Meneladani Sikap Para Shahabat Ketika Berselisih Pendapat

Rasuulullaah bersabda kepada para shahabat:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

“Janganlah seseorang shalat (Ashar), kecuali di (perkampungan) Bani Qurayzhah.”

Ditengah perjalanan, masuk shalat ashar… Maka para shahabat berselisih paham…

(1) Apakah maksud sabda beliau diatas adalah perintah untuk shalat ashar di bani quraizhah? (meskipun sudah diluar waktu)

(2) Ataukah maksud beliau adalah bersegera dalam perjalanan, sehingga shalat asharnya di bani qurayzhah…

Maka dengan perbedaan dua sudut pandang ini, maka timbullah dua pendapat… dan dari dua pendapat ini, timbullah dua pengamalan…

Para shahabat yang memiliki sudut pandang yang pertama, maka mereka menunda shalat, dan baru shalat ashar di bani qurayzhah.

Para shahabat yang memiliki sudut pandang yang kedua, maka mereka segera shalat ashar di tengah perjalanan, meskipun shalatnya tidak di bani qurayzhah…

Maka mereka melaporkan hal ini kepada Rasuulullaah, maka beliau tidak berkomentar, dan tidak mencela satupun dari dua pendapat tersebut…


Yang patut kita perhatikan dalam masalah diatas adalah:

1. Dalil yang digunakan keduanya shahiih

Bahkan terkadang ada permasalahan yang mana ulama hadits pun berselisih paham, apakah derajat haditsnya mencapai derajat shahiih/hasan atau tidak? karena mereka pun berbeda ijtihad dalam menghukumi perawi hadits; atau bahkan berbeda ijtihad dalam merangkum keseluruhan jalan periwayatan…

2. Sekalipun haditsnya sama-sama disepakati shahiih; tapi bisa jadi terbuka perbedaan dari para ulama, terhadap sudut pandang dalam memahaminya.

Dengan perbedaan pemahaman/sudut pandang ini, maka akan ada dua atau lebih pendapat-pendapat. Dan dengan adanya dua sudut pandang ini, maka pasti akan melahirkan DUA PENGAMALAN yang berbeda. Ingat pemahaman/sudut pandang ini BERASAL DARI ULAMA, yang memang memiliki kemampuan untuk berijtihad (yang mana pendapat/ijtihadnya tersebut memang mu’tabar dikalangan ulama ahlus sunnah).

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim mengadili dan berijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala, dan jika seorang hakim berijtihad, lantas ijtihadnya keliru, baginya satu pahala.”

(HR Bukhariy, dan selainnya)

Maka demikian pula orang-orang yang mengikuti mujtahid BERDASARKAN KANDUNGAN DALIL (yang bersebrangan dengan pendapat yang kita ikuti dari mujtahid yang lain)…

Berkata syaikh al-‘Utsaimiin rahimahullåh:

Kita wajib untuk tidak menjadikan perselisihan DIANTARA ULAMA ini sebagai penyebab perpecahan, karena kita seluruhnya menghendaki al-haq, dan kita seluruhnya telah melakukan segala usaha yang ijtihad-nya membawa ke sana.

Maka selama perselisihan itu (seperti ini), sesungguhnya kita tidak boleh menjadikannya sebagai sebab permusuhan dan perpecahan diantara ahlul ilmi, karena sesungguhnya para ulama’ itu selalu berselisih, walaupun di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Kalau begitu, maka yang menjadi kewajiban bagi thalibul ilmi hendaklah mereka bersatu, dan janganlah mereka menjadikan perselisihan semacam ini sebagai sebab untuk saling menjauhi dan saling membenci.

Bahkan jika engkau berbeda pendapat dengan temanmu berdasarkan kandungan dalil yang engkau miliki, sedangkan temanmu MENYELISIHIMU BERDASARKAN KANDUNGAN DALIL[1. Disinilah point pentingnya! yaitu saudara kita menyelisihi kita karena KANDUNGAN DALIL yang ada padanya (dan itupun karena ia merujuk istidlal dan istimbath ulama salafush shalih, bukan reka-rekaannya)! Dan juga sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang yang kita lihat (sebagaimana dia pun memandang sudut pandang tersebut, berlandaskan sudut pandang ulama salafush shalih, bukan sudut pandang pribadinya semata)!

Maka penyelisihan seperti ini TIDAKLAH TERCELA! Jangan sampai kita serta merta memvonisnya “sesat” atau “pengikut hawa nafsu” atau “pembenci kebenaran” atau “pencari-cari pembenaran” dll!

Lihatlah bagaimana ADAB yang dicontohkan Tabi’in berikut ketika mereka berselisih paham atau menyikapi saudaranya yang beramal berdasarkan dalil.

