Tidak terwujudkan, kecuali didahului kecintaan terhadap Allah

Seseorang tidaklah mungkin mencintai sesuatu/seseorang KarenaNya, kecuali sebelumnya ia mencintaiNya terlebih dahulu[1. Hal ini menjadi tamparan yang amat keras, bagi kita… Jika kita mengaku-ngaku mencintaiNya, tapi malah terus-menurus menempuh jalan yang tidak diridhaiNya.

Dan bagaimana bisa kita “mencintai karenaNya” jika kita TIDAK MEMILIKI ILMU, bahwa hal tersebut dicintaiNya?! (lantas jika tanpa ilmu, atas dasar apa kita mengetahui bahwa Dia mencintai hal tersebut?!)

Dan bagaimana bisa kita “mencintai karenaNya” jika hawa nafsu adalah sesuatu yang lebih kita cintai dariNya?

Maka hendaknya kita mengintorspeksi hati dan perkataan kita, apakah keduanya telah benar-benar sejalan, dan memang benar adanya!

Akan tetapi… Jika TELAH BENAR/JUJUR kecintaan kita kepadaNya, sehingga kita mencintai seseorang/sesuatu karenaNya (dengan benar/jujur)… Maka semoga kita termasuk golongan yang dicintaiNya…

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ

Orang yang saling mencintai karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku

وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْْمُتَوَاصِلِين فِيَّ

orang yang saling menyambung kekerabatannya karena-Ku pasti diberikan cintaKu

وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ

dan orang yang saling menasehati karena-Ku pasti diberikan cintaKu

وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ ;

serta orang yang saling berkorban karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku.

الْمُتَحَابُّوْنَ فِيَّ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّوْنَ وَ الصِّدِّيْقُوْنَ وَ الشُّهَدَاءُ .

Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku (nanti di akherat) berada di mimbar-mimbar dari cahaya. Para Nabi, shiddiqin dan orang-orang yang mati syahid merasa iri dengan kedudukan mereka ini.”

(Riwayat imam Ahmad dalam kitab al-Musnad dan dishahihkan al-Albani dalam kitab Shahih Jami’ ash-Shaghir no. 4198)

Maka sungguh, permasalahannya yang sebenarnya bukanlah “kita mencintaiNya” (meskipun ini sebuah keutamaan, dan langkah awal; karena banyaknya manusia yang lebih mencintai selainNya daripadaNya); tapi hendaknya kita benar-benar mengusahakan dalam diri kita, agar kita dicintaiNya. Semoga kita termasuk orang-orang yang dicintaiNya, aamiin.]

Karena mencintai “karenaNya”, maknanya ia mencintai sesuatu/seseorang, karena kesesuaian sesuatu/seseorang tersebut terhadap apa-apa yang dicintai Allaah. Dan ini tidak terwujudkan, kecuali didahului kecintaannya kepadaNya dan apa-apa yang dicintaiNya.

Hal ini sebagaimana disebutkan Allaah, dalam firmanNya:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan

(al hujuraat: 7)

Sehingga ketika seseorang cinta kepada keimanan, maka ia akan berusaha mendekatkan dirinya kepada keimanan, dan akan mencintai orang-orang beriman (semakin besar keimanan yang nampak dalam diri seseorang, maka ia semakin mencintainya karena keimanan tersebut, karena Allah mencintai keimanan dan karena Allaah mencintai orang-orang beriman).

Sebagaimana yang dikatakan ‘Umar ibnul Khaththaab radhiyallaahu ‘anhu:

مَنْ أَظْهَرَ مِنْكُمْ خَيْرًا ظَنَنَّا بِهِ خَيْرًا وَأَحْبَبْنَاهُ عَلَيْهِ

Barangsiapa diantara kalian yang zhahirnya tampak baik, maka kami menganggapnya orang baik, dan kami mencintainya

Sehingga seseorang yang dijadikan Allaah benci kepada kekufuran, kefasiqan dan kedurhakaan; maka dia benci jika dirinya jatuh kedalam kekufuran, kefasiqan dan kedurhakaan; sehingga dia menjauhkan dirinya darinya, dan dia pun benci melihat orang-orang yang mengamalkan kekufuran, kefasiqan dan kedurhakaan.

