Jika shahiih hadits, maka itulah madzhabku

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan disini:

1. Ini bentuk pengagungan terhadap hadits nabi.

Apabila kita tadinya… tanpa pegangan apapun, atau cuma sebatas berdasar “kata orang”, atau sebatas “perbuatan masyarakat”, dll.

Apabila kita tadinya… Hanya berpegang dengan hujjah yang lemah, atau amat lemah, atau bahkan palsu, atau bahkan tidak ada asal usulnya atau tidak ada landasannya sama sekali…

Kemudian kita telah mengetahui, memahami, dan meyakini kekuatan hujjah ada pada pihak yang bersebragan dengan kita… Maka ketahuilah, bahwa ruju’ adalah jalan kebenaran…

Oleh karenanya, jika kita perhatikan… Para imam madzhab; tidak hanya teriwayatkan satu pendapat saja pada beberapa atau bahkan banyak permasalahan… Bahkan bisa jadi ada dua riwayat, atau bahkan lebih, pendapatnya dalam perkara-perkara tersebut… Sebagaimana kita tahu, imam kita, imam asy syaafi’iy yg memiliki qaul qadiim dan qaul jadiid. Demikian pula kita dapatkan pada tiga imam lainnya yg memiliki banyak riwayat dalam satu permasalahan. Karena perkembangan ilmu yang ada pada mereka, dan bukti kecintaan mereka terhadap kebenaran. Oleh karenanya berkata salah seorang guru kami: “diantara tidak berkembangnya ilmu seseorang, adalah tidak adanya padanya “peralihan” pendapat darinya setelah sekian lama belajar”

2. Akan tetapi jangan menyempitkan perkara ini dalam konteks yg sempit!!!

Karena realitanya, hadits yg berkaitan ttg sebuah permasalahan bukan cuma hanya terpaku pada satu hadits saja, tapi bisa jadi ada beberapa hadits didalamnya yg kesemuanya shahiih tanpa ada perbedaan mereka didalamnya; yg kemudian salafush shaalih berbeda pandangan dalam menyikapi hadits-hadits teraebut (apakah dengan cara menjamak, atau mentarjih, atau mengkompromikan; yg inipun juga sebenarnya merupakan cabang dari perbedaan mereka!)

Bahkan, dalam SATU HADITS yg shahiih pun, para salafush shaalih bisa terbagi menjadi beberapa pemahaman dan sudut pandang. (Contoh: perbedaan para shahabat tentang shalat ashar di bani qurayzhah; dan yg seperti ini sangat banyak permasalahannya!)

Tidak juga ditutup kemungkinan perselisihan ahli hadits tentang penghukuman derajat haditsnya; yg ini merupakan cabang dari perselisihan mereka dalam masalah jarh wa ta’diil. (Tentunya perselisihan yg dimaksud disini adalah perselisihan yg kuat, yg masih teranggap dikalangan ahli hadits).

Maka seseorang yang telah berhukum dengan sebuah hadits (yg diambilnya dari istidlal dan istinbath ulama), kemudian mendapati saudaranya menyalahinya berdasarkan dalil (yg juga diambilnya istidlal dan istimbath dari ulama salafush shaaluh); maka pada hakekatnya, merekalah yg sama-sama mengamalkan “apabila hadits shahih, maka itulah madzhabku”. Jadi jangan sampai yg satu merasa hanya dialah yg mengamalkan perkataan diatas, sedangkan yg lain tidak (tanpa melihat pertimbangan diatas)!!!

Oleh karenanya kita melihat dalam banyak permasalahan, dalam madzhab yang sama, terdapat banyak riwayat dari para a-immah mereka yg saling menyanggah. Ini dari madzhab yg sama! Maka bagaimana lagi jika sudah lintas madzhab?!

Oleh karenanya, imam nawawi, imam ibnu hajar, beberapa kali menyalahi pendapat jumhur syafi’iyyah. Demikian pula dari madzhab lainnya, seperti imam ibnu abdil barr pada madzhab malikiyyah, beberapa kali menyalahi a-immah seperguruannya. Demikian pula imam-imam pada madzhab hanaabilah dan hanafiyyah.

