MASIH MENGERJAKAN KEWAJIBAN, tapi terluput KARENA UDZUR syar’i, sehingga melaksanakannya BUKAN PADA WAKTUNYA.

Seperti halnya shalat wajib. Seorang yang tertidur (dan benar-benar tertidur); dan baru terbangun diluar waktunya.

Jangan dulu berkata pada diri kita: “ah, aku punya udzur, dan aku akan tetap mendapatkan pahala sempurna”

Benar, engkau punya udzur; akan tetapi dimanakah PENYESALANmu ketika engkau tidak mengerjakannya pada waktunya?!

Adakah penyesalan yang nampak pada ucapanmu diatas?!

Bagaimana jika kita terluputkan dari janji yang sudah kita sepakati dengan orang yang kitaTAKUTI, orang yang kita SEGANI, orang yang kita sangat MENGHARAP sesuatu darinya, orang yang kita sangat CINTAI… Bagaimanakah perasaan kita? Bukankah ada penyesalan?!

Lantas dimana penyesalan itu terhadap SANG KHAALIQ (pencipta)? Sang pemberi rizki? Sang pemelihara segala sesuatu? Dzat Yang Maha Keras AdzabNya? Bukankah terhadap satu-satunya Dzat yang dapat kita gantungkan harapan, berikan cinta sepenuhnya dalam segala hal yang jauh lebih diatas maqamnya diatas makhluqNya!? Maka tentu seharusnya penyesalan terhadapNya LEBIH SANGAT BERLEBIH dibandingkan makhluqNya!

Ini juga engkau luput karena udzur syar’i. Bagaimana jika luput BUKAN karena udzur syar’i!? Maka tentu PENYESALANNYA HARUS JAUH LEBIH LEBIH LAGI!!! Maka Dimana penyesalan itu?!

3. Penyesalan TERGELINCIRNYA kedalam perkara yang dilarang

Yang dimaksudkan adalah tidak sengaja, atau lupa, atau lalai… Sehingga jatuh kedalam perkara yang dilarang.

Benar, bahwa Allaah memaafkan ketidaksengajaan, kelupaan dan kelalaian…

Tapi bagaimanakah ketika kita TELAH INGAT/SADAR?

Adakah kita SEGERA BERHENTI?

Kalaupun segera berhenti… Adakah PENYESALAN dalam hati karena telah lupa atau lalai?!

Dimanakah penyesalan itu? Padahal engkau TELAH MEMAKSIATI-Nya (meskipun tidak engkau sengajai atau karena lupa/lalai)

Apakah tetap saja akan berkata: “ah aku ini termasuk yang kena udzur, maka aku akan diampuni”… Maka cobalah engkau renungkan “Adakah penyesalan nampak dari kata-kata diatas?”

Bahkan bukankah FITHRAH manusia ketika ia terjatuh kedalam ketergelinciran, baik itu peninggalan kewajiban atau pengerjaan larangan (yang benar-benar tidak disengajai), ia akan serta merta berkata dengan lisannya: “astaghfirullaah” (aku memohon ampun kepada Allaah)?! Lihat! Padahal ia dalam kondisi UDZUR, tapi FITHRAH-nya membimbingnya untuk mengucap istighfar! Lantas dimanakah fithrah kita itu, jika istighfar tidak terasa dalam hati, tidak terucap dalam lisan dan tidak nampak dalam perbuatan; bahkan yang keluar dari lisan kita adalah ucapan diatas?!

4. Penyesalan karena MENINGGALKAN AMALAN NAAFILAH atau MENGERJAKAN AMALAN MAKRUUH

Ketika meninggalkan amalan naafilah, jangan dulu berkata; “kan nafilah aja, ditinggalkan nggak berdosa”

Tapi katakanlah : “tapi amalan naafilah adalah amalan yang mendatangkan KECINTAAAN ALLAAH, dan mendapatkan TAMBAHAN PAHALA dan keutamaan!”

Maka dimanakah ppenyesalan kita yang telah melewatkan kesempatan meraih cintaNya, kesempatan mendapatkan tambahan pahala dan keutamaan disisiNya?! Dan bagaimana lagi jika terdapat PAHALA YANG BESAR dibaliknya?! Adakah kita menginginkannya? Kalau kita menginginkannya (sebagaimana kita menginginkan tambahan dari gaji pokok kita, dan ketahuilah tambahan pahala dari pahala pokok, ini lebih baik dari dunia kita!!) maka tentulah kita akan MENYESAL karena TELAH MENINGGALKANnya!

Ketika mengerjakan perkara makruuh, jangan dulu berkata: “kan makruuh tidak berkonsekuensikan dosa”

Tapi katakanlah: “tapi makruh adalah hal yang DIBENCI ALLAAH”

Bagaimana kita hendak melakukan sesuatu yang dibenciNya? Bukankah kita mengakui mencintaiNya? Tentu konsekuensi dari kesempurnaan cinta yang benar adalah meninggalkan sesuatu yang dibenci Dzat yang kita cintai!

5. Penyesalan karena TERLUPUTnya dari amalan naafilah

Terluput yaitu tidak sempat mengamalkan karena terhalangi udzur syar’i; yang biasanya rajin mengamalkannya.

