Diantara adab berkaitan tentang ilmu

Berikut diantara adab yang berkaitan tentang ilmu yang hendaknya kita ketahui dan amalkan :

1. Fatwa itu tugasnya mujtahid. Bukan kita (yang bukan mujtahid)

Apa tugas kita? Tugas kita tinggal BERTANYA. Atau, TINGGAL MERUJUK dan MENGIKUTI tata cara pendalilan dan penghukuman dari para ulama, tentang suatu permasalahan.

Allaah berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka BERTANYALAH kepada AHLI DZIKR (ULAMA) jika kamu tidak mengetahui (permasalahan agama).

[QS al Anbiyaa: 7 & an Nahl: 43]

Allaah berfirman :

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Kalau mereka MENYERAHKAN (URUSAN) kepada Rasul dan Ulil Amri (ULAMA) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)

[QS. an Nisaa: 83]

Terlebih lagi pada permasalahan-permasalahan pelik, atau permasalahan-permasalahn kontemporer yang butuh kedalam ilmu untuk merumuskannya. Maka ini kita SERAHKAN kepada ULAMA. Bukan malah angkat bicara, bukan malah ikut gabung bersorak-sorak memperburuk keadaan, dll !!!

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara”

Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”.

Beliau menjawab,

الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.”

(HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah)

Imam asy Syaafi’iy berkata:

“Tidak halal bagi seorangpun berfatwa dalam agama Allah kecuali orang yang berilmu tentang kitabullah, nasikh mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, ta’wil dan tanzilnya, makki dan madaninya dan apa yang diinginkan darinya.

Kemudian ia mempunyai ilmu yang dalam mengenai hadits Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana ia mengenal Al Qur’an. Mempunyai ilmu yang dalam mengenai bahasa arab, sya’ir-sya’ir arab dan apa yang dibutuhkan untuk memahami al qur’an, dan ia mempunyai sikap inshaf (adil) dan sedikit berbicara. Mempunyai keahlian dalam meyikapi perselisihan para ulama.

Barang siapa yang memiliki sifat-sifat ini, silahkan ia berbicara tentang ilmu dan berfatwa dalam masalah halal dan haram, dan barang siapa TIDAK MEMILIKINYA maka ia HANYA BOLEH BERBICARA TENTANG ILMU (yang diketahuinya) namun TIDAK BOLEH BERFATWA”

(Shahih faqih wal mutafaqqih hal 390; dikutip dari salah satu artikel ustadz badrusalam)

2. Jika sudah tahu dan sadar kapasitas diri, kalau kita bukan mujtahid[1. alhamdulillaah jika kita termasuk akan hal ini, karena betapa banyak kita melihat orang yang tidak tahu diri, atau bahkan lupa diri; apakah karena ketergelinciran atau yang lebih parah karena kepongahan!]… Maka tidak boleh bagi kita untuk memberanikan diri untuk mencari sendiri, dan menghukumi sendiri; sedangkan kita TIDAK MEMILIKI alat serta perangkat untuk melakuan hal tersebut,

Karena memang kita bukanlah seorang yang diketahui dan diakui oleh para ulama kapabel untuk melakukan hal itu! Juga, dengan ini… kita malah hanya akan mengada-adakan kedustaan atas nama agama Allaah!

Kalaupun penghukuman tersebut “KEBETULAN” mencocoki kebenaran, tetap saja kita BERDOSA, karena telah menempuh cara yang salah, dan karena kita telah berkata-kata atas nama Allaah tanpa dasar ilmu!

Benar, taqlid buta itu haram! Tapi BUKAN BERARTI kita melepaskan diri SECARA TOTAL dari mujtahid, dengan beristidlal dan beristinbath sendiri, padahal kita BUKAN seorang yang PANTAS melakukannya!

Allaah berfirman:

وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

dan (Allaah mengharamkanmu) berbicara terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui tentang hal tersebut

(Al-A’raf:33)

Allaah berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”

(An-Nahl: 116).

Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah berkata, “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas radhiallahuanhu. menceritakan tentang seorang laki-laki di zaman . yang terluka pada bagian kepalanya, kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah beritanya kepada Rasulullah ., maka beliau bersabda, yang artinya,

قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ

‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan/memerangi mereka. Bukankah BERTANYA merupakan OBAT KEBODOHAN?”

