Dudukkanlah secara benar persoalan teoritis dan praktis

Misalkan seseorang tau’nya (baik dengan taqlid, atau dengan penelahaan) bahwa berbekam itu membatalkan wudhu…. Maka tidak bisa ia secara sembrono, menerapkan konsekuensi pendapatnya tersebut pada orang lain (yang memiliki pandangan berbeda dengannya, baik itu dengan taqlid; apalagi penelahaan) !

Sehingga ia katakan:

“Engkau tadi berbekam, maka wudhu’mu batal; jika engkau tidak berwudhu’ lagi sebelum shalat, maka engkau sama saja shalat tanpa wudhu. Jika demikian, maka shalatmu tidak sah. Jika demikian, aku tidak akan bermakmum denganmu karena shalatmu tidak sah. Dan jika demikian maka engkau telah beramal dengan kefasiqan, karena sengaja shalat dalam keadaan tidak berwudhu, dan jika demikian, maka engkau ini seorang yang fasiq!”

Lihatlah bagaimana kecacatan orang diatas ini dalam mendudukkan perkara teoritis dalam ranah praktis.

Ia taqlid kepada ulama yang menyatakan batalnya wudhu. Tidak ada masalah dalam hal ini (terlebih lagi jika ia mengikuti berdasarkan kandungan dalilnya), karena memang seorang awam [bukan ulama] tugasnya adalah bertanya dan/atau merujuk pada ulama. Tapi yang menjadi masalah adalah dia menerapkan konsekuensi madzhabnya pada orang lain (sesama muqallid; baik itu yang hanya tahu kesimpulan akhir, terlebih lagi yang beramal berdasarkan kandungan dalil)! Ia menyangka bahwa fatwa yang ia ikuti tersebut wajib ia terapkan konsekuensinya pada orang lain! Sungguh ini kekeliruan yang amat nyata!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan menilai tidak sahnya shalat seseorang berdasarkan sudut pandang yang dianutnya; tanpa mempedulikan konteks global tentang permaslaahan tersebut!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan dalam bersikap terhadap orang lain, karena konsekuensi dari dua hal sebelumnya; yaitu tidak mau bermakmum padanya dengan mengambil pelaziman dari konsekuensi sudut pandangnya!

Tidak hanya sampai disitu, secara tanpa ilmu ia serampangan dalam memvonis saudaranya “sengaja shalat tanpa wudhu” hanya berdasarkan sudut pandang yang ia anut! Mungkin ia akan membawa dalil “ancaman bagi orang yang sengaja shalat tanpa berwudhu”! Padahal permasalahannya bukan disitu! Permaslaahannya adalah “apakah berbekam itu membatalkan wudhu atau tidak?” !!! Jadi tidak bisa disamakan dua hal ini! Adapun seorang yang buang air, dan ia ingat ia telah buang air, lantas ia sengaja shalat tanpa berwudhu lagi; maka inilah yang dimaksudkan. Adapun dalam permasalahan ini, yang mana ulama berbeda pandangan; tidak bisa secara sembrono kita terapkan sudut pandang yang ada dalam diri kita kepada orang lain!

Tidak hanya sampai disitu, (dan ini adalah rentetan dari point sebelumnya), ia vonis saudaranya tersebut dengan vonis kefasiqan, karena menyangka saudaranya ini termasuk orang-orang yang “sengaja shalat, tanpa didahului wudhu” (karena kesalahpahaman sebelumnnya)! Sudah salah disitu, jatuh lagi ia dalam kesalahan lain dengan memvonis fasiq saudaranya BERDASARKAN SUDUT PANDANG YANG IA ANUT! Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Apakah demikian para ulama dalam kondisi praktis?

Coba pelajari, dua kisah berikut:

1. Pernah khalifah Harun ar Rasyid berbekam, kemudian beliau shalat tanpa berwudhu. Tahukah kita? Bahwa Imam Abu Yusuf al Hanafiy tetap shalat dibekalangnya? Padahal beliau berpendapat “bekam membatalkan wudhu”? Apakah beliau menerapkan kaidah pelaziman diatas?

2. Imam Ahmad (yang mana beliau berpendapat bekam itu membatalkan wudhu) ditanya: “Bolehkan bermakmum kepada seseorang yang berbekam, kemudian ia shalat, tanpa berwudhu kembali?” Apa jawab imam ahmad? Beliau menjawab: “Bagaimana saya tidak shalat dibelakang MALIK bin anas dan SA’ID ibnul Musayyib?!”