عَنْ حُصَيْن بْنِ عَبْدِ الرَّ حْـمَنٍ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُـمَّ قُلتُ أَمَا إِنِّـي لَـمْ أَكُنْ فِـي صَلاَةٍ وَلَكِنِّـي لُدِغْتُ

Dari Hushain bin Abdurrahman berkata: “Ketika saya berada di dekat Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” Saya menjawab: “Saya.” Kemudian saya berkata: “Adapun saya ketika itu tidak dalam keadaan sholat, tetapi terkena sengatan kalajengking.”

قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْـتَرْقَيْـتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِـيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمُ الشَّعْبِـيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ اْلأَسْلَمِـيِّ أَنَّهُ قَالَ لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْـنٍ أَوْ حُـمَةٍ

Lalu ia bertanya: “Lalu apa yang anda kerjakan?” Saya menjawab: “Saya minta diruqyah” Ia bertanya lagi: “Apa yang mendorong anda melakukan hal tersebut?”Jawabku: “Sebuah hadits yang dituturkan Asy-Sya’bi kepada kami.” Ia bertanya lagi: “Apakah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada anda?” Saya katakan: “Dia menuturkan hadits dari Buraidah bin Hushaib: ‘Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain, atau terkena sengatan.'”

فَقَالَ قَدْ أَحْسَـنَ مَنِ انْتَهَى إِلَـى مَا سَـمِـعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِـيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ

“Sa’id pun berkata: “Alangkah baiknya orang yang beramal sesuai dengan nash yang telah didengarnya, akan tetapi Ibnu Abbas radhiyallâhu’anhu menuturkan kepada kami hadits dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, Beliau bersabda (beliau menyebutkan tentang keutamaan orang yang TIDAK MEMINTA DIRUQYAH; yang mana dapat menjadi golongan yang tidak dihisab dan tidak diazab)”

Lihat betapa indahnya tutur kata Sa’iid ibn Jubair rahimahullah yang sungguh sangat disayangkan adab dan tutur kata seperti ini sudah SANGAT USANG bahkan HAMPIR PUNAH ditengah-tengah kita…

Sungguh sangat indah nasehat al Ustaadz Abul Jauzaa’ yang menjadikanku lebih berhati-hati dalam memilih kata, dan lebih berhati-hati agar tidak tergesa-gesa, dan lebih menguasahakan diri melapangkan hati dalam permasalahan seperti ini, beliau berkata:

“Memang…..banyak ikhwan yang sekarang sadar bahwa permasalahan itu adalah permasalahan yang dikhilafkan para ulama kita. Namun banyak di antaranya, pengakuan itu hanyalah sebatas lisaanul-maqaal saja. Lisaanul-haal nya, adanya dianggap tidak ada. Coba saja tes pada diri kita sendiri (bayangkan saja), seandainya ada teman kita sema’had, teman kita satu kajian ikut nyoblos Pemilu, apa yang ada di benak kita ? Kalau saya dulu : ‘Dia telah menyimpang dari manhaj Salaf’. Dan coba saja reaksi sebagian teman-teman kita ketika mendengar ada sebagian ulama (terutama setelah era wafatnya 3 ulama besar kita) membolehkan partisipasi Pemilu, pasti negatif. Ketika Syaikh Abul-Hasan Al-Ma’ribiy dan Syaikh Mushthafaa Al-‘Adawiy membolehkan partisipasi Pemilu dengan alasan sama dengan masyaikh kibar kita; lisan sebagian rekan-rekan hanya keluar cibiran. Bukan hanya salafiy Indonesia,… salafiy Timur tengah pun banyak yang begitu.

Jadi sekali lagi, kalau pun ada pengakuan khilaf ulama, maka adanya dianggap nggak ada. Iya apa iya ya ?. Kalau saya si merasakan seperti itu. Ada upaya untuk mendelegitimiasi secara ‘terselubung’ keberadaan khilaf itu. Entah dengan alasan ‘tarjih’, atau yang lainnya.

Bagi saya, khilaf adalah khilaf, tarjih adalah tarjih. Khilaf itu memerlukan tarjih, dan tarjih sendiri tidak menafikkan khilaf. Orang yang merajihkan sesuatu, maka hujah tarjih itu adalah bagi dirinya. Tidak meliputi orang yang berseberangan dengannya.”

Beliau juga berkata:

“Menerima pendapat yang ‘kurang familier’ memang butuh ‘perjuangan’. Saya pun mengalami fase sulit ini, dan alhamdulillah, melalui perantaraan seorang teman, pikiran saya menjadi sedikit lebih terbuka. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Pendapat membolehkan Pemilu dan berparlemen dalam keadaan tertentu (bersyarat) itu masyhur di kalangan ulama. Namun karena ustadz kita dan rekan-rekan kita hampir semua satu suara mengikuti pendapat yang mengharamkannya secara mutlak, – dan memang itulah yang selama ini kita terima lalu kita yakini kebenarannya secara absolut – , maka siapa saja yang berpendapat dan mengamalkan fatwa ulama yang membolehkan, pasti akan kita terjang. Kita tantang dengan keras, dan tidak jarang keluar statement bahwa orang tersebut telah berubah statusnya. Dari Salafiy menjadi hizbiy.