Terus berlanjut, hingga kita dapati pada masa sekarang. Murid-murid syaikh ibn baz, tidak selalu satu kata dengan beliau dalam setiap permasalahan. Demikian pula murid-murid syaikh ibnul utsaimiin, juga murid-murid syaikh al albaaniy.

Ini semua karena apa? Karena pengagungan mereka terhadap kebenaran, dan kecintaan mereka terhadapnya melebihi kecintaan mereka terhadap guru-guru mereka, melebihi orang-orang yang mereka tokohkan; tanpa mengurangi rasa hormat dan cinta kepada mereka.

Maka jangan katakan: “ah imam nawawi itu tidak ada apa-apanya dengan imam syafi’iy… Mana bisa pendapatnya an nawawi hendak disejajarkan dengan asy syafi’iy, sang imam madzhab!?”

Bukan demikian. Tapi ia menyalahinya berdasarkan ilmu, dengan menempuh jalan yang benar, dan karena kecintaannya terhadap kebenaran.

Dan inilah realitas yang ada ditengah-tengah kita… Ketika “orang/tokoh” lebih diangkat daripada “permasalahannya”. Dan ketika “Laqab” lebih patut diangkat-angkat, daripada “pembahasan”nya. Dan ini berlaku pada umumnya kita, baik yang melabeli dirinya “udah ngaji” maupun yg dilabelinya “belum ngaji”.

Maka jika imam asy syafi’iy, ahmad, abu hanifa, dan malik diselisihi dengan kebenaran, dan menempuh jalan yang benar; bukan merupakan celaan. maka tentu, menyalahi syaikh ibn baz, atau syaikh ibnul utsaimiin atau syaikh al albaaniy dengan kebenaran, dan menempuh jalan yang benar; lebih bukan merupakan celaan !!!

Sebagaimana dalam kitab sifat shalat nabi, al albaaniy menyerukan untuk tidak taqlid buta kepada imam yang empat; maka inipun secara tidak langsung berlaku pula bagi beliau.

Kitab beliau, maa syaa-a LLaah, didalamnya banyak benarnya… Namun kitab beliau bukanlah kitabullaah. Yang tidak boleh seorangpun menyalahinya sedikitpun. Sebagaimana kita imam-imam sebelum beliau!

Maka jangan sampai kita berlepas diri dari ta’ashshub imam yg empat, tapi malah berpaling kepada ta’ashshub jenis lainnya!

Sebagaimana kita maklumi hal diatas, apa tidak lebih pantas kita memaklumi jika kita dapati saudara kita telah menempuh jalan yang sama, tapi berujung kepada kesimpulan yg berbeda, sebagaimana salafush shaalih berbeda; maka kita mencintainya karena kecintaanya kepada kebenaran dan usahanya untuk menuju kesana.

3. Juga, yg patut ditekankan disini. Yaitu patutnya kesadaran atas posisi kita, sebagai awwam (yg bukan ulama, apalagi mujtahid)…

Maka kita hanya menukil istidlal dan istinbath dari para ulama. Bukan malah beristidlal dan beristinbath sendiri layaknya ulama! (yg akhirnya malah nyeleneh sendiri)!

Bahkan… Kalaupun memang masih amat sangat minim pengetahuan kita, maka jika kita mencukupkan untuk mempelajari satu kitab dari ulama yg kita percayai, dengan mengambil pendapatnya dan mengamalkannya; maka ini tidaklah terlarang, karena hanya itu kapasitas kita… Dan Allaah tidak membebani kita melebihi kemampuan kita, dan Allaah memang memerintahkan kita untuk bertanya kepada ulama…

(Tentunya dalam proses ini, jangan sampai kita menerapkan hal yang sama pada orang lain, yg mungkin mereka sudah sangat jauh diatas kita! Yang dengan serampangannya kita katakan dia menyalahi kebenaran karena mengikuti hawa nafsu. Padahal kita mengatakan demikian, karena dia semata-mata tidak sejalan/sependapat dengan kita)

Maka jika kita demikian, maka orang lain yg kapasitasnya masih demikian pun harusnya kita maklumi (sebagaimana dahulu [atau sekarang ini] kita demikian)…

Jangan sampai kita menyuruhnya dengan sesuatu yg kita sendiri belum mampu; jangan sampai kita malah menyuruhnya dengan sesuatu yg tidak sesuai dengan kemampuannya.

