Tertipu dengan dunia

Mungkin kebanyakan dari kita, ketika dikatakan “orang tertipu dengan dunia”, maka mungkin akan terbayang, seorang yang kaya raya, yang diluaskan Allaah rizkinya, yang dimudahkan dan dilancarkan urusan dunianya, sedangkan ia malah tidak bersyukur kepadaNya, bahkan jauh dan berpaling dariNya, bahkan mengkufuriNya.

Memang benar, ia termasuk orang yang tertipu dengan dunia… Akan tetapi jangan salah… Jangan dikira yg tertipu dengan dunia hanyalah mereka yang ‘berada’ saja… Mereka yang berkekuragan pun bisa termasuk orang yang tertipu dengan dunia…

Bagaimana ia bisa tertipu?

Jika ia menilai apapun yang menimpanya, hanya berdasarkan kacamata duniawi semata.

Sehingga kekurangan yang menimpa nya disikapi dengan ketidaksabaran, bahkan disikapi dengan MARAH KEPADA TAQDIR ALLAAH, atau bahkan secara terang-terangan MARAH kepada Allaah (sungguh ini merupakan kekufuran yang amat nyata)

Seperti yang Allaah firmankan :

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

(Al Fajr : 15-16)

Ia mengira tolak ukur pemuliaan dan penghinaan Allaah itu berdasarkan kacamata duniawi saja.

Inipun karena sedikitnya atau bahkan ketiadaan imannya tentang Allaah dan hari aakhir.

Sebagaimana firmanNya:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

(Ar Ruum : 7)

Sehingga, ketika diberi cobaan, maka dia tidak bersabar, berputus asa, bahkan marah kepadaNya dan kepada taqdirNya.

Sebagaimana sabda Rasuulullaah :

تعِس عبدُ الدِّينارِ ، والدِّرهمِ ، والقَطيفةِ ، والخَمْيصةِ ، إن أُعطِي رضي ، وإن لم يُعْطَ لم يرْضَ

Celakalah hamba/penyembah dinar, (hamba/penyembah) dirham, (hamba/penyembah) kemewahan, serta (hamba/penyembah) pakaian. Apabila diberi, maka ia ridha; jika tidak diberi, maka ia tidak ridha.

(HR al Bukhaariy)

Maka bagaimana lagi, jika sudah ia miskin, tapi malah berlaku sombong, angkuh, takabbur dengan kemiskinannya?! Maka inilah seburuk-buruk makhluq, sebagaimana sabda Rasuulullaah :

أربعةٌ يُبغِضُهمُ اللَّهُ عز وجل: البيَّاعُ الحلَّافُ، والفقيرُ المختالُ، والشَّيخُ الزَّاني، والإمامُ الجائرُ

Empat golongan yang DIMURKAI ALLAAH : pedagang yang banyak bersumpah (untuk melariskan dagangannya), FAKIR YANG SOMBONG, seorang tua bangka yang berzina, dan penguasa yang kejam.

(Shahiih, HR an Nasaa-iy, dishahiihkan al albaaniy)

Maka kita berlindunglah dari keburukan kaya dan miskin, dengan banyak membaca doa yang diajarkan Rasuulullaah shalallaahu ‘alayhi wa sallam :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ

“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN FITNATIN NAAR WA ‘ADZAABIN NAAR, WA MIN SYARRIL GHINAA WAL FAQR”

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Neraka dan adzab Neraka, serta dari keburukan kekayaan dan kefakiran

(Shahiih, HR. Abu Daud, dishahiihkan al albaaniy)

Dan hendaklah kita menjadi seorang mukmin sejati, seperti yang disabdakan Rasuulullaah :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang MUKMIN. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.”

[HR. Muslim]

Yang mana kekayaan, kemudahan dan kelapangan; tidak menipu kita, bahkan menjadikan kita hamba yang banyak bersyukur, banyak beribadah kepadaNya, banyak beristighfar, lagi memiliki sifat tawadhu’.

Yang mana kesempitan, kesulitan dan kekurangan; tidak menipu kita. Bahkan menjadikan kita hamba yang bersabar, dan semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s