Sebagaimana disebutkan Rasuulullaah dalam hadits diriwayatkan oleh al bukhaariy:

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dan dia BENCI (dirinya) kembali kepada KEKUFURAN seperti dia BENCI (dirinya) bila DILEMPAR KE NERAKA

Juga sebagaimana perkataan ‘umar ibnul khaththaab radhiyallaahu ‘anhu:

وَمَنْ أَظْهَرَ مِنْكُمْ لَنَا شَرًّا ظَنَنَّا بِهِ شَرًّا وَأَبْغَضْنَاهُ عَلَيْهِ

dan barangsiapa diantara kalian yang zhahirnya tampak jahat, maka kami menganggapnya orang jahat, dan kami akan membencinya

Dengan “kepentingan” iimaan, inilah, bersatulah sesama orang-orang beriman dan bersaudaralah mereka meski mereka tidak sedarah-daging, meski mereka berbeda suku, dll; sebagaimana Allaah berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu -karena nikmat Allah-, orang-orang yang bersaudara

(aali `imraan: 103)

Dengan “kepentingan” iiman, inlah pula, terpecahlah orang-orang beriman dan orang-orang kaafir. Sebagaimana disebutkanNya:

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ

Kamu TIDAK AKAN MENDAPATI KAUM yang BERIMAN pada ALLAAH dan HARI AAKHIRAT, saling BERKASIH-SAYANG dengan orang-orang yang MENENTANG ALLAAH dan RASUL-Nya, SEKALIPUN orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK, atau SAUDARA-SAUDARA (kandung/sedarah-daging) ataupun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah MENANAMKAN KEIMANAN dalam HATI MEREKA… (dst)

[Al Mujaadilah: 58]

Bahkan dua orang mukmin, yang tadinya saling mencintai karena Allaah, tidaklah akan terpisah, kecuali karena kemaksiatan salah seorang keduanya. Sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

وَمَا تَوَادَّ رَجُلاَنِ فِي اللهِ ، فَتَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِحَدَثٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا ، وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ ، وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ ، وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ

“Tidaklah ada dua orang yang saling mencintai karena Allah lalu berpisah (berselisih) di antara keduanya kecuali dikarenakan suatu ucapan yang diada-adakan salah satunya. Pengada-ada itu jelek, pengada-ada itu jelek, pengada-ada itu jelek.”

(HR Ahmad; dikatakan Ibnu Muflih, ‘sanadnya jayyid’)

Tidak dapat tidak, seseorang yang sudah mulai condong kepada kekufuran/kefasiqan/kedurhakaan, maka ia akan menjauhi orang-orang yang tidak sejalan dengan kecondongannya, atau, dialah yang akan ditinggalkan.

Inilah yang sebagaimana Rasuulullaah sabdakan:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ ، مَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang kompak dan tersusun rapi. Beberapa ruh yan merasa cocok akan terjali erat dan ruh yang tidak cocok satu sama lain akan saling menjauhi”

(HR al Bukhaariy, Muslim, dll)

Dan ingat, orang-orang yang kompak dan bersatu diatas selain dari apa yang Allaah ridhai, maka itu hanyalah fatamorgana duniawi. Kelak di aakhirat, mereka akan saling membenci, saling mencela dan saling melaknat; sebagaimana Allaah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.

(az zukhruf: 67)

Maka kita memohonkan kepada Allaah, agar Dia menanamkan dalam hati kita kecintaan terhadap keimanan, dan menjadikan hal tersebut indah dihati kita; dan menjadikan hati kita benci kepada kekufuran, kemaksiatan, serta kedurhakaan.

– Sehingga kita menjadi orang yang menghiasi diri kita dengan apa yang kita cintai tersebut,

– Sehingga kita -dengn kecintaan tersebut- mencintai serta bersama dengan orang-orang yang jujur kecintaannya kepadaNya, di dunia dan di aakhirat kelak.

– Sehingga kita menjauhkan diri kita dengan apa yang kita benci tersbut

– Sehingga kita tidak bersama orang-orang yang mendurhakainya, baik di dunia, apalagi di aakhirat kelak.

Aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s