Diantara manfaat al-Qur’an

Ada banyak sekali manfa’at al Qur-aan. Diantara manfa’at tersebut adalah:

1. Penyembuh (penyakit didalam hati hati)
2. Petunjuk,
3. dan Rahmat

Allaah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu PELAJARAN dari TUHAN-MU[1. Sungguh kita lihat kebanyakan manusia berebutan untuk membeli buku-buku karangan seorang yang jenius, seorang pengusaha sukses, seorang pekerja sukses, dan lain-lain guna mendapatkan pelajaran dari mereka agar mereka sesukses orang-orang tersebut. Akan tetapi bagaimanakah mereka dalam menyikapi PELAJARAN yang DATANG DARI TUHAN mereka?! Bukankah bukuNya ini yang harus lebih mereka sempatkan waktu untuk membaca sebelum membaca buku-buku selain dari bukuNya?! Bukankah bukuNya ini yang dapat membimbing kita kepada kesuksesan sejati?!

Allaah berfirman:

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah SUKSES!

(aali ‘Imraan : 185)

Bukankah untuk meraih kesuksesan diatas kita membutuhkan pelajaran-pelajaran? Bukankah pelajaran yang datang dariNya yang dapat menjadikan kita meraih kesuksesan tersebut?

Lantas apa yang menjadikan kita berpaling dari pelajaranNya?

Dan jangan berkata: “kan saya sudah mengkhatamkan?”, karena ingat, manusia itu tempatnya LUPA. Maka patutlah kita untuk TERUS MENGINGAT-INGAT atau DIINGATKAN tentang pelajaranNya!!! Agar semaoga kita tetap diatas rel yang benar, rel yang dapat mengantar kita kepada kesuksesan yang hakiki!] dan PENYEMBUH penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan PETUNJUK serta RAHMAT bagi orang-orang yang BERIMAN.

(Yuunus: 57)

Tapi manfa’at ini hanya didapatkan oleh :

1. orang-orang yang membaca/mendengarnya DENGAN LANDASAN IMAN (yaitu niat yang jujur/lurus/ikhlash), (simak ayat diatas)

DAN

2. Ketika ia membaca/mendengarkannya dengan PENUH PERHATIAN.

Allaah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Qur-aan, maka DENGARKANLAH IA (BAIK-BAIK), dan PERHATIKANLAH DENGAN TENANG… supaya kamu mendapat rahmat.

(Al-A’raaf: 204)

Maka ketika kita membaca/mendengarkan al Qur-aan, modalilah diri kita sebelum membaca/mendengarkan al Qur-aan dengan keimanan (yaitu ikhlash, niat yang jujur dan lurus) dan hendaknya kita benar-benar memperhatikan apa yang kita baca/dengar. Niscaya kita akan mendapatkan buahnya.

1. Penyembuh penyakit dalam hati

Siapa diantara kita yang merasa hati kita BERSIH dari penyakit!? Tidak ada bukan?

Maka jika kita meninggalkan dari membaca/mendengarkan al Qur-aan dalam SEHARI,

– apakah kita hendak MERASA AMAN datangnya penyakit didalam hati ?

– Apakah kita HENDAK MEMBIARKAN penyakit yang ada didalam hati kita, bahkan malah semakin memperparah penyakit (yang sudah ada) dalam hati kita?!

Jika demikian, apa yang menghalangi kita untuk membaca/mendengarkan kalamNya? yang merupakan penyembuh penyakit yang ada didalam hati kita?

Secara logika, lihatlah manusia yang menjaga kesehatan jasadnya.

Dia akan mengasup jasadnya dengan asupan yang bermanfa’at, dengan harapan agar ia terjaga dari penyakit. Apalagi jika dia orangnya yang khawatiran, maka ia semakin menambah asupan tersebut dengan berbagai vitamin bahkan berbagai obat-obatan yang dapat menghalanginya dari penyakit-penyakit…

Maka Bagaimana lagi jika dia sudah tahu bahwa dia rawan penyakit? pasti dia semakin giat menjaga jasadnya dari penyakit… apalagi jika dia tahu dia itu berpenyakit? bukankah dia lebih patut menyibukkan diri dengan asupan-asupan yang dapat mengangkat penyakitnya tersebut?!

Maka ingat… Sumber penyakit hati itu ada dua, eksternal dan internal.

Adapun eksternal, adalah apa-apa yang diperbuat lisan, mata, tangan, kemaluan, kaki dan lain-lain. Jika anggota badan kita ini kita gunakan untuk hal-hal yang baathil, maka akan merusak hati kita, menambah noda-noda dan penyakit didalamnya.

Adapun internal, adalah aktifitas hati itu sendiri. Jika kita berhasil menahan anggota badan kita dari kemaksiatan. Maka ketahuilah, masih ada yang patut kita perhatikan; yaitu aktifitas hati kita.

Contohnya, Niat kita. Ketika kita meninggalkan maksiat, dan ketika mengerjakan ketaatan; apakah motivasi kita? apakah karena Allaah? ataukah karena mendapatkan pujian atau takut manusia? Jika niat kita rusak, maka sungguh, kita telah tertipu… Kita merasa telah meninggalkan maksiat (dan mendapat pahala); kita merasa telah mengerjakan ketaatan… Tapi disisi Allaah itu sia-sia, karena niat kita bukan karenaNya, bukan karena mengharap balasanNya; tapi karena selainNya, karena mengharap selainNya!

