Bertakbirlah kepada Allah, dengan sebenar-benarnya takbiir

Takbiir di bulan dzulhijjah ada dua:

1. Takbiir yang bersifat mutlak, dan ini berlaku sejak terbitnya hilal sampai pada waktu ashar pada tanggal 13. Hal ini tidak terkait waktu dan tempat.

2. Takbiir yang dikaitkan dengan waktu, yaitu takbiir setelah selepas shalat lima waktu, sejak fajar tanggal 9, hingga ashar tanggal 13.

Berdasarkan firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)

Dan juga firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)

Yang dimaksud berdzikir pada dua ayat di atas adalah melakukan takbiran

Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.” (Al Bukhari secara Mu’allaq, sebelum hadis no.969; kutip dari muslim.or.id)

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 9 Dzulhijjah, sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari 2/458, kata Ibn Mardawaih: Sanadnya shahih; kutip dari muslim.or.id)

Untuk point kedua, maka telah ada beberapa dari pemuka para shahabat rasuululllaah yang telah mencontohkannya pada kita:

a. Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)

b. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali radhiyallahu ‘anhu“)

c. Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)

d. Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al Hakim dan dishahihkan An Nawawi dalam Al Majmu’)

[semuanya kutip dari muslim.or.id]

Simak juga tata cara takbiran yang benar, dan yang keliru disini: http://abuzuhriy.com/takbiran-yang-benar-dan-yang-keliru/

Maka setelah kita mengetahui hal ini, maka hendaknya kita berusaha mengamalkannya.

Ketahuilah… Sebaik-baik amalan adalah yang paling baik kualitasnya…

Maka hendaknya kita mengetahui makna yang dalam dibalik takbiir, sehingga kita menghadirkan makna tersebut ketika kita mengucapnya…

[simak: http://cintasunnah.com/merenungi-kalimat-takbir/, simak juga: http://abuzuhriy.com/kunci-menggapai-khusyu-dalam-shalat-ada-pada-takbiratul-ihram/]

Sungguh Allaah telah memerintahkan kita dalam firmanNya:

وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Dan bertakbirlah kepadaNya, dengan sebenar-benarnya takbiir!

(al ‘Israa : 111)

Ditafsirkan ibnu jariir ath thabariy rahimahullaah :

“Agungkanlah Rabbmu wahai Muhammad dengan apa yang Dia perintahkan kepadamu untuk mengagungkanNya, baik berupa perkataan dan perbuatan, dan taatilah Dia dealam hal-hal yang Dia perintahkan padamu, dan Dia larang engkau mengerjakannya”

[Jaami’ul Bayan, 9/179; melalui perantaraan Fiqh al Ad’iyah wal adzkaar (edisi indonesia)]

Berkata Syaikh asy Syanqithiy rahimahullaah :

“Yakni, Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sehebat-hebatnya. Pengagungan kepada Allaah akan nampak pada komitmen terhadap perintahNya dan menjauhi laranganNya serta bersegera kepada semua yang membuatNya ridha”

[Adhwaa-ul Bayan 3/635; melalui perantaraan Fiqh al Ad’iyah wal adzkaar (edisi indonesia)]

Maka semoga kita bertakbiir dengan takbiir yang kita pahami maknanya, yang kita hadirkan makna yang dalam lagi luas tersebut ketika mengucapnya… Yang semoga dengannya kita mewujudkan takbiir yang sebenar-benarnya kepadaNya… aamiin…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir, Ibadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s