Celaan para `ulamaa’ bagi yang meninggalkan sunnah mu’akkadah

Ketika kita mendengar “sunnah” (dalam hal penghukuman), maka mungkin yang akan ada dibenak kita adalah : “Dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa”.

Akan tetapi JANGAN SALAH, para ulama yang menyatakan demikian, juga MEMBERIKAN CELAAN kepada orang-orang yang meninggalkan sunnah yang bersifat mu’akkadah.

Maka jangan sampai kita memukul rata pernyataaan mereka diatas, pada SELURUH ‘SUNNAH’… Karena nyatanya, pada perkara sunnah mu’akkadah kita dapati mereka MENCELA orang-orang yang meninggalkannya.

Simaklah nukilan berikut perihal celaan para ulama terhadap orang-orang yang meninggalkan sunnah mu’akkadah.

Penyikapan para ulama hanafiyyah [para ulama yang bermadzhab hanafiy]

Maka ketahuilah mereka adalah YANG PALING KERAS dalam hal peninggalan terhadap perkara sunnah mu’akkadah. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam madzhab mereka, mereka membagi ‘sunnah’ menjadi dua: “sunanul huda dan sunnah az zawaa-id”.

1. Sunnah Al-Huda, dinamakan juga dengan sunnah mu`akkadah, bahwa bagi pelakunya diberi pahala sedang yang meninggalkannya tanpa ‘udzur -apalagi secara terus-menerus- BERHAK DICELA, sebagai akibat tindakannya yang menganggap remeh perkara-perkara agama, seperti adzan, iqamah, sunnah-sunnah marwiyyah (yang teriwayatkan dengan hadits yang shahih-pent.), berkumur dan beristinsyaaq (menghirup air ke hidung ketika wudhu), dan lainnya;

2. Sunnah Az-Zawaa`id: akan diberi pahala bagi pelakunya dan orang yang meninggalkannya tidak berhak dicela dan dibenci, seperti adzan untuk orang yang shalat sendirian, bersiwak dan semisalnya.

(sebagian ulama mereka menambahkan yang ketiga)

3. Nafiilah, dan darinya: mandub dan mustahab, hukumnya adalah sebagaimana hukum sunnah az-zawaa`id.

Namun menurut ibnu ‘abidiin dalam Hasyiyah-nya (1/103), bahwa yang kedua dan ketiga; pada hakekatnya sama.

“… Aku mengatakan: Tidak ada perbedaan antara nafiilah dan sunnah az-zawaa`id (sunnah tambahan) dari sisi hukum, karena tidak dibenci meninggalkan salah satunya.”

(sumber penukilan)

Adapun Al-Bazdawiy -dan beliau bermadzhab Hanafiy- dalam Ushul-nya, maka beliau termasuk yang berpendapat dibagi menjadi tiga :

“Sunnah itu ada dua macam: Sunnatul Huda (Sunnah Petunjuk) dan bagi orang yang meninggalkannya BERHAK untuk DICELA dan DIBENCI. Dan Az-Zawaa`id (sunnah tambahan), bagi orang yang meninggalkannya tidak harus dicela. Adapun Nafilah, akan diberi pahala orang yang melakukannya dan tidak diberi sanksi orang yang meninggalkannya…”

(sumber penukilan)

Maka berarti yang meninggalkan sunnah al huda (yaitu sunnah mu’akkadah), maka mengkonsekuensi KEBENCIAN bagi yang meninggalkannya, apalagi bagi yang senantiasa meninggalkannya.

Oleh karenanya mereka membedakan hukum fardhu dan wajib. Adapun fardhu, adalah hukum yang sangat kuat kewajibannya, yang apabila meninggalkannya menyebabkan dosa yang sangat besar [contoh: meninggalkan shalat, zakat, haji, dll]. Adapun perkara wajib, maka sunnah mu’akkadah termasuk didalamnya, yang mana berkonsekuensikan dosa bagi yang meninggalkannya[1. Berbeda dengan jumhuur ulama (maliki, syaafi’iy, dan hanaabilah), yang menyatakan bahwa fardhu dan wajib itu sama; dan sunnah mu’akkadah tidak termasuk wajib.

Meski demikian, dalam hal sunnah mu’akkadah; para ulama hanafiy, maliki, syaafi’iy dan hanaabilah berkata bahwa peninggalan sunnah mu’akkadah adalah sesuatu yang TERCELA.]

Ibnu ‘Abidin telah menukilkan di dalam Hasyiyah-nya (1/104) dari kitab Al-Bahr, bahwa ia mengatakan:

“Yang nampak dari pembicaraan ahli madzhab (hanafi) : bahwa dosa dibebankan dengan meninggalkan yang wajib atau sunnah mu`akkadah menurut pendapat yang benar. Karena penegasan mereka, bahwa orang yang meninggalkan sunnah-sunnah yang ada dalam shalat lima waktu dikatakan tidak berdosa, sedangkan yang benar adalah berdosa.”

