Diantara motivasi ibadah

Ketika seseorang mengerjakan ibadah, maka pasti ada yang melandasi/memotivasinya untuk menunaikan ibadah tersebut.

1. Diantara motivasi tersebut adalah, “agar semoga dengan ia melakukan ibadah ini, agar Allaah mengampuni dosa-dosanya.”

Karena memang, diantara fungsi amalan shaalih, adalah menghapuskan dosa.

Diantara dalilnya, adalah firman Allaah

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya segala perbuatan yang baik itu, menghapuskan (dosa)
segala perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang
ingat.

(QS Hud: 114).

Rasuulullaah juga bersabda:

وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

segera iringi perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, maka
(perbuatan baik itu) akan menghapusnya.

(HR Ahmad, at tirmidziy, dll)

Maka hal yang paling awal yang harus kita tanamkan dalam diri kita, bahwa kita itu adalah PENDOSA, dan PASTI BERBUAT DOSA. Sebagaimana dalam hadits qudsi; Rasuulullaah bersabda, bahwa Allaah berfirman:

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا
أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian BERBUAT DOSA di waktu SIANG dan MALAM, dan Aku MAHA PENGAMPUN atas dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.”

(HR. Muslim)

Maka dengan khabar inilah, hendaknya kita senantiasa ingat. Agar jangan sampai kita menganggap diri suci, menganggap kita bersih dari dosa… Padahal tidak ada SATU WAHYU PUN, TURUN DARI LANGIT kalau kita, termasuk orang yang dijamin surga.

Maka hendaknya mengingat akan hal ini. Yang dengan banyak ingat akan hal ini; akan menjadikan kita TAWADHU’ dihadapan Allaah, kemudian dihadapan sesama makhluq. Dan akan menjadikan kita hamba yang banyak beristighfar, dan banyak beramal shaalih.

Sudah terbukti; bahwa kebanyakan orang yang jauh dari taubat dan
istighfar, serta jauh dari amalan shaalih; adalah :

– mereka-mereka yang menyombongkan diri, merasa suci, merasa tidak berbuat dosa, bahkan menganggap dosa yang mereka lakukan itu biasa saja, bahkan bangga dengan dosanya.

– mereka-mereka yang lalai, bahkan pura-pura tidak tahu, bahkan tidak mau tahu tentang dosanya yang begitu banyak; atau bahkan tidak sadar kalau dirinya banyak dosa.

– mereka-mereka yang lupa, kalau mereka itu berdosa. Dan memang
manusia tempatnya lupa, maka ketika ingat, hendaklah kembali.

Maka hendaklah kita jangan sampai menjadi golongan pertama dan kedua, dan ketika kita lupa, hendaklah kita ingat; dan ketika ingat, hendaklah kembali kepadaNya.

Dengan mengingat dosalah, kita akan termotivasi untuk beramal shaalih, yaitu dengan beristighfar, bertaubat dan melakukan kebaikan-kebaikan.

2. Diantara motivasi lainnya, dan ini merupakan diantara motivasi paling tinggi diantara motivasi selainnya; yaitu, termotivasi untuk beribadah DALAM RANGKA MENSYUKURI NIKMAT ALLAAH.

Mengapa motivasi ini yang paling tinggi atah diantara yang paling tinggi?

Karena sekalipun seseorang itu tahu, kalau ia termasuk orang yang diterima taubatnya… Bahkan sekalipun ia tahu, kalau ia termasuk orang yang diterima amal kebaikannya… Maka hal tersebut tidaklah menghentikannya dari beribadah kepadaNya.

Mengapa?

Karena ketika Allaah menerima taubat dan amal kebaikannya, bukankah hal ini suatu yang patut ia syukuri? Dan bukankah bentuk syukur adalah dengan melakukan ibadah kepadaNya?

Maka sekalipun turun wahyu dari langit, bahwa ia termasuk orang yang diterima taubat dan amal shalihnya; maka ini bukan menghentikannya dari beramal, bahkan malah menjadikan ia tambah memperbanyak memperbaiki kualitas ibadahnya, dalam rangka syukurnya kepada Allaah. Yang telah memberinya taufiq untuk bertaubat, dan beramal.

Inilah yang kita dapati dalam diri para nabi dan rasuul, serta kita dapati dalam diri para shahabat yang telah dijaminkan surga.

Tidaklah memudharatkan mereka khabar bahwa telah ada jaminan ampunan dan surga untuk mereka, bahkan hal tersebut menyemangati mereka untuk tetap beribadah, bahkan mereka memperbanyak dan memperbaiki ibadah mereka; dalam hal mensyukuri hal ini.

Setiap kali mereka melakukan amalan shaalih, akan senantiasa diikuti amalan shaalih berikutnya dalam hal mensyukuri amalan sebelumnya… Teruus demikian… Bahkan ketika mengucapkan “alhamdulilaah”, maka inipun sesuatu yang patut untuk disyukuri, karena Allaah telah memberi hidayah kepadanya untuk mensyukuriNya.

Tahulah kita, HAKIKAT IBADAH itu TIADA BERBILANG… Karena memang, nikmatNya itu tiada berbilang…

Sebagaimana firmanNya :

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.

Oleh karenanya setelahnya Allaah berfirman :

إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Sesungguhnya semua manusia itu, benar-benar sangat zalim dan benar
benar sangat kufur (terhadap nikmat Allah).

Maka dengan landasan dan motivasi syukur ini, akan menjadikan
pelakunya seorang yang sibuk beribadah; memperbanyak dan memperbaiki ibadahnya.

Dua motivasi ini, dapat kita jumpai dalam hadits berikut:

`Aa-isyah ketika melihat shalat malamnya Rasuulullaah yang sangat panjang sampai menjadikan kaki beliau bengkak, maka berkata :

لِمَ تَصنَعُ هذا يا رسولَ اللهِ ، وقد غفَر اللهُ لك ما تقدَّم من ذَنْبِك وما تأخَّ

Wahai Rasuulullaah, mengapa engkau beribadah sampai sedemikian rupa? sedangkan Allaah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?

Rasuulullaah bersabda :

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

`Aa-isyah terheran dengan ibadahnya Rasuulullaah, padahal beliau telah ada jaminan untuk diampuni Allaah. Dalam kacamata, “beribadah dalam rangka menghapus dosa” maka semestinya tidak perlu lagi bagi beliau bersusah
payah sampai sedemikian rupa dalam peribadatan. Namun kemudian Rasuulullaah menjelaskan bahwa motivasi ibadahnya juga dalam rangka untuk mensyukuri segala nikmatNya. Sehingga meskipun beliau telah ada jaminan ampunan dan surga, maka hal itu tidak menghentikan beliau untuk beribadah kepadaNya; bahkan menambah semangat beliau untuk
senantiasa beribadah kepadaNya.

Maka hendaklah kita menjadikan motivasi diatas, sebagai motivasi kita dalam beribadah kepadaNya; semoga Allaah memberi taufiq, kemudahan, dan pertologan kepada kita semua, aamiin.

Semoga bermanfaat

1 Komentar

Filed under Amal, Ibadah, Tazkiyatun Nufus

One response to “Diantara motivasi ibadah

  1. Ping-balik: Kapsul Motivasi Ibadah | Blog Peribadirasulullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s