Kita tidak serupa dengan burung gagak, maka janganlah menyerupainya!

Burung gagak itu pemakan bangkai, makanya tongkrongannya itu di tempat bangkai-bangkai ‘terhidang’…

Kalau kita bukan pemakan bangkai (tukang ghibah), maka janganlah kita malah menghidangkan bangkai!

Kalau kita bukan pemakan bangkai, maka janganlah kita malah menyemarakkan tempat terhidangkannya bangkai! Apalagi malah bersegera gelar tikar disana, apalagi malah ikut menyantapnya!

Tapi hendaknya kita menjauhi majelis-majelis yang menghidangkan bangkai!!! (maka bagaimana lagi jika bangkai yang dihidangkan itu beracun?! karena ingat, daging ulama itu beracun!)…

Ada LIMA KIAT, agar kita TIDAK MENJADI pelopor atau penyorak atau pemasar hidangan bangkai:

1. Mengetahui dan menyadari bahwa mengghibahi saudara semuslim (apalagi ulama) adalah merupakan DOSA BESAR. Hal ini diumpamakan Allaah BAGAIKAN MEMAKAN DAGING BANGKAI saudara kita, yang kita ghibahi tersebut!

Allaah berfirman :

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kalian yang suka untuk memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

(al hujuraat : 12)

Dimanakah rasa JIJIK itu? Sudah hilang karena menyangka ‘MEMBELA AGAMA’ kah?… Betapa tipisnya keimanan seseorang, jika ia telah tahu, sadar dan paham; sedang melakukan suatu yang MENJIJIKKAN, tapi ia malah tetap melakukannya… Yang jadi masalah syubhat (kesalahpahaman) yang ada padanya, yang menyebabkan sesuatu yang seharusnya ia anggap jijik, malah menjadikannya berlezat-lezat dengannya!

Kalau melihat orang yang sedang makan bangkai, apakah kita akan turut ikut ‘gelar tikar’ ikut makan bersamanya? Atau bahkan kita justru yang menjadi pemasar hidangan bangkai? Atau bahkan kita justru yang menjadi pelopornya?

2. Mengetahui dan menyadari bahwa duduk bersama orang-orang yang memakan bangkai, maka itu adalah sebuah KEZHALIMAN; bahkan hal tersebut menjadikan kita SERUPA dengan MEREKA.

Allaah berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).

(al an’aam : 68)

Dalam surat an Nisaa’ disebutkan:

إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ

apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu tetap duduk-duduk beserta mereka), tentulah kamu SERUPA dengan MEREKA.

(an nisaa’ : 140)

Meskipun ayat diatas membicarakan tentang ayat-ayat Allaah yang diperolok-olok dan diingkari (dan ini kezhaliman yang besar). namun hal ini juga berlaku pada KEZHALIMAN pada umumnya. (simak nanti point ketiga)

Apakah kita mau SERUPA dengan para pemakan bangkai dengan ‘gelar tikar’ di majelisnya? atau bahkan menjadi penyorak atau bahkan menjadi marketing majelis tersebut?

3. Mengetahui dan menyadari bahwa membicarakan hal-hal yang baathil (termasuk disini ghibah) merupakan SIFAT PENDUDUK NERAKA SAQAR!

Allaah berfirman:

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ

dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya…

(al Mudatstsir: 45)

Dimanakah rasa takut menjadi penghuni neraka saqar, ketika memulai pembicaraan yang bathil? (ataukah karena pembicaraan yang bathil itu dianggap sesuatu yang haq?!)

4. Mengetahui dan menyadari bahwa berpaling dari hal yang sia-sia (termasuk berpaling dari majelis ghibah), adalah sifat ibaadurrahmaan

Dan karena Allaah berfirman tentang ‘ibaadurrahmaan :

وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang perkataan/perbuatan yang sia-sia, mereka lalui (saja) dengan MENJAGA KEHORMATAN dirinya…

(al Furqan: 72)

Dimanakah keinginan dan USAHA kita untuk menjadi termasuk ‘ibaadurrahmaan?

5. Mengetahui dan menyadari bahwa Rasuulullaah menjamin RUMAH di pelataran SURGA bagi yang meninggalkan bantah-bantahan (meskipun ia dipihak yang benar)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Aku menjamin sebuah rumah di pelataran surga, bagi orang-orang yang meninggalkan al miraa’ (berbantah-bantahan) meskipun ia dipihak yang benar.

(Shahiih; HR Abu Daawud)

Adakah kita ingin mendapatkan jaminan dari Rasuulullaah?

Cukuplah 5 alasan diatas sebagai tameng bagi kita, untuk tidak ikut nimbrung, apalagi menyorak-nyoraki, apalagi melariskan/menyebarkan dagangan ‘hidangan bangkai’…

Kita bukanlah burung gagak yang merupakan pemakan bangkai, dan suka ngongkrong di tempat terhidangkan bangkai… Maka janganlah kita menyerupainya…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s