Akhirnya apa?

Kita menyuruhnya untuk beristidlal dan istinbath sendiri padahal dia belum mampu untuk merujuk langsung kepada kitab-kitab ulama, bahkan belum memiliki sedikitpun pembendaharaan dari ilmu ilmu alat??!!

Jadinya apa?

Jadinya, Ia malah memberanikah diri beristidlal dengan sesuatu yg tidak pernah sekalipun ada seorang ulamaa pun yg beristidlal dengannya. Akhirnya, ia pun mengistinbathkan suatu hukum yg ia tidak memiliki pendahulunya sedikitpun. Dan ia menyangka sedang mengamalkan ucapan diatas. Maka alangkah parahnya musibah ini!!!

Maka cara seperti ini BUKANLAH manhaj salaf dalam menyikapi permasalahan.

Bukanlah jalan salaf… Jika ada dua kalam salaf, kemudian membuat kalam ketiga!!!

Sesungguhnya jalan keselamatan itu… dengan menempuh jalan mereka, bukannya membuat jalan sendiri.

Bukanlah jalan salaf… Yang jika belum ada pembahasan dari pendahulunya, lantas ia berani-beraninya menerjunkan dirinya dan berbicara pada hal tersebut…

Sesungguhnya jalan keselamatan itu… dengan mengutamakan alim ulama dan orang-orang besar kita, bukannya kita yang jahil lagi shaghir malah ikut campur, berbicara dan bertindak didalamnya!

Tugas kita adalah mengenal dan mempelajari jalan-jalan mereka, kemudian mengikuti yg paling kuat hujjahnya dan paling benar sudut pandangnya.

Maka luruskanlah jalan kita sejak dini… Mantapkan thariqah fiqh yg hendak kita dalami… Tempuhlah jalan tersebut dengan mencari majelis para ulama dan asaatidzah yg membahasnya, sebelum masuk kepada jalan yang lebih jauh (sekelas perbandingan madzhab), agar kita lebih ‘rapi’ dan ‘konsisten’ dalam pendekatan kita terhadap permasalahan seperti ini [simaklah nasehat bermanfaat berikut: https://www.facebook.com/notes/rizky-tulus/nasehat-terbuka/260834084082940%5D…

Pertanyaan besar:

“Lantas bagaimana kita hendak menempuhnya jika minim atau bahkan tanpa perbekalan yang teramat pentinh? Yaitu bahasa arab?!

Bagaimanakah kita hendak menempuh perjalanan yang amat jauh, dalam, melelahkan tapi amat mulia; tapi tanpa perbekalan sedikitpun?

Bagaimanakah kita, jika sudah terlajur berjalan; sedangkan kita tanpa alat tanpa pembimbing?

Maka kembalilah kepada jalan yang benar, tempuhlah cara yang benar… Raihlah orang sekitar yang ahli, yg dapat kita raih untuk meluruskan jalan kita… Mintalah bantuan mereka, agar kita dapat membekali diri kita, dan agar kita dapat melanjutkan safar kita dengan benar…

Alangkah kita amat tergesa-gesa dalam berkata dan berbuat…

Alangkah kita, amat jauh dari klaim yg kita bangga-banggakan… Karena kita tidak menyadari, karena kita masih amat minim pengetahuannya, dan masih sangat jauh dengan para pendahulu kita yang shaalih.

Yang dengan itu kita… tergesa-gesa, ujub, serta takabbur… dengan sedikit yg kita punya…

Sedangkan mereka… para pendahulu kita yg shaalih; amat tenang, berhati-hati, serta tawadhu’ dengan luasnya ilmu dan wawasan mereka…

Alangkah jauhnya kita dari mereka… (Yg mungkin sebagian kita merasa sudah seperti mereka atau mendekati mereka, padahal sejatinya ia amat sangat jauh dari mereka)

Kita memohon kepada Allaah taufiqNya… Aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s