Sama halnya dengan masalah isbal. Hampir semua ustadz-ustadz kita mengikuti pendapat ulama yang mengharamkannya. Padahal pendapat jumhur, tidak sampai mengaharamkannya. Mengharamkan jika dilakukan dengan kesombongan. Coba,…. kalau ada ikhwan Salafiy yang mengikuti dan mengamalkan pendapat jumhur, niscaya banyak yang mengingkari bahwa ikhwan itu bukan Salafiy. Atau yang mudah saja, …ketika kita melihat seseorang yang memakai celana isbal, maka kesimpulan yang terolah di otak kita mengatakan : ‘Bukan Salafiy’. Atau ketika kita melihatnya hadir di kajian Salafiy, kita akan mengambil kseimpulan : ‘Pasti orang ini belum lama ngaji”.

Sama halnya dengan kasus Ihya At-Turats bagi sebagian orang. Karena semua materi yang ia dengar dari ustadz-ustadznya adalah menghukumi IT itu hizbiy sururiy dan siapa saja yang berhubungan dengannya juga hizbiy sururiy; maka mereka akan menganggap sinis pendapat ulama yang berkesimpulan kebalikan darinya. Dianggapnya, perselisihan masalah ini adalah ghairu mu’tabar. Mereka akan memusuhi semua orang yang menyelisihi pendapat mereka.

Rekan,…..

Selain dikarenakan sedikitnya ilmu, maka ini juga disebabkan oleh faktor ‘kebiasaan informasi’, sehingga itu menjadi mindset kita dalam menyikapi satu permasalahan.

Coba saya tes dengan perintah sederhana berikut. Silakan rekan-rekan menggambar angsa dan kursi dalam waktu 10 detik. Bayangkan saja aktifitas itu di pikiran rekan-rekan semua. Sudah ?

Setelah selesai dibayangkan,…. let me guess….. saya yakin hampir semua rekan-rekan menggambar angsa kepalanya menghadap ke kiri, dan menggambar kursi menghadapnya ke kanan. Bener nggak ?.

Itu semua dikarenakan dari kecil kita diajarkan menggambar angsa itu dari model angka 2 (dua). Dan menggambar kursi itu dari model angka 4 (empat). Itulah kebiasaan yang terpatri yang kemudian menjadi mindset hingga dewasa. Angsa itu identik dengan angka 2 dan kursi itu identik dengan angka 4.

Dan itulah gambar kita dalam menghadapi perbedaan pendapat di kalangan ulama……..

Oleh karena itu rekan…….

Salafiy itu bukanlah orang yang kalau menggambar angsa dengan pola dasar angka 2, dan kalau menggambar kursi dengan pola dasar angka 4. Bisa jadi seorang salafiy menggambar angsa dengan pola dasar huruf S (yang kepala angsa-nya menghadap ke kanan).

Dunia tidaklah sesempit lobang biawak.

# Yuk kita belajar !!”

Sungguh perkataan beliau diatas, hendaknya benar-benar kita renungi dan kita amalkan… Niscaya kita akan mendapatkan ketenangan dan kelapangan dalam hati… Dan jauh dari sikap yang berlebih-lebihan dalam menyikapi permasalahan semacam ini!] yang ada padanya, maka kalian wajib untuk menjadikan diri kalian diatas satu jalan dan hendaklah kecintaan bertambah di antara kalian berdua.”

(Kitabul ilmi, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal: 28-30

3. Kalau kita (bahkan para ulama) MENGAKUI akan adanya PERBEDAAN sudut pandang/pemahaman dalam memahami nash diantara mereka… Maka PASTI akan melahirkan PERBEDAAN PENDAPAT… dan PASTI akan melahirkan PERBEDAAN PENGAMALAN…

Kalau MENGAKUI adanya perbedaan pandangan/pemahaman dan pendapat… Maka SEPATUTNYA MENGAKUI akan adanya PERBEDAAN PENGAMALAN… (jangan malah seakan berkata: ‘meski saya akui akan adanya perbedaan pandangan/pemahaman/pendapat, tapi dalam masalah amalan, maka orang lain hanya boleh mengamalkan pendapat yang saya anut’! ini pada hakekatnya menafikkan perbedaan itu sendiri!)