Lihat… Imam Ahmad ini TIDAK DITANYA tentang bermakmum pada imam malik dan imam ibnul musayyib… Tapi ditanya “orang umum” yang berpendapat dan beramal dengan pendapatnya imam malik dan imam ibnul musayyib…. Tapi apa jawab beliau? “Bagaimana saya tidak shalat dibelakang imam malik dan imam ibnul musayyib?!”

Disinilah kefaqihan imam ahmad… Amalan muqallid itu cerminan dari Fatwa Mujtahid yang diikutinya…

Jika kita menolak bermakmum dibelakang muqallid yang mengikuti ijtihad ulamanya; maka ini sama saja kita menolak bermakmum dibelakang mujtahid yang memberikan fatwa padanya!

Jika kita melaqabkan dengan laqab-laqab buruk terhadap muqallid tersebut, maka sama saja kita melaqabkan hal yang sama pada mujtahid yang ia ikuti!

Maka sebagaimana hal ini berlaku pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Jika mujtahid diberi udzur, maka tentunya muqallid lebih pantas diberi udzur!

Kalau mujtahid disatu sisi kita pandang salah, tapi disisi lain kita sadar bahwa dia telah menempuh jalur yang benar, dan dikenal kecintaannya terhadap kebenaran; kemudian dengannya kita memberi udzur. Maka hal yang sama tentunya lebih berhak kita perlakukan kepada para pengikut mujtahid yang juga berkondisikan serupa! Maka tentu lebih ditekankan uduzr bagi muqallid yang tanpa bekgron agama sama sekali, yang bertanya pada mujtahid; kemudian ia mendapatkan kesimpulan akhir penghukuman!

Maka sebagaimana hal ini berlaku pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Ingat, Imam ahmad dalam teoritisnya, bersikap tegas: “Batal wudhu’ seseorang, apabila ia berbekam”. Tapi lihatlah dalam tataran praktisnya! Apa yang beliau contohkan kepada kita adalah: “Tidak mengapa shalat dibelakang imam yang berpendapat tidak batal wudhu setelah berbekam; kemudian ia mengamalkan pendapatnya (yaitu kita tidak menerapkan konsekuensi pendapat kita padanya!)”

Jadi jangan pakai kaidah “pelaziman” seperti diatas! Bahkan kaidah seperti ini kaidah yang rusak sekali! Maka sebagaimana tidak diterapkan kaidah ‘pelaziman’ pada permasalahan ini, maka inipun berlaku pada permasahan-permasalahan FIQIHIYYAH yang lain YANG SANGAT BANYAK!

Memetik pelajaran darinya…

Kembali kita ingatkan dua hal!

1. Dalam tataran teoritis. Silahkan bersikap tegas dan lugas. Silahkan anda berkata (dengan berdasar ilmu) tantang apa yang kita pandang benar -dari berbagai sudut pandang yang ada-, bahwa inilah kebenaran… Menguatkan apa yang dipandang kuat, dengan penjelasan… Dan melemahkan apa yang dipandang lemah, dengan bantahan..

2. Tapi ketika masuk ke ranah praktis. Jangan berkacamata kuda. Jangan terapkan konsekuensi pendapat kita pada orang lain! Sebagaimana kita dari awal berkata: “dalam hal ini ulama berbeda pendapat”. Maka tentu “ulama akan berbeda pengamalan”. Maka tentu “pengikut ulama akan sejalan dengan ulamanya! Baik mereka yang mengikuti ulama hanya berdasarkan kesimpulan akhir; atau mereka yang mengikuti ulama dengan menelaah prosesnya hingga kesimpulan akhir!”

Jadi jangan mentang-mentang, sudah merasa naik derajat menjadi ‘muttabi’, kemudian sibuk mendebat orang yang lebih jahil darinya (atau bahkan orang lebih alim darinya), kemudian mewajibkan orang tersebut untuk sejalan dengannya!!! Terlebih lagi sampai menerapkan konsekuensi yang ada dalam pandangannya tersebut PADA ORANG LAIN yang berbeda pandangan dengannya! Ini jelas sangat tidak dibenarkan! Bahkan ini cerminan kurang adab, bahkan cerminan kurang faqihnya ia dalam permasalahan tersebut! Imam malik saja ditawarkan agar kitab fiqhnya dijadikan rujukan negara, tapi beliau menolak! Lantas siapa kita yang hanya sebatas ‘mengikuti’ pendapat maalik (contoh), kemudian mewajibkan apa yang kita ikuti tersebut untuk dianut oleh orang lain?!

