Awal dari segala kemungkaran dan kekejian, serta cara mengobatinya

Karena riyaa/sum’ah…. Maka lahirlah kedengkian… karena pasti akan dia mendengki orang yang mendapatkan sesuatu yang di-riyaa’/sum’ahkannya tersebut (apakah itu popularitas/pujian/kekayaan/kekuasaan/dll)…

Karena ujub (kemudian takabbur)…. Maka lahirlah kedengkian… karena dengan ujubnya, maka ia akan takabbur; dan karena takabbur, maka ia tidak ingin ada yang lebih tinggi darinya (karena ia merasa paling tinggi/besar)…

Dari kedengkian, maka akan lahirlah berbagai rentetan keburukan:

1. tajassus (mencari-cari kesalahan)

Karena ingin menjegal orang yang didengki, maka harus mengetahui dan mengenali keburukan-keburukan, kejelekan-kejelekan, aib-aib orang yang didengki… (kemudian semua ini, disampaikan ke khalayak ramai agar dapat merendahkan orang yang didengkinya, inilah yang disebut ghibah)

2. Ghibah

Yaitu menyebutkan sesuatu keburukan/kejelekan/aib seseorang kepada orang lain, atau bahkan kepada khalayak banyak. Yang maksudkan agar orang yang didengkinya itu dibenci orang lain atau bahkan orang banyak.

Definisi ghibah, sebagiamana sabda Rasuulullaah:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Kamu menyebutkan tentang temanmu dengan sesuatu yang ia benci.”

Ia bertanya lagi, “Bagaimana sekiranya apa yang kukatakan memang benar?”

Beliau menjawab:

إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ

“Jika memang apa yang kamu katakan itu BENAR, maka sungguh kamu telah menGHIBAHnya

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

namun jika apa yang kamu katakan itu TIDAK BENAR, maka sungguh kamu telah mengadakan BUHTAN (menyebarkan berita dusta).”

(HR Tirmidziy, dan beliau berkata; Ini adalah hadits hasan shahih)

Menyebutkan “sesuatu yang tidak disukai” ini UMUM. Tidak hanya keburukan/kejelekan yang PASTI tidak disukai jika disebutkan.

Kalau kita menyebutkan kebiasaan seseorang (meskipun kebiasaan tersebut tidak sampai pada derajat haram), dan hal yang kita sebutkan tersebut TIDAK DISUKAI jika didengar orang yang kita sebutkan tentangnya; maka berarti kita TELAH MENGGHIBAHINYA.

Jadi ghibah itu TIDAK SEMATA-MATA menyebutkan “si fulan suka bermaksiat ini dan itu” dll, tapi LEBIH UMUM dari itu… Yaitu SETIAP PERKARA yang jika kita sebutkan hal tersebut, maka saudara kita tidak menyukai apa yang kita sebutkan tentangnya tersebut!

Dan ini TIDAK SEMATA-MATA dengan ucapan saja… Termasuk pula dengan BAHASA TUBUH… Seperti kita menirukan gaya-gaya khas seseorang, menirukan cara bicaranya, dll; yang dengan peniruan tersebut menimbulkan ketidaksukaan dari orang yang kita tirukan tersebut…

Maka sungguh BANYAK JALAN menuju ghibah! Dan seburuk-buruk ghibah adalah yang didasari dengki dan kebencian… Karena orang yang mendasarinya karena dengki dan kebencian, AKAN MELAMPAUI BATAS dalam ghibahnya! Na’uudzubillaah!

3. (dan ini lebih parah) BUHTAN

Ketika seseorang telah puas dengan ghibahnya, dan ia ingin menambah lagi… tapi ia tidak menemukan sesuatu untuk ditambah… maka dibuat-buatnyalah kedustaan atas nama orang yang didengki dan dibencinya tersebut…

Disini ia berbuat dosa yang amat sangat besar. (pertama) ia membuat-buat KEDUSTAAN; padahal tanda kemunafiqan adalah “apabila berkata, ia berdusta”! (kedua) ia MENYEBARKAN KEDUSTAAN tersebut! dan semakin bertambah dosanya semakin tersebar kedustaan tersebut! Na’uudzubillaah!