4. Niat mereka SATU (meskipun mereka berbeda sudut pandang/pemahaman bahkan pengamalan, yaitu, sama-sama MENCARI KEBENARAN) dan sama-sama meyakini hanya ada satu kebenaran…

5. Patutnya kita mencontohi SIKAP Rasuulullaah dan sikap sesama para shahabat dalam menyikapi perbedaan DIANTARA MEREKA (maka yang dimaksud adalah perbedaan sesama ahlus sunnah)

Dalam perselisihan ini, bisa saja kelompok pertama berkata:

“Udah jelas-jelas perintah beliau untuk shalat ashar disana kok! udah jelas beliau melarang kita kecuali shalat ashar disana kok! Kok anda malah shalat ashar disini?!”

Bisa jadi kelompok kedua berkata:

“Coba berpikir lebih luas, waktu shalat itu sudah ditentukan… Maka tentulah maksud dari sabda beliau diatas adalah mempercepat perjalanan agar kita tidak shalat ashar, kecuali disana; ini lebih menggabungkan dalil-dalil”

Maka bisa jadi dibantah lagi:

“justru hadits diatas merupakan dalil tersendiri, yang mengecualikan dalil-dalil yang umum. Telah shariih bahwa perintah untuk shalat ashar di bani qurayzhah, dan larangan shalat ashar di tempat yang lain”

Bisa jadi dibantah lagi:

“tidak ada pertentangan, akan tetapi saling mengkompromikan”

(dan seterusnya)

Apapun itu, meskipun mereka berselisih paham, dan saling berargumen… Tapi tetap saja dua golongan diatas, SAMA-SAMA MENGINGINKAN KEBENARAN dari perbedaan yang ada diantara mereka…. Oleh karenanya Rasuulullaah tidak mencela dua kelompok diatas, demikian juga sesama para shahabat…

Benar, kita wajib untuk mencari kebenaran (dari perbedaan tersebut)… tapi apakah sesuatu yang kita pandang benar, menjadi hujjah bagi orang lain agar ia memandang permasalahan seperti apa yang kita pandang? sehingga kalau dia menyalahi kita, maka serta merta kita katakan: “dia tidak cinta kebenaran, tidak menginginkan kebenaran, dan hanya cari pembenaran” ?! (cobalah disimak lagi perkataan syaikh ibnul utsaimiin diatas!)

Penyelisihan saudara kita terhadap pendapat yang kita anut, JANGAN SERTA MERTA kita artikan: “dia sengaja menolak kebenaran, setelah jelas baginya kebenaran” atau kita artikan: “dia hanyalah mencari pembenaran daripada kebenaran” atau kita artikan: “dia itu lebih memilih yang lebih dekat kepada hawa nafsunya, daripada keridhaan Allaah”! Allaahul musta’aan.

Contohilah para shahabat,

Yang mana kita dapati diantara mereka TIDAK ADA yang menghakimi (niat) satu sama lain… Tidak ada yang berkata: “niatnya tidak benar” (padahal niat masalah hati) atau menghakimi “kalian ini hanyalah cari-cari pembenaran” (karena mereka sudah saling mengenal bahwa mereka adlaah para pencari kebenaran, maka tidak patut dipersangkakan buruk “pencari pembenaran”), atau menghakimi “kalian ini hanyalah mengiktui hawa nafsu” (padahal pendapat yang dianut/diikuti adalah pendapat yang beredar diantara ahlul haq)

Contohilah para shahabat,

Adakah kita mendapati, kelompok pertama berkata kelompok kedua:

“Dasar tukang ta’wil, menyalahi hadits yang sudah jelas, apaan tuh klaimnya tunduk kepada dalil?! buktinya ketika dihadapkan dalil, malah berpaling; mana buktimu bahwa engkau ridha islam sebagai agamamu!?”

Adakah kita mendapati kelompok kedua berkata kepada kelompok pertama:

“dasar zhahiriyyah yang buta dalil (mencukupkan dengan satu dalil tapi menolak dalil-dalil lain!), memahami agama sepotong-sepotong, tidak paham fiqh !”

Mereka memang berselisih, saling berargumen… tapi adakah dengan gaya bahasa seperti itu?! lantas siapakah teladan kita jika bergaya bahasa yang demikian?

Permasalahan seperti ini BANYAK SEKALI didalam islaam… Maka ketika menghadapi permasalahan seperti ini… Hendaknya kita kembali merenungi lagi hadits diatas, merenungi PENYIKAPAN Rasuululalah dan PENYIKAPAN SESAMA PARA SHAHABAT… Jangan jadikan hadits diatas sebagai bahan bacaan biasa, sehingga ketika masuk keranah praktek, tidak ada bentuk pengamalannya! Padahal BANYAK SEKALI permasalahan yang serupa dengan hadits diatas !

Niat yang keliru, apalagi tanpa disertai ilmu dan adab; maka akan melahirkan PENYIKAPAN YANG KELIRU…

Semoga Allaah menganugerahkan kita niat yang benar, ilmu yang bermanfa’at dan sikap yang diridhaiNya… Aamiin…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s