(sumber penukilan)

Penyikapan para ulama malikiyyah

Imam al-Qurthubi berkata,

“Barangsiapa yang TERUS MENERUS MENINGGALKAN sunnah-sunnah (rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka ini (menunjukkan) KEKURANGAN (kelemahan/celaan) dalam AGAMAnya.

Apalagi kalau dia meninggalkan sunnah-sunnah tersebut KARENA MEREMEHKAN apalagi KARENA TIDAK MENYUKAINYA, maka ini KEFASIQAN (rusaknya iman), karena adanya ancaman dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang membenci sunnah/petunjukku maka dia bukan termasuk golonganku“

Dulunya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka selalu komitmen melaksanakan sunnah-sunnah (yang bersifat anjuran) seperti komitmen mereka dalam melaksanakan amalan-amalan yang wajib (hukumnya), mereka tidak membeda-bedakan kedua (jenis) amalan tersebut dalam (semangat) meraih pahala (dan keutamaan)nya.

Dan (tujuan) para ulama ahli fikih dalam membedakan (kedua jenis amalan tersebut dalam masalah hukum) karena (berhubungan dengan) konsekwensi yang harus dilakukan, berupa wajibnya mengulangi perbuatan tersebut atau tidak, dan wajib atau tidaknya memberikan hukuman (atau adanya konsekuensi dosa karena) meninggalkannya”

[Perkataan beliau diatas dinukil oleh imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Baari” (3/265); sumber penukilan]

Imam Syathibiy rahimahullah (dan beliau bermadzhab malikiy) berkata:

“Jika sebuah amal bersifat anjuran secara parsial, maka dia wajib secara global seperti adzan di masjid-masjid jami’, shadaqadah, nikah, shalat witir dan shalat rawatib. Maka semuanya memiliki hukum mandub (anjuran) secara parsial. Namun jika ditinggalkan secara keseluruhan (tidak pernah melakukan-nya, maka orang itu TERCELA).”

(al-Muwaffaqat, 1/7980; lihat Dharuratul Ihti-mam, hal. 65; sumber penukilan)

Penyikapan para ulama Syafi’iyyah

Berkata Imam asy Syaafi’iy rahimahullaah:

التَّطَوُّعُ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا صَلَاةُ جَمَاعَةٍ مُؤَكَّدَةٍ فَلَا أُجِيزُ تَرْكَهَا لِمَنْ قَدَرَ عَلَيْهَا وَهِيَ صَلَاةُ الْعِيدَيْنِ وَخُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَصَلَاةُ مُنْفَرِدٍ وَبَعْضُهَا، أَوْكَدُ مِنْ بَعْضٍ فَآكَدُ مِنْ ذَلِكَ الْوِتْرُ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ صَلَاةُ التَّهَجُّدِ، ثُمَّ رَكْعَتَا الْفَجْرِ، قَالَ وَلَا أُرَخِّصُ لِمُسْلِمٍ فِي تَرْكِ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا وَإِنْ، أَوْجَبَهُمَا وَمَنْ تَرَكَ وَاحِدَةً مِنْهُمَا أَسْوَأُ حَالًا مِمَّنْ تَرَكَ جَمِيعَ النَّوَافِلِ

Shalat tathawwu’ ada tata cara pelaksanaan. Pertama shalat yang ditekankan untuk dilaksanakan secara berjama’ah, dan aku TIDAK MEMBOLEHKAN untuk MENINGGALKANNYA bagi siapa yang mampu untuk melaksanakannya. Dan shalat-shalat seperti ini adalah seperti shalat dua ‘iid, shalat gerhana matahari dan bulan, serta shalat istisqaa. Adapun yang selainnya, maka dilaksanakan secara sendirian. Dan yang paling ditekankan disini adalah shalat WITIR, yang mana ini diserupakan dengan (yaitu: termasuk bagian dari) shalat tahajjud, dan yang ditekankan juga adalah DUA RAKA’AT SHALAT SUNNAH FAJAR (qabliyah shubuh). Dan aku TIDAK MEMBERI KERINGANAN bagi seorang muslim untuk MENINGGALKAN salah satu dari keduanya, MESKIPUN AKU TIDAK MEWAJIBKAN kedua shalat tersebut. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari dua shalat tersebut, maka LEBIH BURUK daripada meninggalkan SELURUH SHALAT SUNNAH (selain keduanya).