4. Namiimah (efek dari ghibah atau/dan buhtan)

Dan inilah maksud dari pendengki itu tadi… Tidaklah dia mengghibah, tidaklah dia melakukan buhtan… Melainkan agar orang yang dighibahinya, orang yang dibuhtaninya dibenci orang lain atau bahkan orang banyak… Dengan ini otomatis telah mengadu domba, dua orang yang tadinya tidak bermusuhan menjadi bermusuhan. Bahkan yang tadinya saling mencinta, menjadi bermusuhan!

Bahkan jika dia tidak bermaksud untuk “mengadu domba”… tetap saja, dengan ghibah atau buhtan tersebut justru sebagai bentuk adu domba yang nyata! baik ia sadar atau tidak!

Coba kalau kita katakan: “itu si A begini dan begitu”, maka pasti orang yang mendengarnya akan berpandang negatif kepada si A, dan bisa-bisa menyeret kepada membenci atau bahkan memusuhinya!

Lihatlah rentetan dosa demi dosa… yang diawali dari riyaa’/sum’ah dan/atau ujub (kemudian takabbur)!

Oleh karenanya riyaa’/sum’ah dan ujub ITU SENDIRI adalah DOSA YANG SANGAT BESAR…

Sebagaimana kata para ulamaa’:

“الجزاء من جنس العمل”

(Balasan/ganjaran yang diperolehi bergantung dari jenis amal yang kita kerjakan).

Riyaa’/sum’ah, ujub (kemudian takabbur) adalah DOSA-DOSA BESAR… Oleh karenanya, balasan dari amalan tersebut adalah DOSA-DOSA BESAR LAINNNYA… Dengki (hasad), kemudian Tajassus, kemudian ghibah, kemudian buhtan, kemudian namiimah!

Bayangkan betapa bertumpuknya dosa besar itu, dan para pelakunya tidka menyadarinya! bahkan ia mengira bahwa ia memiliki BANYAK KEBAIKAN… bahkan ia mengira apa yang diperbuatnya adalah MEMBELA AGAMA! Laa hawla wa laa quwwata illa billaah!

jika engkau itu baik… maka sungguh kebaikan yang hakiki itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan!

Allaah berfirman:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

(Ar-Rahmaan: 60)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ

“Sesungguhnya Kebaikan (yang hakiki) itu, tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan, (dan) bukanlah kebaikan itu (yang menipu)”

(HR Muslim)

Para ulama berkata:

إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةَ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ بَعْدَهَا

“Sesungguhnya di antara balasan amalan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Dan di antara balasan dari amalan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir pada tafsir surat Al Lail)

Bahaya jika tidak segera ditanggulangi dan diobati!

Bahkan jika riyaa/sum’ah, ujub (kemudian takabbur) dan berbagai dosa-dosa besar lainnya TIDAK SEGERA DIOBATI, bahkan TERUS DIBIARKAN… Maka dikhawatirkan justru akan menjerumuskan kepada induknya segala kemungkaran dan kekejian… Apa itu? SYIRIK AKBAR dan KUFUR AKBAR! Na’uudzubillaah!

Apakah kita lupa dengan firmanNya:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

(al Muthaffifiin: 14)

Akibat dosa demi dosa yang dilakukan kaum musyrikiin terdahulu, maka terucaplah ucapan mereka ucapan yang amat buruk! Allaah berfirman:

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيم . إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang MELAMPAUI BATAS lagi BERDOSA, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”

(al Muthaffifiin: 12-13)

Tidaklah terucap dari lisan mereka lisan-lisan buruk terhadap syari’atNya, melainkan disebabkan dan diawali dari dosa-dosa mereka yang bertumpuk-tumpuk, yang mereka kerjakan, sehingga hal tersebut menutupi hati mereka.

