Tipuan syaithan agar aib terumbar

1. Syaithan membisikkan (terkait dengan dosa/maksiat)

“Kamu ini berbuat maksiat kok diam-diam, bahkan yang ditampakkan dihadapan publik yang baik-baik. Nggak usah ‘munafiq’ lah, tampakkin juga tuh yang jelek-jelek sekalian.”

Maka dia menceritakan kejelekannya, dan dia menampakkan kejelekannya.

Padahal Rasuulullaah bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku AKAN DIAMPUNI, KECUALI mujaahiriin (orang-orang yang menampakkan aibnya). Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.

(HR. Bukhaariy, Muslim dan selainnya )

2. Syaithan membisikkan (terkait dengan perbuatan makruuh, atau berlebih-lebihan dalam perkara mubah; yang mana kedua hal ini adalah AIB yang HENDAKNYA DITUTUP!)

“Ah, perbuatanmu itu bukan dosa kok. Makruh doang. Ngapain disembunyiin?!” (ini tipuannya terhadap perkara makruuh)

“Ah, yang kamu lakukan ini kan mubah-mubah saja; kenapa malu melakukannya sering-sering? kan mubah!” (padahal berlebihan dalam mubah itu hukumnya MAKRUH!)

Sehingga dengan dua tipuan tersebut: ia menampakkan kepada khalayak ramai sikap berlebih-lebihannya dalam hal mubah, dan/atau pengamalannya terhadap perkara-perkara makruuh!

Padahal Rasuulullaah bersabda:

إن الله تعالى يحب معالي الأمور ، وأشرافها ، ويكره سفاسفها

Sesungguhnya Allah mencintai segala sesuatu yang luhur dan bernilai serta membenci segala sesuatu yang rendah.

[HR ath thabraaniy; dinilai shahiih al albaaniy]

dan beliau bersabda:

مِنْ حُسْنِ إسْلامِ المَرءِ تَرْكُهُ ما لا يَعْنِيهِ

Termasuk kebaikan islaam seseorang adalah MENINGGALKAN apa yang TIDAK BERMANFA’AT (untuk aakhiratnya).

(Shahiih; HR Tirmidziy)

Maka ketika kita MENGERJAKAN perkara yang tidak bermanfa’at untuk aakhirat kita. Maka ini AIB. Yang hendaknya kita TUTUPI, bukan malah ditampakkan bahkan DENGAN BANGGA ditampakkan!

Kalau memang kita terjatuh, atau bahkan SERING TERJATUH dalam perkara kedua ini. Maka ini kesalahan. Maka JANGAN TAMBAH KESALAHAN ini dengan men-syi’ar-kan hal tersebut kepada khalayak ramai, sehingga menjatuhkan kehormatan kita!

Terlebih lagi jika seseorang itu adalah seorang ahli ibadah, apalagi seorang yang dikenal ‘aktifis’ yang suka menyampaikan ilmu!

Maka apa yang dilakukannya ini, akan menimbulkan persepsi buruk terhadap orang-orang terhadap ilmu dan ibadah itu sendiri!

Orang-orang akan berkata:

– “Orang yang sibuk dengan ilmu itu begitu kok, maka saya yang jauh dari ilmu sah-sah aja dong!”

– “Orang yang sibuk dengan ibadah itu begitu kok, maka saya yang jauh dari ibadah, sah-sah aja dong!”

Lihatlah… akibat sikap kita dihadapan khalayak ramai tersebut, dapat menjadikan orang-orang MEREMEHKAN PERKARA MAKRUUH, atau MELEGALKAN SIKAP MELAMPAUI BATAS terhadap hal-hal yang mubah (padahal sikap seperti ini makruuh!)

Hendaknya kita rajin-rajin berdoa (serta mengambil pelajaran) dengan doa Rasuulullaah berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَإِسْرَافِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي

ALLAHUMMA IGHFIR LII MAA QODDAMTU WA MAA AKHKHORTU WA MAA ASRORTU WA MAA A’LANTU WA ISROOFI WA MAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII

Ya Allah ampunilah dosa-dosaku yang telah lampau dan dosa-dosaku yang akan datang, dan dosa-dosa yang tersembunyi serta dosa-dosa yang NAMPAK dan ampunilah (sikap) BERLEBIH-LEBIHANKU, dan tidaklah Engkau melainkan lebih tahu akan semua itu dari pada diriku…

(Shahiih, HR Ahmad, an Nasaa-iy, dll; dishahiihkan syaikh al Albaaniy)

Pelajarilah maknanya… Kemudian sering-seringlah membacanya, dengan menghadirkan makna yang sudah kita pelajari darinya!

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s