(di tempat lain beliau berkata)

وَمَنْ تَرَكَ صَلَاةً وَاحِدَةً مِنْهُمَا كَانَ أَسْوَأَ حَالًا مِمَّنْ تَرَكَ جَمِيعَ النَّوَافِلِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari keduanya, maka LEBIH BURUK keadaannya daripada orang yang meninggalkan shalat-shalat sunnah di siang dan malam (selain keduanya).

[al Umm, 1/167 & 1/87; kutip via syamilah online]

Berkata juga Imam Nawawiy dalam raudhah ath thaalibiin:

ومن ترك السنن الراتبة وتسبيحات الركوع والسجود أحيانا، لا ترد شهادته، ومن اعتاد تركها ردت شهادته لتهاونه بالدين، وإشعار هذا بقلة مبالاته بالمهمات

“Barangsiapa yang membiasakan diri meninggalkan sunnah rawatib, dan (bacaan) tasbih ketika ruku’ dan sujud selama hidupnya; maka tidak diterima persaksiannya. Barangsiapa yang terus-menerus meninggalkannya, maka ditolak persaksiannya, karena PEREMEHANNYA terhadap AGAMA, hal ini dikemukakan karena rendah/minimnya kepeduliannya terhadap perkara-perkara yang penting.”

(Raudhah ath Thaalibiin: 11/233)

Berkata pula An-Nawawiy dalam Syarh Shahih Muslim mengomentari hadits Abu Hurairah mengenai pengingkaran ‘Umar terhadap ‘Utsman, ketika ia terlambat berangkat di awal waktu shalat Jum’at dan meninggalkan mandi untuk shalat Jum’at:

“Di dalamnya … terdapat PENGINGKARAN terhadap orang yang MENYELISIHI SUNNAH (dalam artian sunnah mu’akkadah, ed), walaupun (orang yang menyelisihi sunnah tersebut) tinggi kedudukannya.”

[Syarh Shahih Muslim (6/134); sumber penukilan]

Al-Haafizh ibnu hajar berkata di dalam Al-Fath:

“Dan di dalam hadits tersebut ada beberapa faidah…, yaitu pengingkaran seorang imam kepada orang yang meninggalkan keutamaan, walaupun besar kedudukan orang tersebut. Dan menghadapkannya dengan pengingkaran itu, (bertujuan) agar orang lain tercegah dari melakukan perbuatan tersebut.”

(Fathul Baariy 2/360; sumber penukilan)

Selanjutnya Al-Hafizh mengatakan di tengah pembahasan:

“PENGINGKARAN itu TERKADANG ditujukan kepada orang yang MENINGGALKAN SUNNAH (yaitu sunnah nabi yang hukumnya sunnah mu’akkadah)”

(Fathul Baariy 2/210; sumber penukilan)

Penyikapan para ulama yang bermadzhab Hanaabilah

Imam Ahmad berkata :

مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْداً فَهُوَ رَجُلُ سُوءٍ وَلاَ يَنْبَغِيْ أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَتُهُ

Siapa yang sengaja meninggalkan shalat witir, ia adalah orang jelek dan persaksiannya tidak diterima

(Beliau berkata demikian, padahal beliau berpendapat bahwa shalat witir hukumnya sunnah mu’akkadah)

Disebutkan dalam al fushul :

“Terus-menerus meninggalkan sunnah rawatib tersebut tidaklah dibolehkan dan berhujjah dengan perkataan Al-Imam Ahmad mengenai witir, karena dia akan dianggap sebagai orang yang membenci sunnah.”

Imam Ibnu Muflih (dan beliau bermadzhab hanaabilah) dalam al furu’ berkata :

“Bagi orang yang meninggalkan (perkara-perkara sunnah mu’akkadah) sepanjang hidupnya, atau sering (meninggalkannya), maka ia difasikkan (dianggap fasik) karenanya. Demikian pula jika orang itu melanggengkan dalam meninggalkan untuk seluruh sunnah-sunnah rawatib.

Karena dengan terus-menerus meninggalkan sunnah, nantinya akan muncul kebencian terhadap sunnah itu sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku (yaitu golongan orang yang berada di atas petunjukku).” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu)

Dengan meninggalkan sunnah secara terus-menerus akan berakibat melekat padanya tuduhan/anggapan: tidak meyakini perkara itu sebagai sunnah dan jelas hal ini dilarang.”

[Melalui perantaraan Al-Mughniy 2/594; sumber penukilan]

Berkata Syaikhul Islam:

“Shalat witir adalah sunnah mu`akkadah, berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Dan barangsiapa yang TERUS MENERUS MENINGGALKANNYA, maka PERSAKSIANNYA DITOLAK”

Kemudian dia menceritakan perselisihan para ‘ulama tentang wajibnya, ia berkata:

“Akan tetapi sesuai dengan kesepakatan muslimin, bahwa sunnatul witr itu sunnah mu`akkadah dan TIDAK SEPANTASNYA bagi SEORANGPUN untuk meninggalkannya.”

