Menganggap remeh sesuatu, karena sering melihat yang lebih tinggi darinya

Contoh 1

Kita punya mobil seharga 200jt, kemudian kita melihat mobil seharga 400jt (yang setipe dengan mobil kita, tapi lebih baik spek-nya), maka kita akan menganggap remeh mobil yang sudah kita punyai dengan mobil yang belum kita punyai. Ini tidak patut kita lakukan.

Oleh karenanya Rasuulullaah memerintahkan kita untuk melihat hal-hal yang ‘dibawah’ kita untuk urusan duniawi, yaitu agar kita mensyukuri apa yang telah kita miliki. Bahkan dengan melihat hal-hal yang lebih tinggi, bisa saja kita tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang kita punya (sudah tidak bersykur, tidak qana’ah pula); bahkan kita senantiasa tamak dan berangan-angan dengan sesuatu yang belum kita punyai. Apapun yang kita punyai, tidak akan pernah memuaskan kita; karena pasti segala sesuatu itu memiliki yang lebih baik darinya.

Patut diberi catatan pula, jika kita melihat yang ‘dibawah’ kita; adalah untuk menumbuhkan rasa bersyukur kita kepada Allaah yang telah melebihkan kita atas yang lain; untuk menumbuhkan rasa qana’ah (merasa cukup dgn yg ada); serta untuk menahan ketamakan dan angan-angan kosong. Maka keliru, jika kita melihat yang ‘dibawah’ sehingga kitapun ujub (padahal segala hal yang ktia punya ini BUKAN DARI JERIH PAYAH KITA semata, tapi pemberian Allaah), yang dengan ujub itupun kita takabbur. Ini dua pandangan yang berbeda ketika melihat ‘kebawah’.

Contoh 2

(dengan menggunakan standar yang sama)

Adapun yang pertama:

Hendaknya kita MENGETAHUI dan MEYAKINI bahwa dunia ini tidak ada harganya disisi Allaah, sekiranya dunia itu berharga disisi Allaah; niscaya setitik air di samudra yang luas itu tidak akan diberikanNya kepada orang yang kafir kepadaNya.

Bahkan hendaknya kita MENGETAHUI dan MEYAKINI bahwa dunia ini disisi Allaah LEBIH HINA daripada BANGKAI KAMBING YANG CACAT (sudah bangkai, cacat pula). Maka sekaya apapun seseorang, semewah apapun kehidupannya, hal itu sekali-kali tidak dapat memuliakannya disisi Allaah. Bagaimana ia hendak berbangga dengan sesuatu yang telah dihinakan Allaah? (bahkan dalam masalah ibadah, yang merupakan hal yang agung disisiNya, menjadi TERHINA jika kita berbangga terhadapnya! maka bagaimanalagi jika berbangga dengan sesuatu yang dihinakanNya?! tentu ini kehinaan diatas kehinaan!)

Bahkan hendaknya kita MENGETAHUI dan MEYAKINI bahwa kesenangan aakhirat tidak ada bandingannya dengan kesenangan dunia yang sedikit lagi menipu. Kesenangan aakhirat adalah kesenangan yang kekal dan tiada batas; berbeda dengan kesenangan dunia yang sesa’at lagi penuh keterbatasan!

Rasuulullaah bersabda:

مَالدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ فِي الْيَمِّ، فَالْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti perumpamaan salah seorang di antara kalian yang memasukkan jarinya ke dalam lautan, maka perhatikanlah dengan apakah jari itu kembali.”

[HR Muslim: 2858]

Air yang tersisa sedikit di jari itulah kenikmatan di dunia seluruhnya, sementara air di lautan adalah perumpamaan kenikmatan di akhirat yang tidak terbatas dan tak akan pernah sirna.

Oleh karenanya, janganlah yang miskin, merasa rendah dengan kemiskinannya; dan janganlah yang kaya, tertipu dengan kekayaannya. Karena kebahagiaan yang hakiki adalah yang diberikan kesenangan yang kekal.

Bahkan jangan sampai si kaya itu, menghancurkan akhiratnya karena tertipu dengan kekayaannya. Sesungguhnya Rasuulullaah telah bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ

“Pada hari kiamat nanti akan didatangkan penduduk neraka yang ketika di dunia adalah orang yang PALING MERASAKAN KESENANGAN DUNIA. Kemudian dia dicelupkan di dalam neraka sekali celupan, lantas ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku!’.

وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Dan didatangkan pula seorang penduduk surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling merasakan kesusahan di sana kemudian dia dicelupkan ke dalam surga satu kali celupan. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kesusahan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku, aku belum pernah merasakan kesusahan barang sedikit pun. Dan aku juga tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’.”

(HR. Muslim)

Segala kesenangan yang pernah si kaya nikmati itu musnah, tidak berbekas; setelah dirinya tercelup dengan satu celupan di neraka. Dan segala kesusahan yang pernah si miskin derita itu musnah, tidak berbekas; setelah dirinya tercelup dengan satu celupan di surga. Maka jangan sampai sudah susah di dunia, lebih susah lagi di aakhirat!

Maka hendaknya kita senantiasa mengingat-ingat kehidupan aakhirat (yang lebih tinggi daripada kehidupan dunia), yang dengannya kita akan meremehkan kehidupan dunia yang singkat lagi fana ini, dan tidak tertipu dengannya.

Adapun yang kedua.