Dengan diterapkan kaidah pelaziman ini, maka kita akan mendapati orang-orang yang betapa jahilnya mengubar laqab kepada pihak yang menyalahinya… Dari laqab-laqab yang jelek, hingga laqab berbahaya seperti mubtadi'[1. Contohnya qunut shubuh terus menerus.

Para ulama berbeda pendapat tentang penghukuman qunut di shalat shubuh secara terus-menerus menjadi tiga penghukuman:

– Sunnah
– Tidak sesuai sunnah, tapi tidak sampai kepada derajat bid’ah
– Bid’ah

(dari salah satu kajian ustadz Badrusalam)

Nah sekalipun seseorang mengikuti ijtihad ulama yang membid’ahkan qunut shubuh terus-menerus; maka tidak bisa kita serta-merta memvonis mubtadi’ terhadap orang-orang yang berpendapat dan beramal dengan fatwa mujtahidnya!

Silahkan berdiskusi, silahkan kerahkan daya upaya dalam pendekatan teoritis kita kepadanya; menjelaskan apa yang kita pandang benar, dan meluruskan apa yang kita pandang salah. Tapi jangan sampai hal tersebut kita bawa ke ranah pemvonisan person! Yaitu memvonisnya mubtadi’!], fasiq[2. Contohnya seperti jenggot dan isbal (dengan tanpa kesombongan)

Padahal telah nyata bahwa para ulama berselisih paham tentang hukum ‘membiarkan jenggot’ apakah dihukumi wajib atau sunnah! Adapun KLAIM IJMAA’ maka jelas ini kekeliruan yang nyata! (silahkan simak disini: https://www.facebook.com/abuzuhriy/posts/10152242484989660?stream_ref=10)

Maka bagaimanakah kita hendak menerapkan konsekuensi pendapat kita kepada orang lain!? Bahkan bermodalkan dengan itu, maka kita vonis ia dengan kefasiqan?! Tidak takutkah kita bahwa vonis itu akan kembali kepada kita?!

Sama halnya dengan vonis terhadap musbil (silahkan simak: http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/06/hukum-isbal-dalam-islam/)!

Sekiranya kita berpendapat bahwa isbal dengan tanpa kesombongan adalah haram, atau bahkan dosa besar; bukan berarti sudut pandang yang kita anut, kita terapkan pada orang lain! Apalagi sampai memvonis fasiq pada person-personnya!! Maka ini kekeliruan yang amat nyata!], atau bahkan munafiq [3. Contoh nyatanya pada permasalahan “hukum shalat berjamaa’ah di masjid” atau lebih tepatnya “hukum shalat di selain masjid ”

Jika kita berpendapat bahwa hukumnya wajib ‘ain, atau bahkan syarat sah (tentang shalat di belakang imam di masjid); atau bahkan memvonisnya sebagai dosa besar (bagi yang shalat di selain masjid). Maka hal itu merupakan konsekuensi yang kita anut untuk diri kita! Bukan untuk kita terapkan kepada orang lain, dalam ranah praktisnya!

Coba saja berkaca pada realitas.

Misalkan anda berada di mall atau pasar atau kantor atau pabrik; kemudian masuk waktu shalat, kemudian anda adzan dan iqamah di tempat tersebut. kemudian anda menyelenggarakan shalat disana. Bukankah anda MENYALAHI pendapat anda?! Kalau misalkan masih ada masjid disekitaran kantor/mall/pasar/pabrik?! Apa anda memvonis dosa besar pada diri anda?! atau bahkan memvonis nifaq pada diri anda?! Jika tidak, lantas betapa standar gandanya anda dengan mudahnya memvonis orang lain berdasar sudut pandang yang anda anut, yang bahkan anda sendiri menyalahinya!

Maka dalam ranah praktis, terhadap orang yang menyalahi pendapat dan sudut pandang kita, tidak kita terapkan pada mereka konsekeunsi pendapat yang kita anut!

Semoga Allaah menjauhkan kita dari serampangan dalam memvonis individu; yang kita khawatir vonis tersebut akan kembali pada penebarnya, cepat atau lambat! Na’uudzubillaah!], atau bahkan murtad, kafir[4. Contohnya seperti permasalahan “meninggalkan shalat”.

Tidak diragukan lagi meninggalkan shalat merupakan perkara yang amat besar dosanya. Tapi tetaplah kita melihat realitas! Bahwa memang para ulama berbeda pandangan apakah “seorang yang meninggalkan shalat” adalah kufur akbar atau kufur ashghar!