(Majmu’ Fatawa 23/88)

Dan ketika ditanya tentang orang yang tidak membiasakan dirinya melaksanakan sunnah-sunnah rawatib, beliau menjawab:

“Barangsiapa yang bersikukuh untuk terus-menerus meninggalkannya, hal itu menunjukkan KERENDAHAN PEMAHAMAN AGAMAnya dan DITOLAK PERSAKSIANNYA menurut madzhab Ahmad, ASY SYAAFI’IY dan selainnya.”

(Majmu’ Fatawa 23/127)

Dalam hal ini Imam Ibnu Muflih menjelaskan bahwa DIPERBOLEHKAN MENGINGKARI orang yang MENINGGALKAN SUNNAH, dan pengingkaran tersebut terkadang wajib dan terkadang mandub [tergantung peninggalan sunnah tersebut; apakah ia sunnah yang bersifat wajib, atau yang bersifat mandub].

“Pengingkaran akan menjadi wajib, jika kewajiban itu ditinggalkan dan keharaman dikerjakan.

Dan akan menjadi mandub, apabila yang mandub itu ditinggalkan dan yang makruh dilakukan.”

[Dapat disimak dalam Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah beliau]

Penutup

Maka selayaknya seseorang tidak membawa-bawa perkataan “yang sunnah itu dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan tidak berdosa” kemudian memukul rata perkataan diatas pada SELURUH PERMASALAHAN. Buktinya, telah disebutkan dari para ulama madzhab, bahwa mereka MENCELA orang-orang yang meninggalkan sunnah mu’akkadah, bahkan SEMAKIN KERAS CELAAN mereka terhadap yang tidak pernah mengerjakannya.

Jika masih ada yang berkata: “diatas kok cuma perkataan ulama, mana sabda Rasuulullaah?!”, Maka kita jawab: “perkataan ulama diatas, BUKAN MURNI ijtihad mereka; tidakkah kita membaca bahwa perkataan-perkataan mereka diatas juga berdasarkan sabda Rasuulullaah?! Ataukah kita ingin mengetahui langsung sikap Rasuulullaah terhadap yang meninggalkan sunnah mu’akkadah? Baik, maka simaklah sabda beliau berikut.”

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda dengan orang yang tidak bangun dan tidak beribadah diakhir malam,

وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ.

Jika (seseorang) tidak (melakukannya), niscaya di pagi hari ia (akan diberikan) JIWA YANG KHABIITS (BURUK), lagi malas.

(HR Bukhaariy)

Adakah kita ingin diberikan jiwa yang khabiits?! Adakah kita ragu akan hadits diatas? Ataukah telah berkurang keyakinan kita akan hadits diatas (sehingga beramal dengan kebalikan)?!

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai seorang laki-laki yang tidur hingga datang waktu fajar,

ذَاكَ الشَّيْطَانُ بَالَ فِيْ أُذُنِهِ -أَوْ قَالَ-: فِيْ أُذُنَيْهِ.

“Itulah seseorang yang syaitan telah kencing di telinganya -atau beliau bersabda- di kedua telinganya[2. Orang yang paling dibenci di Indonesia adalah KORUPTOR. maka bagaimana jika koruptor KENCING DITELINGANYA? adakah ia murka? ketahuilah SYAITHAN LEBIH JAHAT daripada koruptor!

Setidaknya tanamkanlah perasaan “tidak ingin dikencingi”… Yang mana mungkin karena lemahnya keimanan kita, penyikapan kita terhadap hadits diatas tidak dengan keyakinan yang kuat seperti yang beliau sabdakan.. Allahul musta’aan.]”

(HR Bukhariy, Muslim, dan selainnya)

Bukankah sabda beliau diatas merupakan CELAAN YANG KERAS? terhadap siapa? apakah terhadap orang yang meninggalkan kewajiban? bahkan terhadap orang yang meninggalkan sunnah mu’akkadah!

Maka sebagai AHLUS SUNNAH, hendaknya kita hiasi diri kita dengan sunnah sunnah rasuulullaah. TERLEPAS hukum fiqih sunnah tersebut hanyalah sebatas naafilah, sunnah mu’akkadah, apatah lagi jika berhukum wajib!!

Hendaknya kita meneladani Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu (dan beliau adalah AHLUS SUNNAH PALING TERDEPAN), sebagaimana perkataan beliau :

“Tidaklah aku meninggalkan sesuatu perbuatan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya, melainkan aku selalu melakukannya. Dan sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya, aku akan menyimpang (sesat).”

(Ta’zhiimus Sunnah hal.24; sumber penukilan)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Ahkam, Ibadah, Syubhat & Bantahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s