Apapun yang kita miliki didunia ini, sekaya apapun kita, semewah apapun kehidupan kita… ujung-ujungnya kita akan meninggalkannya, tidak akan kita bawa ke alam barzakh. yang hanya akan dinikmati ahli waris kita… Jadi sekaya apapun kita, tetap saja kita akan meninggalkan seluruh kekayaan itu… Semewah apapun kehidupan kita, tetap saja yang menemani kita dikuburan adalah tanah dan ulat.

Artikel ini bukan hendak mengajak untuk hidup stagnan, bukan itu. Bahkan jika kita meniatkan mencari rezeki untuk dapat beramal shalih dengan rizki tersebut, maka ini bahkan lebih baik.

Rasuulullaah bersabda:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.”

(HR. Ahmad, ibnu Maajah, dll; shahiih)

Bukankah kita akan berzakat melebihi zakat selain kita (bahkan banyak yang tidak/belum mampu berzakat) ? Bukankah kita akan dapat berhaji disaat kebanyakan tidak dapat berhaji? Bukankah kita akan dapat bersedekah lebih banyak daripada yang bersedekah?

Al Baihaqi dalam kitab Adabnya membawakan hadits diatas dalam baab: “Tidak mengapa seseorang itu kaya, asalkan ia bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan ia menyalurkan hak tadi serta menempatkannya pada tempat yang benar.”

Bahkan yang diingini dari status diatas adalah, janganlah dunia kita masukkan kedalam hati kita; sehingga menyebabkan kita menjadikannya tujuan utama hidup kita. Sehingga kita tidak merasa puas dengan apa yang telah kita miliki. Sehingga kita senantiasa tertipu dengan angan-angan (yang belum tentu kita raih). Sehingga kita tidak bersyukur atas apa yang ada. Dan ini berlaku bagi si kaya maupun si miskin. Inilah yang tercela.

Rasuulullaah bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat BERUNTUNG orang yang TELAH MASUK ISLAM, diberikan RIZKI yang CUKUP dan Allah menjadikannya MERASA PUAS dengan apa yang diberikan kepadanya.”

(HR Muslim)

Beliau juga pernah berdoa:

اللهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal, dari yang haram. dan cukupkan aku dengan karunia-Mu, (dan jauhkan aku) dari bergantung pada selainMu.

[HR at Tirmidzi: Hasan]

Tidak mengapa target-target kehidupan. Tapi jangan sampai kita menargetkan sesuatu tanpa tujuan berarti (niatnya hanya sebatas memperbanyak harta, tanpa diniatkan untuk menggunakan harta tersebut untuk beribadah). Sehingga karena sudah salah dari niat, maka hati pun rusak karenanya. Akhirnya menjadikan dunia sebagai tujuan, tidak bersykur dengan apa yang sudah ada, dan tidak pernah merasa puas dengan apa-apa yang diberikanNya.

Rasuulullaah bersabda:

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ جَمَعَ اللَّهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka Allah akan jadikan kesempurnaan untuknya, kekayaan ada dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.

وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

Dan barangsiapa niatnya hanyalah meraih kehidupan dunia, maka Allah akan menjauhkan dunia darinya, menjadikan kefakiran berada di depan matanya dan ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah dituliskan untuknya.”

Dalam lafazh lain:

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya.

ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)

[HR Ibnu Majah, Ahmad, ad-Daarimi, Ibnu Hibban dan lain-lain dengan sanad yang shahih.]

Bahkan kekayaan dalam hati itulah SEJATI-nya kekayaan, sebagaimana sabda beliau:

“لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ”.

“Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati”.

(HR. al Bukhaariy dan Muslim; dari Abu Hurairah)

Karena seorang yang KAYA, akan SENANTIASA MERASA MISKIN, jika hatinya tidak pernah puas dengan apa yang ada; bahkan senantiasa melihat-lihat yang tidak ia miliki.

Bahkan senantiasa seorang MISKIN, akan SENANTIASA KAYA. Jika ia merasa cukup dengan pemberian Allaah kepadanya, dan bersyukur atas apa yang diberikanNya kepadanya.

Maka jangan sampai seorang yang miskin itu, menjadi miskin sejati. Sudah miskin harta, miskin pula hati. Sudah susah dunianya, disusahkan lagi dengan hati yang tidak merasa cukup, dan hati yang tidak pernah bersyukur.

Dan untuk meraih kekayaan hati, hendaknya kita jadikan akhirat sebagai tujuan hidup kita, sehingga hidup kita tersibukkan dengan ibadah (bahkan aktifitas duniawi kita pun, kita niatkan untuk ibadah kepadaNya).

Rasuulullaah bersabda, bahwa Allaah berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى ، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً ، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan jadikan dadamu kaya, dan Aku tutupi kefakiranmu. Jika tidak engkau lakukan, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan, dan tidak akan Aku tutupi kefakiranmu.”

(Shahiih; HR at Tirmidziy, dll)

Maka kita memohon kepada Allaah agar Dia menjadikan hati-hati kita hati-hati yang condong kepada kehidupan aakhirat, hati-hati yang meniatkan segala aktifitas dunia untuk aakhirat, hati-hati yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allaah kepadanya, hati-hati yang bersyukur dengan apa yang diberikanNya kepadanya. Sehingga menjadikan pemiliknya seorang yang taat, qanaa’ah lagi banyak bersyukur. Aamiin.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s