Sebagaimana hal tersebut dijelaskan Rasuulullaah dalam sabdanya:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam.

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.

وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.

وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ – كَلاَّ . بَلْ . رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

(HR. Ahmad, At Tirmidziy, ibnu Maajah, ibnu Hibbaan dll; dengan sanad yang hasan)

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan LAMA KELAMAAN PUN MATI.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.

[Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268]

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”

[Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/442]

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang senantiasa mereka perbuat.”

[Tafsir Al Jalalain, Al Mahalli dan As Suyuthi, Mawqi’ At Tafasir, 12/360]

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata,

“Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.”

[Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 15/283]

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

“Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”

[Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, hal. 70]

Na’uudzubillaah!

Apa obatnya? dan bagaimana tata cara menanggulanginya?

Sebagaimana judul dari artikel diatas adalah “awal dari segala kemungkaran dan kekejian”, maka patutlah kita menutupnya dengan obat yang dapat menghalangi dan mengobati kita dari hal tersebut…

Allaah berfirman:

كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Demikianlah, agar Kami MEMALINGKAN dari padanya KEMUNGKARAN dan KEKEJIAN. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang mukhlash/terpilih (sebagaian ulama membacanya: mukhlish/ikhlash).

(Yuusuf : 24)

Tidak ada pertentangan antara mukhlash (terpilih) dan mukhlish (ikhlash). Seorang yang ikhlash (mukhlish) dalam amalnya, maka ia termasuk orang yang dipilih Allaah (mukhlash). Dan tanda seorang yang dipilih Allaah (mukhlash) adalah diberi taufiq, diberi pertolongan, serta diberi kemudahan sehingga ia ikhlash dalam amalnya.

Alllaah juga berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu MENCEGAH dari (perbuatan-perbuatan) KEJI dan MUNGKAR

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Dan dzikrullaah [mengingat Allaah dalam shalat; yaitu khusyu’ dalam shalat], lebih besar (manfa’at dan keutamaannya dari shalat itu sendiri)

[al ‘ankabuut: 45]

Berkata Syaikhul Islaam :

“Penafsiran yang benar (tentang ayat ini), shalat memiliki DUA TUJUAN UTAMA, yang satu lebih besar dari yang lain. Sesungguhnya Shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. tapi Dzikrullah (mengingat Allah) yang terkandung didalam shalat itu LEBIH BESAR NILAI dan MANFAATnya daripada mencegah perbuatan keji dan mungkar.”

Maka apakah kita adalah seorang yang telah benar-benar mempraktekkan keikhlashan?

Maka apakah kita adalah seorang yang menegakkan shalat? bahkan khusyu’ dalam shalat?!

Sungguh keduanya adalah KUNCI dari jauhnya seseorang dari kemungkaran dan kekejian… Level kekuatan keduanya adalah seberapa jauhnya kita dari kemungkaran dan kekejian…

Jika hidup kita dipenuhi dengan kemungkaran dan kekejian, maka patutlah kita meluruskan kembali keikhlashan kita dalam beramal… maka patutlah kita menegakkan shalat dengan sebenar-benar penegakkan… Betapapun kita merasa (apalagi mengaku) hamba yang paling muwahhid, betapa pun kita merasa (apalagi mengaku) hamba yang paling ikhlash, betapa pun kita merasa sudah banyak shalatnya, betapa pun kita merasa sudah khusyu’ shalatnya… Semua itu terjawab dengan amalan-amalan yang menyertai kita… Adakah kebaikan? atau justru keburukan?

Semoga Allaah mengampuni dosa-dosa kita, dan memberi hidayah, pertolongan dan kemudahan bagi kita agar kita dapat benar-benar menegakkan agamaNya; serta kita bermohon kepadaNya perlindungan dari segala kemungkaran dan kekejian… Aamiin

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s