Belajar menundukkan hawa nafsu dengan shalat malam

Sebaik-baik latihan bagi kita dalam rangka menundukan hawa nafsu kita adalah dengan bangun pada waktu malam, berwudhu, kemudian menegakkan shalat malam.

Bagaimana tidak? Kita dihadapkan dengan pemuasan terhadap nafsu melanjutkan tidur (padahal Allaah telah membangunkan kita), atau mencari keridhaan Allaah dengan bangkit, berdiri, berjalan ke tempat wudhu, kemudian wudhu, kemudian shalat.

Maka dari sini kita mengetahui:

1. Shalat malam bukti nyata pengorbanan diri seseorang untuk meraih keridhaan Rabbnya

Bagaimana tidak… Ia harus melawan godaan syaithan dan nafsunya, yang menyerunya untuk kembali tidur, agar ia dapat meraih keridhaan Rabbnya… Maka manakah yang lebih kuat? Keinginan mencari keridhaan Rabbnya ataukah memuaskan hawa nafsunya?

2. Shalat malam bukti nyata kecintaan seseorang terhadap Allaah diatas dirinya sendiri

Ia relakan sebagian waktu tidurnya di waktu malam untuk digunakannya mendekat dan bermunajat kepada Rabbnya. Tentunya ini bukan perkara yang ringan, di saat sebagian besar manusia tidak ingin waktu tidurnya terganggu.

3. Shalat malam, bukti nyata keikhlashan seseorang

Bayangkan… Siapakah yang hendak melihatnya dalam shalat malamnya? Siapakah yang hendak mendengar bacaan qur’annya ketika ia shalat? Tidak ada!

Kalaupun ada, maka orang yang menyaksikannya adalah orang yang ia anggap remeh, yang ia tidak butuhkan perhatian dan pujian. Seperti anak dan istri. Beda lagi misalkan ia tidur dengan temannya yang shalih atau gurunya; mungkin bisa ada kemungkinan riyaa’ dan sum’ah. Tapi terhadap anak dan istri? Sangat kecil sekali kemungkinan untuk riya’ dan sum’ah dihadapan mereka.

4. Shalat malam adalah pembuktian kualitas kekhusyu’an shalat kita yang sebenarnya

Disaat tidak ada yang melihat shalatnya, disaat tidak ada yang mendengar bacaan qur-aannya… Maka besar kemungkinan seseorang untuk shalat “ala kadarnya saja”…

Tapi apa yang kita dapati pada umumnya orang yang shalat malam? Mereka memperlama berdiri mereka, dengan membaca bacaan qur-an yang panjang… Mereka memperlama ruku’ mereka, dalam rangka mensucikan dan mengagungkan Rabbmereka… Mereka memperlama sujud mereka, dalam rangka memuji dan memperbanyak doa yang dipanjatkan untukNya…

Tidaklah mereka melakukan hal ini, karena mereka sedari awal meniatkan shalat malam ini untuk menghadap Rabb mereka… Sebelum mereka wudhu, dan bertakbir utk shalat; mereka tahu Rabb mereka sedang menanti dan melihat siapakah diantara hamba hambaNya yang mau bangun, wudhu dan shalat untuk mendekatkan diri kepadaNya…

Maka mereka bangun, untuk menghadapkan diri mereka kepada Rabb mereka, dan bermunajat kepadaNya… Untuk mengagungkan dan mensucikan Rabb mereka… Serta Untuk memuji dan meminta kepada Rabb mereka… Dengan sebab inilah mereka dianugerahkan kekhusyu’an oleh Rabb mereka, dalam shalat mereka…

5. Shalat malam adalah pembuktian nyata dalam rangka memerangi syaithan dan hawa nafsunya

Bagaimana tidak?

=> Jika mereka memilih kembali tidur, setelah Allaah membangunkan mereka… maka mereka tidak melepaskan ikatan yang telah diikatkan syaithan dalam tubuh mereka… Yang jika ikatan ini tidak dilepaskan; maka mereka akan berpagi dengan jiwa yang buruk, lagi penuh kemalasan… Maka mereka tidak ridha dan benci dengan hal tersebut ada dalam diri mereka; sehingga mereka memaksakan diri untuk bangun, wudhu dan shalat.

=> Jika mereka tertidur, dan tidak terbangun hingga masuk fajar (apalagi jika sampai terbangun setelah habisnya waktu fajar)… Maka itulah bukti bahwa syaithan telah MENGENCINGI mereka… Maka mereka tidak ridha, dan benci jika hal tersebut terjadi pada diri mereka… Mereka tidak ridha dan benci, jika MUSUH mereka mengencingi mereka…

=> Maka mereka meniatkan sebelum tidur mereka, dengan sebenar-benar dan sejujur-jujur niat; agar Allaah membangunkan mereka di waktu malam (sehingga mereka dapat bangun, wudhu dan shalat; sehingga musuh mereka tidak mengencingi mereka); maka jika Allaah membangunkan merek di waktu malam; mereka bergegas bangun untuk menghadap dan bermunajat kepadaNya.

=> Maka misalkan hal itu terjadi (ketiduran dan tidak terbangun sama sekali)… Maka kita akan dapati dalam diri mereka PENYESALAN yang amat mendalam… Yang juga disertai keinginan keras agar hal ini tidak terulang kembali… Siapakah yang tidak menyesal, dan ridha-ridha saja untuk dikencingi musuhnya?! Apakah itu sikapnya terhadap musuhnya? Membiarkan ia dikencingi setiap malamnya!? Membiarkan seluruh anggota keluarganya dan orang-orang ayng dicintainya dikencingi musuhnya?! Sungguh ini bukanlah cerminan bentuk permsuhan kepada pihak yang dimusuhinya!


Maka setelah kita mengetahui hal ini…

Apakah kita telah berusaha meresapkannya ke dalam hati kita? Ataukah hanya dijadikan sebatas bacaan sepintas lalu semata?

Bukti dari teresapnya sebuah pelajaran dalam hati kita adalah terhadirkannya pelajaran tersebur pada waktu dibutuhkan untuk mengamalkannya…

Dan bukti seberapa besar ilmu yang terserap dalam hati kita, serta seberapa besar kita mengambil manfaat dari ilmu tersebut… Adalah apakah kita menjawab panggilan dan seruan hati kita dengan mengamalkan apa yang diserukannya?

Maka semoga Allaah menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat… Ilmu yang terserap kedalam lubuk hati kita… Yang menjadikan hati kita senantiasa mengingatkan kita ttg ilmu tersebut… Yang menjadikan kita menjawab seruan tersebut dengan mengikuti dan mengamalkannya; bukannya berpaling darinya… Aamiin…

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Shålat, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s