(Shahih, HR Ibnu Majah dll)

Maka yang dalam kebodohan, tugasnya hanya satu: “bertanya” (atau menuntut ilmu). Bukan malah berkata dan/atau bertindak!

Beliau juga bersabda:

القضاة ثلاثة: قاضيان في النار و قاض في الجنة، فأما القاضيان اللذان في النار فأحدهما: عرف الحق و قضى بخلافه و الثاني: قضى على جهل، و أما القاضي الذي في الجنة: فهو الذي عرف الحق و قضى به

‘Hakim itu ada tiga (tipe), dua orang MASUK NERAKA dan satu orang masuk surga. Adapun dua orang hakim yang masuk neraka, salah seorang di antaranya adalah orang yang mengetahui kebenaran namun memutuskan dengan hal yang menyelisihinya. Kedua, orang yang MEMUTUSKAN HUKUM berdasarkan KEBODOHAN. Tentang hakim yang masuk surga, ia adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menutuskan hukum dengannya’.

(dinilai shahiih al albaaniy dalam shahiih al jaami’)

[Simak lebih lanjut: http://abuzuhriy.com/janganlah-engkau-berkata-tanpa-ilmu/]

3. Kalau sudah tahu suatu permasalahan, tapi hanya sebatas tahu KESIMPULAN HUKUM-nya.Maka ini pengamalan untuk diri kita sendiri.

Bukan malah berdebat kesana-kemari, atau menjadi “cheer leader” sebagai pendukung atau pengingkar, padahal modalnya hanya tahu kesimpulan hukum.

4. Kalau kita sudah mengetahui kesimpulan hukum, disertai istidlalnya DENGAN MENGIKUTI penjelasan para ulama. Maka tugas kita hanya menyampaikan.

– Bukan berarti kita malah berdebat kesana dan kemari kepada orang yang baru tahu “kesimpulan hukum” atau bahkan yang belum tahu kesimpulan hukum… kemudian bertindak otoriter, dengan memaksa orang tersebut untuk mengikuti apa yang kita IKUTI. Padahal mujtahid saja, yang menggali hukum sendiri dengan alat dan perangkat yang dimilikinya. Melarang manusia membeo kepadanya. Lantas siapa kita, yang justru bukan mujtahid, menyerukan bahkan memaksa manusia harus setuju kepada kita?! bahkan kalau mereka belum setuju, serta merta kita katakan bahwa mereka “menolak firman Allaah dan sabda RasulNya”?! Padahal patut dipertanyakan lagi, apakah ketidaksetujuan mereka serta merta melazimkan penolakan mereka terhadap firman Allaah dan sabda RasulNya?!

– Demikian pula, jika seseorang menyelisihi kita, karena mengikuti istidlal dan istinbath yang berbeda, yang juga ternukil dari ulama ahlus sunnah; yang mana pegangannya tersebut diakui oleh para ulama ahlus sunnah akan kehujjahannya, maka apakah kita hendak memaksanya HARUS SEJALAN dan SEPANDANGAN dengan kita? Padahal kitapun HANYA SEBATAS MENGIKUTI istidlal dan istinbath ulama lain sebagaimana dia?! Kalau kita mengajak kepada kebenaran, maka bukankah saudara kita menyelisihi kita karena ingin mengikuti kebenaran?! (simak: http://abuzuhriy.com/meneladani-sikap-para-shahabat-ketika-berselisih-pendapat/)

– Maka bagaimana lagi, jika kita malah mendebat seorang USTADZ apalagi ULAMA; padahal kitapun hanya bermodalkan istidlal dan istinbath yang kita ikuti dari ulama, atau bahkan hanya bermodalkan kesimpulan hukum?!

Ingatlah sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama’ atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka”.

(HR at Tirmidziy)

Dan juga sabda beliau:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“BUKAN TERMASUK UMMATKU… siapaja yang tidak menghormati orang yang besar dari kami; dan tidak merahmati orang yang kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang yang alim dari kami.”

(Dihasankan oleh Syaikh Al Albany dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir)

Semoga kita dianugerahkan Allaah ilmu yang bermanfaat… aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s