Jangan tiru cara dakwah orang kafir

Tahukah anda cara dakwah kaum nashara kepada kaum pagan (ketika kaum pagan mayoritas)?

Mereka melakukan ‘pendekatan’ kepada kaum pagan dengan mentoleransi kebiasaan-kebiasaan jahiliyyah mereka, bahkan sampai mentoleransi peribadatan-peribadatan mereka.

Contoh paling nyata dari dakwah mereka, yang kita dapat lihat hingga saat ini adalah sebagian penamaan dari nama-nama bulan dari kalendernya mereka (masehi), ; mereka ambil dari nama-nama DEWA dan RITUAL kaum pagan. (dewa janus, dewi aphrillia, dewi maia, dewa juno, serta ritual februa)[1. Maka alangkah mengherankan jika kita masih saja MEMPRIORITASKAN penanggalan nasrani ini diatas penanggalan islaam! Simaklah: http://abuzuhriy.com/menjadikan-kalender-masehi-sebagai-rujukan-utama/]… Belum lagi kebathilan dan kemungkaran lainnya, yang mereka halalkan dan mereka serap kedalam agama mereka; agar orang-orang mau mengubah identitasnya menjadi seperti identitas mereka.

Mereka korbankan agama mereka, dengan bersifat toleran, bahkan menghalalkan bahkan memasukkan berbagai macam kebathilan kedalam agama mereka (sehingga agamanya yang murni berubah); untuk dua tujuan, “perubahan identitas, dan banyaknya pengikut”… yang penting kaum pagan beridentitas ‘nashrani’ (tanpa mempedulikan keyakinan, dan pengamalan paganisme yang tetap mendarah-daging). dan yang penting orang-orang yang beridentitas nashrani ‘banyak’ jumlahnya.

Maka cara yang dilakukan nashara ini, BUKANLAH YANG DITUNTUNKAN dalam Islaam.

Sangat JAUH BERBEDA, antara:

– Bersikap lemah lembut, tutur kata yang baik, dalam pengingkaran pada kemugnkaran, dan pengajakan terhadap hal ma’ruf. Serta sikap memaafkan sikap arogan (karena ketidaktahuan); DENGAN TETAP mempertahankan prinsip, dan dengan penuh kesabaran menjelaskan kebenaran tersebut pada obyek yang didakwahi (tanpa kenal lelah, tanpa henti-hentinya, tanpa berputus asa dari rahmat Allaah terhadap obyek dakwah)

DENGAN

– Diam terhadap segala kebathilan; bahkan mentoleransi, ikut-ikutan, bahkan menghalalkan terhadap kebathilan; agar pelaku kebathilan tersebut ‘secara zhahir’ mau beridentitas seperti identitasnyaa; yang dengan hal tersebut, ia melempar agamanya dibelakang punggungnya.

al Qurthubiy berkata:

“MUDARAH (istilah contoh pertama, diatas) adalah mengorbankan dunia untuk kemaslahatan yang berkaitan dengan dunia, agama, atau keduanya. Hal ini hukumnya adalah mubah dan bisa jadi mustahab. Adapun MUDAHANAH (istilah contoh kedua) adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia.

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah mengorbankan perkara dunianya, yaitu menggauli orang tersebut dengan baik dan lemah lembut tatkala berbicara dengannya.

Meskipun demikian beliau tidak memuji pria tersebut dengan satu perkataan pun. Maka sikap beliau (yang lemah lembut) tidaklah membatalkan celaan beliau terhadap orang itu”.

[Fat-hul Bari (X/454); kutip dari ustadz firanda]

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, dakwah, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s