Contoh lainnya, adalah dengki. Jika manusia meniatkan riyaa’/sum’ah dalam amalannya, maka pasti akan mewariskan dengki! Jika ia menginginkan pujian, maka ia akan mendengki orang yang mendapat pujian, dan semakin parah kedengkiannya jika pujian tersebut melebihi pujian yang ia peroleh. Jika ia menginginkan popularitas, maka ia akan mendengki orang yang populer, dan semakin parah kedengkiannya jika ia mendapati orang yang lebih populer darinya.

Contoh lainnya, adalah ujub, dan takabbur. Ini adalah penyakit hati yang lain. Ketika banyak berbuat baik, maka timbullah kebanggaan dalam hati, hingga akhirnya dia menyandarkan kebaikan tersebut pada dirinya, dengan melupakan Allaah. Inilah ujub. Setelah ujub, maka jatuhlah ia kedalam takabbur. Ia rendahkan orang-orang yang ia anggap “dibawahnya”. Ia tolak kebenaran dari orang-orang yang ia anggap remeh, karena tidak pantas ia menerima dari orang yang lebih ‘rendah’ darinya.

Maka sungguh, manusia hendaknya memperhatikan anggota badannya dan hatinya; yang dapat mewariskan penyakit hati… Dan sungguh telah kita ketahui manusia tempatnya salah dan dosa… Maka apakah kita merasa aman dari penyakit hati? Jika kita tidak merasa aman? Apa yang menghalangi kita dari menyibukkan diri dari membaca/mendengarkan kalamNya yang dapat menjaga kita dari penyakit-penyakit itu? bahkan dapat dapat mengangkat penyakit-penyakit yang sudah ada?!

2. HIDAYAH/PETUNJUK

Hidayah itu ada dua:

– Hidayah berupa keterangan (hidayatul irsyad wal bayan)
– dan hidayah berupa pertolongan (hidayatut taufiq wal ilham)

Yang dimaksudkan adalah yang pertama. Al Qur-aan sungguh didalamnya terdapat KESEMPURNAAN PETUNJUK. Bagaimana tidak, al Qur-aan merupakan kalamNya. Maka siapakah yang lebih baik daripada perkataanNya? Siapakah yang lebih menunjuki daripadaNya?

Akan tetapi tidak setiap orang, yang dianugerahi yang kedua. Yaitu hidayah untuk dapat menerima, tunduk dan patuh terhadap petunjuk yang sempurna tersebut! Disinilah yang membedakan orang-orang kafir dan orang-orang beriman; dan yang membedakan orang-orang fasiq dengan orang-orang yang taat.

Oleh karenaNya Allaah berfirman:

قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ ۖ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”.

(al an’aam : 149)

Allaah juga berfirman:

هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ

(Al Quran) ini adalah PENERANGAN YANG AMAT JELAS BAGI SELURUH MANUSIA, dan PETUNJUK serta PELAJARAN bagi orang-orang yang BERTAQWA.

(aali ‘Imraan : 138)

Al Qur-aan itu, tidak diragukan, merupakan hujjah yang amat kuat lagi jelas. Akan tetapi al Qur-aan hanya menjadi PETUNJUK dan PELAJARAN bagi orang-orang BERTAQWA.

Orang-orang kaafir TAHU bahwa mereka tidak dapat membantah petunjuk yang sempurna dariNya; akan tetapi karena kedengkian didalam hati mereka, akan tetapi karena taqlid buta (membeo) kepada nenek moyang, akan tetapi karena kesombongan mereka… maka mereka lebih memilih tetap diatas kekafiran mereka daripada menerima, tunduk dan patuh kepadaNya. Mereka tidak mengikuti petunjukNya dan tidak dapat mengambil pelajaran dari kitabNya.

Adapun orang-orang beriman, maka mereka berkata: “Kami mendengar, dan kami taat”; mereka mendengarkan (dengan penuh ketundukan, dengan penuh perhatian) dan mereka menaati apa-apa yang mereka dengarkan. Merekalah yang mengikuti petunjukNya, dan merekalah yang mengambil pelajaran dari kitabNya.

3. Rahmat

al Qur-aan merupakan sebab turunnya rahmat Allaah kepada seseorang, dan al Qur-aan pun merupakan jalan untuk mendapat rahmatNya.

Allaah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

(al A’raaf : 204)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Kitabullah (al Qur-aan) dan bertadarrus (belajar-mengajar) diantara mereka, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, RAHMAT, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.

(HR. Muslim)

Allaah juga berfirman:

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.

(al Jaatsiyah : 30)

Iman dan amalan shaalih, seluruhnya tentu dipelajari dari al Qur-aan. Maka al Qur-aan pun mengantarkan kita kepada rahmatNya.

Ini hanya TIGA dari SEKIAN BANYAK manfa’at al Qur-aan. Sekiranya hanya tiga keutamaan ini saja, niscaya itu sudah sangat mencukupi, akan tetapi al Qur-aan memiliki keutamaan yang sangat banyak. Yang jadi pertanyaan, bagaimanakah muamalah kita dengan al Qur-aan[2. baca: http://abuzuhriy.com/muamalah-seorang-muslim-terhadap-al-quran/]?! Apakah kita acuh-tak-acuh dengannya? ataukah kita menyempatkan waktu kita untuk membaca/mendengarnya?! Jika tidak menyempatkan, apakah kita tidak ingin meraih manfa’atnya?!

Sungguh pertanyaan diatas, bukan dijawab dengan lisan/tulisan kita… Tapi jawablah dengan pembuktian amal-amal kita.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under al-Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s