Sepatutnya bersedih, sekalipun berudzur

Sekalipun seseorang meninggalkan shalat jumu’at KARENA UDZUR. Seharusnya hal tersebut menjadikannya bersedih hati, karena ia :

– Kehilangan manisnya duduk berdzikir (dalam rangka menunggu khatib), atau bahkan shalat semampunya, hingga khatib datang…

– Kehilangan manisnya mendengarkan kalamullaah dan hadits RasulNya yang dibacakan khatib…

– Kehilangan manisnya shalat dibelakang imam, bersama jamaa’ah kaum muslimiin yang amat banyak…

Bagaimana kita tidak bersedih ketika kita kehilangan itu semua?

Lihatlah bagaimana Allaah mengabarkan kepada kita, sikap salafush shaalih berikut… Dalam firmanNya:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ

dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.

(at Tawbah: 92)

Mereka menangisi keadaan mereka… padahal Allaah telah menjamin udzur mereka… padahal Allaah telah membebaskan dosa dari mereka karena udzur yang ada pada mereka…

Tapi apa yang membuat mereka menangis?

Mereka sedih, mereka menangis… karena mereka tidak dapat beramal; sebagaimana orang-orang yang lain beramal.

Lantas dimanakah kesedihan kita? Dimanakah tangisan kita? Ketika kita melewatkan sesuatu yang besar? meskipun kita berudzur dengannya?


Pelajaran :

– Hendaknya seorang yang terluput karena udzur, menghadirkan hal-hal diatas dalam hatinya.

– Hendaknya yang dapat mengamalkan hal-hal diatas mensyukuri nikmat Allaah atasnya. Berapa banyak kaum muslimiin yang terhalang (karena udzur) yang amat menginginkan untuk dapat mengamalkan apa yang ia amalkan?

– Hendaknya yang dapat mengamalkan hal-hal diatas, tidak ujub apalagi takabbur dengan pengamalannya tersebut. Sungguh… Ujub, apalagi takabbur… dapat menghapuskan pahala sebesar apapun itu… Maka benarlah perkataan para ulama: “penyesalan seseorang terluput dari sebuah amalan lebih baik daripada ujubnya ia dengan apa yang ia amalkan”. karena dengan penyesalan, maka hal itu menghadirkan pahala yang mungkin menyamai atau mungkin melebihi pahala orang yang mengamalkannya. Sebaliknya, seorang yang ujub apalagi takabbur; maka dengan ujub dan takabburnya, hapuslah amalan yang ia ujub/takabburi tersebut (ditambah lagi dengan dosa ujub/takabbur itu sendiri)… sehingga jika dibandingkan, orang yang terluput (dengan penyesalan); justru lebih baik daripada yang hadhir (dengan disertai perasaan ujub dan takabbur). Maka jangan sampai kita menjadi kelompok tersebut.

Semoga bermanfaat

[07 Rabii’uts Tsaaniy 1435 H]

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s