Perangai Kemunafikan: Bedanya Lisan dan Hati

Berkata para ulama:

إن من النفاق اختلاف اللسان والقلب

Sesungguhnya termasuk (perangai) kemunafikan itu adalah bedanya lisan dengan hati.


Awal kemunafikan munaafiqiin adalah ketika mereka mengucapkan syahadat, sedangkan hati mereka mengingkari apa yang mereka syahadatkan.

Akhirnya apa?

Maka amalan mereka, menyalahi ucapan lisan mereka. Mereka bersyahadat, tapi apa yang mereka amalkan sangat bertentangan dengan apa yang mereka syahadatkan.

Demikian pula kita, jika kita mengucap sesuatu yang tidak ada dalam hati kita, maka kelak amalan kita, akan menyelisihi apa yang dahulu kita ucapkan tersebut…

Maka lihatlah diri kita… lihatlah nasehat[1. Syahadat dan Nasehat diatas merupakan contoh amalan lisan, tapi tidak terbatas ini.

Contoh amalan lisan lain, seperti:

– Berdoa & Berdzikir, termasuk didalamnya membaca al Qur-aan, jika tidak dilakukan dari hati (yaitu ikhlaash karena Allaah semata), maka tidak akan bermanfaat bagi hati kita, demikian pula anggota badan.

Dan hal ini berlaku pula pada amalan-amalan lain, selain amalan lisan (yaitu amalan anggota badan)…

– Shalat, baik wajib maupun sunnah; jika tidak dilakukan dari hati, maka shalat tersebut tidak akan memberikan manfaat kepada kita.

– Infaq, baik zakat maupun shadaqah; jika tidak dilakukan dari hati, maka sedekah tersebut tidak akan memberi manfaat kepada kita.

– Demikian pula jihaad, haji, menuntut ilmu, dzikir, bacaan qur-aan, dan amalan-amalan lainnya.

Apa yang datang dari hati, maka akan kembali padanya… Yang dengannya akan memberi manfaat pada hati kita dan anggota badan kita. Sebagaimana ia menambah keimanan, maka dengan bertambahnya keimanan kita, akan menambahkan amalan shalih yang mengiringi setelahnya.] yang kita sampaikan kepada orang lain… Jika nasehat kita keluar dari hati, maka kitalah orang pertama yang mengambil dan mengamalkan nasehat tersebut (sebelum orang lain)… Adapun jika tidak keluar dari hati, maka hanya orang lain yang akan mengambil manfaatnya, sedangkan diri kita sendiri tidak. Ujung-ujungnya kelak, perbuatan-perbuatan kita akan menyalahi apa yang dikatakan lisan-lisan kita.

Darimana salahnya? salahnya dari awal. Ketika apa yang kita ucapkan itu tidak keluar dari hati dan tidak diterima hati kita. Jika hati kita tidak bisa menerima apa yang kita ucapkan, bagaimana kita hendak mengharapkan anggota badan kita menerimanya? Sedangkan hatilah penggerak anggota badan? Jika diri kita sendiri tidak menerima apa yang kita katakan, bagaimana kita mengharapkan orang lain menerima apa yang kita katakan?

Maka semoga nasehat kita keluar dari hati kita… Maka ia akan kembali lagi kepadanya yang dengannya akan memberikan manfaat pada hati kita dan anggota badan kita. Tidak cuma diri kita, tapi juga kepada orang lain.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s