Meski kita telah membiasakan diri untuk mengamalkan suatu amalan naafilah, maka bentuk kesempurnaan kita dari penjagaan tersebut adalah adanya penyesalan bagi kita, jika kita terlewatkan dari mengerjakan amalan yang biasa kita kerjakan tersebut…

Benar, kita akan tetap dicatat pahalanya, karena kita berudzur. Tapi dimanakah penyesalan itu?

Kalau penyesalan itu tidak ada, tunggulah saatnya kita akan sengaja meninggalkannya, sehingga amalan tersebut pun tidak lagi kita amalkan kembali…

6. Penyesalan TERGELINCIRNYA pada perkara makruuh

Meski kita telah menjaga diri dari makruuh; maka hendaknya ketika kita tergelincir dan jatuh kepada makruuh, maka MENIMBULKAN PENYESALAN.

Sebagaimana diatas, jika penyesalan itu tidak ada; maka akan menjadikan kita mudah utk mengerjakannya kembali, lagi dan lagi. Hingga akhirnya yang seharusnya “makruh” tapi malah berubah menjadi “kebiasaan”. Bagaimanakah kita hendak membiasakan diri dengan perkara yang DIBENCI ALLAAH?

Maka hendaknya kita MENYESAL, jika kita tergelincir pada perkara makruuh. Agar semoga kita terjaga dari ketergelinciran berikutnya dan terjaga dari menjadikannya sebagai kebiasaan.

7. Meninggalkan/terluputkan perkara yang bermanfaat karena melakukan hal yang melalaikan

Tidak dapat tidak, dalam aktifitasnya (baik itu aktifitas hati atau lisan atau tubuh), maka pasti dihadapkan dengan dua kemungkinan: apakah aktifitas itu bermanfa’at ataukah perkara sia-sia!?

Jikalaupun kita mengerjakannya secara bersamaan, maka tidak dapat tidak, pasti hati kita SIBUK dengan SALAH SATUnya! Ingat, Allaah tidak menciptakan dua hati dalam dada kita! Maka kemanakah hati kita disibukkan?!

Ingatlah bahwa yang disebut “bermanfaat” adalah hal-hal yang bisa diniatkan untuk aakhirat (diniatkan untuk ibadah). Dan yang disebutkan sia-sia/melalaikan adalah hal yang tidak sama sekali tidak ada nilai aakhiratnya, yang tidak dapat diniatkan untuk ibadah.

Mandi, bisa dijadikan ibadah; dengan apa? Dengan niat. Kita mandi dalam rangka melaksanakan sunnah Rasuulullah, dalam rangka menjaga nikmat sehat, dalam rangka menjaga kebersihan, dll. Demikian pula pada hal-hal lain.

Ketika kita tidak dapat menghadirkan niat ibadah dalam perkara-perkara seperti ini, atau bahkan terluput dari perkara bermanfaat, karena berbuat sesuatu yang sia-sia.

Maka semestinya ada PENYESALAN. Karena kita telah mengambil jatah waktu hidup kita dengan sesuatu yang HANYA MEMBERATKAN HISAB kita kelak dihari kiamat.

Ingatlah kata para ulama: “yang haram sudah pasti dicatatkan (dosa), adapun yang halal/mubah sudah pasti dimintai pertanggung jawaban”

Bukan masalahnya “boleh”, tapi masalahnya di hari hisab! Disana hari yang berat! Apakah kita hendak memenuhi catatan amal kita dengan hal yang tidak ada faidah akhiratnya? Bagaimanakah kita hendak memperbanyak sesuatu yang hanya menyusahkan dan memperberat kita dihari hisab, disaat kalangan lain sudah memasuki surga?! Inilah yang harus kita ingat untuk menimbulkan rasa menyesal tersebut!

Khaatimah (penutup)

Demikianlah penyesalan-penyesalan yang patut kita miliki sebagai orang yang mengaku beriman kepada Allaah dan hari akhir, dan sebagai wujud penyempurnaan iman tersebut!

Jangan dulu pikirkan nomor-nomor bawah, sebelum membereskan nomor-nomor atas (perkara yang lebih penting)…

Ingatlah satu kali penyesalan itu lepas, maka kali kedepan akan, maka kita akan bersengaja melakukannya… Kemudian terus melakukan dan melakukan; hingga menjadi kebiasaan… Dengan suatu yang sia-sia atau bahkan yang diharamkan!… Ingatlah hari yang berat… Hari hisab…. Hari PENYESALAN… Maka menyesal-lah (dalam perkara-perkara diatas) sebelum datangnya hari penyesalan itu… Agar semoga kita dihari tersebut menjadi orang-orang berbahagia. Aaamiin

Renungan ini ditujukan kepada DIRI KITA… Yaitu kita berusaha sekuat tenaga menjadi yang paling baik, tidak mencari udzur untuk diri sendiri, bahkan membantah udzur yang dibuat-buat diri sendiri… Adapun untuk orang lain, beri udzurlah, bersikap mudahlah, dan nasehatilah dengan benar dan baik… Sampaikan saja kepada mereka ini sebagai nasehat umum dan renungan bersama… Agar semoga diri kita dan mereka sama-sama mengambil manfa’atnya…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s