Jangan mentang-mentang kita sudah ‘muttabi’ dan mengikuti pendapat kufur akbar; lantas secara serampangan memvonis “murtad, kafir” pada orang yang menginggalkan shalat!]; atau bahkan thaaghuut [5. Inilah yang amat sangat mengerikan, vonis yang paling berat; yang sangat mengherankannya amat mudah ditebarkan orang-orang jaahil yang hanya modal semangat!

Berawal dari kesalahan/ketergelincirannya yang mengikuti manhaj khawarij dalam menafsirkan beberapa firman Allaah tentang masalah tahkiim; yang mana secara mutlak dianggap sebagai kufur akbar, tanpa memerinci! (simaklah: http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/630-berhukum-dengan-selain-yang-alloh-turunkan)

Maka jatuh lagi kepada kesalahan berikutnya, yaitu melazimkan pendapatnya yang sesat itu kepada orang lain!

Semoga Allaah menyelamatkan kita dari kejahilan dan kezhaliman, aamiin!]! Karena apa semua ini? Karena melazimkan konsekeunsi pendapatnya pada orang lain! Bahkan mungkin ia akan sangat berani menumpahkan darah seorang muslim (yang dianggapnya kafir) karena pelaziman ini! Na’uudzubillaah!

Maka ingatlah! kita hanya menyampaikan apa yang kita pandang benar, BUKAN untuk MEWAJIBKAN apalagi MEMAKSAKAN agar orang lain sejalan dengan kita (apalagi sampai menerapkan kaidah pelaziman yang ada dalam diri kita pada orang lain)! Apa yang kita pandang benar itu, bukanlah untuk digunakan sebagai pelaziman untuk diri orang lain! Sehingga dengannya kita mudah menebar laqab, mencederai kehormatan, atau mungkin… mengucurkan darah tanpa hak!

Juga menjadi pelajaran bagi kita, misalkan kita seorang penuntut ilmu dari masyarakat yang bermadzhab syafi’iy… kemudian kita pergi ke negri para ulama yang disana mayoritas madzhab fiqhnya hanafiy, atau malikiy atau hanbaliy… Maka jangan sampai kita kembalinya ke negri kita dengan berkaca-mata kuda, dan semata-mata memandang dengan perajihan fiqh yang kita peroleh dari madzhab berlainan, kemudian kita terapkan konsekeunsi pendapat kita tersebut, pada masyarakat kita dengan madzhab kita tersebut!

Maka alangkah agungnya nasehat dari sebagian ulama saudi, yang mewasiatkan para pelajarnya untuk mempelajari kembali madzhab masyarakatnya, dan mengajarkan kitab-kitab madzhab masyarakat sekitar sebagai rujukan fiqhnya… Meskipun tidak terlarang baginya menyalahi sebagian isi dari kitab tersebut; karena condong pada pendapat lain yang ia peroleh dari perjalanan menuntut ilmunya dari beragam ulama! Bahkan wajib baginya untuk menyalahinya, jika memang ia mendapati sudut pandang yang berbeda tersebut lebih dekat kepada kebenaran daripada apa yang tertuang dalam kitab tersebut… Karena sesungguhnya tidak ada satupun kitab yang ma’shuum di bumi ini, kecuali kitaabullaah ‘azza wa jalla!

[Simak: http://rumaysho.com/faedah-ilmu/kuasai-fikih-madzhab-syafii-3144]

Dan memang wasiat diatas mengajarkan pada kita dua hal :

1. Agar jangan sampai kita menyempitkan permasalahan semata-mata hanya berdasarkan apa yang kita dapati. Mentang-mentang 100 gurunya merajihkan pendapat A, maka disangkanya A ini adalah ijma’ (karena itu saja yang ia dapati selama ini). Maka selain A, maka dianggap menyalahi ijma, atau dianggap ghayru mu’tabar !

(Pelajarannya: jangan sampai ‘kesepakatan’ dalam satu perguruan fiqhiyyah dalam sebuah permasalahan, dianggap sebagai kesepakatan seluruh ulama islam! Yang padahal mungkin dalam konteks global, bisa jadi JUMHUUR perguruan fiqhiyyah yang lain justru menyalahi sudut pandang yang dianutnya, sedangkan ia tidak menyadari!!!)

2. Agar jangan sampai kita menerapkan kaidah ‘pelaziman’ pada mereka yang berbeda dengan kita. Juga agar harus kita senantiasa ingat, bahwa madzhab (fiqhiyyah) masyarakat itu diatas madzhab ulama’nya (sebagaimana dikatakan syaikh as sa’diy). Sehingga kita dapat menyikapi mereka dengan baik dan benar.

Wallaahu a’lam

Semoga bermanfaat bagi ana pribadi maupun yang lain.

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s